Kafillah Books Store

Kafillah Books Store Menjual buku baru bermutu dan bekas berkualitas.

"Kita bangkitkan semangat solidariti umat Islam dalam membebaskan Masjid al-Aqsa. Kita tunjukkan kepada Israel dan Ameri...
08/06/2026

"Kita bangkitkan semangat solidariti umat Islam dalam membebaskan Masjid al-Aqsa. Kita tunjukkan kepada Israel dan Amerika Syarikat bahwa umat Islam di Palestina bukan berdiri sendiri. Mereka punya saudara sesama ratusan juta Muslim di dunia ini". (M. Natsir. Sumber: Buku Pemimpin Pulang; Rekaman Peristiawa Wafatnya M. Natsir, 1993: 114)





PERINGATAN HAJI AGUS SALIM KEPADA PIHAK ASING YANG MENCARI REZEKI DI BUMI INDONESIA"Bagi segala fihak, jang mentjari rez...
07/06/2026

PERINGATAN HAJI AGUS SALIM KEPADA PIHAK ASING YANG MENCARI REZEKI DI BUMI INDONESIA

"Bagi segala fihak, jang mentjari rezki dalam tanah Indonesia, haroeslah memperbaiki anggapan dan sikapnja kepada bangsa jang menjadi soember kehidoepannja di sini."

Catatan kritis H. Agus Salim atas kasus penangkapan gadis di bawah umur yang dituduh mencuri oleh aparat yang dapat laporan dari pedagang asing tanpa melakukan pemeriksaan dan tabayun terlebih dahulu, hanya karena pedagangnya dianggap lebih terhormat karena berasal dari luar Indonesia, sementara sang gadis hanya penduduk asli bumi putera.





JUSUF WIBISONO: SUPAYA RUPIAH KUAT, KURANGI KETERGANTUNGAN PADA DOLLARDalam majalah Kiblat No. 1 Juni I, Thn. XIX 1971, ...
07/06/2026

JUSUF WIBISONO: SUPAYA RUPIAH KUAT, KURANGI KETERGANTUNGAN PADA DOLLAR

Dalam majalah Kiblat No. 1 Juni I, Thn. XIX 1971, Tokoh Masjumi dan Mantan Menteri Keuangan Jusuf Wibisono sudah pernah mengingatkan kita tentang kerentanan ekonomi jika terus bergantung pada Dollar A.S..

Saat itu, beliau menyoroti bagaimana krisis Dollar memicu kegelisahan moneter dunia dan dampaknya terhadap Rupiah yang nilai internasionalnya dipatok pada Dollar.

Ada sebuah catatan reflektif dari beliau yang terasa sangat relevan dengan situasi naiknya kurs Dollar saat ini: "Adalah tidak masuk akal kalau orang yang sehat kuat, yaitu Rupiah kita, menggantungkan diri kepada orang yang sakit, yaitu Dollar A.S."

Lebih dari 5 dekade lalu, Jusuf Wibisono berpendapat bahwa ketergantungan pada mata uang yang sedang tidak stabil hanya akan menyeret ekonomi nasional ke dalam kesulitan yang sebenarnya bisa dihindari.

Membaca pemikiran beliau hari ini, kita diajak kembali merenung: sejauh mana kemandirian moneter kita saat ini di tengah gejolak pasar global? Apakah sudah waktunya kita lebih berani melangkah dengan kekuatan sendiri, ataukah sejarah memang sedang berulang?





DI BALIK KESUKSESAN ACARA DEBAT TUAN A. HASSAN DENGAN AHMADIYAH TAHUN 1934Di balik riuhnya perdebatan sengit antara piha...
06/06/2026

DI BALIK KESUKSESAN ACARA DEBAT TUAN A. HASSAN DENGAN AHMADIYAH TAHUN 1934

Di balik riuhnya perdebatan sengit antara pihak Pembela Islam (kelompok Tuan A. Hassan) dengan pihak Ahmadiyah Qadian di Gang Kenari tahun 1934 silam, terselip cerita menarik soal "dapur" penyelenggaraan acara yang jarang diketahui.

Bukan soal dalil atau adu argumen, melainkan soal angka dan kerugian finansial. Dalam arsip koran Pemandangan tertanggal 15 Desember 1934, terungkap fakta unik:
- Pemasukan: f 211,80
- Pengeluaran: f 309,86
- Hasil: Mengalami kerugian sebesar f 97,06

Sesuai kesepakatan awal, kerugian ini seharusnya ditanggung bersama (dibagi dua). Namun, ketika panitia mencoba menagih kontribusi kepada pihak Ahmadiyah, mereka menolak!

Redaksi koran Pemandangan saat itu pun sempat menyindir dengan pedas, "Oeroesan Igama dan mentjari oeang, wat een combinatie!" (Urusan agama dan mencari uang, kombinasi macam apa itu!).

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di balik sejarah perdebatan besar di masa lalu, ada dinamika logistik dan finansial yang tak kalah pelik. Yang diketahui orang kebanyakan adalah kemeriahan dan kesuksesan acaranya; sedangkan dapur panitia yang mengalami kerugian, tidak diperhatikan.

Keterangan Foto: A. Hassan bersama Za'ba dan keluarga di Bangil.





DUKARIA DA'I: TELADAN KEIKHLASAN KH. BEY ARIFINSuatu ketika, K.H. Bey Arifin pulang dari perjalanan dakwahnya di Bondowo...
04/06/2026

DUKARIA DA'I: TELADAN KEIKHLASAN KH. BEY ARIFIN

Suatu ketika, K.H. Bey Arifin pulang dari perjalanan dakwahnya di Bondowoso dengan hati yang ikhlas dan fisik yang cukup lelah; beliau kembali ke pelukan keluarga tanpa membawa sepeser pun uang atau hadiah dari panitia, sementara di rumah, anak dan istrinya tengah berjuang menahan pedihnya perut karena ketiadaan beras dan gula. Betapa berat beban di pundak sang orator sejati itu saat harus berbisik jujur kepada istrinya bahwa tidak ada bekal yang bisa disajikan di meja makan, menyaksikan anak-anaknya merintih karena sudah berhari-hari tak lagi merasakan manisnya segelas teh, sebuah pemandangan yang menyayat hati bagi setiap kepala keluarga.

Namun, di balik kepedihan dan ujian yang tampak begitu menyesakkan itu, Allah SWT menunjukkan kebesaran-Nya tepat saat asa hampir sirna. Keesokan harinya, seolah jawaban atas doa yang tak terucap, datanglah dua truk yang menurunkan karung-karung gula pasir sebagai hadiah dari para pedagang yang simpati, mengubah air mata kesedihan menjadi tangis syukur yang mengharukan saat sang ulama mempersilakan keluarganya untuk menikmati teh manis sepuasnya.

Luar biasa! Dakwah adalah jalan sunyi yang penuh pengorbanan, seringkali jauh dari gemerlap materi namun sarat akan pertolongan langit bagi mereka yang ikhlas. K.H. Bey Arifin, yang begitu gigih dan ikhlas memegang prinsip "berdakwah sampai mati", senantiasa menjadi suluh bagi kita untuk tetap menebar kebaikan di tengah sulitnya tantangan kehidupan.




“INI BUKAN PINJAMAN!”(TELADAN KEDERMAWANAN YUNAN NASUTION DAN NADIMAH TANJUNG)Dulu, di masa sulit tahun 1958, sebagaiman...
02/06/2026

“INI BUKAN PINJAMAN!”
(TELADAN KEDERMAWANAN YUNAN NASUTION DAN NADIMAH TANJUNG)

Dulu, di masa sulit tahun 1958, sebagaimana yang diungkap dalam majalah Harmonis (1971), seorang rekan pernah berkunjung ke rumah Pak Yunan di Grogol dengan kantong yang benar-benar kosong.

Tanpa bertanya dua kali, sang istri, Ibu Nadimah Tandjung, dengan lembut bertanya, "Barangkali ada yang perlu saya bantu?". Tanpa banyak bicara, Ibu Nadimah menyodorkan sebuah amplop yang isinya cukup untuk biaya hidup sebulan.

Saat rekan tersebut ingin menggantinya di kemudian hari, Ibu Nadimah dengan tulus berkata, "Saya tidak merasa pernah memberi pinjaman!".

Kisah serupa terulang pada Pak Yunan. Saat dimintai tolong, beliau tak pernah pelit. Namun, setiap kali uang tersebut dikembalikan, Pak Yunan selalu menolak dengan kalimat yang sama: "Ini bukan pinjaman!".

Pak Yunan mungkin terlihat bersahaja −sering naik bus umum dan pulang-pergi tanpa mobil pribadi− namun hatinya jauh lebih kaya daripada yang diduga orang.

Yunan dan Ibu Nadimah mengajarkan banyak pelajaran berharga, di antaranya: memberi bukanlah tentang seberapa banyak harta yang kita punya, melainkan seberapa tulus tangan kita berbagi di saat orang lain membutuhkan.

Sebuah teladan tentang bagaimana perjuangan tidak hanya dilakukan dengan pena dan mimbar, tetapi juga dengan kerendahan hati dan tangan yang terbuka.





AINA DOKTOR NATSIR?(DI MANA DR. NATSIR)Majalah Panji Masyarakat No. 356 edisi 11 April 1982 hadir dengan laporan utama y...
31/05/2026

AINA DOKTOR NATSIR?
(DI MANA DR. NATSIR)

Majalah Panji Masyarakat No. 356 edisi 11 April 1982 hadir dengan laporan utama yang tajam mengenai "Mesin Birokrasi dan Kecongkakan Kekuasaan". Edisi ini memotret dinamika sosial-politik yang kritis pada masa itu, lengkap dengan rubrik "Surat Pembaca" yang menjadi wadah aspirasi masyarakat terkait berbagai persoalan kebangsaan, mulai dari isu Pemilu hingga kritik atas praktik-praktik birokrasi yang dianggap mencederai amanah rakyat.

Di kancah internasional, majalah ini menyoroti absennya tokoh besar Mohammad Natsir dalam sidang tahunan Muktamar Alam Islamy di Kolombo, Sri Lanka. Ketidakhadiran beliau memicu pertanyaan besar dari para delegasi negara lain mengenai "Aina Doktor Natsir?" (Di mana Doktor Natsir?), yang menegaskan betapa sosok beliau sangat disegani dan dinanti perannya dalam merumuskan penyelesaian konflik global, khususnya terkait perang antara Irak dan Iran.

Secara keseluruhan, edisi ini tidak hanya menyajikan refleksi mendalam mengenai problematika kekuasaan di tanah air, tetapi juga tetap konsisten menjaga perhatian pembacanya terhadap peran penting tokoh Islam Indonesia dalam kancah diplomasi dunia. Sebuah bacaan yang kaya akan pesan moral dan wawasan perjuangan umat yang sangat relevan untuk direnungkan kembali.





PROF. RASJIDI: JEBAKAN "TAQLID" DALAM FATWA KACAMATA 1934 DI SOLOPernah terbayang tidak, ada masa di mana jual beli dian...
31/05/2026

PROF. RASJIDI: JEBAKAN "TAQLID" DALAM FATWA KACAMATA 1934 DI SOLO

Pernah terbayang tidak, ada masa di mana jual beli dianggap tidak sah hanya karena pembelinya memakai kacamata? Kisah unik ini terjadi pada sebuah kongres ormas di Solo tahun 1934. Kala itu, peserta kongres sepakat melarang jual beli dengan kacamata karena dianggap mengubah sifat asli barang yang dilihat, sehingga transaksinya dianggap tidak sah.

Prof. Dr. H. M. Rasjidi dalam buku "Keutamaan Hukum Islam" (1971), mengkritik tajam keputusan tersebut. Beliau menilai fatwa itu sebagai cerminan sikap taqlid atau sekadar ikut-ikutan yang terlalu sempit. Keputusan tersebut hanya berpijak pada kutipan kitab klasik "Hasyiyah Syarkawi ala Tahrir" karya Syeikh Syarkawi dan "Fatawa Ramli" karya Imam Ramli tanpa menggali kembali ruh hukum yang sebenarnya dari Al-Qur'an maupun Hadits.

Kisah ini menjadi pengingat penting bagi kita saat ini: apakah kita beragama berdasarkan pemahaman mendalam, atau hanya sekadar menelan mentah-mentah tanpa memikirkan konteks dan dasar hukumnya? Jangan sampai kita terjebak dalam formalisme yang justru jauh dari jiwa ajaran Islam yang sesungguhnya.





ISTIQAMAH“Tuhan tidak mengabadikan jasad manusia. Tuhan tidak menantikan hamba-hamba-Nya membawa kepada-Nya kebanggaan-k...
28/05/2026

ISTIQAMAH

“Tuhan tidak mengabadikan jasad manusia. Tuhan tidak menantikan hamba-hamba-Nya membawa kepada-Nya kebanggaan-kebanggaan dunia. Yang Allah menyediakan tempatnya di keabadian adalah ISTIQAMAH tauhid hamba-hamba itu, kesetiaan cinta para kekasih-Nya itu” (Emha Ainun Nadjib, 21 September 2016)

Sumber Foto: Majalah Panji Masyarakat, No. 520, Thn. XXVIII, 1986




"Kita harus duduk pada tempat dimana bakat dan kesanggupan kita bisa dikembangkan!" (Majalah Harmonis, No. 148, Thn. VII...
28/05/2026

"Kita harus duduk pada tempat dimana bakat dan kesanggupan kita bisa dikembangkan!"
(Majalah Harmonis, No. 148, Thn. VIII, 1978)





Address

Wringinanom
61176

Telephone

+6283879583265

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kafillah Books Store posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category