19/08/2025
Setelah kita ingat-ingat lagi, tidak ada “mata kuliah resmi” yang mengajarkan bagaimana menjadi ibu.
Seorang perempuan bisa belajar banyak hal di sekolah dan kampus, tapi ketika anak lahir… ia seperti dilempar ke “ruangan baru” bernama keibuan, yang penuh tuntutan, tanggung jawab, dan cinta yang mendalam.
Berasa “jet lag” nggak sih, bu?
Dulu hidup rasanya bebas, ngurus diri sendiri… sekarang 24/7 harus ngurus A-Z keinginan anak.
Wajar banget kalau rasanya campur aduk: bahagia, lelah, bingung, bahkan kadang merasa kehilangan diri sendiri.
Psikologi menyebut fase ini matrescence: transisi identitas dari perempuan → ibu.
Di dalamnya ada banyak benturan peran: pengen tetap jadi diri sendiri, tapi juga harus siap jadi rumah buat anak.
Lalu, apa yang bisa dilakukan ketika berada di fase ini?
✨ Terima bahwa ini fase transisi, bukan kegagalan.
Rasanya aneh itu wajar. Sama seperti jet lag, butuh waktu untuk menyesuaikan.
✨ Tetap rawat diri.
Ibu yang berdaya akan lebih mudah mendidik anak dengan hati yang penuh.
✨ Cari dukungan.
Berbagi cerita dengan sesama ibu, pasangan, atau komunitas bisa membuat langkah terasa lebih ringan.
✨ Dekatkan hati pada Allah.
Karena di balik beratnya peran, ada janji Allah: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Jadi, kalau sekarang terasa “jet lag jadi ibu”, bingung, hilang arah, kesepian, itu bukan berarti lemah.
Itu artinya ibu sedang belajar menyesuaikan diri dengan peran baru yang Allah percayakan. 🌸
Barakallahu fiikunna