12/11/2014
Kancing Baju Ayah
Sam memandang sepucuk undangan ditangannya. Lamat-lamat ia menatap sambil sesekali menyunggingkan senyum. Jika bukan karena paras wajahnya yang lumayan tampan, orang-orang disekitarnya mungkin menyangka ia sedang mengalami gangguan jiwa. Tapi Sam tidak peduli, ia sekarang bahkan menitikkan airmata.
âKasihan, pasti dia sedang patah hati. Lihatlah undangan yang dipegangnya. Ah, kalau saja putriku sudah dewasa aku pasti akan menjodohkan dengan lelaki ituâ seorang ibu berbisik dengan ibu lain disebelahnya.
âIya, ganteng-ganteng tapi sudah seperti itu. Memangnya wanita didunia ini cuma selebar daun kelor?â timpal ibu itu.
Sam menyeka airmatanya, ia membuka tas ranselnya dan mengeluarkan sebuah amplop coklat yang berukuran sedang. Perlahan ia masukkan undangan itu ke dalamnya kemudian menuliskan nama penerima dan alamatnya. Ia melemparkan pandangan ke depan loket, mungkin sebentar lagi gilirannya. Tak lama Sam pun beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri meja loket pengiriman dokumen dan paket express.
â15 ribu rupiah Masâ seru pegawai loket itu setelah memasukkan data di komputernya. Sam merogoh dompet, untung uang yang dibawanya pas. Begitu uang diserahkan, pegawai loket menyodorkan bukti pengiriman.
âKira-kira sampainya berapa hari ya Pak?â Tanya Sam.
â 1-2 hari juga sampai kokâ jawab pegawai loket sambil tersenyum.
âSyukurlah, terimakasihâ Sam pun berlalu. Setelah ini ia masih harus ke kampus dan membuat persiapan.
Sam mengayuh sepeda buntutnya dengan semangat. Ia teringat ketika beberapa hari lalu dirinya mengabarkan pada keluarga bahwa ia akan wisuda sarjana. Dari balik telepon, ia bisa mendengar suara napas ayahnya yang terengah-engah. Bagaimana tidak, untuk bisa berbicara dengan anaknya di perantauan, Ayah harus meminjam telepon dari balai desa yang berjarak hampir 2 kilometer jauhnya. Dikampungnya tidak bisa menerima sinyal telepon genggam. Untuk itulah, pak Kades memberikan fasilitas telepon gratis bagi warga, tentu saja harus ada aturannya.
âAyah, Sam akan kirim undangannya ke kampung ya. Biar Ayah bisa tunjukkan pada semua orang kalau anak Ayah ini sudah berhasilâ ucap Sam. Saat mengatakan itu Sam teringat ketika dulu beberapa tetangganya yang usil mengejeknya karena ingin berkuliah di kota. Ada p**a yang menyindirnya sebagai anak yang durhaka, sudah tahu keluarganya miskin masih ngotot juga kuliah. Bukankah itu akan memberatkan terutama ayahnya?
âIya nak, Ayah tahu kau akan menjadi putra kebanggaan kami. Kira-kira berapa biaya untuk wisuda itu Sam? Tanya Ayah langsung.
Sam terdiam, sungguh tidak tega ia menyebutkan nominal sebagai syarat agar ia bisa mengikuti wisuda. Sebelum ini ia berusaha keras mencari pinjaman dan bahkan lembur memberi les privat, tapi ternyata itu belum cukup menutupi kekurangannya.
âTidak usah pikirkan itu Yah, pokoknya Ayah terima undangan dan siap-siap datang mendampingi Sam nanti yaâ sahut Sam.
âTapi SamâŠkamu dapat uang darimana? Ayah dengar dari Pino, anak pak Burhan yang pernah wisuda dan sedang liburan disini mengatakan jika biayanya sangat mahal. Apalagi jika kampusnya bergengsi seperti kampusmu ituâ suara Ayah terdengar cemas.
âSam kan kuliah sambil bekerja Yah, uangnya cukup kok, tenang saja. Sudah dulu ya Ayah, Sam tidak bisa lama-lama pakai telepon koperasi kampus. Ayah jangan pikirkan apapun, oke?â Sam mengakhiri pembicaraan itu dengan salam. Bagaimanapun ia tidak bisa merepotkan Ayah untuk ini.
Nyatanya, naluri seorang Ayah tidak bisa dibohongi. Saat Sam ingin mengambil uang di ATM, betapa terkejutnya ia saat melihat jumlah saldo tabungannya bertambah banyak. Ia mulai menebak-nebak asal uang tersebut, tidak mungkin berasal dari les privat karena selama ini ia hanya menerima bayaran dalam bentuk cash. Dugaan Sam jatuh pada ayahnya. Ia terisak, membayangkan berapa besar lagi rasa malu yang ayahnya tanggung untuk mendapatkan uang ini. Ia tahu bahwa penghasilan ayahnya sebagai pengumpul getah pohon karet tidaklah besar, apalagi ini pertengahan bulan. Tapi Sam tidak bisa menolak, bagian administrasi kampus sudah mendesaknya untuk secepatnya melunasi biaya wisuda.
**
Sam menyambut kedatangan Ayah dan ibunya di terminal. Sam menghambur dalam pelukan ayahnya. Dengan takzim ia mencium tangan sang ibu. Dilihatnya wajah ayahnya yang kulit tubuhnya sudah menghitam dan mengkerut. Uban-uban kecil menyembul dari balik pecinya yang mengelupas kulitnya. Ibunya pun demikian, diusianya yang sekarang ia masih sanggup bekerja sebagai buruh cuci.
Orangtuanya sungguh hebat, tidak pernah mengeluh dan selalu bahagia meski harus menghidupi tujuh orang anak. Sam mengajak Ayah dan Ibunya menginap di kost, Sam bersyukur karena sebagian teman-teman kostnya âmengungsiâ ke tempat kost lainnya agar orangtua Sam bisa tidur dengan nyaman.
Petang itu mereka sholat maghrib berjamaah. Sam begitu rindu dengan lantunan bacaan sholat ayahnya yang syahdu dan kadang membuatnya hatinya bergetar. Meski badannya hampir ringkih, ia masih kuat memimpin sholat. Bertiga mereka mengucapkan syukur tiada tara atas semua karunia yang Allah berikan pada mereka. Selesai sholat, ibunya menyiapkan makan malam kes**aan Sam, sambal ikan teri.
âAyah, maaf sudah merepotkan Ayah selama iniâ ucap Sam lirih ketika mereka mencari angin segar di teras kost yang kecil.
âMaksudmu?â Tanya ayahnya
âSam tahu bahwa ayah yang mengirimkan uang itu untuk Sam. Sam janji setelah ini Sam akan membuat ayah bisa berdiri dan berjalan dengan kepala tegak di depan semua orangâ tukas Sam.
Ayahnya menghela napas. Sesekali ia terbatuk, mungkin belum terbiasa dengan hawa malam di kota.
âSam, setelah ini ayah ingin kau melanjutkan hidup lebih baik dari ayah. Kau tidak malu lagi dipanggil anak si tukang pengumpul karet yang s**a bermimpi di siang bolong. Bahkan jika saat itu kau tidak lagi menoleh pada ayah, itu tidak akan jadi masalahâ
Sam memandang ayahnya lamat-lamat. Orangtua ini begitu luar biasa, bagaimana aku akan bisa memalingkan wajahku darinya? Ayah dan anak itu pun larut dalam obrolan saat-saat penuh kenangan di kampung.
**
Pagi-pagi buta Sam sudah bersiap. Undangan untuk wisudawan dan orangtuanya jam 10 tepat. Karena membawa ayah dan ibunya, Sam harus berganti-ganti angkutan umum dan itu pasti memakan waktu yang lama. Ia menengok kamar tempat orangtuanya tidur, mereka bangun lebih awal dari Sam. Sam tersenyum. Di belakang pintu sudah siap pakaian yang akan mereka kenakan. Ibu seperti biasa memakai kebaya yang pasti ia pinjam dari pelanggannya. Sam melirik kemeja batik ayahnya, sesaat ia mengira bahwa semua sudah beres. Tapi pandangan matanya terpaku pada batik itu, ada yang salah disana.
âAyah..â panggil Sam.
âIya Sam, ada apa?â ayahnya masih mengenakan sarung dan handuk.
Sam menyodorkan kemeja batik itu. Ayah meremasnya sambil tertunduk.
â Kalau Ayah mau Sam bisa pinjamkan pakaian dari suami ibu kost disini. Beliau punya banyak koleksi batik yang bagusâ tawar Sam.
âTidak perlu Sam. Ayah sudah mempersiapkannya kok. Lagian ini baju keramat, heheâ canda Ayah. Ia masuk ke dalam kamar dan mengambil beberapa peniti. Dengan sigap ia menyematkan setiap peniti sebagai pengganti kancing baju.
âLihatlah, bagus kan? Ini bukan masalah besarâ kata Ayah sambil tertawa. Sam tahu bahwa ayah hanya ingin menghiburnya. Itu adalah satu-satunya kemeja yang dimiliki oleh ayah, bekas seragam pernikahan Haji Dulah dimana ayah diminta jadi panitia saat itu. Entah berapa kali ayah memakainya sampai tidak ada lagi kancing yang tersisa untuk menutupinya. Sam terpaku, bagaimana ia tidak memikirkan soal ini? Harusnya dari kemarin ia mencari pinjaman pakaian yang pantas dipakai orangtuanya. Sam hanya punya satu setelan kemeja dan jas. Itupun hadiah dari Pak Sinu, dosen pembimbing yang sudah menganggapnya sebagai anak sendiri.
âSam, tunggu apalagi. Ayo bersiap. Kita bisa terlambat nantiâ seru Ayah. Ia juga sedikit berteriak pada Ibu agar segera menyelesaikan dandanannya. Beberapa menit kemudian mereka sudah siap berangkat. Ayah berdiri menghadap Sam. Tubuhnya sekarang kalah tinggi dengan putra ketiganya itu. Tanpa bicara dan mata berkaca-kaca Ayah merapikan pakaian Sam.
âLihat Bu, gantengnya anak kita. Padahal dulu badannya kurus kecil karena kita tidak bisa memberinya makanan yang layak dan bergiziâ Ayah berkelakar. Ibu mengiyakan sambil menyeka matanya yang basah.
âJangan menangis Bu, nanti bedakmu bisa luntur dan orang akan mengira kau itu pembantu, bukan ibunyaâ lanjut Ayah sembari tertawa. Sungguh, dada Sam terasa sesak. Ia berpakaian sangat bagus dan lebih menonjol dari orangtuanya. Sam memeluk ayahnya erat seakan tidak ingin melepasnya. Justru ayahnya yang harus mengingatkan bahwa waktu mereka terbatas sekarang.
**
âSamudera Kelana, mahasiswa Fakultas Teknik jurusan Teknik Mesin lulus dengan IPK cumclaude 3,85â suara operator mengiringi langkah Sam menuju podium. Sebagai lulusan terbaik, ia berhak mendapatkan beasiswa S2. Sam diminta untuk berpidato memberikan kesan dan motivasi pada mahasiswa yang juga berhadir disana.
âAssalamuâalaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kalian mungkin tertawa dan merasa lucu dengan nama saya. Saya juga tidak tahu kenapa orangtua saya memberikan nama Samudera Kelana, seperti nama pendekar zaman dulu. Tapi satu hal yang saya yakini bahwa dibalik itu ada doâa dan harapan mereka yang besar pada saya. Hari ini saya akhirnya berhasil menyandang gelar sarjana bukan hanya karena keringat dan kerja keras, tapi juga airmata rasa malu yang harus ditanggung orangtua saya. Ayah sudah membuat tembok besar diwajahnya saat berkali-kali harus meminjam uang agar kebutuhan saya tercukupi selama di perantauan. Dan hari ini, ia merasa bangga bisa mendampingi saya meski hanya memakai kemeja batik usang yang bahkan sudah tidak lagi memiliki kancing.
Ayah memang tidak selalu bisa memberikan apa yang saya inginkan, karena itulah ia membiarkan saya mengambil semua yang ia miliki selama ini. Terimakasih Ayah, dan juga Ibu. Setelah ini Sam yang akan mengeringkan setiap keringat yang menghampiri kalian, menjadi payung saat terik matahari menyengat kalian tanpa ampun. Sam..si anak tukang pengumpul getah karet yang baunya busuk akan selalu membuat harum saat nama kalian disebut sebagai orangtua yang membuatnya ada di dunia iniâ
Semua hadirin memberikan standing applause, tak terkecuali para dewan sidang senat. Tangan Ayah bergetar menyeka airmata yang tak henti menjatuhkan diri. Ayah menoleh pada ibu yang menangis haru.
âSudah kubilang kan bu, begini-begini pakaianku memang âkeramatâ guyonnya.
~Copas~
*Miss you my father..
Meski hanya 7 tahun menikmati kebersamaan denganmu.. T_T