05/07/2023
Repost .aji.daryono
Pernah saya ditanyai seorang kawan Fesbuk, "Gimana caranya biar anak s**a membaca, Mas?"
Saya jawab, "Ortunya ya harus membaca dulu. Biar anak mencontoh."
Trus dia diam gak jawab lagi.
Banyak kasus begitu. Kepengen banget anak dekat dengan buku, tapi ortu sekadar menyuruh. Hanya dengan disuruh saja tanpa diberi contoh, anak melihat membaca tak lebih sebagai perintah, bukan sebagai tradisi bersama. Di situ masalahnya.
Maka, ngasih contoh ke anak dengan tampilan visual ortu membaca itu penting. Mengistirahatkan Kindle lalu ganti buku kertas itu penting (ini pernah saya tulis di Detik). Belanja buku yang banyak lalu dipajang di rumah itu penting (soal membacanya bisa pelan2, yang penting tampilan visual dulu).
Dan, jadikan buku sebagai hal yang lekat dengan saat2 istimewa.
Makanya, kalo anak minta dibelikan buku, meski harganya bikin cenut2, belikan saja. Toh dia gak minta baju atau sepatu. Begitu adiknya ikut2an, kalo bisa ya sekalian saja. Minimal si thole juga akan ikut tertular melihat buku sebagai kegembiraan bersama.
Soal dhit, sesuk golekke meneh. Dhit dari mana? Ya dari jualan buku juga hahaha.
Oiya, beli buku gak harus mahal. Saya sering beli buku preloved untuk anak wedok di Shopee dan di teman FB harga 20-50 ribuan. Gak usah lagi2 bawa2 perkara struktural sebagai bemper kemalasan haha.