D'p Power Gear

D'p Power Gear kitab salafi adalah kitab yg murni tiada perubahan awal dari pengarangannya sampai sekaraang,jadi kitab selalu berguna sampai anak ccu kita

10/10/2016

AMALAN DAN DOA PADA HARI ASYURA (10 MUHARRAM)

Ulama mengajarkan berbagai kebajikan di hari asyura diantaranya adalah:
1. Melapangkan nafkah untuk anak dan istri. fadhilahnya, Allah akan melapangkan orang tersebut sepanjang tahun itu.
Sunnah membelanjakan hadiah untuk istri dan keluarga di hari asyura, dan para sahabat menjadikan puasa untuk anak-anak mereka yang masih anak-anak p**a, diriwayatkan dalam beberapa hadits pada shahih muslim bahwa sahabat mengumpulkan anak-anak mereka di masjid dan membuatkan mainan-mainan untuk mereka, bila mereka menangis karena lapar maka mainan itu diberikan pada mereka untuk melupakan lapar dan hausnya. (Shahih Muslim).
2. Memuliakan fakir miskin. fadhilahnya, Allah akan melapangkan alam kuburnya.
3. Menahan marah. fadhilahnya, Allah akan memasukkan kedalam golongan yang ridha dan diridhoiNya
4. Menunjukkan jalan kebenaran kepada orang-orang tersesat, fadhilahnya Allah akan menyinarkan cahaya iman dalam hatinya.
5. Mengusap kepala anak yatim. fadhilahnya Allah akan menganugerahkan kebaikan di surga atas tiap-tiap rambut yang di usapnya.
“Lindungilah dan sayangilah mereka (anak yatim) karena jika kamu melindungi dan menyayangi mereka berarti kamu menyayangiku, dan jika kamu menyakiti mereka (anak yatim) berarti kamu juga menyakitiku”
Di riwayatkan bahwa Rasul SAW menyayangi anak-anak yatim, dan lebih menyayangi mereka pada hari 10 muharram (Asyura).
6. Bersedekah. fadhilahnya Allah akan menjauhkan dari siksa neraka sejauh jarak seekor gagak yang terbang tanpa berhenti, dari kecil sehingga ia mati.
Menjamu serta bersedekah pada 10 muharram bukan hanya pada anak yatim tapi keluarga, anak, istri, suami dan orang orang terdekat, karena itu sunnah beliau SAW dan pembuka keberkahan hingga setahun penuh. (Faidhul Qadir juz 6 hal 235-236).
Di riwayatkan p**a bahwa sayyidina Umar Ra menjamu tamu dengan jamuan khusus, pada malam 10 muharram (Musnad Imam Tabrani/ Tafsir Ibnu Katsir Juz 3 hal 244).
7. Memelihara kehormatan diri. fadhilahnya Allah akan mengaruniakan hidup yang senantiasa diterangi cahaya keimanan.
8. Mandi sunnah. fadhilahnya, tidak diuji dengan sakit berat pada tahun itu.
9. Bercelak. Fadhilahnya tidak akan sakit mata pd tahun itu.
10. Membaca surat Al-ikhlas 1000 kali. fadhilahnya, Allah akan memandangnya di akhirat dengan pandangan kasih.
11. Memperbanyak sholat 4 rakaat. fadhilahnya Allah akan menghapus dosa-dosanya.
12. Perbanyak membaca Hasballah, “Hasbunallah wani'mal wakil ni'mal mawla wa ni'man nashir” fadhilahnya, insya Allah tidak akan mati di tahun itu.
13. Menjamu orang yang berbuka puasa, fadhilahnya, diberi pahala seperti memberi sekalian orang islam berbuka puasa.
14. Berpuasa, fadhilahnya, diberi pahala seribu kali haji, seribu kali umrah, seribu kali syahid, dan diharamkan dari neraka.
Apabila memang amal dan fadhilah tersebut tidak mempunyai dasar yang kuat (kecuali berpuasa) sebagian besar ulama menganjurkan, sebagai bagian dari fadhoilul amal, penambah keutamaan beribadah.
Maka, terlepas dari kontroversi mengenai kekuatan hukumnya, pengamalan anjuran-anjura tersebut dikembalikan pada ketetapan hati pembaca semuanya.
Asyura berasal dari kata “Asyaro”, artinya bilangan sepuluh. Secara istilah Puasa “Asyura adalah puasa yang dikerjakan pada tanggal 10 Muharram pada Kalender Islam Hijriyah.

Sahabat Rasulullah SAW, Abdullah bin Abas Ra meriwayatkan:
“Aku tidak pernah mendapati Rasulullah SAW menjaga puasa suatu hari karena keutamaannya dibandingkan hari-hari yang lain kecuali hari ini yaitu hari Asyura dan bulan ini yaitu bulan Ramadhan.” (HR Muslim).

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Qatadah Ra, Rasulullah SAW bersabda:
“Puasa di hari Asyura, sungguh saya mengharap kepada Allah bisa menggugurkan dosa setahun yang lalu.” (HR Abu Daud).

Menurut Imam Nawawi Rahimahullah, dua amalan yang dasar hukumnya kuat yaitu:
1. Puasa Asyura dan Tasu’a
2. Meluaskan belanja
Selain dua amalan di atas, dasar hukumnya lemah. Kecuali bersedekah, karena menurut mazhab Maliki hukumnya sunnah. Wallahu a’lam bishowwab.

Doa Pada Hari Asyura
Mari manfaatkan momen dihari Asyura, hari yang penuh keutamaan dan kemuliaan dengan memanjatkan doa.
حَسْبُنَااللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ
سُبْحَانَ اللَّهِ مِلْءَالْمِيْزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَاوَزِنَةَالْعَرْشِ
لاَمَلْجَأَ وَلاَمَنْجَأَ مِنَ اللَّهِ اِلاَّ اِلَيْهِ سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَالشَّفْعِ وَالْوِتْرِ
وَعَدَدَكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ كُلِّهَانَسْأَلُكَ السَّلاَمَةَبِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَاِلاَّبِاللَّهِ الْعَلِىِّ الْعَظِيْمِ
وَهُوَحَسْبُنَ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
“Hasbunallahu wa ni’mal wakiil, ni’mal maulaa wa ni’man nashiir.
Subhanallahi mil-al miizaani wa muntahal ilmi wa mablaghor ridhoo wazinatal arsyi
Laa malja-a walaa manja-a minallahi illa ilaihi subhaanallahi adadasy syaf’ir wal witri
Wa adada kalimaatillahit-taammaati kulliha nas’alukas-salaamata birahmatika yaa arhamar raahimina
Walaa haula walaa quwwata illa billahil aliyyil azhiim, Wahuwa hasbuna wa ni’mal wakiil ni’mal maulaa wa ni’man nashiir, Washallalahu alaa sayyidina muhammadin wa alaa aalihi washahbihii wasallam”

Artinya:
"Cukuplah Allah menjadi sandaran kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung, sebaik-baik kekasih, dan sebaik-baik Penolong. Maha Suci Allah sepenuh timbangan, sesempurna ilmu, sepenuh keridhaan dan timbangan 'arsy. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari Allah, kecuali hanya kepada-Nya. Maha Suci Allah sebanyak bilangan genap dan ganjil, dan sebanyak kalimat Allah yang sempurna, kami memohon keselamatan dengan rahmat-Mu wahai Dzat Yang Paling Penyayang diantara semua yang penyayang. Dan tiada daya upaya dan kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Dan Dialah yang mencukupi kami, sebaik-baik Pelindung, sebaik-baik kekasih, dan sebaik-baik Penolong. Semoga rahmat dan salam Allah tetap tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad, teriring keluarga dan sahabat beliau."

Keterangan:
Doa di atas silahkan dibaca pada hari asyura, namun untuk dibaca di hari-hari biasa pun tidak masalah karena lafadznya yang umum. Semoga segala amal kita diterima Alloh SWT.

Bagi pelajar fiqh Syafi'i, kitab al-Ghayah wa at-Taqrib atau yang lebih dikenal kitab Matan Taqrib merupakan kitab yang ...
09/07/2016

Bagi pelajar fiqh Syafi'i, kitab al-Ghayah wa at-Taqrib atau yang lebih dikenal kitab Matan Taqrib merupakan kitab yang tidak asing lagi. Kitab ini menjadi kitab kurikulum bagi para pemula pelajar fiqh Syafi'i. Kitab ini merupakan kitab kecil yang lengkap mulai dari bab Thaharah hingga `itq. Kitab ini ditulis oleh seorang ulama Syafi'iyah yang hidup pada abad ke-5 H.

Beliau adalah Ahmad bin al-Husen bin Ahmad al-Asfahaniy yang terkenal dengan panggilan al-Qadhi (Hakim) Abu Syuja'. Beliau juga mendapat gelari (kun-yah) Abu Thayyib. Beliau belajar fiqih Syafi'i di Basrah lebih dari 40 tahun.[1]

Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang tahun kelahiran dan wafat beliau. Salah seorang murid beliau Imam Ahmad bin Muhammad Abu Thahir as-Silafy (w. 576 H) dalam kitabnya Mu`jam Safar menuliskan bahwa beliau pernah menanyakan kepada Abu Syuja` sendiri tentang tahun kelahiran beliau, Abu Syuja` menjawab tahun 434 H di Basrah, sedangkan ayah beliau lahir di `Abbadan dan kakek beliau lahir di Asfihan/Isfahan (kota di Iran yang terletak sekitar 340 km dari ibu kota Iran, Taheran).[2] Keterangan tersebut juga dikutip oleh Imam Yaqut bin Abdullah al-Hamawi dalam kitab beliau Mu`jam Buldan ketika menerangkan tentang negeri `Abbadan.[3] Dalam kitab tersebut tidak disebutkan tahun wafat beliau.

Sedangkan dalam kitab A`lam karangan Zarkali disebutkan beliau lahir tahun 533 H/1138 M dan wafat pada tahun 593 H/1197 M,[4] maka umur beliau berdasarkan keterangan ini adalah hanya 60 tahun. Hal sangat bertentangan dengan keterangan dalam Kitab Hasyiah al-Bajuri dan Hasyiah Bujairimi `ala Khatib yang menerangkan bahwa beliau memiliki umur panjang hingga 160 tahun. Dan keterangan ini juga sangat menentang dengan keterangan murid beliau sendiri Imam as-Silafi dalam kitab Mu`jam Safr, dimana beliau menyebutkan bahwa Abu Syuja` sendiri pada tahun 500 H menyebutkan kepadanya bahwa beliau sudah mempelajari fiqih Mazhab Syafi'i selama 40 tahun lamanya, setelah itu Imam as-Silafi menyebutkan bahwa Abu Syuja` masih hidup hingga masa yang tidak beliau ketahui.

Ada kemungkinan bahwa keterangan kitab al-A`lam karangan Zarlaki yang dikutip banyak penerbit yang menuliskan biografi Abu Syuja` ketika menerbitkan kitab Matan Taqrib, terjadi kesalahan ketika penulisan, mungkin yang sebenarnya adalah tahun kelahiran beliau 433 H, (hanya selesih setahun dengan keterangan murid abu Syuja` sendiri, Imam as-Silafy) sehingga usia umur beliau tepat 160 sehingga sama dengan keterangan yang disebutkan dalam Bujairimi dan Hasyiah Al-Bajuri. Wallu A`lam bish-Shawab.

Dalam Kitab Kasyfun Dhunun disebutkan tahun wafat beliau adalah 488 H tanpa disebutkan tahun kelahiran.[5] Sedangkan Imam Tajuddin as-Subky dalam kitab Thabaqat Syafi`iyyah Kubra memasukkan beliau dalam golongan para ulama yang wafat pada setelah tahun 500 H.

KH. Sirajuddin Abbas menanggapi perbedaan ini mengatakan; ada kemungkinan bahwa beliau menghilang dari negerinya Asfahan, Persia, pada tahun 488 H, sehingga orang mengatakan bahwa beliau telah meninggal. Orang tidak tahu bahwa beliau telah mengasingkan diri menjadi pelayan Masjid Madinah sampai wafatnya tahun 593 H.[6]

Para ahli sejarah menulis gelar beliau dengan Syihabuddin, hal ini sesuai dengan kebiasaan ahli sejarah yang memberi gelar Syihabuddin kepada para ulama yang bernama Ahmad dan gelar Syamsuddin kepada para ulama yang bernama Muhammad. Karena itu kita dapati para ahli sejarah menulis nama Imam Ramli Kabir dengan gelar Syihabuddin karena nama beliau adalah Ahmad dan menulis gelar Imam Ramli Shaghir dengan Syamsuddin karena nama beliau adalah Muhammad.[7]

Abu Suja' di kenal sebagai seorang imam ahli ibadah, shalih dan berilmu dan taat dalam agama. Beliau pernah menjabat sebagai qadhi dan kemudian menjadi menteri. Beliau menjabat menteri di umur 47 tahun, dimasa jabatannya tersebut beliau banyak menyematkan keadilan dan ilmu agama, beliau memiliki 10 pembantu yang berkeliling membagikan shadaqah kepada manusia. Masing-masing mereka membagikan 1.120 dinar yang akan di bagikan kepada orang yang berhak.

Kemudian beliau menempuh jalan zuhud meninggalkan kenikmatan duniawi, beliau hijrah ke Madinah dan menetap di Masjid Nabawi sebagai orang yang bertugas merapihkan tikar dan menyalakan lentera dan membersihkan Mesjid Nabawi serta menjadi pengkhadam Hujrah Rasulullah SAW. dan beliau jalankan tugas tersebut sampai akhir hayatnya.[8]

Beliau di karunia umur panjang hingga berusia 160 tahun dan dalam keadaan lanjut usi demikian, tidak ada satupun anggota badan beliau yang cedera. Orang – orang bertanya tentang sebab anggota badan beliau sehat hingga masa tua, beliau menjawabnya:

حفظنا ها فى الصغر فحفظها الله فى الكبر

Kami menjaganya (dari dosa) ketika masih muda maka Allah menjaganya ketika kami tua.
Beliau wafat dan dimakamkan di sebuah ruangan mushallah yang beliau bangun sendiri di dekat Masjid Nabawi di samping pintu Jibril.

Kitab Mukhtashar Ghayah wa Taqrib atau Matan Taqrib ini di syarah oleh beberapa ulama lain antara lain:

Muhammad Ibnu Qasim al-Ghazi (w.928 H) dengan kitab beliau Fathul Qarib Mujib yang kemudian di beri hasyiah oleh Imam al-Bajuri. Kitab ini menjadi pelarajan kurikulum di seluruh pesantren di Indonesia. Selain Imam al-Bajuri, Fathul Qarib juga di beri hasyiah oleh ulama Indonesia, Syeikh Nawawi al-Bantani dengan nama kitab beliau Qut al-Habib al-Gharib, dan juga di beri hasyiah oleh Imam al-Azizy, al-Barmawy, dan al-Qalyuby.

Ibnu Daqiq al-`Id.

Imam Muhammad Khatib Syarbainy (w.977 H) dengan nama kitab beliau Iqna` yang kemudian di beri hasyiah oleh Imam Bujaurimi yang di kenal dengan nama Hasyiah Bujairimi `ala Khatib sebanyak 4 jilid besar. Selain itu kitab syarah ini juga di beri hasyiah oleh beberapa ulama lain seperti al-Mudabaghy, al-Ajhury, an-Nabrawy juga di beri taqrirat oleh Syeikh al-Bajuri dan Syeikh `Aush.

Sayyid Taqiyuddin al-Hishni dengan nama kitab beliau Kifayatul Akhyar fi hill Ghayah al-Ikhtishar.

Syeikh Taqiyuddin Abi Bakar Ibnu Qadhi `Ajalun (wafat 829 H) setelah mensyarahnya beliau juga kembali meringkasnya dan beliau tambahkan sedikit tentang perbedaan pendapat Imam Rafii dan Nawawi dengan nama kitab beliau `Umdatun Nadhar fi Tashhih Ghayah al-Ikhtishar.[9]

Syeikh Ahmad al-Akhshashy (w. 889 H) dengan kitab beliau yang bernama Syarah Mukhtashar Abi Suja`.

Syeikh Ahmad bin Muhammad al-Manufi (w. 931 H) kitab beliau beri nama al-A`naq kemudian beliau ringkas sendiri kembali dan beliau namai Tasynif al-Isma` bi Hill alfadh Abi Suja`.

Syeikh Waliyuddin al-Bashir (w.972 H) dengan kitab syarah beliau yang bernama an-Nihayah fi Syarh Syarh al-Ghayah.

Ahmad bin Qasim al-Ubady (w.994 H) dengan syarah beliau yang bernama Fath Ghaffar bi Kasy Mukhbaat Ghayah al-Ikhtishar.

DR. Mushtafa Daib al-Bugha dengan kitab beliau at-Tahzib fi Adillah Matn al-Ghayah wa Taqrib. Kitab ini berisi dalil baik dari ayat atau hadits dari setiap hukum yang ada dalam matan Taqrib.

Selain di-syarah, kitab Matan Taqrib juga digubah menjadi nadham oleh seorang ulama yang ahli dalam menggubah nadham, yaitu Imam Syarafuddin `Imrithy (w. 989 H) dengan nama Nihayah Tadrib, Syeikh Ahmad al-Absyihy (w. 883 H), Syeikh Abdul Qadir bin al-Mudhaffar (w.892 H) Syeikh Ahmad bin Abdu salam al-Manufi (w. 931 H), Syeikh ad-Dausary (w. 1243 H).

Selain itu kitab sudah di terjemahkan dalam berbagai bahasa termasuk dalam bahasa bahasa Perancis pada tahun 1895 dan ke bahasa Jerman pada tahun 1987.[10]

kitab Matan Taqrib masih di pakai sampai saat ini, hal ini menunjukkan satu kelebihan bagi kitab tersebut, di mana walaupun kitab tersebut kecil dan telah melewati masa hampir satu abad namun masih di gunakan sebagai pegangan utama bagi pemula dalam belajar fiqh Syafii`yah.

Semoga Allah selalu melimpahkan barakah ilmu Abu Suja` kepada kita semua dan Allah memberikann taufiq dan hidayah kepada kita untuk mengikuti jejak beliau.

Amiin ya Rabbal `Alamin.

Referensi:
1. As-Subki, Tajuddin bin `Ali bin Abdul Kafy, Thabaqat Syafi`iyyah Kubra, thn 1413 H
2. Abu Thahir as-Silafy, Ahmad bin Muhammad, Mu`jam as-Safr, Maktabah Tijariyah
3. Al-Hamawy, Yaqut bin Abdullah, Mu`jam Buldan, Beirut, Dar Fikr
4. Az-Zarkaly, al-A`lam, Dar al-`ilm lilmalayiin th 2002
5. Haji Khalifah, Kasyfun Dhunun, Beirut, Dar Turats Arabi
6. KH. Sirajuddin Abbas, Thabaqat Syafi`yah Ulama Syafii dan kitab-kitabnya dari Abad ke Abad, Pustaka Tarbiyah Baru th 2011
7. Al-Bajuri, Ibrahim, Hasyiah al-bajuri `ala Fath Qarib, Haramain
8. Al-Bujairimi, Sulaiman bin Muhammad, Hasyiah Bujairimi `ala Khatib, Dar Kutub Ilmiyah th 1997
9. http://www.feqhweb.com/vb/t352.html

[1] As-Subki, Tajuddin bin `Ali bin Abdul Kafy, Thabaqat Syafi`iyyah Kubra, jld 6 hal 15 thn 1413 H
[2] Abu Thahir as-Silafy, Ahmad bin Muhammad, Mu`jam as-Safr, hl 25 Maktabah Tijariyah
[3] Al-Hamawy, Yaqut bin Abdullah, Mu`jam Buldan, jld 4 hl 74 Beirut, Dar Fikr
[4] Az-Zarkaly, al-A`lam, jld 1 hl 116 Dar al-`ilm lilmalayiin th 2002
[5] Haji Khalifah, Kasyfun Dhunun, jld 2 hl 1189 Beirut, Dar Turats Arabi
[6] KH. Sirajuddin Abbas, Thabaqat Syafi`yah Ulama Syafii dan kitab-kitabnya dari Abad ke Abad, hl 129 Pustaka Tarbiyah Baru th 2011
[7] Al-Bajuri, Ibrahim, Hasyiah al-bajuri `ala Fath Qarib jld 1 hal 10 Haramain
[8] Al-Bujairimi, Sulaiman bin Muhammad, Hasyiah Bujairimi `ala Khtaib, jld 1 hl 23 Dar Kutub Ilmiyah 1997
[9] Haji Khalifah, Kasyfun Dhunun, jld 2 hl 1189 Beirut, Dar Turats Arab
[10] http://www.feqhweb.com/vb/t352.html

Repost dari lbm.mudimesra.com

Sumber gambar 1
Sumber gambar 2

BIOGRAFI ABU SYUJA’ DALAM BUKU "GURUKU DI PESANTREN"
(433-593/1042-1196)

SYIHAB al-Dunya wa ad-Din Ahmad bin Husain bin Ahmad al-Asfahani al-Syafi’i, populer dengan panggilan Abu Syuja’, (ayahnya) berasal dari Isfahan, salah satu kota di Persia, Iran.

Ia dilahirkan di Bashrah (Irak) pada tahun 433 H/1042 M. Pernah menjabat sebagai mentri pada dinasti bani Saljuk tahun 447H/1455M, sehingga dikenal dengan julukan Syihabuddunya waddin (bintang dunia dan agama). Di saat itu ia dapat menyebar luaskan agama dan keadilan. Kebiasaannya,tak pernah keluar rumah sebelum shalat dan membaca al-Qur’an sedapat mungkin.

Dalam urusan kebenaran, ia tak pernah gentar akan caci maki, hujatan dan kecaman dari siapapun, baik pejabat atau penjahat. Ketika menjabat sebagai mentri, Abu Syuja’ sangat dermawan. Ia mengangkat sepuluh orang pembantu untuk membagi-bagikan hadiah dan sedekah. Mereka diserahi seratus dua puluh ribu dinar. Uang sebanyak itu dibagi-bagikan kepada para ulama dan orang-orang yang saleh.

Abu Syuja’ adalah pakar fikih mazhab Syafi’i. Di Bashrah ia mendalami mazhab fikih yang dipelopori Imam Syafi'i selama ini, emapat puluh tahun tahun lebih, sehingga menjadi pakar fikih madzhab Syafi’I. Pada akhir usianya, ia memilih untuk hidup dalam kezuhudan. Seluruh hartanya dilepas dan ia pergi ke Madinah. Menyapu, menghampar tikar dan menyalakan lampu Mesjid Nabawi, merupakan aktivitas rutinnya setiap hari. Setelah salah seorang pembantu Mesjid Nabawi meninggal dunia, Abu Suja’ mengambil alih tugas-tugasnya. Rutinitas ini beliau jalani sampai ajal menjemputnya pada tahun 593 H/1166 M.

Abu Suja’ meninggal di Madinah. Janazahnya dimakamkan di Mesjid yang ia bangun sendiri di dekat Bab Jibril, sebuah tempat yang pernah disinggahi malaikat Jibril. Letak kepalanya berdekatan dengan kamar makam Nabi dari sebelah timur.

Allah menganugerahkan usia panjang kepada tokoh besar ini. 160 tahun lamanya ia menghirup udara dunia. Akan tetapi dalam jangka waktu yang sangat panjang itu, tak satupun dari dari anggota tubuhnya yang cacat. Ketika ditanya mengenai rahasianya, beliau menjawab: “Aku tidak pernah menggunakan satupun dari anggota tubuhku untuk bermaksiat kepada Allah. Karena pada masa mudaku aku meninggalkan maksiat, maka Allah menjaga tubuhku di usia senja.”

Penjelasan riwayat hidup Abu Syuja’ yang diurai diatas disebut dalam beberapa kitab syarah Fath al-Qorib dan dikutil oleh beberapa orang. Tampaknya, semua sepakat bahwa Abu Syuja’ lahir pada tahun 433 H. tapi, mengenai tahun wafatnya masih diperselisihkan oleh beberapa kalangan. Yang menarik al-Bajuri menyebutkan bahwa Abu Syuja’ wafat pada tahun 488. padahal dalam redaksi lainnya ia menyebut persis seperti pesyarah yang lain. Haji Khalifah dalam Kasyf az- Zhunun menuturkan bahwa Abu Syuja’ meninggal pada tahun 488.

Dalam pernyataan bahwa, Abu Syuja’ pernah menjabat sebagai wazir pun masih perlu diselidiki kebenarannya. Sumber-sumber kitab sejarah menyebutkan bahwa pada masa itu memang ada seorang wazir berjuluk Abu Syuja’. Ia dikenal adil dan alim. Ia juga mengarang kita Takmilah li-Kitab Tajarid al-Umam karya Ibnu Maskaweh. Ia juga bermazhab Syafi’i dan berguru pada Syekh Abu Ishaq as-Syirazi di Baghdad. Disebutkan p**a bahwa ia terlahir pada tahun 437 dan wafat pada 488. tahun wafat itu sama dengan yang dsebut oleh al-Bajuri dan Haji Khalifah. Di sinilah timbul kekaburan.

Namun Abu Syuja’ sang wazir itu tidak bernisbah al-isfahani. Nisbahnya adalah ar-Rudzarawari. Namanya pun berbeda. Sang wazir itu bernama Muhammad al-Husain bin Muhammad bin Abdillah bin Ibrahim. Sedang Abu Syuja’, pengarang Taqrib, bernama Ahmad bin al-Husain binAhmad bin al- Isfahani. Hanya saja, kedua orang itu bertepatan berkunyah sama yaitu Abu Syuja’. Dalam kitab-kitab sejarah juga disebutkan bahwa Abu Syuja’, sang wazir Dinasti Abbasiyah, wafat di madinah. Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa kedua orang itu berbeda.

Mungkin saja para pesyarah fath al-Qorib seperti al-Bajuri, Syek Nawawi Banten dan majid al-Humawi ikut pada al-Bujairimi yang salah sadur dari ad-Dairobi. Yang lebih baik adalah mempercayai apa yang ada dalam Thabaqat as-Syafi’iyah karya as-Subki dan Dairah al-Ma’arif al-Islamiyah yang menyebut keduanya terpisah dan berbeda.

Ghayah al-Ikthishar yang dikarang oleh Abu Syuja’ termasuk karya terindah mengenai pokok-pokok fikih. Kitab yang lebih dikenal dengan sebutang Taqrib ini, mencakup permasalahan yang luas meskipun bentuknya kecil. Seorang ulama mengubah bait-bait syair, memuji Abi Suja’ dan karya monumentalnya, Ghayah al-Ikhtishar, yang lebih pop**ar dengan sebutan Taqrib:

Wahai yang menghendaki faidah berkesinambungan
Demi peroleh keluhuran dan kemanfaatan
Dekatilah ilmu-ilmi itu
Jadilah kau pemberani
Dengan Taqribnya (pendekatan) Abi Syuja’ (bapak para pemberani).

Karena padat dan pentingnya isi kitab ini, para imam berpacu mensyarahi, mengomentari, memberi catatan kaki serta merumuskanya dalam bait-bait nazam. Di antaranya syarah-syarah tersebut ialah:

Kifayah al-Akhyar fi Syarh al-Ikhtisar, karya Imam Taqiyuddin bin Muhammad al-Husaini al-Hishni ad-Dimasyqi, w. 829 H. kitab ini sebanyak dua jilid.
al-Iqna’ fi Hall Alfazh Abi Syuja’, karya al-Khatib al-Syarbini.
Fath al-Qarib al-Mujib fi syarh at-Taqrib atau al-Qaul al-Mukhtar fi syarh Ghayat al-Ikhtishar, karya Abu Abdillah Muhammad bin Qasim al-Gazzi, w. 918 H. Dan masih banyak lainnya.

27/06/2016

Ilmu Hakikat
Ilmu "HAKIKAT" termasuk ilmu Maknun (Ilmu yg tersimpan) di antaranya adalah Sirullah yg tidak boleh disebarkan kecuali kepada ahlinya, karena mengandung unsur yg membahayakan bagi orang awam (kebanyakan), sebagaimana yg diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. berikut ini: "Saya meriwayatkan dari Rasulullah Saw. dua wadah ilmu: salah satunya telah saya sebarkan kepada kalian, adapun yg kedua seandainya saya sebarkan kepada kalian, niscaya kalian akan mengasah pisau utk memotong leherku ini (dua wadah itu ialah Syariat dan Hakikat)". Al-Ghazali menegaskan bhwa Ilmu HAKIKAT termasuk ilmu rahasia yg kelihatannya bertentangan dgn Ilmu syari'at, namun hakekatnya tidaklah bertentangan. Ilmu ini, yg tdk boleh ditulis dan tdk boleh disebar-luaskan secara umum, terkecuali hanya patokan-patokan nya saja, jadilah keilmuan ini harus disembunyikan kecuali kepada orang-orang yg terpercaya, yg dapat menyimpan amanah, sebagaimana yg diungkapkan oleh Imam Ali Zainuddin bin Husein bin Ali bin Abu Thalib. "Banyak Ilmu bagaikan mutu manikam. Seandainya aku sebar-luaskan, niscaya orang-orang menganggapku termasuk para penyembah berhala, dan banyak tokoh kaum Muslimin menganggap halal darahku hingga mereka menganggap membunuhku itu lebih baik." HAKIKAT..juga disebut 'lubb' ("dalam", "saripati", "inti") kaitannya dgn sebuah ayat Al-Qur'an (dlm surah Al-Qashash ayat 29, dan ayat 2 lain). Ulul Albab (org yg memiliki pengetahuan yg mendalam), yakni mereka yg memiliki pandangan atau pengertian tentang HAKIKAT. Kaitannya dengan hal ini terdapat pada pepatah Sufi, "Untuk mencapai Hakikat (inti), Anda harus mampu menghancurkan kulit", yg mengandung pengertian bhwa paham (perwujudan), melampaui batas-batas pemahaman perwujudan, karena esensi melampaui bentuk-bentuk luaran yg mana ia tidak dapat direduksikan kepada bentuk luaran yang bersifat cangkang.
Semoga bermanfaat

24/06/2016

ALFIYAH IBNU MALIK
Di suatu sudut serambi masjid, terlihat seorang santri beralaskan sorban hitam bergaris putih putih dengan kopiah putih menempel di kepalanya. Ia memegang kitab kecil seukuran buku saku yang kertasnya berwarna kuning. Kepalanya menghadap keatas dengan mata terpejam, sesekali ia turunkan pandangannya kearah kitab kecil di tangan kanannya.
Dahinya mengerut, menandakan keseriuasan mendalam. Seolah ada suatu memori yang coba ia putar didalam batok kepalanya. Mulutnya pun tak berhenti bergerak. Apa yang sebenarnya yang ia lakukan? Ia sedang menghafalkan bait demi bait dari kitab: “ALFIYAH” yang berjumlah 1002 bait.
Dalam literatur pesantren di Indonesia, sudah tak asing lagi bahkan hampir seluruh pesantren menyertakan alfiyah sebagai salah satu pelajaran wajib dan menjadi tolak ukur sejauh mana kepandaian seorang santri dalam ilmu gramatikal arab.
Karya monumental ini dikarang oleh maha guru Syeh Muhammad bin Abdullah nin Malik Al-Andalusy atau lebih dikenal dengan sebutan Imam Ibnu Malik. Alfiyah memang menarik. Bahkan telah masyhur dikalangan pesantren bahwa seorang santri belum dikatakan “santri” jika belum menguasai atau setidaknya mempelajari Alfiyah.
Sudah pasti kitab ini amat menarik. Pada awal Nadzom dalam bab Muqoddimah (pendahuluan,pen)beliau menggunakan “fi’il madhi” (kata kerja yang menunjukkan masa yang telah lampau,pen). Ini adalah hal yang tak lazim. Dimana para pengarang kitab diawal pembicaraannya mayoritas menggunakan “fi’il mudhori’” (kata kerja yang menunjukkan masa yang akan terjadi atau sedang dilakukan,pen).
Inilah satu keunikan dari banyak hal dari kitab ini. Sekali saat kita membuka halaman pertama , kita langsung disuguh dengan “hidangan” yang beda dari kitab lain. Yang mungkin membuat kita berfikir dan berangan-angan.
Dalam hal ini bisa terjadi dua kemungkinan. Kemungkinan yang pertama, hal seperti ini dapat dijadikan tolak ukur dari betapa dalamnya keilmuan beliau. Diamana sebelum menulis kitab ini, 1000 nadzom yang menjadi isinya telah beliau simpan dalam memori otak beliau. Hal yang sangat langka dilakukan oleh pengarang lain.
Kemungkinan kedua bisa kita pakai pendekatan “Balaghoh”. Diamana salah satu dari “nuktah”(tujuan) pemakaian fi’il madhi adalah “LIDDAWAM”, yakni bahwa kata kerja dalam hal ini adalah lafadz “qoola”(berkata) diharapkan dapat lestari hingga akhirul-qiyamah.
Dalam kesempatan kali ini, saya mencoba untuk mengais mutiara yang terkandung dalam untaian permata NADZOM ALFIYAH yang saya dapatkan dari berbagai sumber dan guru-guru saya.
Mudah-mudahan hal yang saya ini termasuk dalam konsep akhlak terhadap seorang ‘alim yang berbunyi: “man yukrim mu’allimahu falyukrim ma ‘indahu”. Dan mudah-mudahan kita disandingkan dengan beliau kelak di akhirul-qiyamah. AMIEN…
kini saya coba membahas nuktah yang tersirat di salah satu nadzom alfiyah dalam hal ini yang terdapat dalam bab Kalam.
كلامنا لفظ مفيد كاستقم و إسم و فعل ثم حرف الكلم
Artinya: Kalam menurut ulama’ ahli nahwu adalah lafadz yang berfaidah sebagaimana lafadz istaqim…
Titik berat pembahasan kita kali ini terletak pada lafadz istaqim yang juga terdapat pada firman Allah SWT. dalam surat Al-Fushshilat ayat 30:
إن الذين قالوا ربنا الله ثم استقاموا تتنزل عليهم الملائكة أن لاتخافوا ولاتحزنوا وابشروا بالجنة التي كنتم توعدون
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah”. Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka. Maka lihatlah malaikat turun kepada mereka, dengan mengatakn, “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah merasa sedih. Bergembiralah kemu dengan mendapatkan surga yang telah Allah janjikan padamu”. (QS. Al-Fushshilat : 30)
Sebelum kita membahas ungkapan dari Alfiyah, alangkah baiknya kita dahulukan untuk membahas tafsiran ayat tersebut diatas.
Syeikh Muhammad Nawawi Al-Jawy dalam kitab Tafsir Munir menjelaskan bahwa pada saat seseorang berkata, “Allah adalah tuhanku”, maka harus diikutkan dengan keyakinan yang mendalam tentang adanya kekuasaan dan wujudnya Allah SWT. Serta mengetahui dan mengerti sifat-sifatNya secara menyeluruh. Jika tidak demikian, maka dikhawatirkan tidak ada cahaya iman di dalam hatinya. Setelah itu seseorang tersebut harus beristiqomah (استقاموا ). Hal ini dapat kita artikan dengan selalu melakuakan perbuatan baik yang diridloi oleh Allah SWT.
Setelah seseorang bersaksi dan meyakini bahwa Allah adalah tuhannya , kemudian disertai dengan istiqomah, selalu dan terus menerus menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya , sampai ajal kematian menjemput. Maka Allah akan memenuhi hatinya dengan kesenangan surga yang akan dia dapatkan kelak.
Imam Ibnu Malik dengan kedalaman ilmunya telah menyinggung hal ini pada awal pembahasan ilmu nahwu pada kitab alfiyah-nya. Al-Kalam , yang dalam hal ini saya ungkapkan sebagai ucapan, adalah lafadz atau perkataan yang memberi faidah dan manfaat yang baik kepada orang lain ataupun pada si pembicara sendiri. Di sini dicontohkan dengan kata استقم , yang artinay adalah ” beristiqomahlah ” . Lafadz ini termasuk kalam (ucapan yang benar ) karena di dalamnya terdapat faidah yang dapat kembali pada orang yang diajak bicara , karena dengan mendengar lafadz tersebut hati kecil seseorang akan terdorong untuk menunaikan suatu perbuatn yang sangat besar menfaatnya. Ataupun paling tidak faedah tersebut akan kembali pada diri kita selaku orang yang berbicara , karena dengan berkata dan memerintah demikian berarti ia harus terlebih dahulu melakukan hal tersebut.
Jadi, hindarilah omong kosong ( perkataan yang tidak ada faedahnya ). hindari bersenda gurau. Karena omong kosong dan senda gurau hanya akn menghabiskan waktu kita untuk melakukan perbuatan yang lebih berguna dan berfaedah. Dan hal itu juga dapat dapat menimbulkan kegelisahan dalam hati. Seperti sabda Rasulullah SAW, ” Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir , hendaknya ia berkata baik. Atau ( jika ia tak dapat berkata baik ) maka lebih baik ia diam saja “.

المقدمة

MUQADDIMAH

قَـالَ مُحَمَّد هُوَ ابنُ مَـالِكِ ¤ أَحْمَدُ رَبِّي اللَّهَ خَيْرَ مَالِكِ

Muhammad Ibnu Malik berkata: Aku memuji kepada Allah Tuhanku sebaik-baiknya Dzat Yang Maha Memiliki.

مُصَلِّيَاً عَلَى النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى ¤ وَآلِـــهِ الْمُسْــتَكْمِلِينَ الْشَّــرَفَا

Dengan bersholawat atas Nabi terpilih dan atas keluarganya yang mencapai derajat kemulyaan.

وَأَسْــتَعِيْنُ اللهَ فِي أَلْفِيَّـــهْ ¤ مَقَاصِدُ الْنَّحْوِ بِهَا مَحْوِيَّهْ

Juga aku memohon kepada Allah untuk kitab Alfiyah, yang dengannya dapat mencakup seluruh materi Ilmu Nahwu.

تُقَرِّبُ الأَقْصَى بِلَفْظٍ مُوْجَزِ ¤ وَتَبْسُـطُ الْبَذْلَ بِوَعْدٍ مُنْجَزِ

Mendekatkan pengertian yang jauh dengan lafadz yang ringkas serta dapat menjabar perihal detail dengan janji yang cepat.

وَتَقْتَضِي رِضَاً بِغَيْرِ سُخْطِ ¤ فَـائِقَةً أَلْفِــــيَّةَ ابْنِ مُعْطِي

Kitab ini mudah menuntut kerelaan tanpa kemarahan, melebihi kitab Alfiyahnya Ibnu Mu’thi.

وَهْوَ بِسَبْقٍ حَائِزٌ تَفْضِيْلاً ¤ مُسْـتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ الْجَمِيْلاَ

Beliau lebih memperoleh keutamaan karena lebih awal. Beliau behak atas sanjunganku yang indah.

وَاللهُ يَقْضِي بِهِبَـاتٍ وَافِرَهْ ¤ لِي وَلَهُ فِي دَرَجَاتِ الآخِرَهْ

Semoga Allah menetapkan karunianya yang luas untukku dan untuk beliau pada derajat-derajat tinggi akhirat.

Kitab Nahwu Sharaf Alfiyah Ibnu Malik, adalah sebuah Kitab Mandzumah atau Kitab Bait Nadzam yang berjumlah seribu Bait, berirama Bahar Rojaz, membahas tentang kaidah-kaidah Ilmu Nahwu dan Ilmu Sharaf
Pengarang Kitab Alfiyah ini, adalah seorang pakar Bahasa Arab, Imam yang Alim yang sangat luas ilmunya. Beliau mempunyai nama lengkap Abdullah Jamaluddin Muhammad Ibnu Abdillah Ibnu Malik at-Tha’iy al-Jayyaniy. Beliau dilahirkan di kota Jayyan Andalus (Sekarang: Spanyol) pada Tahun 600 H. Kemudian berpindah ke Damaskus dan meninggal di sana pada Tahun 672 H.

Karya emas beliau yang lain, yg cukup terkenal bernama Kitab Al-Kafiyah As-Syafiyah, terdiri dari tiga ribu Bait Nadzam yang juga bersyair Bahar Rojaz. Juga Kitab lainnya, karangan beliau yang terkenal bernama: Nadzam Lamiyah al-Af’al yang membahas Ilmu Sharaf, Tuhfatul Maudud yang membahas masalah Maqshur dan Mamdud. Semuanya membahas tentang Tata Bahasa Arab baik Nahwu atau Sharaf.

Adapun Kitab Alfiyah ini adalah Kitab yang Ringkas berbentuk Nadzam, namun mencakup semua pembahasan masalah Ilmu Nahwu dengan detil. Sebagaimana beliau katakan pada Bait Muqaddimah pada Kitab Alfiyah ini:

“Juga aku memohon kepada Allah untuk kitab Alfiyah, yang dengannya dapat mencakup seluruh materi Ilmu Nahwu”.

Metode Kitab Alfiyah ini sebenarnya cukup memberikan kemudahan bagi pelajar untuk menguasainya. Tidak hanya untuk para senior. Karena Alfiyah ini cukup mengandung pengertian yang sangat luas, tapi dengan lafad yang ringkas. Sebagaimana beliau memberi penilaian terhadap Kitab Alfiyah ini, dalam Muqaddimahnya yang berbunyi:

“Mendekatkan pengertian yang jauh dengan lafadz yang ringkas serta dapat menjabar perihal detail dengan janji yang cepat”

Kitab Alfiyah ini, disebut juga Kitab Khalashah yang berarti Ringkasan. Diringkas dari Kitab karangan beliau yang benama Al-Kafiyah As-Syafiyah, merupakan Kitab yang membahas panjang lebar tentang Ilmu Nahwu. Sebagaimana beliau berkata pada Bait terahir dari Kitab ini, yaitu pada Bait ke 1000:

“Telah terbilang cukup kitab Khalashah ini sebagai ringkasan dari Al-Kafiyah, sebagai kitab yang kaya tanpa kekurangan”.

Beliau juga memberi motivasi, bahwa Kitab ini dapat memenuhi apa yang dicari oleh para pelajar untuk memahami Ilmu Nahwu. Beliau berkata pada Bait ke 999

“Aku rasa sudah cukup dalam merangkai kitab Nadzom ini, sebagai Kitab yang luas pengertiannya dan mencakup semuanya”.

Begitulah memang, Kitab Alfiyah Ibnu Malik ini cukup sukses, mendapat kedudukan tinggi dan penilaian terhormat di hati para pencari ilmu gramatika Bahasa Arab. Dimanapun para pencinta Ilmu Nahwu pasti mengenalnya. Tersebar luas dan diajarkan di berbagai Lembaga-Lembaga Pendidikan. Tidaklah sedikit Kitab-Kitab Syarah yang menyarahi dari Nadzam Alfiyah Ibnu Malik ini, dan tidak sedikit p**a Kitab Hawasyi yang menyarahi dari Syarahnya Kitab ini. Semoga beliau mendapat kedudukan yang tinggi disisi-Nya. Amin.
الْكَلاَمُ وَمَا يَتَألَّفُ مِنْهُ
Bab Kalam dan Sesuatu yang Kalam tersusun darinya
كَلاَمُــنَا لَفْــظٌ مُفِيْدٌ كَاسْــتَقِمْ ¤ وَاسْمٌ وَفِعْلٌ ثُمَّ حَرْفٌ الْكَلِمْ
Kalam (menurut) kami (Ulama Nahwu) adalah lafadz yang memberi pengertian. Seperti lafadz “Istaqim!”. Isim, Fi’il dan Huruf adalah (tiga personil) dinamakan Kalim
وَاحِدُهُ كَلِمَةٌ وَالْقَوْلُ عَمْ ¤ وَكَلْمَةٌ بِهَا كَلاَمٌ قَدْ يُؤمْ
Tiap satu dari (personil Kalim) dinamakan Kalimat. Adapun Qaul adalah umum. Dan dengan menyebut Kalimat terkadang dimaksudkan adalah Kalam
KALAM
Definisi Kalam menurut Istilah Ulama Nahwu adalah Sebutan untuk Lafadz yang memberi pengertian satu faedah yaitu baiknya diam. Sehingga yang berkata dan yang mendengar mengerti tanpa timbul keiskalan.
Lafadz adalah nama jenis yang mencakup Kalam, Kalim, atau Kalimat, termasuk yang Muhmal (tidak biasa dipakai) ataupun yang Musta’mal (biasa dipakai) contoh perkataan Muhmal: دَيْزٌ Daizun, tidak mempunyai arti. Contoh perkataan Musta’mal عَمْرٌو ‘Amrun, ‘Amr nama orang.
Mufid (yang memberi pengertian) untuk mengeluarkan Lafdz yang Muhmal, atau hanya satu Kalimat, atau Kalim yang tersusun dari tiga kalimat atau lebih tapi tidak memberi pengertian faedah baiknya diam, seperti Lafadz: اِنْ قَامَ زَيْدٌ Apabila Zaid berdiri.
Susunan Kalam pada dasarnya Cuma ada dua: 1. ISIM + ISIM, 2. FI’IL + ISIM. Contoh pertama: زيد قائم Zaid orang yg berdiri. Contoh kedua قام زيد Zaid telah berdiri. Sebagaimana contoh Kalam yang disebutkan oleh Mushannif pada baris baitnya, yaitu lafadz استقم ISTAQIM! Artinya: berdirilah! Pada lafadz ini terdiri dari Fiil ‘Amar dan Isim Fa’il berupa Dhomir Mustatir (kata ganti yang disimpan) FI’IL + ISIM takdirnya adalah استقم أنت ISTAQIM ANTA, artinya: berdirilah kamu! maka contoh ini memenuhi criteria untuk disebut Kalam yaitu lafadz yang memberi pengertian suatu faidah. Sepertinya Mushannif mendefinisikan kalam pada bait syairnya sebagai berikut: Kalam adalah Lafadz yang memberi pengertian suatu faidah seperti faidahnya lafadz استقم.

Bab Kalam Ibnu Aqil
KALIM
Adalah nama jenis yang setiap satu bagiannya disebut kalimat, yaitu: Isim, Fi’il dan Huruf. Jika Kalimat itu menunjukkan suatu arti pada dirinya sendiri tanpa terikat waktu, maka Kalimat tsb dinamakan KALIMAT ISIM. Jika Kalimat itu menunjukkan suatu arti pada dirinya sendiri dengan menyertai waktu, maka Kalimat tsb dinamakan KALIMAT FIIL. Jika Kalimat itu tidak menunjukkan suatu arti pada dirinya sendiri, melainkan kepada yang lainnya, maka Kalimat tsb dinamakan KALIMAT HURUF. Walhasil Kalim dalam Ilmu Nahwu adalah susunan dari tiga kalimat tsb atau lebih, baik berfaidah ataupun tidak misal: إن قام زيد jika Zaid telah berdiri.
KALIMAT
Adalah lafadz yang mempunyai satu makna tunggal yang biasa dipakai. Keluar dari definisi Kalimat adalah lafadz yang tidak biasa dipakai semisal دَيْزٌ Daizun. Juga keluar dari definisi Kalimat yaitu lafadz yang biasa dipakai tapi tidak menunjukkan satu makna, semisal Kalam.
QAUL
Adalah mengumumi semua, maksudnya termasuk Qaul adalah Kalam, Kalim juga Kalimat. Ada sebagian ulama berpendapat bahwa asal mula pemakaian Qaul untuk Lafadz yang mufrad (tunggal).
Selanjutnya Mushannif menerangkan bahwa menyebut Kalimat terkadang yang dimaksudkan adalah kalam. Seperti lafadz لا إله إلا الله Orang Arab menyebut Kalimat Ikhlash atau Kalimat Tahlil.
Sebutan Kalam dan Kalim, terkadang keduanya singkron saling mencocoki satu sama lain, dan terkadang tidak. Contoh yang mencocoki keduanya: قد قام زيد Zaid benar-benar telah berdiri. contoh tersebut dinamakan Kalam karena memberi pengertian, mempunyai faidah baiknya diam. Dan juga dinamakan Kalim karena tersusun dari ketiga personil Kalimat. Contoh hanya disebut Kalim: إن قام زيد Apabila Zaid berdiri. Dan contoh hanya disebut Kalam: زيد قائم Zaid orang yang berdiri.

Address

Singgahan Tuban
Tuban
62316

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Sunday 09:00 - 17:00

Telephone

+6281234473377

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when D'p Power Gear posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share