10/07/2015
PERBEDAAN TV TABUNG (CRT), LCD, PLASMA DAN LED
Latar belakang
Era TV tabung atau CRT (Cathode Ray Tube) sudah berakhir. Kini tinggal segelintir merk branded yang masih produksi untuk kebutuhan dalam negeri.
SONY yang dulu sebagai top brand value #1 di kategori TV tabung, justru yang pertama menghapus TV tabung dari product rangenya, beralih ke TV Plasma. Jejak ini diikuti oleh para kompetitornya seperti Toshiba, Hitachi dan Panasonic.
TV Plasma mulai ramai dipasarkan di Indonesia (sekitar 2003) dengan ukuran 37", 42" dan 50", juga dipelopori oleh SONY.
Tidak berselang lama muncul LCD TV dengan ukuran 22" dan 26" yang dipelopori oleh SHARP (AQUOS generasi pertama). Samsung dan LG mengikuti jejak SHARP, dengan menawarkan ukuran yang lebih besar hingga 32".
TV Plasma dibandingkan LCD saat itu, jelas lebih menjanjikan sebagai pengganti TV tabung.
Keunggulan TV Plasma, ukuran lebih besar, warna hitamnya lebih pekat (LCD lebih cenderung abu-abu) sehingga contrast ratio lebih tinggi, response time lebih kecil, dan dapat diaplikasikan untuk teknologi layar sentuh / touch screen.
Sejalan dengan perkembangan teknologinya, LCD sudah semakin mengejar ketinggalannya dari TV Plasma. Baik dalam hal ukuran, contrast rationya, response time dan aplikasi dengan layar sentuh.
Lagi-lagi SONY sejak 2006 stop produksi TV Plasmanya dan beralih ke LCD, yang dinamakan BRAVIA. Sementara LCD Toshiba dipromosikan dengan nama REGZA. Hanya Panasonic yang bersikukuh pada produk TV Plasma untuk ukuran 42" ke atas. Sementara untuk < 42" Panasonic tampil dengan VIERA. Namun pada akhirnya Panasonic harus mengakui trend ke depan adalah LCD dan akhirnya juga harus mengikuti main stream dengan meluncurkan Viera 40".
Apa sebenarnya perbedaan Plasma dan LCD TV?
Secara visual fisiknya sama-sama tipis, tidak ada bedanya. Namun yang pasti panel TV Plasma terbuat dari kaca (spt TV tabung) sementara panel LCD dari bahan plastik/acrylic transparan dan terasa lunak saat disentuh.
Walaupun secara fisik keduanya kelihatan sama, tapi teknologi yang diterapkan sangat berbeda.
TV Plasma
Teknologi pada TV Plasma memang mirip TV tabung. Dengan arus listrik, dihasilkan elektron untuk bereaksi dengan molekul air raksa (mercury), dimana sebagai hasilnya akan dilepaskan sinar Ultraviolet (UV). Radiasi sinar UV ini akan membuat sel yang berisi gas phospor berpendar. Sel tersebut ada yang di cat dengan warna dasar merah, hijau atau biru. Bila digabung, setiap 3 sel dengan warna RGB (Red, Green, Blue) membentuk 1 pixel/titik pada layar TV Plasma. Dengan cara demikian sebuah pixel/titik pada TV plasma dapat diatur warnanya, dengan mengatur komposisi kekuatan masing masing sel warna dasarnya.
Sisa energi yang tidak terserap oleh gas phospor akan diubah menjadi panas dan sebagian kecil lagi keluar dari panel TV yang terbuat dari kaca. Sehingga jika kita raba panelnya saat menyala, seperti ada sedikit setrum.
LCD TV (Liquid Crystal Display)
Berbeda dengan TV Plasma, panel LCD TV tidak menghasilkan cahaya pada sel-selnya.
Untuk mengerti tentang LCD, kita harus mengerti tentang cara kerja kalkulator sebagai kakek buyutnya.
Pada layar kalkulator berisi cairan yang dapat dipolarisasi dengan bantuan arus listrik, sehingga cahaya dapat tembus melalui cairan (transparan) atau sebaliknya cahaya diblokir tidak tembus (tidak transparan).
Jadi fungsi panel kalkulator, begitu juga panel LCD hanya sebagai filter cahaya.
Sama seperti pada TV Plasma, LCD juga terdiri dari pixel yang terbagi menjadi 3 sel dengan warna dasar RGB.
Dengan mengatur seberapa transparan filter sel warna merah, filter sel warna biru dan filter sel warna hijaunya, maka dapat diatur warna yang muncul pada pixel tersebut di layar LCD.
Untuk itu, agar warnanya terlihat jelas oleh kita, maka dibelakang panel LCD tersebut harus ada sumber cahaya.
Sumber cahaya ini disebut dengan Back Light dan yang digunakan adalah lampu CCFL (Cold Cathode Fluorescent Lamp) atau bahasa gaulnya lampu neon. Tapi tentu saja lampu neonnya bukan yang untuk dipakai di rumah sehari-hari. Dibuat khusus yang umurnya lebih tahan lama. Namun sekali lampu neon tetap neon. Tidak ada yang tahu umurnya secara pasti.
LED TV
Nama LED TV sebenarnya salah kaprah. Sebab LED (Light Emitting Diode) tidak ada hubungannya dengan TV. Istilah yang benar adalah LCD TV dengan LED Back Light.
Dibandingkan lampu neon, lampu LED jelas lebih unggul dari sisi life timenya (karena lebih sedikit menghasilkan panas), lebih hemat listrik, dan lebih tinggi lumensnya (lebih terang).
Selain dari Back Light tidak ada yang berbeda dengan LCD TV.
Tapi mengapa harga LED TV jauh lebih mahal pada awalnya?
Karena dengan ukuran lampu LED yang kecil, TV jadi bisa dibuat jauh lebih tipis daripada LCD yang ada.
Jadi mahalnya bukan karena teknologinya, tapi karena designnya.
Plasma - LCD - LED
Resolusi:
tidak tergantung apakah Plasma, LCD atau LED maka resolusinya saat ini terbagi 2 :
High Definition atau HD-ready TV, resolusi panelnya Horizontal : 1366 pixels x Vertikal : 768 pixels
Full HD TV, resolusi panelnya Horizontal : 1920 pixels x Vertikal : 1080 pixels
Jika ada pilihan antara HD ready dan Full HD sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan harganya.
Resolusi signal output dari antena, parabola, tv berlangganan dan dvd/vcd player saat ini adalah 800 x 600 pixels.
Untuk itu tidak dibutuhkan resolusi yang Full HD, karena setiap titik/pixel yang tidak terdefinisi akan diinterpolasi oleh processor TV, dengan cara mengira-ngira warnanya.
Misalnya, diantara 2 pixel yang berwarna hitam dan putih, maka 1 pixel ditengahnya akan berwarna abu-abu atau jika ada 2 pixel di antaranya maka urutannya menjadi putih, abu-abu muda, abu-abu tua dan hitam.
Proses interpolasi ini membuat gambar kurang tajam pada batasan perubahan warna. Baik yang HD-ready atau yang Full HD sama-sama harus melakukan proses interpolasi ini agar gambar dapat tampil full screen di layar TV.
Lain lagi ceritanya jika signal outputnya dari Bluray, HD-DVD, PS-3, Xbox atau aplikasi untuk komputer dengan high resolution output yang sudah dalam format 1920x1080 pixels, maka Full HD TV jelas jauh lebih sempurna gambarnya, karena setiap titik/pixelnya terdefinisi. Sementara pada HD-ready TV ada sebagian pixel yang tidak bisa ditampilkan pada layarnya dan menjadi berkurang detailnya.
Konsumsi listrik :
Plasma paling boros dan LED paling kecil. Namun belakangan ini Panasonic mengembangkan teknologi untuk penghematan listrik pada plasma TV nya hingga konsumsi listriknya tinggal 1/3 nya dari umumnya TV Plasma, tapi masih tetap di atas LED.
Contrast Ratio :
Contrast Ratio adalah pembagian gradasi dari yang paling terang ke yang paling gelap.
Contrast Ratio 5.000.000:1, artinya dari warna biru yang paling terang ke biru yang paling gelap terbagi menjadi 5 juta gradasi warna.
TV Plasma tentu paling tinggi contrast rationya, diikuti LED dan baru LCD.
Namun contrast ratio LCD type the latest atau LED kini sudah di atas 1.000.000:1 dan sudah tidak signifikan lagi perbedaannya dengan Plasma.
Samsung yang selalu menjadi leader dalam hal contrast ratio.
Response time :
adalah waktu yang diperlukan oleh TV untuk memproses sinyal menjadi gambar.
Plasma hanya butuh sekitar satu koma sekian mili second. Sementara LCD butuh waktu lebih lama untuk proses polarisasinya. Diawal sejarah perkembangannya, response time LCD bisa mencapai belasan mili seconds. Dan keterlambatan ini sangat jelas ditangkap oleh mata.
Jadi jika dijejerkan TV tabung dengan LCD dengan siaran yang sama, maka terlihat pada LCD gambarnya selalu terlambat.
Response time produk LCD dan LED sekarang sudah jauh lebih baik berkisar 3-6 mili seconds dan sudah hampir tidak terdeteksi lagi.
Sharp Aquos dalam perkembangan LCD nya yang menjadi leader dalam response time.
Sebenarnya menonton siaran tunda sepersekian detik tidak terlalu menjadi masalah, namun point berikut yang berkaitan dengan response time adalah masalah yang sebenarnya.
Refresh rate :
Pada TV Plasma gambar yang bergerak cepat tidak masalah karena response timenya kecil, namun tidak bagi LCD dengan response time belasan mili seconds. Gambar menjadi tidak jelas.
Sejalan dengan waktu, selain response time LCD dan LED yang semakin kecil, dalam perkembangannya saat ini juga diterapkan teknologi dengan processor yang membantu memproses sinyal agar membuat fast motion picture menjadi lebih jelas.