24/12/2013
Copas:
KEMATIAN YANG INDAH
(Sebagai renungan akhir tahun)
ADA orang yang matinya indah, lancar, gampang, bahkan tampaknya gembira dan tersenyum.
Dan ada p**a yang matinya seret, susah, menakutkan, disertai oleh kejangan-kejangan, berbelit-belit menghempaskan badan ke kiri dan ke kanan, sambil bunyi sesak nafas dan bersuara yang seram.
Keadaan yang demikian, bukan saja menurut persaksian orang- orang yang sering menghadiri atau melepas orang menghembuskan nafas terakhir, tetapi juga diakui dan diterangkan oleh Islam dalam ayat-ayat Al Qur'an dan Hadits.
Kematian yang seret, susah dan menakutkan itu diterangkan Al Qur'an:
"Ingatlah bila roh sudah sampai di kerongkongan.
Ditanyakan:
`Siapakah lagi yang dapat menyembuhkan?`
Yakinlah ia bahwa perpisahan (mati) sudah datang.
Berbelitlah kepayahan demi kepayahan.
Kepada Tuhanmu di hari itu ia akan kembali.
Padahal ia tidak membenarkan (ajaran ALLAH) dan tidak mendirikan sholat.
Bahkan senantiasa mendustakan dan berpaling.
Lalu kembali kepada keluarganya dengan bersombong diri.
Celakalah engkau dan celaka.
Sekali lagi celakalah engkau dan celaka. "
::QS Al Qiyamah 26-35::
Demikian p**a Hadits yang menerangkan susah dan seretnya kematian seorang yang bernama Alqomah, karena kedurhakaannya terhadap ibunya sendiri.
Orang yang seret dan susah kematiannya, ialah orang-orang yang semasa hidupnya banyak melakukan dosa-dosa besar; mengengkari akan ajaran ALLAH, pernah bersombong diri terhadap ALLAH, pernah mengeluarkan kata-kata yang menghina terhadap ALLAH.
Demikian juga orang yang pernah melakukan pembunuhan sesama manusia tanpa alasan yang sah, atau orang yang durhaka terhadap ibu dan bapaknya.
Di antara beratus atau beribu contoh, ialah kematian Josef Stalin yang menurut keterangan anaknya sendiri dengan tulisannya di berbagai surat- surat khabar, ia mati sesudah 2x24 jam lamanya, ia membanting diri ke kiri dan ke kanan, dengan dada yang kembang-kempis,
nafas-sesak, mengerang, mengeluh dan berteriak.
Benar- benar sebagai yang diterangkan ayat Al Qur'an tersebut di atas:
`berbelit kepayahan demi kepayahan, celaka, celaka, celaka dan celaka.`
Karena melihat pemandangan yang luar biasa itu, anaknya sejak kecilnya atheis, lalu mulai percaya akan adanya Tuhan, sehingga dengan kepercayaannya itu ia terpaksa meninggalkan tanahairnya, Rusia, lari ke India, Eropa, akhirnya menetap di Amerika, negara musuh bangsanya dan bapaknya sendiri.
Di dalam Al Qur'an diterangkan sebagai berikut:
"Adapun bila yang meninggal itu adalah orang-orang yang mendekatkan diri (kepada ALLAH).
Maka (kematian baginya) adalah lega, semerbak dan nikmat sekali."
::QS Al Waqi'ah 88-89::
Tegas sekali ayat tersebut menerangkan keindahan mati bagi manusia yang mendekatkan diri kepada ALLAH.
Sekalipun matinya dengan mata pedang, peluru senapan, di atas tiang gantungan atau di Lubang Buaya sekalipun, baginya mati itu tetap lega,
semerbak dan nikmat sekali.
Berpuluh Hadits menerangkan indahnya kematian banyak sahabat Rasulullah SAW baik di medan perang atau di tempat aman.
Di antara mereka ada yang matinya karena luka-luka parah di sekujur batang tubuh mereka, mereka tampaknya tak menderita, malah tenang, senyum seakan-akan mereka tak merasakan sakitnya luka parah itu.
Perjuangan dan jasa-jasa baik mereka semasa hidupnya dan keyakinan (kepercayaan) mereka akan mendapatkan tempat bahagia dalam Barzakh dan Akhirat rupanya telah menyebabkan mereka menjadi kebal, tak dapat merasakan pedihnya luka dan mati itu.
Sebaliknya bagi orang yang berdosa besar, semua dosa dan kesalahan yang pernah mereka lakukan akan teringat dan terbayang kembali ketika mereka menghadapi sakaratil-maut.
lnilah yang menyebabkan penderitaan mereka menjadi berlipat-ganda sebagai mana yang telah diterangkan oleh ayat Al Qur'an surah Al Qiyamah tadi.
Rasulullah SAW sering berdoa agar ALLAH menghindarkannya dari kesusahan mati dengan sabdanya:
"Ya ALLAH, ringankanlah bagiku dalam sakaratil-maut"
Doa Rasulullah SAW ini yang sebenarnya tidak perlu beliau ucapkan karena beliau adalah seorang suci, seorang Utusan ALLAH.
Doa itu beliau ucapkan sebagai ajaran dan nasihat bagi ummatnya, supaya mereka selalu berdoa, melakukan kebajikan dan mendekatkan diri kepada ALLAH agar digampangkan dan diringankan menghadapi sakaratil-maut itu.
Perhatikanlah p**a firman ALLAH dalam Al Qur'an:
"Sesungguhnya orang-orang yang berkata:
`Tuhan kami ALLAH`, lalu senantiasa meluruskan jalan hidupnya menurut ajaran ALLAH akan turun kepada mereka para Malaikat (dikala menghadapi maut) untuk mengenali mereka jangan takut dan sedih, bahkan bergembiralah dengan Syurga yang telah dijanjikan.
Kamilah yang menjadi Pelindungmu dalam kehidupan dunia dan dalam kehidupan Akhirat.
Bagimu dalam Syurga itu telah tersedia apa saja yang kamu inginkan, dan apa saja yang kamu minta; sebagai jamuan dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Pengasih."
::QS As Sajadah: 30-32::
Dengan demikian, dapatlah kita bayangkan bagaimana indahnya kematian orang-orang yang beriman dan selalu mendekatkan diri kepada ALLAH.
Kalau bagi orang yang masih hidup sekarang ini ayat tersebut hanya sebagai pegangan atau kepercayaan, tetapi bagi orang- orang yang beriman dan mendekatkan diri kepada ALLAH, bukan hanya sebagai pegangan kepercayaan, tetapi mereka di kala menghadapi sakaratil-maut itu melihat sendiri ...