21/02/2024
Kisah Unik
14 Hadits Seharga Satu Rumah
Pelaku utama dalam kisah kali ini adalah dua tokoh besar dalam dua bidang ilmu yang paling agung, yaitu Imam Malik dalam bidang hadits dan Hisyam bin Ammar dalam bidang ilmu Al-Quran. Tentang kemasyhuran Imam Malik dengan Al-Muwatha’nya tak ada yang menyangkal. Adapun Hisyam bin Ammar adalah satu dari dua orang periwayat qiraat dari Ibnu Amir. Hisyam lahir 153 H di Damaskus dan menjadi khatib dan imam qiraat.
Para ulama terdahulu biasanya menyebut kawasan Damaskus dan sekitarnya dengan sebutan Syam. Penduduknya atau para penuntut ilmu dan ulama yang berasal dari sana di sebut Ahlu Syam.
Konon semasa mudanya, Hisyam oleh ayahnya disuruh untuk mendengarkan hadits dari Imam Malik di Madinah. Meriwayatkan hadits dari sang imam adalah sebuah kebanggaan yang diinginkan bahkan oleh para khalifah dan pejabat negara. Untuk cita-cita mulia itu ayah Hisyam rela menjual rumahnya untuk membekali anaknya agar dapat berangkat ke Madinah dan meriwayatkan hadits dari Imam Malik.
Singkat cerita Hisyam sampai di Madinah. Ia memasuki masjid Nabawi tempat majelis Imam Malik berada. Sesampai di majelis, Hisyam menyaksikan semua orang duduk dengan khidmat, khyusuk, seperti permisalan orang Arab dahulu yang mengatakan, “Seolah ada burung yang bertengger di atas kepala mereka.” Artinya mereka seolah tak bergeming karena tak ingin burung terbang karena gerakannya. Lalu Hisyam berkata,
“Wahai Malik, bacakanlah hadits kepadaku.”
Hisyam luput menyadari bahwa ia berada di majelis Imam Malik, berada di Hijaz, bukan sedang berada di wilayah Syam. Ahlu Hijaz memiliki tradisi dan pandangan berbeda dalam pembelajaran hadits. Ahlu Hijaz berpadangan bahwa antara ‘aradh (murid membacakan hadits kepada syekh sementara syekh menyimak melalui hafalannya) dan sama’ (syekh membacakan murid menyimak) sama saja. Sementara penduduk Syam berpandangan bahwa sama’ lebih utama.
Baru saja Hisyam menyelesaikan ucapannya, ‘Bug..! Sebuah pukulan dari para penjaga majelis Imam Malik mendarat di punggungnya. Soal pukulan ini, konon, dalam majelis Imam Malik ada petugas khusus ditugaskan menjaga kondisi majelis agar para peserta mejelis tetap menjaga adab dan kemuliaan mejelis. Sebab mereka sedang mempelajari hadits-hadits Nabi SAW yang mulia. Bila ada yang dianggap mengganggu atau tidak beradab kepada manjelis, maka ia harus rela menerima pukulan dari arah yang tidak mereka sangka.
Hisyam tetap berusaha menyampaikan maksudnya, agar Imam Malik mau membacakan hadits kepadanya. Namun setiap kali ia bicara satu pukulan mendarat di badannya. Akhirnya ia berkata, “Wallahi, wahai Imam, ayah saya mengirim saya ke sini dengan menjual rumahnya agar Anda bisa membacakan hadits kepada saya. Tetapi setelah saya sampai di sini Anda memperlakukan saya seperti ini? Saya benar-benar tidak akan memaafkan Anda.”
Imam Malik lantas menghentikan pelajarannya sejenak lalu berkata, “Dengan apa saya harus menghalalkan apa yang sudah saya lakukan kepadamu?”
Hisyam menjawab, “Para penjaga Anda sudah memukul saya empat belas kali pukuluan. Maka bacakan kepada saya empat belas hadits sebagai penghalalnya.”
Imam Malik lantas membacakan empat belas hadits kepada Hisyam. Sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Imam Malik. Bahkan beliau menolak permintaan Amirul Mukminin Harus Ar-Rasyid ketika datang ke majelisnya dan meminta sang imam agar membacakan hadits untuknya.
Setelah selesai Hisayam berkata, “Tambahkan pukulan kemudian tambahkan hadits untukku.” :D
Perjanjian sudah ditunaikan. Imam Malik lantas menyuruh Hisyam beranjak dari majelisnya.
Apa pelajaran dari kisah di atas?
• Seorang penuntut ilmu yang hendak mendatangi sutu daerah sepatutnya untuk mengetahui tradisi, madzhab keilmuan, dan kebiasaan masyarakat setempat agar tidak salah bersikap.
• Memuliakan ilmu dengan menjaga adab adalah tradisi para salaf sepatutnya dijaga oleh setiap muslim terutama para penuntut ilmu.
• Karunia dan kemurahan Allah untuk Ahlul Qur’an. Hisyam adalah Ahlul Qur’an, penjaga kalam-Nya, maka Allah melunakkan hati Imam Malik untuk membacakan hadits kepadanya. Sesuatu yang tidak beliau lakukan kepada selainnya, bahkan kepada seorang khlaifah sekalipun.
• Keteladanan tentang ketawadhuan dan rasa takut seorang Imam Malik. Beliau seolah tidak ingin tersangkut masalah kezaliman kepada sesama. Maka beliau bersedia menghalalkan meski dengan cara yang tidak biasa beliau lakukan.
*Disadur dari ceramah Syekh Said Al-Kamali dengan penyesuaian redaksional dari saya.