03/04/2018
Memberi Wujud Terimakasih.
Siang ini, kala makan siang, pada kunyahan ke 9 suapan kedua,saya berhenti mengunyah. Bukan lupa baca doa,bukan.
Tetapi teringat sesuatu hal :
Mengingatkan pengendara motor bahwasanya "sekandar" atau "skandar" motor masih terpasang saat berkendara saja, hati saya membuncah. Merasa jadi paling orang baik seluruh dunia 😄. Lantas saya berbicara perihat ikhlas dalam memberi. Kan lucu .
Selama pengalaman saya "berjualan gambar'' saya baru menyadari kenapa orang mau membeli selembar kertas berbingkai yang hanya berisi ucapan sederhana seperti "happy birthday Fulan" "barakallahu fii umrik fulan", "happy wedding Fulan dan Fulan" ditambah beberapa gambar senderhana penunjang ucapan. Biasanya mereka sangat paham apa yang menjadi kes**aan "target" hadiah, jadi mereka dengan lugasnya meminta "kasih gambar tokoh kartun ini ya mas, atau logo club bola ini ya mas".
Para pelanggan itu sangat peduli dengan seseorang yang dianggap nya istimewa, jadi hadiah adalah hal yang pantas diberikan kepada seseorang yang telah hadir dan memberi warna di hidup mereka (😁), dan hadiah biasanya diberikan dihari hari istimewa untuk menunggu momentum.
Lantas?
Saya baru paham dan menyadari ,ketika kemarin dulu saya berucap perihat sovenir "jika belum bisa ikhlas, niatkan supaya bermanfaat untuk orang lain" . Ucapan itu belum pas, ternyata banyak orang memberi karena mereka ingin sekali memberi, sebagai wujud terimakasih. Setidaknya terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk "aku".
Orang menikah berburu sovenir bukan karena budaya baru orang "gawe" hajat, bukan tentang gengsi, bukan tentang hal lumrah, bukan p**a tentang diada-adakan atau kata lain bid'ah hehe ,bukan.
Tetapi kesadaran diri , ini wujud rasa terima kasih telah menyempatkan waktu hadiri undangan pernikahan.
Tetapi, jika karena kurang modal untuk sovenir membuatmu menunda pernikahan, sovenir jadi tidak layak untukmu.
NIKAH WAJIB, SOVENIR TIDAK !