24/06/2026
Orang Jawa Bilang, “Tirakat Banter, Kerjo Mempeng, Mesti Sugeh” Karena Hidup yang Cukup Selalu Dimulai dari Nafsu yang Bisa Dikendalikan
Ada ungkapan Jawa yang sederhana, tapi maknanya dalam, “Tirakad banter, kerjo mempeng, mesti sugeh.” Artinya, siapa yang kuat menahan diri dan bekerja sungguh-sungguh, maka hidupnya akan lebih dekat dengan kecukupan.
Tirakad bukan hanya soal puasa atau mengurangi makan. Tirakad juga berarti mampu mengendalikan keinginan. Tidak semua yang sedang tren harus dibeli. Tidak semua pencapaian orang lain harus diikuti. Tidak semua keinginan harus segera dipenuhi.
Di zaman sekarang, bagian ini justru semakin penting. Banyak orang bukan benar-benar kekurangan penghasilan, tetapi terlalu banyak kebocoran. Gaji naik, gaya hidup ikut naik. Omzet bertambah, cicilan juga bertambah. Akhirnya kerja keras setiap hari, tetapi hidup tetap terasa sempit.
Tirakad mengajarkan manusia untuk memiliki rem. Menahan diri bukan berarti hidup harus susah. Justru dengan menahan diri, hidup bisa lebih tertata. Ada uang yang disimpan, ada kebutuhan yang diprioritaskan, dan ada masa depan yang perlahan disiapkan.
Namun menahan diri saja tidak cukup. Setelah tirakad, ada kerjo mempeng. Artinya, bekerja dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar terlihat sibuk atau merasa capek.
Kerja yang sungguh-sungguh harus punya arah. Seorang pedagang perlu belajar memahami pembeli. Pemilik usaha perlu belajar mengatur uang, stok, pelayanan, dan tim. Pekerja juga perlu terus menambah kemampuan agar tidak berhenti di tempat yang sama.
Kerja keras tanpa belajar hanya menghasilkan kelelahan. Sementara kerja yang benar selalu membawa perbaikan. Hari ini lebih rapi dari kemarin. Bulan ini lebih paham dari bulan lalu. Tahun ini lebih siap dari tahun sebelumnya.
Tirakad dan kerja mempeng harus berjalan beriringan. Tirakad menjaga agar hasil kerja tidak bocor. Kerja mempeng membuat hasil terus bertambah. Hemat tanpa berkembang membuat hidup sulit naik kelas. Kerja keras tanpa kendali membuat uang datang dan pergi begitu saja.
Lalu ada kata sugeh. Banyak orang mengartikannya sebagai kaya raya. Padahal sugeh bisa berarti lebih luas. Tidak panik saat ada kebutuhan mendadak. Tidak bingung membayar sekolah anak. Tidak harus berutang untuk kebutuhan dasar. Tidak hidup dalam tekanan hanya demi terlihat mampu.
Sugeh juga berarti punya waktu untuk keluarga, badan yang sehat, nama baik, dan pikiran yang tenang. Sebab ada orang yang terlihat kaya, tapi hidupnya penuh cicilan. Ada juga yang hidup sederhana, tetapi keuangannya tertata dan tidurnya lebih nyenyak.
Ungkapan Jawa ini bukan mantra ajaib. Tidak semua yang tirakat dan bekerja keras langsung kaya. Namun tanpa kendali diri dan kerja sungguh-sungguh, peluang memperbaiki hidup akan semakin kecil.
Hidup yang baik sering lahir dari kebiasaan kecil yang dijaga lama. Menunda belanja yang tidak penting, menyisihkan uang, belajar, menepati janji, dan bekerja lebih rapi.
Tirakad banter membuat manusia tidak mudah dikalahkan keinginannya. Kerjo mempeng membuatnya terus bergerak. Dan sugeh bukan hanya soal punya banyak, tetapi soal hidup yang cukup, kuat, dan tidak mudah goyah.
Disclaimer:
Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena bisnis atau industri untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik.