Kasyaf Mart

Kasyaf Mart Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Kasyaf Mart, Buaran Gang 1, Pekalongan.

Selamat beraktifitas kawan
03/07/2018

Selamat beraktifitas kawan

[Seminar Bab Zakat]Suatu waktu, Kiai Hasyim diundang untuk menjadi pembicara dalam sebuah seminar tentang zakat di kota ...
10/06/2018

[Seminar Bab Zakat]

Suatu waktu, Kiai Hasyim diundang untuk menjadi pembicara dalam sebuah seminar tentang zakat di kota D. Tiga hari sebelum acara, beliau sudah menyiapkan materi dengan berbagai macam sumber dan dalil soal zakat.

Iya, Kiai Hasyim memiliki semangat yang tinggi manakala mendiskusikan tema zakat. Ia memiliki keyakinan bahwa zakat adalah solusi yang paling efektif untuk mengentaskan kemiskinan. Jika semua orang yang mampu berzakat dan jika zakat dikelola dengan benar, maka umat akan sejahtera.

“Sudah sampai mana, kiai?” tanya salah seorang panitia kepada Kiai Hasyim satu jam sebelum acara seminar bab zakat dimulai.

“Ini di jalan. Sebentar lagi sampai tempat acara,” jawab Kiai Hasyim.

“Bagaimana dengan peserta. Apakah banyak yang datang.”

“Iya. Lumayan, kiai,” balas panitia itu dengan suara parau.

Sesampai di tempat acara, Kiai Hasyim sedikit tertegun. Semula beliau berharap peserta bakal membludak, tapi ternyata peserta yang hadir hanya memenuhi seperempat kursi yang tersedia. Lumayan.

Penasaran dengan yang hadir, Kiai Hasyim menanyai beberapa peserta.

“Saya si fakir, kiai.”

“Saya si miskin, kiai.”

“Saya si amil zakat, kiai.”

Tiba-tiba muka Kiai Hasyim berubah menjadi masam. Ia merasakan sesuatu yang sama dengan seminar-seminar sebelumnya ketika membahas soal zakat.

“Dimana-mana, kalau seminar bab zakat yang banyak hadir kok mustahiqnya (orang yang berhak menerima zakat) ya. Muzakkinya (orang yang wajib berzakat) pada ke mana.”

“Giliran seminar bab qurrotul ‘uyun (kitab k**a sutra ala pesantren) saja, ramai.” Batin Kiai Hasyim sedikit d**gkol.

Sejak saat itu, Kiai Hasyim mulai sadar kalau diskusi soal zakat akan sepi peserta. Iya, rupanya mereka takut ‘ditagih’ untuk membayar zakat. Di sisi lain, mustahiq (orang yang berhak menerima zakat) pada hadir di seminar karena mengira akan mendapatkan zakat.
Sumber : nu.or.id

Lapak On The Road "Kasyaf.mart"Selama 10 hari terakhir bulan ramadhan.Menjual :SARUNG NU dan Beras Zakat LPNU Kota Pekal...
02/06/2018

Lapak On The Road "Kasyaf.mart"

Selama 10 hari terakhir bulan ramadhan.

Menjual :
SARUNG NU dan Beras Zakat LPNU Kota Pekalongan.

Lokasi :
Depan Masjid Asy Syafii Pringlangu, Jl. Urip Sumoharjo.

Buka dari jam 4 sampai jam 9 malam (istirahat waktu sholat terawih)




01/06/2018
[Masih Kalah dengan Kambing]Sama-sama sudah tua dan lama tidak pernah ketemuan setelah 40 tahun keluar dari pondok terna...
31/05/2018

[Masih Kalah dengan Kambing]

Sama-sama sudah tua dan lama tidak pernah ketemuan setelah 40 tahun keluar dari pondok ternama di Jawa Timur, akhirnya Kang sholeh Pekalongan dan Kang Badrun Banyumas sepakat bertemu untuk sekedar melepas kangen ketika dulu sama-sama mondok di salah satu pondok dan satu k**ar p**a.

Beberapa kejadian unik dan menarik selama mondok menjadi cerita menarik setelah bertemua untuk reuni dan nostalgia dengan ditemani istri masing-masing yang semlohai.

Karena sudah lama tidak bertemu, saat ini kira-kira usia mereka sudah 65 tahunan, rambut sudah beruban, sama-sama telah menjadi anggota KPU (kepala penuh uban) meski fisik masih kelihatan seger dan kuat, karena mereka setelah p**ang dari mondok mengerjakan lahan pertanian warisan dari orang tuanya, maka wajar jika fisik masih kelihatan kuat dan bugar.

Pada tengah malam setelah istri masing-masing sudah tidur, Kang Sholeh dan Kang Badrun masih meneruskan ceritanya sambil menikmati segelas kopi dan rokok sambil cerita ke sana dan ke mari.

"Kang Badrun, kelihatan fisik sampeyan masih segar dan kuat, kira-kira masih kuat berapa kali sehari melayani istri di ranjang?," tanya Kang Sholeh penasaran.

"Ah.... Kang Sholeh biasa saja, saya ini sudah tua dan beruban, meski fisik kelihatan kuat karena tiap hari mencangkul, tapi urusan ranjang paling seminggu sekali sudah bagus lah," jawab Kang Badrun.

"Waduh Kang Badrun, sampeyan masih kalah dengan kambing saya yang tiap hari kuat 10 kali," ujar Kang Sholeh.

"Lha... kok saya dibandingkan dengan kambing Kang Sholeh, tapi sebentar, kambing kamu pasangannya tetap apa gonta ganti?," tanya Kang Badrun penasaran.

"Yaa .... jelas gonta ganti, namanya juga kambing, mana ada yang punya pasangan tetap, jawab Kang Sholeh sambil menghisap rokok kesayangannya.

"Kalo pasangan kambing gonta ganti, saya ya kuat lebih dari 10 kali sehari Kang Sholeh," jawab Kang Badrun dengan mantab.
Sumber : nu.or.id

28/05/2018

[Fi buyutun]

Suatu hari Ahmad sedang membaca sebuah kitab kuning di pojokan k**ar pesantrennya. Ia melakukannya dengan suara keras sehingga teman-temannya yang lain bisa mendengarkannya. Maklum saja, ia sedang rajin-rajinnya karena Ahad depan akan ada ujian tes kitab.

Sambil rebahan, teman-temannya ikut menyimak Ahmad yang nampak khusyuk dan lancar mengucapkan deretan kata yang tidak berharakat dalam setiap lembar kitab gundul tersebut. Satu lembar, dua lembar, Ahmad membaca dengan baik dan benar. Teman-temannya pun mengamini kalau sejauh ini Ahmad membaca sesuai dengan kaidah Nahwu dan Shorof.

Perdebatan terjadi manakala Ahmad sampai pada lembar ketiga dan membaca frasa “fi buyutin” dengan bacaan dhummah (fi buyutun).

Mendengar hal itu, Zaid yang sedari tadi ikut menyimak Ahmad tidak terima kalau “fi buyutin” dibaca Ahmad menjadi “fi buyutun.”

“Itu kan ada huruf Jar fii nya Mad. Jadi harusnya dibaca kasrah d**g. Fi buyutin, bukan fi buyutun,” sergah Zaid membetulkan bacaan Ahmad.

“Tanda asal I’rab Rafa’ kan dhummah, Nashab dengan fathah, Jar dengan kasrah, dan Jazm tandanya adalah sukun. Itu kan I'rab Jar,” tambah Zaid mengingatkan Ahmad tentang dasar-dasar materi I’rab.

Teman-teman lainnya yang juga ikut menyimak sedari awal memprotes Ahmad. Mereka menganggap betul apa yang dikatakan Zaid.

“Betul itu kata Zaid. Fi buyutin, bukan fi buyutun Mad,” kata mereka.

Ahmad tidak tinggal diam. Ia membantah ucapan teman-temannya itu. Mengutip apa yang ada dalam Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 36, Ahmad menyebutkan bahwa Allah mengizinan membaca kata itu dibaca Rafa’ atau fathah harakat akhirnya, fi buyutun.

“Fi buyutin adzinaallahu an turfa’a. Pada kalimat fi buyutin Allah mengizinkan untuk dibaca Rafa’,” kata Ahmad menerjemahkan ayat tersebut.

“Jadi mengapa kalian membacanya Jar?” tambahnya.

Teman-temannya langsung mengerutkan dahi. Di dalam hati, mereka membatin: “Ya begini ini kalau memahami Al-Qur’an secara tekstual.”

Terjemahan utuh dari Surat An-Nur ayat 36 adalah: (Cahaya itu) di rumah-rumah yang di sana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih (menyucikan) namanya pada waktu pagi dan petang.
Sumber : nu.or.id

[Orang Madura Merantau di Jakarta]Dalam kejenuhan mencari pekerjaan,  akhirnya dia pun terpikir mencoba membuka sebuah k...
28/05/2018

[Orang Madura Merantau di Jakarta]

Dalam kejenuhan mencari pekerjaan, akhirnya dia pun terpikir mencoba membuka sebuah klinik pengobatan, walaupun dia bukan dokter ataupun pernah kuliah di kedokteran.

Supaya orang-orang mau berobat ke kliniknya, Si Madura membuat iklan menarik :

"Menyembuhkan segala penyskit. Ayo berobat kemari. Kalau sembuh cukup bayar 100 ribu, kalau tidak sembuh kami bayar anda 1 juta".

Konon ada seorang dokter tak sengaja membaca iklan itu dan langsung ingin mencoba.

Si Madura : "Sakit apa sampeyan Pak..?"

Dokter Jawa : "Mulut hambar, kalau makan tak terasa apa- apa ".

Si Madura : "Oh itu hilang perasa namanya, baiklah Itu cukup diberi obat nomer 22 sebanyak 3 tetes di dalam mulut".

Dokter Jawa : "Wah! Minyak rem ini, bukan obat.!"

Si Madura : "Nah, bapak sudah bisa merasakan lagi, silahkan bayar 100 ribu".

Dokter Jawa itu jengkel karena merasa dikerjain, selang seminggu kemudian dia datang lagi.

Si Madura : "Duh sampeyan lagi, sakit apa lagi pak .?"

Dokter Jawa : "Saya hilang ingatan".

Si Madura : "Baiklah, saya akan memberikan obat nomer 22 dan gunakan sebanyak 3 tetes saja dalam mulut".

Dokter Jawa : "Wah! gak mau, itu minyak rem yang kemarin kan.?"

Si Madura : "Wah, bapak udah bisa mengingat lagi, berarti sudah sembuh, tolong bayar 100 ribu".

Dokter Jawa tersebut makin jengkel karena merasa dikerjain lagi. Selang seminggu kemudian diapun datang lagi berniat balas dendam. Kali ini dia mau pura-pura sakit yang parah biar dokter gadungan itu tidak mampu menyembuhkan.

Si Madura : "Bo abo sampeyan lagi.. sakit apa lagi, bapak ini.?"

Dokter Jawa : "Mata saya rabun tidak bisa melihat apa-apa dengan jelas".

Si Madura : "Mohon maaf, Pak.., kalau sakit seperti itu saya tidak bisa menyembuhkan, ini silahkan ambil 1 juta (sambil menyerahkan 10 lembar uang dua ribuan)".

Dokter Jawa : "Wah! Ini kan cuma duapuluh ribu rupiah ! ".

Si Madura : Alhamdulillah, bapak sudah bisa melihat dengan jelas? Berarti bapak sudah sembuh, silahkan bayar 100 ribu"..

Orang Madura di lawan.??????????????????
Sumber : nu.or.id

Address

Buaran Gang 1
Pekalongan
51111

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kasyaf Mart posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share