Sanyoto BATIK

Sanyoto BATIK Cintai batik Indonesia !

17/10/2025

Dengan Bli Adi – Saya mendapatkan streak! Saya sudah jadi penggemar berat 6 bulan berturut-turut. 🎉

Dengan Rajut Dandang Gendis – Saya mendapatkan streak! Saya sudah jadi penggemar berat 8 bulan berturut-turut. 🎉
17/10/2025

Dengan Rajut Dandang Gendis – Saya mendapatkan streak! Saya sudah jadi penggemar berat 8 bulan berturut-turut. 🎉

Sebaiknya kita tahu 😊
30/08/2025

Sebaiknya kita tahu 😊

17/12/2013

Keunikan Makna Filosofi Batik Klasik: Motif PARANG

Motif batik diciptakan tidak berdasarkan pertimbangan nilai estetis semata, tetapi juga berdasarkan harapan-harapan yang dituangkan dalam bentuk banyak simbol.
Motif Parang, motif berbentuk mata parang, melambangkan kekuasaan dan kekuatan. Hanya boleh dikenakan oleh penguasa dan ksatria. Batik jenis ini harus dibuat dengan ketenangan dan kesabaran yang tinggi. Kesalahan dalam proses pembatikan dipercaya akan menghilangkan kekuatan gaib batik tersebut.

Motif parang sendiri mengalami perkembangan dan memunculkan motif-motif lain seperti Parang Rusak Barong, Parang Kusuma, Parang Pamo, Parang Klithik, dan Lereng Sobrah. Karena penciptanya pendiri Keraton Mataram, maka oleh kerajaan.

Motif parang menjadi pedoman utama untuk menentukan derajat kebangsawanan seseorang. Motif-motif parang dulunya hanya diperkenankan dipakai oleh raja dan keturunannya dan tidak boleh dipakai oleh rakyat biasa. Sehingga jenis motif ini termasuk kelompok batik larangan. Namun saat ini motif ini bisa kita temui di pasaran dan bisa dikenakan oleh siapapun.
Bila dilihat secara mendalam, garis-garis lengkung pada motif parang sering diartikan sebagai ombak lautan yang menjadi pusat tenaga alam, dalam hal ini yang dimaksudkan adalah raja. Komposisi miring pada parang juga melambangkan kekuasaan, kewibawaan, kebesaran, dan gerak cepat sehingga pemakainya diharapkan dapat bergerak cepat.Motif batik parang pada dasarnya tergolong sederhana, berupa lilitan huruf S yang jalin-menjalin membentuk garis diagonal dengan kemiringan 45 derajat. Susunan motif huruf S jalin-menjalin tidak terputus melambangkan kesinambungan. Bentuk dasar huruf S diambil dari ombak samudra yang menggambarkan semangat tidak pernah padam.

Sejarah lain menyebutkan jika motif ini diciptakan oleh Panembahan Senopati, pendiri Keraton Mataram. Setelah memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Mataram, Senopati sering bertapa di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa yang dipenuhi oleh jajaran pegunungan seribu yang tampak seperti pereng (tebing) berbaris. Akhirnya, ia menamai tempat bertapanya dengan pereng yang kemudian berubah menjadi parang. Di salah satu tempat tersebut ada bagian yang terdiri dari tebing-tebing atau pereng yang rusak karena deburan ombak laut selatan sehingga lahirlah ilham untuk menciptakan motif batik yang kemudian diberi nama Motif Parang Rusak.
Motif Parang Rusak Barong, diciptakan Sultan Agung Hanyakrakusuma yang ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya sebagai raja dengan segala tugas kewajibannya, dan kesadaran sebagai seorang manusia yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta. Kata barong berarti sesuatu yang besar dan hal ini tercermin pada besarnya ukuran motif tersebut pada kain. Barong juga berasal dari kata batu karang dan barong (singa). Dulunya dikenakan para bangsawan untuk upacara ritual keagamaan dan meditasi karena motif ini dianggap sakral. Misalnya motif-motif parang barong yang pada awalnya hanya digunakan oleh para Raja. Mempunyai makna agar seorang raja selalu hati-hati dan dapat mengendalikan diri. Motif parang sesungguhnya menggambarkan senjata, kekuasaan. Selaras dengan makna yang ada dalam motif parang barong, maka ksatria yang menggunakan batik ini bisa berlipat kekuatannya

25/04/2013

BATIK BELANDA(2)

Batik Belanda berkembang antara tahun 1840-1940. Pada mulanya batik ini hanya dibuat untuk masyarakat Belanda dan Indo-Belanda yang pada umumnya berbentuk sarung. Para pemakainya semula terbatas pada kalangan sendiri kemudian menyebar ke lingkungan orang Cina dan para bangsawan Jawa.

Bangsa Belanda datang ke Pulau Jawa dengan bendera VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) pada awal abad ke-17 untuk berdagang. Keberhasilan di bidang niaga membuat sebagian di antara mereka memilih tinggal menetap di kawasan yang dikenal dengan sebutan Hindia Belanda yang beriklim tropis. Mereka mengenakan Chintz dari India untuk busana sehari-hari.
Pada awal abad ke-19 terjadi penurunan import Chintz dari India. Hal ini membuat para pemakainya beralih ke batik dengan pola yang menyerupai Chintz atau pola-pola yang menampilkan paduan aneka bunga atau pola buketan, pohon bunga dengan ragam hias burung terutama burung bangau, angsa dan burung-burung kecil serta kupu-kupu, dapat p**a pesawat terbang, bangunan atau sosok manusia. Ada p**a ragam hias dongeng Eropa dan pengaruh budaya Cina.
Ketika impor tekstil dari India terhenti, terbukalah peluang bagi pengrajin batik untuk membuat dan memasarkan batik-nya. Runtuhnya VOC tahun 1799 dan kemudian digantikan oleh pemerintahan Belanda menyebabkan makin banyak orang Belanda menetap di Pulau Jawa dan berarti meningkat p**a permintaan terhadap batik.
Antara tahun 1840-1940 Pekalongan merupakan tempat mulai tumbuhnya batik Belanda. Banyak perusahaan batik Belanda bermunculan di Pekalongan yang dibuat oleh wanita Indo-Belanda seperti diantaranya Catharina Carolina van Oosterom, (batik Panastroman) dan Williams, disusul oleh perusahaan milik pengusaha Cina dan Arab yang membuat batik Belanda. Ada p**a E. van Zuylen, Metz dan Yans yang melahirkan batik van Zuylen. Selain itu daerah Semarang, Ungaran, Banyumas, Pacitan, Surakarta dan Yogyakarta. Tahun 1910 muncul batik Belanda milik orang Jawa di Banyumas.
Orang Indo Belanda memulai usaha batik dalam bentuk industri rumah tangga dengan membeli batikan dari para pengrajin batik dan mengupah orang untuk mencelup. Meningkatnya permintaan batik mendorong mereka yang sebagian besar terdiri atas wanita Belanda mulai mengubah pola kerja dari industri rumah tangga menjadi perusahaan dengan tempat kerja yang luas dan tata kerja yang sistematis. Sekitar pertengahan abad ke-19 tercatat beberapa usaha pembuatan batik dalam bentuk perusahaan yang dirintis dan dikelola oleh wanita Belanda, yang pada umumnya berpendidikan cukup. Wanita-wanita Belanda ini merupakan pengusaha yang sangat tangguh dan berangsur-angsur menjadi pengusaha batik terkemuka di berbagai bandar sepanjang pesisir utara terutama di Pekalongan yang bersama kota-kota lain berkembang menjadi pusat batik yang penting.
Perusahaan batik Belanda pertama berdiri di Surabaya pada tahun 1840, milik Carolina Josephina von Franquemont, yang kemudian pindah ke Semarang. Franquemont terkenal dengan penemuan warna hijau dari zat warna nabati yang tahan luntur. Warna ini kemudian disebut hijau franquemont dan sekaligus menjadi ciri khas warna batiknya.

Pelopor lain pengusaha batik Belanda adalah Catharina Carolina van Oosterom. Batik van Oosterom, yang kemudian dikenal sebagai batik Panastroman, dibuat di Banyumas dengan pola-pola yang banyak menampilkan pengaruh keraton. Sebelum pindah ke Banyumas, batik Oosterom dibuat di Semarang dengan pola Eropa. Para pengusaha batik Belanda dalam periode awal ini antara lain: B Fisher, S W Ferns, Scharff van Dop, C M Meyer, J A de Wit, AJF Jans, dan A Wollweber.
Nama L Metzelaar terkenal sebelum munculnya batik Eliza van Zuylen yang merupakan puncak karya cipta pengusaha batik Belanda. Pada periode ini hadir nama-nama baru seperti Carp, Feunem, Haighton dan Williams.

Pada awalnya batik Belanda, terutama yang dihasilkan oleh para pelopor seperti Franquemont dan Oosterom hanya menampilkan warna merah mengkudu dan biru indigo, baik biru muda maupun biru tua. Pola-polanya pun masih banyak yang menampilkan ragam hias mirip lereng dan lung-lungan, serta bertema dongeng. Seiring dengan pengaruh zaman yang menghendaki pola-pola yang menampilkan jati diri secara jelas, pola-pola semacam itu tidak tampak lagi dan digantikan oleh pola yang benar-benar bernuansa Eropa atau Belanda, yakni rangkaian bunga-bunga, buketan besar ataupun burung bangau di tengah rumpun tanaman air. Warnanya pun bergeser sedikit demi sedikit kearah warna yang lebih dari dua warna, terutama ketika mereka mulai menggunakan zat warna sintetis. Meskipun sebelumnya para pengusaha Belanda menolak menggunakan zat warna tersebut. Hal ini disebabkan oleh reputasi mereka sebagai seniman batik yang dibangun melalui warna-warna khusus ramuan mereka dari zat warna alami.

Pengusaha-pengusaha batik Belanda yang bermukim di pedalaman menghasilkan batik yang sangat dpengaruhi oleh lingkungannya. Pola serta warna batik keraton tampil bersama pola-pola batik Belanda dalam bentuk sarung, baik dengan kepala tumpal maupun kepala buketan. Pola utamanya tetap bernafaskan selera Eropa, yaitu bunga-bunga, buketan, burung-burung, kupu-kupu dan rangkaian bunga di atas latar dengan isen tradisional Jawa antara lain gringsing, galaran, anggur, dan akar jahe yang ditata dengan warna-warna biru tua, putih, serta warna soga yang sangat muda. Batik Belanda semacam ini antara lain dibuat oleh M Coenraad dan E Coenraad di Pacitan; Van Gentz Gottlieb, dan Jonas di Surakarta; Gobel dan De Boer di Yogyakarta; serta Williams dan Matheron di Banyumas. Ragam hias Jawa dalam batik Matheron biasanya lebih menonjol karena banyak menggunakan warna-warna soga dan pola klasik seperti lereng dan Sekar Jagad

Tetapi ada p**a ragam hias yang diilhami oleh dongeng-dongeng Eropa sebagai tema pola, antara lain “Little Red Riding Hood”, “Snow White”, dan “Hanzel and Gretel”.
Ada p**a pola yang menampilkan pemgaruh budaya cina seperti Dewi His Wang Mu, serta pola wayang dan pola sirkus.

Menjelang puncak perkembangannya, yakni kurang lebih pada tahun 1890-1910, batik Belanda tampil dengan wajah baru yang diprakarsai oleh Franquemont. Banyak perubahan terjadi pada penataan polanya, antara lain tidak semua bagian kepalamenggunakan ragam hias tumpal. Ragam hias tumpal yang pada awalnya dominan digantikan oleh untaian bunga atau ragam hias renda yang berfungsi sebagai batas antara bagian kepala dan bagian badan sarung. Adapun pola pada bagian kepala beraneka ragam, misalnya pola parang, lereng, dan buketan dengan isen tanahan. Batik-batik Belanda juga mengubah semua aturan yang biasa diterapkan pada pola kepala dan badan sarung.pada perkembangannya terakhir tampak pola badan dan kepala tidak berupa buketan, tetapi cukup dibedakan melalui perbedaan perpaduan warna-warna yang digunakan. Di samping itu bagian kepala tidak selalu diletakan di ujung sarung, tetapi dipindahkan ke bidang tengah sarung. Demikian p**a bagian papan dihilangkan.

Kehadiran batik Belanda di Pulau Jawa di satu sisi merupakan saksi perkembangan batik di zaman Belanda yang diwarnai oleh zaman, peristiwa, serta lingkungan. Gejolak zaman yang disebabkan berkecamuknya Perang Dunia II sangat mempengaruhi kelangsungan produksi batik Belanda. Kedatangan bala tentara Jepang menyebabkan banyak orang Belanda dan Indo-Belanda ditahan dan dimasukan ke kamp-kamp oleh tentara Jepang. Oleh sebab itu hampir semua perusahaan batik Belanda berhenti berproduksi.

25/04/2013

BATIK Tahun 1942 - 1945 (masa pendudukan Jepang)

Desain Batik Hokokai merupakan periode di mana Jepang menduduki Indonesia (1942-1945).
Jawa Hokokai merupakan motif batik tua dengan gambar bunga di taman dikelilingi oleh kupu-kupu. Kata Hokokai itu mengambil dari bahasa Jepang . Sekarang batik Jawa Hokokai muncul dengan banyak motif.

Hermen C Veldhuisen dalam Fabric of Enchantment, Batik from the North Coast of Java, secara singkat menyebut batik Hokokai dibuat di bengkel-bengkel milik orang Indo-Eropa, Indo-Arab, dan Peranakan, yang diharuskan bekerja untuk orang-orang Jepang karena kualitas pekerjaan bengkel mereka yang sangat halus. Sedangkan kain katunnya dipasok oleh orang-orang yang ditunjuk oleh tentara pendudukan Jepang.

Ciri-ciri kain panjang pada masa ini menurut Veldhuisen adalah penuhnya motif bunga . Meskipun gaya batik ini disebut sebagai diperkenalkan oleh dan untuk Jepang, tetapi sebetulnya gaya ini sudah muncul beberapa tahun sebelumnya. Bengkel kerja milik orang Peranakan di Kudus dan Solo pada tahun 1940 sudah menggunakan motif buketan yang berulang, dengan latar belakang yang sangat padat dan disebut sebagai buketan Semarangan. Kain-kain ini dibuat untuk Peranakan kaya di Semarang.

Berbeda dengan kain batik pagi-sore, yaitu kain batik yang terbagi dua oleh dua motif yang bertemu di bagian tengah kain secara diagonal. Kain pagi-sore ada kain pagi-sore yang dibuat pada tahun 1930 di Pekalongan. Dengan kain pagi-sore, efisiensi pemakaian menjadi salah satu tujuan karena selembar kain bisa dipakai untuk dua kesempatan dengan motif berbeda. Warna yang lebih gelap biasanya dipakai di bagian luar untuk pagi dan siang hari, sementara bagian yang berwarna pastel dipakai pada acara malam hari.

Meskipun begitu, Veldhuisen menyebutkan batik Hokokai adalah salah satu contoh gaya batik yang paling banyak berisi detail, menggabungkan ciri pagi-sore, motif terang bulan, dan tanahan Semarangan. Batik Hokokai menggunakan latar belakang yang penuh dan detail yang digabungkan dengan bunga-bungaan dalam warna-warni yang cerah. Motif terang-bulan awalnya adalah desain batik dengan motif segi tiga besar menaik secara vertikal di atas latar belakang yang sederhana.

Motif dominan hokokai adalah bunga. Yang paling sering muncul adalah bunga sakura (cherry) dan krisan, meskipun juga ada motif bunga mawar, lili, atau yang sesekali muncul yaitu anggrek dan teratai.

Motif hias yang sesekali muncul adalah burung, dan selalu burung merak yang merupakan lambang keindahan dan keanggunan. Motif ini dianggap berasal dari Cina dan kemudian masuk ke Jepang.

Hampir semua batik Jawa Hokokai memakai latar belakang (isen-isen) yang sangat detail seperti motif parang dan kawung di bagian tengah dan tepiannya masih diisi lagi dengan misalnya motif bunga padi.

24/04/2013

BATIK TIGA NEGRI TJOA

Dalam sekian banyak motif batik, ada satu nama motif yang populer, yaitu batik tiga negeri tjoa.

Histori batik tiga negeri sudah sangat familiar di telinga kolektor batik dan khalayak umum. Pada jaman kejayaannya di th 40 an, batik ini sudah dikenal menggambarkan kolaborasi budaya Tionghoa, Belanda dan Jawa. Pewarnaan yang khas dan kala itu hanya bisa ditemukan jenis serta bahan pewarnanya menjadikan julukan dengan istilah “tiga negeri” sangat melekat.

Warna soga diperoleh dari Solo, merah dari Lasem dan biru dari lain Pekalongan. Kala itu daerah disebut dengan istilah “negeri”. gaknya air dari satu daerah dengan daerah lainnya menciptakan daya serap dan efek dari pengaruh pewarnaan pada batik. Alasan yang sangat logis untuk menghubungkan mengapa batik 3 negeri sangat legendaries dan bermisteri adalah kain ini dibuat di 3 daerah yang memiliki kondisi geografis yang berbeda sehingga terkesan sangatlah istimewa jika satu kain saja membutuhkan 3 tempat pijakan untuk 1 batik istimewa.

Untuk nama “Tjoa” yang melekat pada kain batik tiga negeri Tjoa diperkirakan berasal dari pemilik, pembuat dan pendisain batik pada tahun 1940. Kala itu, dua nama yang terkenal yang tertera di ujung kain batik adalah Tjoa Tjoen Kiat dan Tjoa Siang Swie. Motif khas tiga negeri yang menggambarkan ketiga budaya tercetak rekat pada mori kain bernama Tjoa tersebut. Pada masa itu, kain yang tercap “Tjoa” dikenal sangat mahal di zamannya. Batik ini otomatis menjadi semacam identitas bagi pemilik apalagi penggunanya bahwa yang bersangkutan adalah borjuis atau bangsawan.

Batik tiga negeri tjoa

Mahalnya harga batik tiga negeri saat itu adalah karena rumitnya proses pewarnaan seperti yang dijelaskan diatas, karena letaknya yang berbeda untuk setiap warna dan karena jauhnya letak pewarna satu dan yang lainya. Kini, meski termakan jaman 3 warna tjoa tetap memiliki nilai tinggi. Mengapa demikian? Kita meyakini adanya chemistry antara kejadian masa lalu dengan keberadaannya sekarang. Karena historinya yang luar biasa legendaries ditambah masih eksisnya kain tersebut dari tahun ke tahun membuat harga kain tersebut mahal. Makin lawas kainnya, makin mahal harganya karena diyakini memiliki simpanan memori yang lebih banyak dan sudah melanglang buana berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya.

Keistimewaan batik tiga negeri Tjoa

Yang membedakan batik tiga negeri biasa dengan batik peranakan Tjoa adalah motif buket bunga dan ilustrasi burung hong yang hanya dimiliki oleh batik tiga negeri Tjoa.
Warna-warna terang yang digunakan batik tiga negeri baik yang peranakan tjoa maupun yang biasa tetaplah menjadi ciri khas utama dari batik tiga negeri. Warna biru, hijau dan merah diyakini berasal dari hasil lukis pendatang China yang sempat mampir di pesisir laut Indonesia.
Pada kala bersandarnya kapal mereka di Nusantara, sempat p**a ada batik hasil lukisan tangan seseorang yang kemudian dimiliki kolektor batik bernama Tj Sie Gaom. Batik itu diperkirakan merupakan peranakan budaya China-Belanda. Gambar yang terdapat pada kain itu adalah buket bunga matahari yang sangat besar.
Batik tiga negeri Tjoa didominasi oleh motif-motif cina sperti bunga-bungaan dan burung yang tidak ada di Indonesia. Sebetulnya, dari beberapa sumber menyebutkan, pembeda batik tiga negeri Tjoa dengan batik tiga negeri biasa adalah keberadaan inisial “Tjoa” di setiap ujung kain batik bermotif tiga negeri.

Susunan Silsilah Tjoa Giok Tjiam

Tjoa Giok Tjiam, pionir dari keluarga Tjoa yang membuat batik, lalu menurunkan ke anak - anaknya yaitu Tjoa Tjoen Kiat dan Tjoa Tjoen Tiang.

Kemudian Tjoa Tjoen Kiat menurunkannya kepada ketiga anaknya, Tjoa Siang Gwan, Tjoa Tjing Nio ( memakai nama suaminya Sie Djien Soen ), TjoaSiang Swie.

Dan anak dari Tjoa Tjoen Tiang hanya Tjoa Siang Hing yang membuat batik.

20/03/2013

BATIK RIFA'IYAH

Perkembangan batik yang banyak terjadi di daerah santri membuat pengaruh Islam turut mewarnai perkembangan batik. Dan tak heran jika batik juga merupakan media perjuangan muslim dan dakwah di bumi pertiwi ini.

Wujud pengaruh kuat Islam dalam seni batik dapat ditemukan pada batik Rifa’iyah. Nama “Rifa’iyah” diambil dari nama tarekat yang didirikan oleh KH Ahmad Rifa’i. Komunitas Rifa’iyah muncul di Kalisalak, kabupaten Batang, Jawa Tengah pada 1850.

Jika diperhatikan, motif batik Rifa’iyah tidak berbeda dengan batik pesisir. Beberapa motif, pola, dan warna bahkan mirip dengan batik Pekalongan yang banyak terpengaruh oleh kebudayaan asing, seperti Cina, Belanda, dan Arab.
Bedanya, sebagaimana dalam budaya Islam, hal-hal yang berhubungan dengan benda bernyawa tidak boleh digambarkan sesuai persis sesama aslinya. Inilah yang secara tegas diterapkan oleh para pengikut tarekat Rifa’iyah.

Batik Rifa'iyah
Karena itu, batik Rifa’iyah menghindari motif binatang atau manusia. Kalaupun motif tersebut digunakan maka ia digambarkan secara tidak utuh. Misalnya, dengan hanya menggambarkan sayapnya atau membuat guratan dilehernya, sehingga mengesankan gambar hewan yang disembelih.

Selain cara itu, penggambaran juga dilakukan dengan menggayakan anggota tubuh tertentu dari mahluk hidup yang digambarkan. Misalnya, mengganti kaki burung dengan ranting atau cabang pohon, kepala ayam dengan bunga, atau ekor burung dengan juntaian dedaunan yang panjang. Cara-cara itu merupakan penerapan ajaran Islam yang melarang penggambaran mahluk hidup seperti bentuk aslinya.

Batik rifa’iyah biasanya dibuat dalam bentuk kain panjang, sarung, atau selendang, yang dimaksudkan sebagai pakaian penutup aurat. Selain itu, batik Rifa’iyah juga menjadi lambang status sosial dan dipakai berdasarkan pertimbangan nilai moral dan kesopanan. Karena itu, batik ini sekaligus menjadi tanda pengenal bagi masyarakat pengikut tarekat Rifa’iyah.

Bagi komunitas rifa’iyah, membatik bukanlah kegiatan yang asing. Mereka telah melakoni aktivitas membatik sejak kecil, terutama bagi kaum wanita. Sewaktu mereka beranjak dewasa atau saat menunggu dipinang, para wanita ini membuat batik yang paling bagus dari sekian karya batik yang mereka pernah buat. Hasilnya, akan dikenakan bersama dengan mempelai pria pada acara pernikahan.

Ciri khusus ragam hias dalam batik Rifa’iyah menghindari gambar-gambar mahluk hidup, bertujuan menghindarkan syirik bagi pembuat atau pemakainya. Mereka diingatkan untuk selalu menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya.

13/03/2013

MOTIF BATIK LASEM YANG DIPATENKAN

Motif batik lasem kendoro-kendiri adalah salah satu motif batik lasem yang sudah di patenkan di HAKI. Jadi motif batik lasem kendoro kendiri tidak bisa di tiru oleh siapa pun. diantara motif batik lasem yang sudah dipatenkan juga antara lain batik lasem motif latohan abangan, batik lasem motif parang sekar es teh, batik lasem sekar jagad , batik Lasem motif pasiran, dan batik lasem motif lerek lung-lung-an. "Motif yang sudah dipatenkan itu didominasi warna merah marun, biru, cokelat, dan ungu. Sementara motif yang akan kembali dipatenkan juga masih akan mengusung warna cerah.

08/03/2013

OEY SOE TJOEN

Konon khabarnya, pada jaman kolonial belanda dulu, , industri kain batik dari kota Pekalongan mengalami jaman keemasannya. Pada saat itu, kaum wanita terutama dari kalangan suku Tionghoa masih mengenakan kain batik untuk pakaian sehari-harinya, dilengkapi dengan baju kebaya encim yang berenda-renda.

Sebagian dari yang tergolong mampu ekonominya memilih untuk memesan ke Pekalongan dalam urusan kain batiknya. Disana banyak pabrik kain batik yang terkenal. Salah satunya pabrik batik milik Oey Soe Tjoen.

Ciri khas kain batik Oey Soe Tjoen, tidak hanya karena polanya yang bermotif bunga atau kupu-kupu, juga kecermatan dalam proses membatik serta mewarnai yang lumayan rumit dan rumit memberinya nilai tersendiri. Maka tidak heran batik Oey Soe Tjoen sangat terkenal, bahkan kain batik Oey Soe Tjoen pernah menjadi mas kawin wajib bagi para pengusaha Tionghoa.

Oey Soe Tjoen memproduksi kain batik bermotif pagi sore, merak, pringgodani, dan bunga-bungaan mawar, seruni, tulip, dan anggrek. Pada jaman pendudukan Jepang di Indonesia, Oey membuat batik Hokokai, khas Negeri Matahari Terbit, dengan motif merak, bunga, dan kupu.

Kain batik buatan Oey Soe Tjoen paling banyak diburu para kolektor batik, karena kualitas dalam proses pembuatannya sangat luar biasa. Batik yang baik dan berharga mahal memenuhi kriteria tertentu. Gambar burung misalnya, akan dibuat dengan paruh yang runcing, latar belakangnya tidak dibiarkan polos, tapi diberi titik-titik atau raster yang menarik.

Selembar kain batik lama dan bekas ini bisa menghasilkan keuntungan yang tidak sedikit. Kain yang tua dan terkadang sudah berlubang atau sudah sobek dan dijahit ini, bisa dijual dengan harga berjuta-juta. Yang mulus tanpa cacad bisa berpuluh juta rupiah harganya.Bisa jadi salah satu cara investasi dengan mengkoleksi kain-kain tua ini.

06/03/2013

I 2013

MEMBATIK DENGAN MALAM DINGIN

Sebuah terobosan baru dalam dunia perbatikan setelah ditemukannya canting elektronik, kini membatik bisa dilakukan dengan menggunakan lilin malam dingin. Kalau pada umumnya banyak perajin batik menggunakan lilin malam yang dipanaskan dengan kompor maka lilin atau malam dingin ini tidak perlu dipanaskan dengan kompor.
Karena malam dingin ini sama sekali tidak berbahaya dan aman digunakan. Lalu bagaimana malam dingin ini dibuat ? Hal ini menurut penuturan salah seorang perajin di Pekalongan yang sudah mengembangkan malam dingin ini telah melakukan beberapa kali uji coba dengan beberapa bahan yang apabila dicampur dengan malam tidak akan membeku. Untuk menghasilkan malam dingin ini maka malam yang masih padat atau berupa bongkahan harus dimasak (dipanaskan) dulu kemudian dicampur dengan bahan tertentu sehingga terbentuklah malam dingin. Akan tetapi setelah malam dingin ini terbentuk harus segera dimasukkan ke dalam botol yang tertutup rapat untuk menghindari agar tidak terkena angin atau udara luar sehingga lilin malam tidak beku. Setidaknya malam dingin dalam botol ini bisa bertahan hingga sampai 3 bulan atau lebih tergantung dari cuaca dan botol yang digunakan, dan apabila beku malam bisa dimasak (dipanaskan) kembali.
Alat yang digunakan tidak lagi menggunakan canting tulis tetapi menggunakan alat semacam bolpoint yang telah dirancang sedemikian rupa sehingga mudah menggunakannya seperti ketika menulis atau menggambar dengan pensil.

01/03/2013

BATIK PESISIRAN (2)

Motif batik pesisiran menggunakan flora dan fauna baik dari darat maupun laut dan warnanya cenderung terang serta berwarna. Istilah batik "pesisir" muncul karena letaknya berada di daerah pesisir utara p**au jawa seperti Cirebon, Indramayu, Lasem, Bakaran, dan lain sebagainya. Pola yang ada pada batik pesisir lebih bebas dan warnanya Pilihan warna yang mencolok pada batik pesisiran tampaknya dipengaruhi warna keramik pada masa dinasti Ming yang hanya diproduksi pada abad ke – 17 M sampai abad ke-18. Warna yang dominan selain warna biru dan putih juga berbagai warn dijumpai di daerah pesisir/pantai seperti madura, pekalongan, indramayu, dan sebagainya.

Beberapa motif batik pesisiran adalah Ganggeng, Taman Arum, Taman Laut, Pohon Kehidupan, Piring Selampad, Kelapa Setundun, Mawar Sepasang, dan lain-lain. Setiap motif yang diciptakan memiliki makna/arti/ filosofi tersendiri. Sebagian besar filosofi tersebut akan kembali ditujukan untuk manusia sebagai cermin kehidupan.

Contohnya, motif ganggeng yang termasuk ke dalam jenis batik pesisiran. Ganggeng sendiri memiliki arti yaitu ganggang laut (alga), dalam batik ini mengandung filsafah yang mana tumbuhan ganggang yang lemah lembut di dalam air berperan untuk melindungi hewan-hewan kecil laut dari predator dan penunjang kehidupan sebagai bahan pangan manusia (ikan). Maknanya bahwa dalam kehidupan kita berlaku lemah lembut bukan berarti lemah akan tetapi kita juga bisa melindungi dan berguna bagi orang lain. Sehingga orang lain akan merasa nyaman dengan adanya saling membantu dan tolong menolong dalam kebaikan Karena “Sebaik-baiknya orang adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain“. Sekarang kita telah mengetahui bahwa batik memiliki makna dalam setiap ceritanya. Seperti Motif batik pesisiran, batik ganggeng.

Address

Jalan Medoho I/no. 38 Gayamsari Semarang
Semarang
50161

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sanyoto BATIK posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share