19/04/2026
Di sudut sunyi kehidupan yang nyaris tak tersentuh perhatian, berdirilah seorang renta bernama Abah Rastam… usia 83 tahun, tubuhnya telah membungkuk dimakan waktu, namun pundaknya masih memikul beban yang tak ringan.
Di masa yang seharusnya menjadi waktu beristirahat, Abah justru berjuang menantang kerasnya hidup. Ia merawat satu-satunya darah dagingnya, Wina… gadis 21 tahun yang sejak lahir membawa takdir berbeda sebagai penyandang sindrom Down. Sejak kepergian sang ibu saat Wina berusia 17 tahun, dunia mereka terasa semakin hening… hanya tersisa dua jiwa yang saling bertahan dalam keterbatasan.
Hari-hari mereka berjalan dalam kesederhanaan yang pilu. Terkadang, yang tersedia hanyalah nasi seadanya, ditemani daun singkong rebus yang dipetik dari belakang rumah… bukan sekadar makanan, melainkan saksi bisu perjuangan mereka melawan lapar.
Abah tak lagi memiliki tenaga untuk mencari nafkah. Langkahnya melemah, punggungnya kian merunduk… seakan waktu perlahan menariknya ke tanah. Kini, mereka hanya bergantung pada kebaikan hati tetangga yang datang sesekali—seperti cahaya kecil di tengah gelapnya kehidupan.
Ini bukan sekadar cerita… ini adalah panggilan nurani.
Akankah kisah ini terus tenggelam dalam diam… atau ada tangan-tangan yang tergerak untuk mengubah takdir mereka?