09/02/2025
Dari sebuah ruang pelatihan jurnalistik yang temaram; duduklah sekelompok wartawan muda dengan wajah penuh semangat. Mereka menghadap ke seorang pria tua berambut kelabu, mengenakan jaket lusuh yang pernah menyaksikan berpuluhtahun pertarungan antara kebenaran dan kepentingan.
Ia adalah Paklik Isnogud, wartawan veteran yang kata-katanya lebih pahit daripada kopi hitam tanpa gula.
Sejenak ia menatap para peserta, lalu menghela napas panjang.
“Kalian tahu apa yang lebih berbahaya daripada berita palsu ?” tanyanya, suaranya berat seperti tergurat kenangan yang menyesakkan.
Para peserta terdiam; menunggu jawaban.
“Ketika orang tidak lagi peduli apakah itu berita benar atau tidak.”
Mereka hanya saling berpandangan, tak mengerti.
Paklik Isnogud menyeringai tipis. “Dulu, ketika saya masih seusia kalian, wartawan itu dianggap seperti seorang pendeta di mimbar kebenaran. Orang membaca koran itu dengan khidmat, mendengarkan radio dengan takzim, menonton berita di TV dengan rasa hormat. Sekarang ? Media online terbuka bagi siapa saja yang mau seperti pedagang asongan di perempatan lampu merah—banyak, berisik, dan menjajakan penuh barang murahan.”
Tangan keriputnya pun meraih sebatang rokok yang terlanjur lama padam di meja. “Kalian tahu kenapa saat ini respek publik terhadap media online itu seperti bus kota tua—mogok dan berhenti sbegitu saja di tengah jalan dan ditinggalkan penumpangnya ? Itu karena kita, para wartawan, sudah tidak bernyali dan berprinsip. Kita hanya mengubah berita jadi dagangan, bukan lagi pengabdian !”
Dia menyalakan layar proyektor. Sebuah judul besar pun muncul :
“WOW ! Wanita Ini Ditemukan di Dalam Kulkas Setelah 3 Tahun !”
Dia mendengus panjang. “Judul kayak gini laku keras, bray. Kenapa ? Karena media sekarang bukan lagi penyampai kebenaran, tapi maniak yang menjual mimpi mengerikan. Orang tidak butuh berita, mereka butuh hiburan. Mau tahu isi beritanya apa ? Ternyata si wanita itu bukan mati membeku, tapi memang tinggal di rumah kecil dengan dapur sempit. Si wartawan cuma comot berita dari media lain, ganti judulnya jadilah itu clickbait.”
Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh peserta. “Kalian tahu apa akibatnya ? Publik bisa dibohongi oleh kelakuan semacam itu. Mereka tidak lagi percaya media. Kalian pikir kalau berita macam ini terus-terusan dibuat; apa orang-orang masih mau membayar untuk baca berita ? Media yang seperti ini tentu tidak lebih dari pasar berita palsu, di mana kebenaran dijual dengan harga receh.”
Paklik menampilkan sebuah berita lain di layar :
“Pemerintah Klaim Ekonomi Stabil di Tengah Resesi Global”
Dia tertawa pendek. “Bocah umur lima tahun pun bisa bikin berita model begini. Ambil rilis pers, copas, tambahkan dua kutipan pejabat, selesai. Tidak ada verifikasi, tidak ada pertanyaan kritis. Wartawan sekarang lebih sering duduk di belakang meja, menunggu notifikasi berita masuk ke akun monitornya. Padahal, jurnalisme itu bukan kerja kantoran, tapi kerja lapangan !”
Dia mengetuk meja dengan keras. “Kalau media hanya mengandalkan rilis pers, apa bedanya dengan humas pemerintah ? Kalau kalian cuma menulis ulang cuitan pejabat atau ngobrol di kafe bersama politisi X, apa bedanya dengan pendengung ? Kalau berita kalian mengambil dari media lain tanpa riset tambahan, lalu buat apa kalian ada ?”
Paklik kembali menampilkan slide berikutnya...
Kali ini muncul berita berbunyi :
“Sebuah studi : Minum Teh Jahe Bisa Menyembuhkan Stress dan Meningkatkan Kecerdasan.”
Dia memutar bola matanya. “Hello, studi dari mana ? Siapa yang mendanai penelitian ini ? Oh, ternyata ini artikel berbayar dari perusahaan teh jahe yang baru rilis produk baru. OK, tetapi ini tidak ada keterangan bahwa ini Advertorial. Itulah media sekarang; hanya menjual ruang berita dan menyulapnya menjadi ruang cuan, seperti pedagang yang menjual display di etalase toko mereka.”
Dia pun menghela napas. “Dulu, kita punya batasan tegas antara berita dan iklan. Garis api. Sekarang ? Blurred lines, baby.
Pembaca tidak tahu apakah yang mereka baca itu fakta atau promosi. Mereka bisa saja tertipu sekali, namun mereka akan menjadi terbiasa untuk kehilangan kepercayaan dan ini efeknya sangat lama.”
Ia lalu menunjuk seorang peserta. “Kamu baca berita politik dari mana ?”
“Biasanya dari media online besar, Paklik.”
“Bagus itu. Sekarang coba baca dua media berbeda tentang satu peristiwa politik yang sama. Kamu akan lihat bagaimana satu media menggambarkan politisi A sebagai pahlawan, sementara media lain menyebutnya bajingan.”
Paklik tertawa getir. “Dulu, media itu pengawas kekuasaan. Sekarang, berhondopondoh media menjadi bagian dari kekuasaan. Ada yang tunduk pada pemilik modal, ada yang menjadi corong politisi. Netralitas ? Itu cuma barang antik di museum jurnalistik.”
Paklik kembali duduk, menyilangkan tangan di dada. “Saat publik mulai protes, bukannya introspeksi, media malah defensif pulak. Kritik pun disebut sebagai serangan terhadap kebebasan pers. Orang yang mengkritik dilabeli buzzer. Padahal, yang menggerus kredibilitas media bukanlah kritik, tapi ketidakmampuan media untuk menerima kritik.”
Dia menatap para peserta dengan sorot matatajam.
“Kalau kita tidak mau dikritik, jika kita menutup telinga terhadap suara publik, berarti kita sudah bukan wartawan. Kita hanya orang-orang yang bersitungkin dengan laptop, smartphone, dan kuota internet, yang menulis demi klik, bukan demi kebenaran.”
Paklik Isnogud menyandarkan tubuhnya. “Kalian pikir, kenapa orang lebih s**a cari berita di media sosial ketimbang di portal berita ? Kenapa orang enggan membayar langganan berita online ? Karena media masihbelum membuktikan bahwa mereka layak didanai oleh publik. Kalau media gagal menjaga kredibilitas, lalu kenapa orang harus respek ?”
Dia menunjuk satu per satu. “Kalian mau jadi wartawan ? Maka selalu bertanya lebih keras. Galilah lebih dalam. Dan tulislah dengan bahasa lebih bertanggungjawab. Karena kalau kita terus berjalan di jalur seperti sekarang ini, kita bukan lagi disebut sbg pilar demokrasi. Kita cuma bagian dari lelucon konyol yang sedang berkarnaval, seperti karavan badut digital yang menjual berita pinggir jalan—murahan, basi, dan sangat tidak layak konsumsi.”
Hening. Tak ada yang berani bicara.
Paklik Isnogud kemudian tersenyum tipis menutup;
“Selamat datang di era baru jurnalisme, Nak !. Semoga kalian tidak turut tersesat.”
Send a message to learn more