Literasi Kata

Literasi Kata Hanya menjual Buku Original
Pemesanan buku 📚
Klik link ⬇️⬇️⬇️
https://linktr.ee/literasikata21
(2)

“Tugas warga negara dalam negara yang tidak adil adalah menolak untuk bekerja sama dengan ketidakadilan.” — Henry David ...
19/03/2026

“Tugas warga negara dalam negara yang tidak adil adalah menolak untuk bekerja sama dengan ketidakadilan.” — Henry David Thoreau

Dalam suatu tatanan yang ideal, negara hadir sebagai penjaga keadilan. Ia memberi hukum, melindungi hak, dan menjaga keseimbangan kepentingan. Namun ketika negara justru menjadi sumber ketidakadilan, maka hubungan antara warga dan kekuasaan tidak lagi sederhana. Kepatuhan, yang sebelumnya dianggap sebagai kewajiban, mulai kehilangan dasar moralnya.

Di sinilah muncul pertanyaan yang tidak mudah: apakah kewajiban seorang warga negara adalah selalu taat, ataukah ia memiliki tanggung jawab yang lebih tinggi terhadap keadilan itu sendiri? Jika hukum bertentangan dengan hati nurani, maka kepatuhan berubah menjadi partisipasi dalam kesalahan. Dalam keadaan seperti itu, diam dan mengikuti arus bukan lagi sikap netral, melainkan bentuk persetujuan.

Penolakan untuk bekerja sama bukan berarti kekacauan, melainkan bentuk perlawanan yang berakar pada prinsip. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk yang keras, tetapi bisa muncul sebagai keteguhan untuk tidak ikut serta dalam praktik yang tidak adil. Tindakan ini sering kali tampak kecil, bahkan tidak berarti, tetapi ia memiliki kekuatan moral: ia menunjukkan bahwa tidak semua orang bersedia tunduk pada ketidakbenaran.

Namun jalan ini tidak mudah. Menolak berarti menghadapi risiko—dikucilkan, dihukum, atau disalahpahami. Tetapi justru di situlah nilai dari tindakan tersebut: ia menuntut keberanian untuk menempatkan keadilan di atas kenyamanan pribadi.

Dengan demikian, pernyataan ini bukan sekadar ajakan untuk melawan, tetapi panggilan untuk bertanggung jawab. Bahwa menjadi warga negara bukan hanya soal hak dan kewajiban formal, melainkan juga soal keberanian moral untuk tidak menjadi bagian dari ketidakadilan, bahkan ketika ketidakadilan itu dilembagakan.

Salam Kato

“Politik lebih banyak soal siapa yang menguasai kekuasaan, bukan siapa yang memimpin dengan kebijakan yang bijaksana.” —...
19/03/2026

“Politik lebih banyak soal siapa yang menguasai kekuasaan, bukan siapa yang memimpin dengan kebijakan yang bijaksana.” — John Stuart Mill

Dalam bayangan ideal, politik seharusnya menjadi ruang di mana kebijaksanaan diuji dan kepentingan umum diperjuangkan. Ia dibayangkan sebagai arena rasional, tempat gagasan terbaik menang melalui pertimbangan yang jernih. Namun dalam praktiknya, politik sering kali bergerak bukan oleh kekuatan argumen, melainkan oleh kekuatan pengaruh.

Kekuasaan memiliki daya tariknya sendiri. Ia tidak selalu datang kepada mereka yang paling bijaksana, tetapi kepada mereka yang paling mampu mengumpulkan dukungan, membangun aliansi, dan mengendalikan keadaan. Dalam proses ini, kebijaksanaan kerap menjadi sekunder—bahkan terkadang menjadi beban—karena ia menuntut kehati-hatian di tengah dunia yang lebih menghargai kecepatan dan kemenangan.

Akibatnya, politik dapat berubah menjadi permainan posisi. Yang dipertarungkan bukan lagi siapa yang paling memahami kebutuhan masyarakat, melainkan siapa yang paling efektif menguasai struktur kekuasaan. Dalam keadaan seperti ini, keputusan yang diambil tidak selalu mencerminkan yang paling benar, tetapi yang paling mungkin dilakukan oleh mereka yang berkuasa.

Namun, kritik ini tidak berarti bahwa kebijaksanaan tidak memiliki tempat dalam politik. Sebaliknya, ia menunjukkan betapa langkanya nilai tersebut, dan karena itu semakin penting untuk diperjuangkan. Sebab tanpa kebijaksanaan, kekuasaan kehilangan arah; ia menjadi alat yang dapat digunakan untuk tujuan apa pun, termasuk yang merugikan banyak orang.

Dengan demikian, pernyataan ini mengajak kita untuk melihat politik dengan lebih jernih: bukan hanya sebagai soal siapa yang berkuasa, tetapi juga sebagai pertanyaan yang lebih dalam—apakah kekuasaan itu digunakan dengan kebijaksanaan, atau sekadar dipertahankan demi dirinya sendiri.

Salam Kato

“Pikiran manusia ada di alam semesta yang logis, tetapi manusia sendiri tidaklah logis.” — HeraklitusJika kita memandang...
19/03/2026

“Pikiran manusia ada di alam semesta yang logis, tetapi manusia sendiri tidaklah logis.” — Heraklitus

Jika kita memandang alam semesta, kita menemukan keteraturan yang hampir tak terbantahkan. Segala sesuatu bergerak menurut hukum, mengikuti pola, dan terikat pada sebab-akibat yang dapat dipahami oleh akal. Dari pergerakan bintang hingga perubahan musim, dunia tampak tunduk pada suatu logos—tatanan rasional yang menyelimuti segala sesuatu.

Namun manusia, yang memiliki kemampuan untuk memahami logos itu, justru tidak selalu hidup selaras dengannya. Ia dapat mengetahui apa yang benar, tetapi tetap memilih yang sebaliknya. Ia mampu melihat keteraturan, tetapi bertindak dalam kekacauan. Di sinilah muncul ketegangan yang khas: antara kemampuan berpikir yang logis dan kecenderungan bertindak yang tidak logis.

Ketidaklogisan manusia bukanlah sekadar kelemahan intelektual, melainkan cerminan dari kompleksitas dirinya. Ia tidak hanya digerakkan oleh akal, tetapi juga oleh hasrat, emosi, dan kepentingan. Apa yang dipahami sebagai benar sering kali kalah oleh apa yang dirasakan sebagai menyenangkan atau menguntungkan.

Dengan demikian, manusia hidup dalam dua dunia sekaligus: dunia yang dapat dipahami melalui akal, dan dunia batin yang tidak selalu tunduk pada akal itu sendiri. Ketegangan ini bukan sesuatu yang harus dihapuskan, melainkan dipahami. Sebab dari sanalah lahir dinamika kehidupan manusia—perjuangan antara mengetahui dan melakukan.

Maka, pernyataan ini tidak hanya menunjukkan kontradiksi, tetapi juga mengingatkan: bahwa memahami dunia secara logis tidak serta-merta membuat manusia hidup secara logis. Dan barangkali, kebijaksanaan bukan terletak pada menghapus ketidaklogisan itu, melainkan pada usaha terus-menerus untuk mendekatkannya pada akal.

Salam Kato

“Jangan bangga kerja keras jika hasilnya untuk membayar cicilan barang yang nilainya terus turun.” — Robert KiyosakiKerj...
19/03/2026

“Jangan bangga kerja keras jika hasilnya untuk membayar cicilan barang yang nilainya terus turun.” — Robert Kiyosaki

Kerja keras sering dipandang sebagai kebajikan yang tidak perlu dipertanyakan. Semakin sibuk seseorang, semakin ia dianggap berhasil. Namun di balik kesibukan itu, jarang diajukan pertanyaan yang lebih penting: untuk apa semua usaha itu dilakukan? Sebab kerja keras, tanpa arah yang jelas, dapat berubah menjadi sekadar rutinitas yang menguras tenaga tanpa benar-benar membangun nilai.

Dalam kehidupan modern, banyak orang bekerja bukan untuk memperkuat kebebasan finansialnya, melainkan untuk mempertahankan gaya hidup yang rapuh. Barang-barang yang dibeli dengan cicilan sering kali memberi kepuasan sesaat, tetapi nilainya terus menyusut seiring waktu. Ironisnya, waktu dan energi yang dihabiskan untuk mendapatkannya tidak pernah kembali.

Di sinilah letak kritik yang tajam: bukan terhadap kerja keras itu sendiri, melainkan terhadap tujuan di baliknya. Jika hasil kerja hanya digunakan untuk membayar sesuatu yang terus kehilangan nilai, maka seseorang pada dasarnya sedang menukar sesuatu yang sangat berharga—waktu hidupnya—dengan sesuatu yang semakin tidak berharga.

Hal ini menuntut perubahan cara pandang. Kerja seharusnya tidak hanya menghasilkan pendapatan, tetapi juga membangun aset—sesuatu yang memberi nilai jangka panjang, baik secara finansial maupun pribadi. Tanpa itu, kerja keras hanya menjadi lingkaran tanpa akhir: bekerja untuk membayar, lalu kembali bekerja untuk membayar.

Maka, kebanggaan tidak seharusnya terletak pada seberapa keras seseorang bekerja, tetapi pada seberapa bijak ia mengarahkan hasil kerjanya. Sebab pada akhirnya, bukan kerja keras yang menentukan kebebasan, melainkan keputusan tentang ke mana hasil kerja itu mengalir.

Salam Kato

“Pendidikan modern lebih banyak mengajarkan anak untuk menuruti aturan daripada berpikir kritis.” — John DeweyDalam bany...
19/03/2026

“Pendidikan modern lebih banyak mengajarkan anak untuk menuruti aturan daripada berpikir kritis.” — John Dewey

Dalam banyak ruang kelas, keteraturan sering kali dianggap sebagai tanda keberhasilan. Anak-anak duduk rapi, mendengarkan, mencatat, dan mengulang apa yang telah diajarkan. Semua berjalan sesuai prosedur, seolah-olah pendidikan adalah sebuah mesin yang menghasilkan keseragaman. Namun di balik keteraturan itu, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah mereka benar-benar belajar berpikir, atau sekadar belajar menaati?

Ketika aturan menjadi pusat pendidikan, maka ketaatan perlahan menggantikan rasa ingin tahu. Anak tidak lagi didorong untuk bertanya “mengapa”, melainkan untuk memastikan bahwa jawabannya sesuai dengan yang diharapkan. Kesalahan tidak dilihat sebagai bagian dari proses berpikir, tetapi sebagai sesuatu yang harus dihindari. Akibatnya, keberanian untuk meragukan dan mengeksplorasi menjadi tumpul.

Padahal, berpikir kritis justru lahir dari ketidakpuasan terhadap jawaban yang sudah ada. Ia menuntut keberanian untuk mempertanyakan, untuk melihat dari sudut yang berbeda, bahkan untuk tidak setuju. Jika pendidikan hanya melatih kepatuhan, maka ia mungkin berhasil menciptakan keteraturan, tetapi gagal membentuk manusia yang mandiri dalam berpikir.

Hal ini bukan berarti aturan tidak penting. Tanpa aturan, proses belajar bisa kehilangan arah. Namun ketika aturan menjadi tujuan, bukan alat, pendidikan kehilangan rohnya. Ia tidak lagi membebaskan, melainkan membatasi.

Dengan demikian, kritik ini mengajak kita untuk meninjau kembali tujuan pendidikan itu sendiri. Apakah kita ingin membentuk individu yang sekadar mampu mengikuti sistem, atau mereka yang mampu memahami, mengkritik, dan—jika perlu—mengubahnya? Sebab masa depan tidak hanya membutuhkan orang yang patuh, tetapi juga mereka yang berani berpikir.

Salam Kato

“Kepentingan rakyat tidak akan pernah bisa diwakilkan oleh orang-orang yang tidak hidup seperti rakyat.”Kita sering berb...
19/03/2026

“Kepentingan rakyat tidak akan pernah bisa diwakilkan oleh orang-orang yang tidak hidup seperti rakyat.”

Kita sering berbicara tentang “rakyat” seolah-olah ia adalah sebuah konsep yang dapat dipahami dari kejauhan, cukup melalui laporan, angka, dan pidato. Namun kehidupan tidak pernah sepenuhnya dapat diringkas menjadi statistik. Ia hadir dalam rasa lapar yang nyata, dalam kelelahan tubuh, dalam kecemasan akan hari esok—hal-hal yang tidak bisa sungguh dimengerti tanpa dialami.

Di sinilah persoalan perwakilan menjadi rumit. Bagaimana mungkin seseorang mengaku mewakili kehendak mereka yang hidupnya tidak pernah ia rasakan? Ada jarak yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga batin. Jarak ini melahirkan ilusi: bahwa memahami sama dengan mengalami, bahwa mendengar sama dengan mengerti.

Padahal, pengalaman membentuk cara manusia melihat dunia. Mereka yang hidup dalam kenyamanan cenderung memandang masalah sebagai sesuatu yang bisa diatur dengan wacana. Sementara mereka yang hidup dalam kesulitan melihatnya sebagai sesuatu yang harus segera dihadapi. Ketika keduanya berbicara tentang hal yang sama, sering kali yang mereka maksud sebenarnya berbeda.

Maka perwakilan sejati bukan sekadar soal mandat, melainkan kedekatan dengan realitas yang diwakili. Ia menuntut kejujuran untuk mengakui batas pemahaman, dan kerendahan hati untuk mendengar lebih banyak daripada berbicara. Tanpa itu, “kepentingan rakyat” mudah berubah menjadi sekadar kata-kata yang indah, tetapi kosong.

Dengan demikian, pernyataan ini bukanlah penolakan terhadap perwakilan, melainkan peringatan: bahwa tanpa kesediaan untuk hidup, atau setidaknya sungguh-sungguh memahami kehidupan rakyat, setiap klaim untuk mewakili mereka berisiko menjadi sekadar ilusi kekuasaan.

Salam Kato

“Saya tidak sedih kalau Anda telah membohongi saya, tetapi saya justru sedih karena sejak saat itu saya tidak bisa perca...
19/03/2026

“Saya tidak sedih kalau Anda telah membohongi saya, tetapi saya justru sedih karena sejak saat itu saya tidak bisa percaya lagi kepada Anda.”

Manusia mungkin mengira bahwa kebohongan adalah sekadar pelanggaran terhadap fakta, seolah-olah kebenaran hanya perkara benar atau salah. Namun sesungguhnya, kebohongan adalah sesuatu yang lebih dalam: ia merusak jembatan tak kasatmata yang menghubungkan satu kehendak dengan kehendak lainnya—yaitu kepercayaan.

Kepercayaan bukanlah sesuatu yang diberikan karena alasan logis semata, melainkan suatu bentuk keberanian. Ia adalah keputusan untuk membuka diri terhadap kemungkinan dikhianati. Maka ketika seseorang berbohong, yang hancur bukan hanya sebuah pernyataan, tetapi juga keberanian itu sendiri. Yang terluka bukan telinga yang mendengar, melainkan kehendak yang pernah bersedia percaya.

Di sinilah letak kesedihan yang lebih tajam. Kebohongan tidak berhenti pada satu momen; ia menjalar ke masa depan, mengubah cara seseorang memandang segala hal. Setiap kata berikutnya menjadi diragukan, setiap janji kehilangan bobotnya. Dunia yang sebelumnya tampak sederhana tiba-tiba menjadi penuh kecurigaan.

Barangkali inilah tragedi yang sesungguhnya: bukan bahwa manusia saling menipu, tetapi bahwa setelah itu, mereka kehilangan kemampuan untuk saling mempercayai tanpa beban. Dan ketika kepercayaan menghilang, hubungan antar manusia tidak lagi hidup—ia hanya bertahan dalam bentuk yang kosong.

Dengan demikian, kebohongan bukan sekadar kesalahan moral; ia adalah kekuatan yang diam-diam merusak fondasi dari segala kebersamaan. Dan apa yang hancur di sana, jarang sekali dapat dibangun kembali dengan utuh.

Salam Kato

“Orang memerlukan dua tahun untuk berbicara, tetapi lima puluh tahun untuk belajar tutup mulut.”Pada awal hidupnya, manu...
19/03/2026

“Orang memerlukan dua tahun untuk berbicara, tetapi lima puluh tahun untuk belajar tutup mulut.”

Pada awal hidupnya, manusia berjuang untuk menguasai kata. Ia belajar menyebut, menamai, dan menyatakan diri, seolah-olah suara adalah bukti keberadaan. Kata-kata menjadi alat untuk hadir di dunia, untuk diakui, untuk tidak tenggelam dalam diam yang menakutkan. Maka berbicara terasa seperti kemenangan pertama.

Namun waktu berjalan, dan manusia perlahan menyadari bahwa kata-kata tidak hanya mengungkapkan, tetapi juga dapat menyembunyikan, melukai, dan mengaburkan. Semakin banyak ia berbicara, semakin ia melihat betapa sering kata digunakan bukan untuk kebenaran, melainkan untuk menghindarinya. Di titik inilah pelajaran yang lebih sulit dimulai: belajar menahan diri.

Diam bukanlah kekosongan, melainkan pilihan. Ia adalah bentuk pengendalian diri yang lahir dari pemahaman bahwa tidak semua hal perlu diucapkan, dan tidak setiap kebenaran harus segera dilontarkan. Dalam diam, seseorang belajar mendengar—bukan hanya suara orang lain, tetapi juga kegaduhan dalam dirinya sendiri.

Butuh waktu puluhan tahun karena diam menuntut lebih dari sekadar menutup mulut; ia menuntut kedewasaan. Ia mengharuskan seseorang menimbang makna, memahami konteks, dan menerima bahwa kehadiran tidak selalu harus ditegaskan dengan suara.

Pada akhirnya, berbicara adalah keterampilan, tetapi diam adalah kebijaksanaan. Dan seperti semua kebijaksanaan, ia tidak diwariskan—ia ditempa, perlahan, oleh pengalaman dan kesadaran.

Salam Kato

“Tidak ada seorang yang genius tanpa sebuah pemikiran gila.”Jika kita menimbang hakikat kejeniusan, maka kita tidak bole...
19/03/2026

“Tidak ada seorang yang genius tanpa sebuah pemikiran gila.”

Jika kita menimbang hakikat kejeniusan, maka kita tidak boleh hanya melihat pada hasil akhirnya, melainkan juga pada gerak awal jiwa yang melahirkannya. Sebab setiap pengetahuan yang tinggi berawal dari keberanian untuk menyimpang sejenak dari kebiasaan berpikir yang umum. Dalam penyimpangan itulah sering tampak sesuatu yang oleh orang banyak disebut “kegilaan”, tetapi oleh akal yang terlatih dikenali sebagai potensi.

Manusia, menurut kodratnya, adalah makhluk yang ingin mengetahui. Namun tidak semua pengetahuan lahir dari jalan yang lurus dan aman. Ada kalanya, untuk mencapai kebenaran yang lebih tinggi, pikiran harus berani melampaui batas-batas yang telah dianggap pasti. Apa yang tampak tidak masuk akal pada awalnya sering kali merupakan benih dari pemahaman yang lebih dalam, selama ia tetap diarahkan oleh rasio.

Di sinilah pentingnya membedakan antara kegilaan yang tanpa arah dan kegilaan yang produktif. Yang pertama adalah kekacauan jiwa yang menjauhkan manusia dari kebenaran, sedangkan yang kedua adalah keberanian intelektual untuk mempertanyakan yang mapan dan membayangkan yang belum pernah ada. Kejeniusan tidak lahir dari ketertiban semata, tetapi dari keseimbangan antara keberanian untuk melampaui dan kemampuan untuk menata kembali.

Maka, dapat dikatakan bahwa apa yang disebut “pemikiran gila” bukanlah lawan dari akal, melainkan tahap awal yang, jika dipimpin dengan baik, dapat mencapai bentuk tertingginya. Seorang genius bukanlah ia yang kehilangan akal, tetapi ia yang mampu menjelajahi batasnya tanpa tersesat di dalamnya.

Salam Kato

“Berbahaya untuk menjadi benar dalam hal-hal di mana orang-orang yang berwenang keliru.”Betapa ganjilnya dunia ini, di m...
19/03/2026

“Berbahaya untuk menjadi benar dalam hal-hal di mana orang-orang yang berwenang keliru.”

Betapa ganjilnya dunia ini, di mana kebenaran tidak diukur dari terang akal, melainkan dari tinggi rendahnya kursi kekuasaan. Seolah-olah nalar harus berlutut di hadapan jabatan, dan fakta mesti meminta izin sebelum menampakkan dirinya. Maka lahirlah suatu keadaan yang ironis: bukan kebodohan yang paling berbahaya, melainkan keberanian untuk tidak ikut bodoh bersama-sama.

Orang yang berani benar di tengah kesalahan yang dilembagakan sering kali diperlakukan bukan sebagai pembawa cahaya, melainkan sebagai pengganggu ketertiban. Ia dianggap duri dalam kenyamanan kolektif, karena kebenaran memiliki kebiasaan buruk: ia tidak sopan, tidak kompromistis, dan jarang sekali menyenangkan bagi mereka yang diuntungkan oleh kekeliruan.

Namun, apa arti kewenangan jika ia berdiri di atas kekeliruan? Ia tak lebih dari sandiwara yang dipentaskan berulang-ulang, hingga penonton lupa bahwa itu hanyalah lakon. Dan lebih celaka lagi, ketika para aktor mulai percaya bahwa peran mereka adalah kenyataan.

Di sinilah letak keberanian sejati: bukan sekadar mengetahui yang benar, tetapi bersedia menanggung akibatnya. Sebab kebenaran, seperti cahaya, tidak pernah berjanji akan membuat kita nyaman—ia hanya berjanji untuk membuat kita melihat.

Maka, jika menjadi benar terasa berbahaya, barangkali itu bukan kesalahan kebenaran itu sendiri, melainkan bukti bahwa dunia terlalu lama bersahabat dengan kekeliruan.

Salam Kato

Mari kita mulai dengan sebuah pertanyaan: ketika kita berbicara, sebenarnya apa yang sedang kita cari—kebenaran, pemaham...
17/03/2026

Mari kita mulai dengan sebuah pertanyaan: ketika kita berbicara, sebenarnya apa yang sedang kita cari—kebenaran, pemahaman, atau sekadar hiburan bagi pikiran yang gelisah?

Seseorang yang mencintai kebijaksanaan akan cenderung membahas gagasan. Ia tahu bahwa ide adalah benih dari perubahan. Dengan menguji, mempertanyakan, dan mendiskusikan ide, kita memperluas pengertian kita tentang dunia dan tentang diri kita sendiri. Bukankah kehidupan yang tak pernah diperiksa adalah kehidupan yang tidak sungguh-sungguh dijalani?

Lalu ada mereka yang lebih senang membicarakan peristiwa. Ini bukan tanpa nilai, sebab dari peristiwa kita dapat belajar tentang sebab dan akibat. Namun, jika kita berhenti hanya pada apa yang terjadi, tanpa bertanya mengapa dan bagaimana, kita mungkin kehilangan kesempatan untuk memahami makna yang lebih dalam.

Namun yang paling patut kita renungkan adalah kecenderungan untuk membicarakan orang lain. Katakanlah, apa yang sebenarnya kita dapatkan dari itu? Apakah kita menjadi lebih bijaksana, atau justru semakin jauh dari mengenal diri sendiri? Ketika pembicaraan kita dipenuhi oleh kehidupan orang lain, mungkin itu pertanda bahwa kita belum cukup berani menghadapi kehidupan kita sendiri.

Maka, aku mengajakmu untuk memeriksa kembali arah percakapanmu. Bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memahami. Sebab dalam setiap kata yang kita pilih, tersimpan cerminan dari jiwa kita. Dan jika tujuan kita adalah menjadi manusia yang lebih baik, tidakkah seharusnya kita memilih untuk membicarakan hal-hal yang mengangkat, bukan yang merendahkan?

Salam Kato

Buat apa kita sibuk mengkhawatirkan masa depan, kalau hari ini saja dulu pernah kita takutkan—dan nyatanya, kita masih d...
17/03/2026

Buat apa kita sibuk mengkhawatirkan masa depan, kalau hari ini saja dulu pernah kita takutkan—dan nyatanya, kita masih di sini, masih bernapas, masih diberi kesempatan untuk melangkah?

Sering kali yang membuat kita gelisah bukan kenyataan, melainkan bayangan tentang apa yang belum tentu terjadi. Kita memelihara kecemasan seperti memelihara api kecil di dalam dada—dipupuk oleh prasangka, disiram oleh ketidakpastian. Padahal hidup tidak pernah berjalan sepenuhnya sesuai ketakutan kita, dan juga tidak selalu mengikuti rencana kita.

Ada ironi di situ: kita takut pada hari esok, sementara hari ini yang dulu kita takutkan justru sedang kita jalani dengan segala biasa-biasanya. Artinya, sebagian besar ketakutan kita hanyalah cerita yang kita karang sendiri.

Barangkali yang perlu kita lakukan bukanlah mengusir masa depan dari pikiran, tetapi menempatkannya secara wajar. Masa depan itu bukan untuk ditakuti, melainkan untuk disambut dengan kesiapan batin. Dan kesiapan itu tidak lahir dari kegelisahan, melainkan dari ketenangan.

Hidup ini, kalau boleh jujur, lebih sering mengajarkan kita untuk percaya daripada memahami. Tidak semua harus jelas sekarang, tidak semua harus selesai hari ini. Ada bagian-bagian yang memang harus kita serahkan, agar kita tidak kelelahan menjadi penguasa atas sesuatu yang bukan wilayah kita.

Jadi, mari kita cukupkan hari ini dengan kesadaran penuh. Karena di sinilah hidup benar-benar berlangsung—bukan di masa lalu yang sudah selesai, dan bukan di masa depan yang belum tentu datang. Di sini, di saat ini, kita belajar percaya, sekaligus belajar merawat diri agar tetap waras di tengah segala kemungkinan.

Salam Kato

Address

Sleman
55284

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Literasi Kata posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Literasi Kata:

Share

Category