11/06/2026
Dua Tokoh dari Dua Dunia Berbeda
Semula saya sedang membaca buku Biografi MOHAMMAD NATSIR ini. Baru separo dari total 650an halaman. Tapi saya tergoda untuk sementara beralih membaca buku Growing Up bin Laden. Gara-garanya, akhir pekan lalu saya melihat buku bersampul coklat itu di lemari sebuah perpustakaan. Karena penasaran, saya pun meminjamnya. Karena ini buku pinjaman, saya harus menyelesaikannya maksimal dalam waktu sepekan.
Sebagaimana judulnya, buku setebal 550an halaman ini memotret sosok yang kontroversial Osma bin Laden dari sudut pandang domestik; Najwa sebagai istri pertama bin Laden, dan Omar, putra ketiga yang juga anak dari perniakahnnya dengan Najwa.
Saya cukup menikmati tulisan (terjemahan) dari Jean Sasson ini. Dia dengan sangat piawai menarasikan hasil wawancara yang dai lakukan terhadap kedua narasumber (Najwa dan Omar). Buku ini menjadi menarik karena ia memotret sisi yang dalam kultur umumnya orang Arab sangat privasi; yaitu kehidupan keluarga. Isinya cukup komplit; menyajikan kehidupan keluarga Osama di tiga episode dan tempat berbeda: Saudi, Sudan dan kemudian Afganistan.
Sebagai seorang pribadi, Osama digambarkan sebagai sosok yang jenius namun protektif, kaya tapi sederhana, keras tapi halus, teguh pendirian, religius dan tanpa basa basi.
Indikasinya kejeniusannya adalah bahwa Osama lulus dari sekolah percontohan (tingkat SMA) yang berada langsung di bawah pengawasan kerajaan. Pengajarnya adalah para guru pilihan yang didatangkan langsung inggris. Dalam soal matematik Omar menyebut ayahnya lebih cepat menyelesaikan soal daripada kalkulator yang canggih sekalipun. Soal daya ingat, Omar menyebut ayahnya memiliki daya ingat yang sangat kuat dan detil. Ia tidak pernah salah saat membaca Al-Qur’an melalui hafalannya. Bahkan saat Omar sangat ingin ayahnya melakukan satu kesalahan, agar ia merasa menang.
Protektif karena menurut Omar, ayahnya sangat sulit menerima masukan yang berbeda dengan pikirannya. Omar juga menggambarkan ayahnya sebagai pribadi yang sangat serius, bahkan terlalu serius. Tidak ada yang boleh tergelak ketika tertawa.
Kaya sudah pasti, karena Osama mewarisi sebagian saham dari perusahan yang ditinggal mati oleh ayahnya, Muhammad bin Awad. Namun Osama memilih hidup sederhana. Bahkan keserdehanaannya cenderung kestrem. Misalnya; Osama tidak membolehkan keluarganya menggunakan AC dan kulkas, baik saat tinggal di Saudi maupun ketika berada di Sudan. Menurutnya kemewahan dan kemudahan merusak mental mengurangi kuwalitas cara beragama. Larangan ini kemudian mengakibatkan munculnya peristiwa-peristiwa kecil yang membuat saya tertawa sendiri saat membacanya. Menurut Najwa, suaminya itu hanya prefeksionis dalam dua hal; kendaraan (mobil) dan kuda.
Soal sifatnya yang halus tapi keras. Intonasi bicaranya pelan dan halus. Osama tidak pernah meninggikan suaranya dalam keadaan sangat marah sekalipun. Kepada siapa pun. Di sisi lain, Osama sangat disiplin dan cenderung keras dalam mendidik anak-anak dan keluarganya. Sikap keras yang kemudian menjadi sisi yang sangat disoroti oleh putranya Omar sepanjang penuturannya. Omar sendiri dikemudian hari menjadi tokoh antagonis yang mengkritik jalan hidup yang ditempuh ayahnya.
Sebagai seorang muslim bertalar wahabi, Osama digambarkan sebagai sosok yang taat, koservatif dan puritan dalam beragama.
Dalam buku ini Jean Sasson memang fokus menyoroti kehidupan keluarga Osama. Terdapat sedikit catatan mengenai kegiatan politiknya, sekadar sebagai jembatan untuk memahami keterhubungan beberapa peristiwa yang terjadi di tengah keluarganya. Misalnya, pertemuan dan pergaulan Osama dengan Abdullah 4zzam, interaksi dengan berbagai aliran pemikiran di medan j1had Afgan pada masa melawan invasi Soviet, hubungan dengan kerajaan Saudi, negara Sudan hingga Tal1ban. [Ibnu Syarqi]