PARADE AGENCY SOLOK

PARADE AGENCY SOLOK Bila lelah menulis;
bolehlah berhenti sejenak. Namun jangan pernah untuk berhenti membaca !
' APA PUN YANG PATUT dan PANTAS, BACA LAH !

Karena itu akan merubah Peradaban...

28/06/2025

Send a message to learn more

21/04/2025

Koran, mediacetak menjadi pedoman yang 'masih' dibutuhkan.

Di pagi yang lengang, loper letakan koran di atas meja sarapan depan rumah dan saya pun membuka halaman koran dengan bunyi khas; kresek kertas menggesek udara, aroma tinta yang tak tergantikan oleh layar ponsel. Rasanya seperti membuka pintu rumah masa kecil —akrab, hangat, namun terasa jauh.
Koran zaman sekarang makin tipis, iklannya pun makin sedikit. Makin jarang saya melihat 'orang moderen' membaca atau beli koran di pinggir jalan, di halte, di stasiun, juga di tempat lain.
Pertanyaan yang terus menghantui: apakah media cetak sedang sekarat? Atau ia hanya menua dengan anggun, menunggu bentuk barunya sendiri?
Hari ini, orang membaca berita dengan cara menggesek layar, bukan membukabalik halaman. Notifikasi pun lebih cepat dari detik jam, dan headline kini bersaing dengan meme, thread di X, dan video ringan di TikTok.
Di tengah gegap gempita digital, koran terasa seperti surat dari masa lalu. Dilirik sebentar, lalu ditinggal berserakan.
Tapi tunggu dulu. Bukankah sesuatu yang lambat itu tak selalu usang?
Kadang, yang pelan justru menyimpan kedalaman.
Kadang, yang dilupakan adalah yang kita butuhkan diam-diam.
Dalam buku “Breaking News : The Remaking of Journalism and Why It Matters Now” (2018), Alan Rusbridger —mantan pemimpin redaksi The Guardian —menulis bahwa jurnalisme sedang berada di antara dua kutub: bisnis dan kepercayaan.
Mediacetak, yang pernah menjadi simbol otoritas dan keandalan, kini terjepit di antara pendapatan iklan yang menguap dan pembaca yang pindah ke dunia daring.
Ironisnya, justru di tengah kelelahan digital —di mana berita datang terlalu cepat untuk dicerna —muncul kerinduan terhadap yang lambat dan bermakna.
Di sinilah media cetak, atau lebih tepatnya 𝙨𝙡𝙤𝙬 𝙟𝙤𝙪𝙧𝙣𝙖𝙡𝙞𝙨𝙢, mendapatkan ruang tersendiri. Bukan sebagai pesaing berita cepat, tapi kehadirannya sebagai penyeimbang.
Seorang jurnalis senior pernah berkata, “Kita bukan sekadar pencatat kejadian, kita adalah penjaga akal sehat publik.” Tapi bagaimana menjaga akal sehat kalau semua berita diburu demi klik, bukan demi kebenaran?
Media cetak—dengan segala keterbatasannya —masih menyimpan ritual jurnalistik yang sakral: riset, jeda, editor yang menyunting dengan cermat, dan waktu terbit yang memberikan ruang berpikir. Seperti masakan yang dimasak pelan, bukan instan. Ia tak hanya memberi informasi, tapi juga rasa -dipercaya.
Dan memang, ada yang memilih tetap setia. Lihat koran 𝙅𝙖𝙬𝙖 𝙋𝙤𝙨, 𝙆𝙤𝙢𝙥𝙖𝙨, 𝙈𝙚𝙙𝙞𝙖 𝙄𝙣𝙙𝙤𝙣𝙚𝙨𝙞𝙖, 𝙍𝙖𝙠𝙮𝙖𝙩 𝙈𝙚𝙧𝙙𝙚𝙠𝙖, 𝙏𝙝𝙚 𝙉𝙚𝙬 𝙔𝙤𝙧𝙠𝙚𝙧, 𝙈𝙤𝙣𝙤𝙘𝙡𝙚—semua tetap mencetak, bukan karena keras kepala, tapi karena mereka tahu bahwa sebagian pembaca tidaklah mencari kecepatan, tapi kedalaman.
Sebagian dari kita masih ingin tetap membaca, bukan sekadar mengonsumsi dikte narasi audiovisual.
Kita tentu tak bisa menutup mata; media cetak akan terus tergerususut. Tak semua bisa bertahan. Banyak yang akan hilang, seperti lapak koran yang kini berganti warung, kedai kuliner hingga penjualan paket pulsa. Dan itu bukan aib. Karena setiap zaman punya mediumnya, tapi tidak semua medium mampu menjaga marwah jurnalisme.

Apakah media cetak akan mati?
Mungkin iya, dalam bentuk lamanya. Tapi bisa jadi, ia akan bermutasi hidup dalam bentuk baru: cetakan edisi khusus, sebagai artefak budaya, atau sebagai simbol perlawanan terhadap kebisingan digital.
Bagi wartawan muda, ini bukan ajakan untuk menulis dengan mesin tik atau bercita-cita jadi editor deadline di halaman depan.
Ini adalah undangan untuk menulis perlahan tapi pasti.
Untuk merawat empati, bukan sekadar algoritma.
Untuk membangun narasi, bukan hanya memuntahkan fakta.
Karena seperti kata Ryszard Kapuściński, “Good journalism is not about speed, but about understanding.” Dan itu tak akan pernah kedaluwarsa, di kertas ataupun di layar.
Jadi, apakah media cetak akan jadi bagian dari sejarah jurnalistik?
Tentu saja—sejarah yang layak dikenang, bukan dikubur.
Siapa tahu, dari sejarah itulah kita bisa belajar;
bahwa dalam dunia yang semakin cepat, wartawan yang mampu berhenti sejenak adalah mereka yang bisa melangkah paling jauh. (*/WICAK)

09/02/2025

Dari sebuah ruang pelatihan jurnalistik yang temaram; duduklah sekelompok wartawan muda dengan wajah penuh semangat. Mereka menghadap ke seorang pria tua berambut kelabu, mengenakan jaket lusuh yang pernah menyaksikan berpuluhtahun pertarungan antara kebenaran dan kepentingan.
Ia adalah Paklik Isnogud, wartawan veteran yang kata-katanya lebih pahit daripada kopi hitam tanpa gula.
Sejenak ia menatap para peserta, lalu menghela napas panjang.
“Kalian tahu apa yang lebih berbahaya daripada berita palsu ?” tanyanya, suaranya berat seperti tergurat kenangan yang menyesakkan.
Para peserta terdiam; menunggu jawaban.
“Ketika orang tidak lagi peduli apakah itu berita benar atau tidak.”
Mereka hanya saling berpandangan, tak mengerti.
Paklik Isnogud menyeringai tipis. “Dulu, ketika saya masih seusia kalian, wartawan itu dianggap seperti seorang pendeta di mimbar kebenaran. Orang membaca koran itu dengan khidmat, mendengarkan radio dengan takzim, menonton berita di TV dengan rasa hormat. Sekarang ? Media online terbuka bagi siapa saja yang mau seperti pedagang asongan di perempatan lampu merah—banyak, berisik, dan menjajakan penuh barang murahan.”
Tangan keriputnya pun meraih sebatang rokok yang terlanjur lama padam di meja. “Kalian tahu kenapa saat ini respek publik terhadap media online itu seperti bus kota tua—mogok dan berhenti sbegitu saja di tengah jalan dan ditinggalkan penumpangnya ? Itu karena kita, para wartawan, sudah tidak bernyali dan berprinsip. Kita hanya mengubah berita jadi dagangan, bukan lagi pengabdian !”
Dia menyalakan layar proyektor. Sebuah judul besar pun muncul :
“WOW ! Wanita Ini Ditemukan di Dalam Kulkas Setelah 3 Tahun !”
Dia mendengus panjang. “Judul kayak gini laku keras, bray. Kenapa ? Karena media sekarang bukan lagi penyampai kebenaran, tapi maniak yang menjual mimpi mengerikan. Orang tidak butuh berita, mereka butuh hiburan. Mau tahu isi beritanya apa ? Ternyata si wanita itu bukan mati membeku, tapi memang tinggal di rumah kecil dengan dapur sempit. Si wartawan cuma comot berita dari media lain, ganti judulnya jadilah itu clickbait.”
Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh peserta. “Kalian tahu apa akibatnya ? Publik bisa dibohongi oleh kelakuan semacam itu. Mereka tidak lagi percaya media. Kalian pikir kalau berita macam ini terus-terusan dibuat; apa orang-orang masih mau membayar untuk baca berita ? Media yang seperti ini tentu tidak lebih dari pasar berita palsu, di mana kebenaran dijual dengan harga receh.”
Paklik menampilkan sebuah berita lain di layar :
“Pemerintah Klaim Ekonomi Stabil di Tengah Resesi Global”
Dia tertawa pendek. “Bocah umur lima tahun pun bisa bikin berita model begini. Ambil rilis pers, copas, tambahkan dua kutipan pejabat, selesai. Tidak ada verifikasi, tidak ada pertanyaan kritis. Wartawan sekarang lebih sering duduk di belakang meja, menunggu notifikasi berita masuk ke akun monitornya. Padahal, jurnalisme itu bukan kerja kantoran, tapi kerja lapangan !”
Dia mengetuk meja dengan keras. “Kalau media hanya mengandalkan rilis pers, apa bedanya dengan humas pemerintah ? Kalau kalian cuma menulis ulang cuitan pejabat atau ngobrol di kafe bersama politisi X, apa bedanya dengan pendengung ? Kalau berita kalian mengambil dari media lain tanpa riset tambahan, lalu buat apa kalian ada ?”
Paklik kembali menampilkan slide berikutnya...
Kali ini muncul berita berbunyi :
“Sebuah studi : Minum Teh Jahe Bisa Menyembuhkan Stress dan Meningkatkan Kecerdasan.”
Dia memutar bola matanya. “Hello, studi dari mana ? Siapa yang mendanai penelitian ini ? Oh, ternyata ini artikel berbayar dari perusahaan teh jahe yang baru rilis produk baru. OK, tetapi ini tidak ada keterangan bahwa ini Advertorial. Itulah media sekarang; hanya menjual ruang berita dan menyulapnya menjadi ruang cuan, seperti pedagang yang menjual display di etalase toko mereka.”
Dia pun menghela napas. “Dulu, kita punya batasan tegas antara berita dan iklan. Garis api. Sekarang ? Blurred lines, baby.
Pembaca tidak tahu apakah yang mereka baca itu fakta atau promosi. Mereka bisa saja tertipu sekali, namun mereka akan menjadi terbiasa untuk kehilangan kepercayaan dan ini efeknya sangat lama.”
Ia lalu menunjuk seorang peserta. “Kamu baca berita politik dari mana ?”
“Biasanya dari media online besar, Paklik.”
“Bagus itu. Sekarang coba baca dua media berbeda tentang satu peristiwa politik yang sama. Kamu akan lihat bagaimana satu media menggambarkan politisi A sebagai pahlawan, sementara media lain menyebutnya bajingan.”
Paklik tertawa getir. “Dulu, media itu pengawas kekuasaan. Sekarang, berhondopondoh media menjadi bagian dari kekuasaan. Ada yang tunduk pada pemilik modal, ada yang menjadi corong politisi. Netralitas ? Itu cuma barang antik di museum jurnalistik.”
Paklik kembali duduk, menyilangkan tangan di dada. “Saat publik mulai protes, bukannya introspeksi, media malah defensif pulak. Kritik pun disebut sebagai serangan terhadap kebebasan pers. Orang yang mengkritik dilabeli buzzer. Padahal, yang menggerus kredibilitas media bukanlah kritik, tapi ketidakmampuan media untuk menerima kritik.”
Dia menatap para peserta dengan sorot matatajam.
“Kalau kita tidak mau dikritik, jika kita menutup telinga terhadap suara publik, berarti kita sudah bukan wartawan. Kita hanya orang-orang yang bersitungkin dengan laptop, smartphone, dan kuota internet, yang menulis demi klik, bukan demi kebenaran.”
Paklik Isnogud menyandarkan tubuhnya. “Kalian pikir, kenapa orang lebih s**a cari berita di media sosial ketimbang di portal berita ? Kenapa orang enggan membayar langganan berita online ? Karena media masihbelum membuktikan bahwa mereka layak didanai oleh publik. Kalau media gagal menjaga kredibilitas, lalu kenapa orang harus respek ?”
Dia menunjuk satu per satu. “Kalian mau jadi wartawan ? Maka selalu bertanya lebih keras. Galilah lebih dalam. Dan tulislah dengan bahasa lebih bertanggungjawab. Karena kalau kita terus berjalan di jalur seperti sekarang ini, kita bukan lagi disebut sbg pilar demokrasi. Kita cuma bagian dari lelucon konyol yang sedang berkarnaval, seperti karavan badut digital yang menjual berita pinggir jalan—murahan, basi, dan sangat tidak layak konsumsi.”
Hening. Tak ada yang berani bicara.
Paklik Isnogud kemudian tersenyum tipis menutup;
“Selamat datang di era baru jurnalisme, Nak !. Semoga kalian tidak turut tersesat.”

Send a message to learn more

Address

Lantai Dasar Blok B No. 55 PASARAYA SOLOK
Solok
27322

Opening Hours

Monday 08:00 - 17:00
Tuesday 08:00 - 17:00
Wednesday 08:00 - 17:00
Thursday 08:00 - 17:00
Friday 08:00 - 17:00
Saturday 08:00 - 17:00
Sunday 08:00 - 17:00

Telephone

+6275520490

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when PARADE AGENCY SOLOK posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to PARADE AGENCY SOLOK:

Share

Category