04/12/2014
Mari sebut perdaban besar yang pernah ada di dunia ini. Inca? Maya? Mesir? Pulau Paskah? Semua betul. Tapi kenyataan bahwa semua peradaban tersebut musnah, juga betul. Menurut Prof Jared Diamond, kegagalan masyarakat setempat dalam menjaga kelestarian lingkungan merupakan salah satu penyebab kunci dari hancurnya peradaban besar. Tidak tertutup kemungkinan Indonesia juga mengalami nasib yang sama. Bahkan lebih ironis lagi, tidak seperti peradaban maju di atas, Indonesia belum jadi peradaban yang besar. Jadi ibaratnya, mawar yang layu sebelum berkembang.
Mengingat hal itu, banyak akademisi kita yang percaya bahwa paradigma lingkungan, atau sering didengar dengan green paradigm, penting untuk diarusutamakan di Indonesia. Muh Aris Marfai dalam bukunya Moralitas Lingkungan menulis bahwa semakin banyak bukti bahwa manusia indonesia kurang peka terhadap kelestarian lingkungan. Kesadaran manusia Indonesia, kata Marfai, semakin lama semakin menipis. Padahal tercatat sudah ada 70 lembaga swadaya Indonesia yang concern di bidang lingkungan. Yang bisa menjelaskan ironi ini cuma 2 kemungkinan saja. Pertama lembaga itu tidak memiliki kegiatan apapun untuk mencerdaskan masyarakat. Kedua, organisasi –organisasi itu hanya berorientasi proyek belaka. Buku ini adalah rangkaian observasi yang dilakukan oleh Marfai terkait dengan isu lingkungan yang seharusnya ramai, namun lengang dibicarakan entah lantaran tertutup oleh kekuatan modal atau ketidakpekaan manusia indonesia terhadap lingkungan.
Namun jangan terlalu pesimis, bukan berarti Indonesia tidak punya bekal mengembangkan paradigma lingkungannya. Sebab, masyarakat indonesia memiliki tradisi kuat dalam hal kepedulian dan pengelolaan lingkungan. Artefaknya masih tersimpan kini pada “masyarakat komunitas hukum adat”. Buku Francis Wahono berjudul Ekonomi Hijau ini merupakan hasil riset yang dibukukan tentang masyarakat komunitas hukum adat di indonesia yang memiliki dorongan bawah sadar, kepekaan, dan praktik hidup bersama berparadigma lingkungan.
Meskipun “masyarakat akar rumput” (meminjam term Wahono) lebih peduli lingkungan daripada masyarakat modern dan post industri kebanyakan, justru keberadaan masyarakat akar rumput ditentang keras eksistensinya. Konflik antara penambang dan petani di Kulon Progo membuktikan hal itu, dan realitas inilah yang ditulis oleh Widodo yang hasilnya dicetak dalam buku bertajuk “Menanam adalah Melawan”. Kekuatan buku ini lantaran ditulis sendiri oleh petani yang menjadi korban. Sehingga kekuatan deskripsi fenomenologisnya terasa kuat sekali. Dalam buku ini Widodo bercerita bahwa petani pesisir Kulon Progo bersatu bergandeng tangan satu tujuan demi menyelamatkan kehidupan keluarga dan anak turun mereka dari kerakusan penguasa daerah dan penguasa modal. Advokasi, kampanye, rally demonstrasi dilakukan oleh para petani dengan cara menghimpun kekuatan lokal bahkan internasional. Menariknya, isu lingkungan menjadi tema sentral perjuangan mereka. Dus, perjuangan mereka tidak sekedar menyelamatkan nasib mereka sendiri, namun juga memberikan kesadaran akan bahaya pertambangan bagi kerusakan lingkungan yang potensial menyebabkan kemiskinan sosial.
Konflik “tafsir lingkungan” antara masyarakat akar rumput dan penguasa tidak saja terjadi di Kulon Progo, namun juga terjadi di Masyarakat Desa Hutan (MDH) dengan Perum Perhutani. Sulistianingsih meriset realitas tersebut akhirnya berkesimpulan bahwa pengetahuan lokal yang terdapat di masyarakat tradisional terbukti mampu memenuhi kebutuhan subsisten sekaligus pelestarian lingkungan. Artinya, tafsir lingkungan masyarakat tradisional harus diperhatikan serius, sebab di sana ada sumber alternatif inspirasi bagi pembangunan yang menggab**gkan antara pemanfaatan SDA, pelestarian manusia dan lingkungan.
*Seluruh buku edisi lingkungan ini merupakan hasil riset observasi lapangan yang mengambil kasus di Indonesia.
1) Judul: Moralitas Lingkungan, (hasil observasi dan kumpulan opini)
Penulis: Muh Aris Rifai.
Ketersediaan di pasaran: ada beberapa
Harga: 35.000
2) Judul: Ekonomi Hijau: Manajemen Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Komunitas dari Papua Sampai Aceh. (hasil riset)
Penulis: Francis Wahono
Ketersediaan di pasaran: langka
Harga: 55.000
3) Menanam adalah Melawan (catatan fenomenologis)
Penulis: Widodo
Ketersediaan di pasaran: langka
35.000
4. Perlawanan Petani Hutan (hasil riset)
Penulis: Sulistyaningsih
Ketersediaan di pasaran: langka
Harga: 40.000
Pembelian paket edisi lingkungan:
35.000+55.000+35.000+40.000= (165.000 - 15.000) = 150.000
Cara Beli:
tuliskan format pemesanan: Judul dan Pengarang (Misal: Sutherland, Terbentuknya Sebuah Elite Birokrasi) dan kirimkan ke (silakan pilih)
1) Emailkan pemesanan ke [email protected] atau....
2) Kirim pesan via BBM 518FF4AA atau....
3) SMS ke 085643335592....
tidak lama kemudian kami akan membalas ketersediaan buku dan harga buku.
Salam Hangat.