08/06/2026
Dari Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
Wahai Rasulullah, dulu kami berada di atas kejelekan atau jahiliyyah, kemudian Allah Ta’ala mendatangkan kebaikan yang kami sekarang berada di atasnya yaitu Islam. Maka apakah setelah kebaikan ini akan ada kejelekan?”
Rasulullah menjawab, “Iya.”
Hudzaifah berkata, “Apakah setelah kejelekan itu akan ada kebaikan lagi?”
Rasulullah menjawab, “Iya.”
Hudzaifah berkata, “Apakah setelah kebaikan itu akan ada kejelekan lagi?”
Rasulullah menjawab, “Iya.”
Hudzaifah berkata, “Bagaimanakah bentuk kejelekan tersebut?”
Rasulullah menjawab,
“Akan ada setelahku para pemimpin atau penguasa, yang mereka tidak melaksanakan petunjukku dan juga tidak melaksanakan sunnahku. Akan ada di tengah-tengah mereka sejumlah penguasa yang berhati setan, raganya saja yang berwujud manusia.”
Hudzaifah kembali bertanya, “Apa yang harus kami perbuat jika kami menjumpai masa tersebut?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Hendaklah Engkau mendengar dan taat kepada penguasa, meskipun mereka memukul punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan taat.” hadis riwayat Muslim.
Islam lewat lisan Nabinya, telah mengajarkan bagaimana kita bermuamalah dengan pemerintah atau penguasa. Sebagian kalangan bersikap keras sehingga mudah mengkafirkan. Sebagian lagi bersikap lembek, sehingga mudah dikendalikan.
Sikap terbaik yang menjadi akidah ahlusunnah adalah, tetap menasehati penguasanya dengan baik tatkala mereka tergelincir. Penyampaian nasehat ini p**a disalurkan dengan cara yang baik, bukan dengan menyebarkan aib mereka di depan umum. Juga prinsip penting dalam muamalah dengan penguasa adalah tetap mentaati mereka selama mereka masih muslim, walaupun mereka berbuat zholim. Berikut nasehat Nabi kita -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan para ulama dalam hal ini.
Dari Abu Najih, Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan menjadikan air mata berlinang”. Kami yaitu para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan adalah nasihat dari orang yang akan berpisah, maka berilah kami wasia