10/07/2024
// Harga Beras Melangit, Hidup Rakyat Makin Sulit //
Oleh: Fitri
(Freelance Writer)
-Badan Pangan Nasional (Bapanas) resmi menerbitkan Peraturan Bapanas (Perbadan) tentang Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beras medium dan premium. Dengan terbitnya aturan ini, kenaikan harga beras yang ditetapkan melalui relaksasi HET sebelumnya jadi berlaku permanen.
Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi menegaskan bahwa penyesuaian HET beras tidak terpisahkan dari upaya stabilisasi pasokan dan harga beras, di mana kebijakan di hulu (tingkat petani) juga selaras dengan di hilir (tingkat konsumen).
Dalam Perbadan Nomor 5 Tahun 2024, besaran HET beras diatur berdasarkan wilayah. Untuk wilayah Bali dan NTB, HET beras medium Rp12.500 per kg dan HET beras premium Rp14.900 per kg. Wilayah NTT, HET beras medium Rp13.100 per kg dan HET beras premium Rp15.400 per kg. Untuk wilayah Sulawesi, HET beras medium Rp12.500 per kg dan HET beras premium Rp14.900 per kg (tirto, 07-06-2024).
Alasan penyelarasan harga di hulu dan hilir tampak menunjukkan negara tidak mau memikirkan masalah rakyat dan menyelesaikannya dari akarnya. Bahkan negara gampang saja mematok harga beras di tengah beratnya beban ekonomi rakyat banyak.
Padahal kehidupan saat ini sudah sulit. Bagaimana tidak, berbagai kebutuhan pokok mengalami kenaikan. Dari itu, tidak menutup kemungkinan akan ada sebagaian masyarakat yang akan mengganti konsumsi dari beras premium ke beras medium, bahkan dari medium ke beras biasa. Hal ini dalam rangka menghemat pengeluaran.
Kenaikan harga beras juga tidak serta-merta dinikmati petani dan memberikan kesejahteraan. Ini karena problem mendasar tidak sejahteranya petani berpangkal dari kemiskinan struktural yang diciptakan oleh sistem kapitalisme liberal, seperti sulitnya mendapatkan saprotan, kepemilikan lahan yang sangat minim, hingga harga penjualan panen yang tidak menguntungkan.
Pun jika ditelaah lebih dalam, kita akan menemukan bahwa penyebab karut-marut ini berpangkal dari sistem politik pengelolaan pangan yang kapitalistik neoliberal. Secara politik, bukti penerapan sistem ini sangat terasa dengan ketiadaan peran negara yang sebenarnya. Negara hadir sekadar sebagai regulator dan fasilitator, bukan penanggung jawab dan pengurus rakyat.
Sementara itu, pengurusan berbagai urusan rakyat malah diserahkan kepada korporasi sehingga akhirnya diatur “suka-suka” korporasi dan dikelola untuk mencari keuntungan semata.
Di samping itu, wajah lembaga-lembaga teknis negara, seperti Bulog, hadir di tengah rakyat tidak lagi murni sebagai pelayan dan pengurus, melainkan sebagai pebisnis. Bulog dan BUMN lainnya bukan lagi perpanjangan tangan negara untuk melayani dan mengurusi kebutuhan rakyat, melainkan layaknya korporasi yang bersaing dengan korporasi swasta untuk mencari profit.
Berbeda dengan sistem kapitalisme, dalam sistem islam ketersedian pangan, sandang dan papan merupakan pemberian yang secara tidak langsung dari negara. Negara mengatasi persoalan tersebut mulai dari hulu hingga hilir. Tidak hanya memastikan produksi yang cukup, namun juga memastikan distribusinya merata bagi seluruh rakyat.
Terlebih masalah pangan merupakan kebutuhan pokok bagi tiap individu, karena itu berbagai upaya akan dilakukan negara dalam rangka memenuhi kebutuhan rakyatnya dan memastikan kebutuhan pokok tak hanya tersedia, tapi juga dapat dijangkau oleh rakyat dengan mudah.
Tanggung jawab pemimpin pun sangat besar yang mana ia kelak tak hanya dimintai pertanggungjawaban di dunia tapi juga di akhirat kelak. Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “Imam (pemimpin) itu pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus (HR Al-Bukhari dan Ahmad).
Oleh karena itu, sulit menstabilkan harga pangan saat ini, jika pengurusan rakyat tak lagi sepenuhnya diurus oleh negara. Dari itu sudah selayaknya umat ini, kembali pada aturan yang baik bagi seluruh umat, yakni aturan yang bersumber dari Allah Swt. yang diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Wallahu a’lam.
========
Gemakan Opini Islam dengan me-Like dan Share postingan Ini
========
Ikuti kami di:
Facebook : fb.com/MuslimahSultra4Islam
Youtube : http://bit.ly/MuslimahSultra4Islam
Instagram: www.instagram.com/muslimahsultra4islam
Twitter: twitter.com/MuslimahSultra
Telegram: t.me/MuslimahSultra4Islam
=======