03/12/2014
Khawatir Anak Terkena Mental Hectic?
Share on facebook Share on twitter Share on email
More Sharing Services
GALAU mungkin itu perasaan yang dimiliki orang tua
sekarang. Mau ngajarin anaknya baca di usia kurang
dari 7 tahun tapi kuatir anaknya terkena mental
hectic. Mau diajarin ketika usia 7 tahun eeh ternyata
banyak SD yang mewajibkan murid bisa baca
sebelum masuk sekolah. Jadi gimana donk baiknya?
Mau ngajak semua orang untuk ngajarin anaknya
belajar baca di usia 7 tahun aja? Tapi itu tidak
berhasil juga, buktinya TK yang sukses meluluskan
murid-muridnya bisa baca LEBIH LAKU dibanding
yang tidak mengajarkan muridnya membaca.
Kampanye-kampanye sepertinya kurang berhasil,
selama kurikulum tidak diubah secara nasional.
Dilema semacam inilah yang menghantui para ortu
sehingga tak sedikit para orang tua yang idealis
sekalipun ikut-ikutan ngajari anaknya membaca di
usia kurang dari 7 tahun, karena tidak ingin anaknya
lebih terlambat dibanding anak lain di usianya.
Bahkan TK yang tadinya idealis tidak akan mengajari
muridnya membaca, akhirnya “rontok” juga
idealismenya, dan membuka les-lesan di luar
pelajaran sekolah karena tidak ingin muridnya
berkurang.
Menurut pakar anak Amerika, Jim Trelease dalam
bukunya berjudul Read Aloud, sebagian anak belajar
membaca lebih cepat dibanding yang lain, sementara
yang lain belajar lebih baik dari pada yang lain.
Artinya perkembangan setiap anak berbeda. Banyak
factor yang memengaruhi. Yang perlu dicatat adalah
ORANGTUA TIDAK PERLU TERGESA-GESA
MEMASTIKAN ANAKNYA HARUS BISA MEMBACA DI
USIA SEBELUM 6 atau 7 tahun.
Fakta bahwa SEBAGIAN ANAK BISA MEMBACA
DENGAN LEBIH BAIK DAN LEBIH CEPAT DIBANDING
ANAK LAIN, itu adalah sebuah FAKTA YANG HARUS
DITERIMA OLEH PARA ORANG TUA, seperti yang
diungkapkan oleh Trealease. Jadi jika anak Anda
susah menghafal simbol, sementara anak lainnya
begitu mudahnya menghafalnya, maka JANGAN
MENEKAN ANAK DAN MENUNTUTNYA AGAR BISA
MEMBACA SEPERTI YANG LAIN. Ada banyak cara
yang bisa dilakukan untuk menstimulus, TANPA
MEMBUAT ANAK TERTEKAN.
Abaca Tidak Membuat Anak Terkena Mental Hectic
Khawatir Anak Terkena Mental HecticBerikut ini
testimony seorang guru yang memiliki murid yang
special. Di antara murid-muridnya yang lain, murid ini
tergolong yang susah belajar membaca. Awal
mulanya, Bu Cici ini menggunakan media buku untuk
sekolahnya, tapi muridnya yang satu ini, hanya hafal
7 suku kata padahal sudah diulang berulang kali
sampai bukunya lecek karena saking seringnya
mengulang pakai buku. Tapi tidak ada perubahan
yang berarti. Hampir putus asa tentunya.
Namun Bu Cici tak sengaja menemukan ABACA, dan
langsung mendaftar menjadi agen. Awalnya Beliau
menghubungi saya, menanyakan bagaimana caranya
agar media ABACA ini efektif di kelas. Saya jelaskan
penerapannya. Saya tidak menyangka, Bu Cici berani
melakukan perubahan dari metode konvensional
(belajar baca menggunakan buku), diubah
menggunakan ABACA. Ternyata keajaiban pun terjadi.
Muridnya yang special tersebut, bisa menghafal suku
kata sebanyak 15 suku kata tanpa kendala yang
berarti setelah menggunakan ABACA sekali. Bu Cici
heran sekaligus senang. Dan menghubungi saya
melalui bbm untuk menceritakan pengalamannya itu.
Bu Cici memesan ABACA untuk restock, kali ini
ABACA nya telah ramai ditunggu murid-muridnya.
Lihat betapa serunya memanen es krim bersama
murid-murid. Mereka tidak tertekan, tidak merasa
sedang belajar, dan suasana belajar penuh dengan
keceriaan. Bukti bahwa ABACA itu sesuai
perkembangan anak dan TIDAK MEMBUAT MEREKA
TERTEKAN, alih-alih divonis kena mental hectic.
Anak enjoy itu cukup menunjukkan bahwa mereka
TIDAK TERTEKAN. Anak enjoy cukup membuktikan
BAHWA MEREKA MERASA SEDANG BERMAIN DAN
TIDAK SEDANG BELAJAR. Anak ENJOY cukup
MEMBUKTIKAN bahwa ABACA SESUAI DENGAN
DUNIANYA.
Demikian testimony keren dari Bu Cici tentang
efektivitas ABACA dibanding buku belajar membaca.
Semoga menginspirasi para orang tua yang kesulitan
mengajari putra putrinya belajar membaca.