Kumpulan novel

Kumpulan novel https://lynk.id/yuniatinasida
Contains a collection of interesting stories published on online novel platforms.

"Saat suami dan mertuaku sibuk merayakan uang hasil menjual diam-diam rumah peninggalan almarhumah ibuku, mereka tidak t...
12/06/2026

"Saat suami dan mertuaku sibuk merayakan uang hasil menjual diam-diam rumah peninggalan almarhumah ibuku, mereka tidak tahu kalau aku sudah menandatangani surat laporan penggelapan aset ke polisi. Biar malam ini mereka tidur nyenyak tapi besok..."

​"Mas, rumah ini peninggalan Almarhumah Ibu. Satu-satunya har ta yang aku punya..." Lea mencoba bicara di sela ba tuknya yang mulai berda rah. "Tolong, jangan jual..."
"Diam! Rumah ini bukan milikmu lagi sejak kamu jadi istriku! Semuanya milikku!" Rizky menceng keram rahang Lea dengan ka sar, membuat wanita itu tersu ngkur di atas sajadahnya sendiri. "Mulai sekarang, ganti bajumu. Pakai gamis yang rapi. Broker tanah itu akan datang jam sembilan. Kamu harus tersenyum dan bilang kalau kamu setuju menju al rumah ini!"

Anca man itu menjadi pilihan terbe rat Lea. Ketika pukul sembilan tepat si broker datang, Rizky menyambutnya han g*t, seolah ia adalah suami teladan sejag*t raya.

"Silakan dicicipi kopinya, Pak. Ini istri saya, Lea, yang sang*t setuju dengan rencana penju alan ini untuk masa depannya," ujar Rizky sambil merangkul pundak Lea. Tangannya mere mas bahu Lea ku at, sebuah pering*tan fis ik agar Lea tidak mengeluarkan satu kata pun yang salah.

Setiap kali Lea hendak membuka mulut untuk bicara jujur, cengke raman tangan Rizky makin ku at, kuku-kukunya hampir menembus kulit gamisnya.

"Benar begitu, Bu Lea? Anda setuju menjual rumah di Desa Sukamaju ini?" tanya si broker memastikan.

Lea menatap pria itu. Di otaknya, ama rah yang selama ini ia pendam selama berbulan-bulan mendadak berge jolak. Ama rah seorang anak yang tidak ingin warisan ibunya diram pas, dan ama rah seorang ibu yang tidak ingin anaknya tumbuh di lingkungan yang penuh keke rasan.

"Nggak," suara Lea keluar, kecil tapi tegas.
Si broker mengernyit. "Maaf, Bu?"

"Saya... tidak... setuju!" Lea mengulanginya, kali ini lebih ke ras meskipun setelah itu ia terbatuk-batuk hebat hingga mengeluarkan berc ak da rah di tisunya. "Tanda tangan di dokumen itu palsu! Saya tidak pernah setuju menjual rumah Ibu saya!"

Suasana mendadak ka cau. Si broker tanah langsung berdiri. "Maaf Pak Rizky, kalau urusannya begini, saya nggak bisa lanjut. Saya nggak mau urusan sama polisi kalau ini masalah sengketa keluarga!"

Begitu si broker pergi, topeng manis Rizky re tak total. Ia menya mbar kerah gamis Lea, menariknya hingga berdiri pa ksa. "Ber ani kamu mempermalukan aku, hah!"

Tamparan ke ras mendarat di p**i Lea, membuatnya tersu ngkur mena brak meja makan hingga gelas pe cah berantakan di lantai.

"Pu kul aku, Mas! Pu kul!" tantang Lea dengan sudut bibir berda rah. "Biar semua orang tahu kalau kamu itu bukan suami, tapi mo nster! Silakan jual rumah Ibuku, Mas, tapi bayar dengan penjaramu!"

Rizky tidak berhenti. Ia menye ret Lea menuju kamar belakang, mengabaikan tangisan histeris anak mereka.
Namun di depan gang, sebuah mobil berhenti mendadak. Oky turun dengan mata berkilat penuh ama rah. Ia mengambil sebuah balok kayu dari pinggir jalan dan mulai mengha ntam gembok pagar rumah itu dengan tenaga penuh.

"LEA! BUKA PINTUNYA!" teriak Oky dari luar.
Di dalam rumah, Rizky membeku. Suara Oky adalah suara anca man bagi dunianya yang mulai runtuh. Ia menatap Lea yang terkapar di lantai, lalu menatap pintu depan digedor-gedor.

"Ini belum selesai, Lea. Belum selesai!"

Catatan Penulis:
Bagaimana awal mula pernikahan yang manis berubah menjadi ner aka domestik? Dan bagaimana cara Lea membalas dendam hingga menyeret suami serta mertuanya ke jeruji besi?

"Kisah nyata Azalea merebut kembali harga diri dan warisan ibunya. Sudah TAMAT maraton di Kbm App dengan judul: " Silakan Jual Rumah Ibuku, Mas, Tapi Bayar dengan Penjaramu!"
Penulis : Yuniati N
Link baca ada di bio ya."

"Dia pikir ini malam khilaf, padahal ini awal dari neraka yang sudah kusiapkan."Bab IKamu Permainanku"Ya Allah ... ke ma...
03/06/2026

"Dia pikir ini malam khilaf, padahal ini awal dari neraka yang sudah kusiapkan."

Bab I

Kamu Permainanku

"Ya Allah ... ke mana cadarku? Hah, kan cing ba juku!" Dengan jemari yang berge tar hebat, Nadhira mera ba ke rah pakaiannya yang kehilangan dua kancing. Secara refleks, ia membe kap mul ut, mencoba mere dam je rit yang hampir pe cah.

Nadhira menoleh pa tah-pa tah ke arahku yang berbaring di sisinya. Aku sengaja bertelan jang da da, membiarkan kulitku terpa par. Cadar dan kerudungnya terserak menge naskan di lantai, bercampur aduk dengan kemejaku. Matanya mele bar, nyaris melompat keluar, saat menangkap sisa no da lipstik miliknya yang membe kas di sekitar bi birku.

Kepanikan telak menghan curkan kendali dirinya. Kelembutan yang biasanya ia agungkan le nyap seketika. Ia menceng keram dan menggun cang ba huku dengan beri ngas. Inilah rencanaku, Nadhira.

"Hei, bangun! Apa yang sudah kamu lakukan terhadapku?!"

Aku meliriknya dari sudut mata yang menyipit, pura-pura syok juga. Tangan menyen tuh kepala. "Kepalaku, pu sing."

Aku ingin menon jolkan kebo hongan, menikmati posisi di atas angin yang sudah kususun rapi.

"Hei, jawab! Apa yang sudah kamu lakukan, hah!" bentak Nadhira lagi sembari mende kap da danya erat-erat.

Aku bangun perlahan, mengu cek mata dengan gestur ma las.

"Apa?" Aku duduk dan menyenderkan punggung di kepala ra njang." Aku tak ing*t, apa yang sudah aku perbuat? Kamu ya yang menjem bakku." Aku menyi bak selimut dan hanya memakai cela na da lam. Ia mema lingkan wajah dan aku bergegas memunguti kemeja, serta kain cadar dan hijab lebar milik Nadhira yang teronggok.

Nadhira menceng keram kuat bagian da da bajunya yang terb uka. Geme retak giginya bera du, selaras dengan rona me rah pa dam di wajahnya yang menahan emo si hingga ke ubun-ubun.

"Kamu ku rang a jar sekali! Dengan ringannya kamu bicara tanpa rasa berdo sa. Kamu anggap aku perempuan mura han yang biasa kamu tidu ri, hah!" Suara Nadhira mele dak berapi-api, disusul tangis yang akhirnya pe cah tak terbendung.

"Kamu pikir aku sengaja? Ini murni kekhilafan. Aku gak tahu ta hu, melakukan gak sadar! Hentikan tangismu, aku laki-laki yang pantang lari dari tanggung jawab! Walau pun kamu yang menje bak," ucapku enteng sembari merapikan kemeja yang baru saja kukenakan, tanpa sedikit pun sudi menatap Nadhira yang tampak ingin menyantapku hidup-hidup.

"_Menikahiku_? Aku tidak akan sudi menikah dengan laki-laki yang sudah meno dai sebelum ijab kabul. Camkan itu!"

"Dengan senang hati, akan kuturuti maumu. Tapi, jangan pernah mencariku bila janin itu terus membe sar di pe rutmu. Aku jamin, kamu tidak akan pernah bisa menemukanku lagi di belahan bumi mana pun!" tukasku dingin tanpa beban, sembari bersiap melangkah meninggalkan ka mar.

Nadhira tersentak panik. Tangannya spontan mere mas pe rut dengan tu buh geme tar. Tatapannya na nar, air matanya mulai mengering, tetapi meninggalkan jejak memerah di pelupuk mata. Ia tampak berpikir keras. Setidaknya aku tahu, Nadhira bukan gadis sembarangan yang abai pada do sa. Lingkaran pengajiannya luas, dan ora ng tuanya menjaga dia layaknya porselen mahal yang takut re tak.

Pasti pikirannya kini berkeca muk: Bagaimana jika dia ha mil? Dan aku—si baji ngan ini—menghi lang? Namun, tak satu pun kata sanggup melu ncur dari bi bir ti pisnya.

"Aku pamit." Aku sengaja mengger taknya, tangan sudah menggeng gam handel pintu.

Nadhira terlonjak, telunjuknya mengarah ta jam padaku.

"Laki-laki breng sek! Mau lari dari tanggung jawab? Jangan harap kamu bisa pergi sebelum menikahiku. Aku tidak mau membesarkan janin ha rammu se ora ng diri!" teriak Nadhira kencang, tangisnya kembali menderu.

_Bigo_, tepat sasaran. Sesuai rencana. Aku menutup kembali pintu ka mar dan duduk di tepi ran jang dengan santai.

"Baik, jika itu memang keinginanmu!"

"Hanya keinginanku?!" Nadhira mera dang, tak terima.

Aku—Zidan—berusaha keras menyembunyikan senyum kemenangan dari hadapannya.

"Lalu?" Aku merentangkan kedua tangan ke bawah, memberanikan diri menatap dalam ke netra Nadhira.

"Kamu tidak ingin menikahiku?!" tanya Nadhira dengan suara serak yang memilukan.

"Tadi aku ajak menikah, kamu menolak. Sekarang kamu malah memaksa menikah. Jadi, maumu bagaimana?"

"Aku tidak mengajakmu menikah! Aku menuntutmu bertanggung jawab menikahiku!" sahut Nadhira dengan keke salan tingkat dewa.

Nadhira memandangku tanpa berkedip. Matanya memancarkan ketidakpercayaan melihat ketenanganku menghadapi keme lut yang menurutnya dahsyat ini. Aku menyisir rambut dengan jemari, bergaya ala koboi yang memiliki kepercayaan diri selangit. Aku melangkah menuju cermin, mematut diri sesibuk mungkin.

Aku bersiul lepas di depan kaca. Melalui pantulan cermin, kulihat Nadhira menyen takkan tubuhnya ka sar. Kilatan matanya menyiratkan kebencian maksimal.

"Benar-benar pl***oy kaca ngan! Bisa-bisanya bersiul di tengah situasi begini. Otakmu sedang disewakan, ya?!" Ia berkacak pinggang dan melem par ban tal ke arahku.

Aku menangkap bantal itu dengan tangkas. "Wusss! Mantap lemparannya! Coba aja semalam aku sadar, pasti kamu ga nas."

Wajahnya meme rah, marahlah, itu memang yang kuinginkan. Menikah tanpa cinta.

"Dasar manusia baji ngan!" makinya dengan tatapan sang*t ta jam.

Pengkhia natan ayahnya kepada ayahku terus membakar dendam di dada; kema tian ayahku adalah lu ka yang tak akan terbayar meski dengan nyawanya sekali pun. Dan maaf, kamu yang harus bayar itu. Nya wa balas dengan nya wa.

"Antarkan aku p**ang. Kamu harus jujur kepada orang tuaku. Dengan risiko apa pun, kamu tetap harus menikahiku. Titik!" ancamnya sembari menyam bar cadar dan hijab, lalu mengenakannya dengan asal.

"Baik, calon istriku "

"Apa kamu bilang?"

Suara lantang Nadhira membuyarkan ketakjubanku. Aku berjalan pelan mendekatinya, ia spontan memundur. Tatapanku tidak berubah menatapnya.

"Laki-laki mana lagi yang mau nikah sama kamu? Selain aku. Walau gak sadar, semalam kamu juga menikmatinya. Jadi jangan ga lak, lelaki gak s**a perempuan cerewet. Paham!"

Nadhira terdiam, tubuhnya langsung ka ku.

Aku Mencintainya Dengan Dendam
Penulis Muntaha H.S
On Going di KBM App

"Dulu ayahmu mencu ri tunanganku, dan sekarang aku akan men cu ri masa depanmu. Kamu harus jadi istriku!"Bab 5. Pamer Ke...
03/06/2026

"Dulu ayahmu mencu ri tunanganku, dan sekarang aku akan men cu ri masa depanmu. Kamu harus jadi istriku!"

Bab 5. Pamer Kemesraan

“Masuk.”

Suara bariton itu terdengar datar dari balik pintu kayu jati yang kokoh.
Zena menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu. Tangannya mencengkeram map tebal berisi laporan analisis yang sudah ia kerjakan selama tiga hari terakhir. Dengan langkah h ati-h ati, ia membuka pintu dan masuk ke dalam kan dang singa—ruang kerja Joseph Adinata.

Pria itu duduk tegak di balik meja kebesarannya, mata terpa ku pada layar laptop. Wa jahnya serius, tanpa seulas senyum pun.

“Pak, ini laporan yang Bapak minta kemarin,” ucap Zena sopan. Ia meletakkan map itu di sudut meja dengan hati-hati.
Joseph tidak langsung menoleh. Ia membiarkan Zena berdiri mema tung selama beberapa detik dalam keheningan yang menyik sa. Perlahan, tangannya terulur mengambil map itu, membukanya lem bar demi lem bar dengan gerakan cepat.

Tiba-tiba, gerakan tangan Joseph berhenti.
Ia mendongak, menatap Zena dengan sorot mata yang membuat lu tut gadis itu le mas.

“Apa ini?” tanyanya dingin.

Zena mene lan lu dah yang terasa kesat. “Itu laporan hasil analisis data penjualan cabang timur, Pak. Saya sudah menghi tung ul ang dua ka—”

Joseph melem par map itu ke meja dengan kasar hingga isinya berhamburan ke lantai. Beberapa lembar kertas mendarat tepat di dekat ujung sepatu Zena.

“Hitung ulang dua kali?” Joseph memotong taj am. Ia berdiri, menatap Zena dengan tatapan meren dahkan. “Kalau ini hasil hitungan dua kali, berarti kamu seharusnya kembali ke sekolah dasar, bukan magang di perusahaan saya.”

Zena membe ku. Waj ahnya memanas. “Maksud Bapak?”

“Lihat halaman li ma be las,” tunjuk Joseph pada kertas yang berserakan. “Angka persentase di sini tidak sinkron dengan data lampiran. Selisih nol koma satu persen saja bisa membuat perusahaan rugi ratusan juta. Kamu pikir saya tidak akan sadar?”

Zena memberanikan diri memungut kertas itu. Matanya membelalak saat melihat angka yang dimaksud. Benar, ada kesalahan input. Tetapi data itu berasal dari staf administrasi yang ia salin mentah-mentah.

“S-saya mohon maaf, Pak,” cicit Zena. “Data mentahnya memang seperti itu, tapi saya akui saya kurang teliti mengecek ulang. Saya akan perbaiki.”

“Maaf?” Joseph mendengus sinis. Ia berjalan memutar meja, mendekat ke arah Zena hingga gadis itu harus mendongak untuk menatap wajahnya.

“Di dunia bisnis, tidak ada tempat untuk kata maaf, Zena. Kesalahan konyol seperti ini menunjukkan kualitasmu. Mentang-mentang kamu anak magang, kamu pikir saya akan memaklumi?” Joseph mencondongkan wajahnya, suaranya merendah sang*t intimidasi. “Atau mungkin, kamu memang mewarisi ketidakbecu san orang tuamu?”

Da da Zena se sak seketika. Lagi-lagi orang tuanya dibawa-bawa. Ia mere mas ker tas di tangannya, mena han air mata agar tidak ja tuh. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan pria a rogan ini.

“Saya akan re visi, Pak,” ucap Zena tegas, meski suaranya sedikit berge tar. “Malam ini juga. Saya pastikan besok pagi laporannya sudah sempurna di meja Bapak.”

Joseph menatap mata gadis itu lama, mencari keraguan di sana. Namun, ia hanya menemukan tekad yang keras kepala.

“Bagus,” jawabnya datar. “Saya tidak peduli kamu harus lembur sampai jam berapa. Perbaiki sekarang. Jangan p**ang sebelum selesai.”

“Baik, Pak.”

Zena berbalik badan, memunguti kertas-kertasnya yang berserakan di lantai dengan perasaan campur aduk. Di belakangnya, Joseph kembali duduk dan mengabaikannya, seolah Zena hanyalah butiran debu yang mengganggu pemandangan.

Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam.

Lantai kantor sudah sepi. Hanya suara keyboard Zena yang terdengar di ruangan asisten. Matanya terasa perih menatap layar monitor, tetapi ia tidak berani berhenti.

“Aku nggak bo doh. Aku bisa selesaikan ini,” gumamnya menyemang*ti diri sendiri.

Setelah memeriksa ulang angka-angka itu sebanyak tiga kali, Zena akhirnya menghela napas lega. Semuanya sudah sinkron. Ia segera mencetak laporan baru dan merapikannya ke dalam map.
Tepat saat ia me ma tikan komputer, suara langkah kaki terdengar mendekat.

Zena menoleh cepat. Joseph berdiri di ambang pintu, jasnya tersampir di lengan, lengan kemejanya digulung hingga siku. Pria itu tampak lelah, tetapi ketampanannya tidak berkurang sedikit pun.

“Belum p**ang?” tanyanya datar.

Zena buru-buru berdiri. “Baru saja selesai, Pak. Revisinya sudah saya taruh di meja Bapak.”

Joseph melirik tumpukan map di mejanya sekilas, lalu kembali menatap Zena. “Sudah kamu cek lagi? Saya tidak mau melempar kertas itu untuk kedua kalinya.”

“Sudah, Pak. Saya jamin kali ini a kurat,” jawab Zena mantap.

Joseph mengangguk kecil. Ia melirik jam tangannya. “Sudah malam. Kamu p**ang naik apa?”

“Taksi, Pak. Atau ojek online.”

Joseph diam sejenak. Ia mero goh sa ku ce lananya, mengambil kunci mobil.

“Ikut saya. Saya antar kamu p**ang.”
Zena terbelalak. “Eh? Tidak usah, Pak. Saya bisa p**ang sendiri. Nanti merepotkan—”

“Saya tidak menerima penolakan,” potong Joseph dingin. “Saya tidak mau besok ada berita asisten saya diculik di depan kantor, lalu nama perusahaan saya je lek. Cepat kemasi barangmu.”

Zena menganga tak percaya. Alasan macam apa itu? Tetapi melihat tatapan Joseph yang tak terbantahkan, Zena akhirnya menurut.

“Dasar bos otori ter. Bilang saja mau berbuat baik, geng sinya se tinggi langit,” gerutu Zena dalam ha ti sambil membereskan tasnya.

Mereka berjalan menuju basement dalam diam. Zena mengekor di belakang Joseph, menjaga jarak aman.

Sesampainya di parkiran VIP, sebuah mobil sedan hitam me wah sudah menunggu. Mesinnya menyala, dan ada sopir pribadi yang berdiri membukakan pintu.
Namun, Zena terke jut saat pintu penumpang belakang terbuka.

Di dalam sana, sudah duduk seorang wanita cantik dengan gaun malam yang elegan. Rambutnya tergerai indah, dan aroma par fum m ahal langsung menyerbak keluar.

“Sayang! Akhirnya kamu datang,” seru wanita itu manja.

Joseph masuk dan duduk di sebelah wanita itu. “Maaf menunggu lama, Viona. Ada pekerjaan sedikit.”

Zena berdiri ka ku di luar, bingung harus berbuat apa. Ia merasa seperti orang b o doh. Jadi Joseph tidak benar-benar mengantarnya? Ia hanya … nebeng di tengah kencan bosnya?

Joseph menoleh ke arah Zena yang masih mematung. “Tunggu apa lagi? Duduk di depan."

Zena tersen tak. “B-baik, Pak.”

Dengan canggung, Zena duduk di kursi depan, di samping sopir. Ia merasa sang*t tak nyaman.

Mobil mulai melaju membelah jalanan Jakarta yang masih padat. Sepanjang perjalanan, Zena hanya bisa menatap lurus ke jalanan, berusaha menulikan telinganya. Di kursi belakang, suara tawa manja terdengar jelas.

“Kamu sibuk banget sih, Joe. Tapi aku senang kamu tetap tepati janji dinner kita,” ucap wanita bernama Viona itu sambil menyandarkan kepala di ba hu Joseph.

“Mana mungkin aku ingkar janji sama kamu,” sahut Joseph. Suaranya terdengar lem but, sang*t berbeda dengan nada dingin yang biasa ia gunakan pada Zena.

“Ih, gom bal. Tapi aku s**a,” Viona terki kik, lalu terdengar suara kecu pan ringan.

Tangan Zena mere mas sabuk pengaman. Da danya terasa se sak, panas, dan tidak nyaman.

Ia merasa seperti penonton ba ya ran di film roman tis yang salah skenario. Kenapa Joseph mengajaknya kalau hanya untuk memamerkan kemes raan ini?

“Apa maksudnya coba?” batin Zena kesal. “Aku disuruh lembur, dima rahin, terus sekarang disuruh jadi obat nyamuk? Dia mau pamer kalau dia laku? Cih, menye balkan.”

Joseph sebenarnya sadar. Sesekali matanya melirik ke spion tengah, menangkap ekspresi Zena yang masam dan kaku. Ada kepuasan aneh melihat gadis itu tidak nyaman, tetapi di sisi lain, ada rasa bersalah yang enggan ia akui.

Ketika mobil berhenti di lampu merah yang cukup lama, Zena sudah tidak ta han lagi. Suasana di dalam mobil ini terlalu menye sak kan.

“Pak,” panggil Zena pelan tanpa menoleh ke belakang. “Saya turun di sini saja.”

Joseph menghentikan obrolannya dengan Viona. “Kenapa? Rumah kamu masih jauh.”

“Tidak apa-apa, Pak. Saya mau mampir ke minimarket sebentar,” jawab Zena.

“Oh, ya sudah kalau dia mau turun, Joe. Biar kita bisa langsung ke restoran,” sahut Viona cepat, jelas merasa terganggu dengan kehadiran Zena.

Joseph menatap punggung Zena ta jam, tetapi akhirnya ia menghela napas. “Buka kuncinya, Pak Supir.”

Tanpa menunggu dua kali, Zena langsung membuka pintu dan turun.
“Terima kasih tumpangannya, Pak. Selamat malam, Bu.”

Ia menutup pintu mobil, lalu berdiri di trotoar. Mobil me wah itu langsung melaju pergi, meninggalkan Zena sendirian di pinggir jalan yang sepi.

Zena menatap lampu belakang mobil yang menjauh dengan perasaan yang tak bisa ia gambarkan. Perasaan itu datang lagi. Campuran antara m alu, ma rah, dan … ah, entahlah apa.

Padahal ia tidak punya hak untuk cemburu. Padahal Joseph bukan siapa-siapanya.

“B o doh. Kenapa aku harus na ngis?” umpat Zena sambil mengusap sudut matanya ka sar. “Nyesel banget aku ikut mobil dia. Tahu begitu mending naik taksi online aja."

Zena mencoba menghentikan taksi yang lewat, tetapi semuanya terisi penumpang. Jalanan di daerah ini cukup sepi kalau malam. Kege lapan di sekitarnya mulai terasa menye ramkan.

Tiba-tiba, sebuah mobil sport berwarna merah melambat dan berhenti tepat di depannya. Kaca jendelanya turun perlahan.

"Masuk ...."

Bersambung …

Judul: Suami dari masa lalu Ibuku
Penulis: Leni Sagita

Baca selengkapnya di KBM App

" Ada apa, Ning? Apa tempatnya terlalu ko tor untuk Ning?""Bukan... bukan soal rumah ini," Aisyah mendekat, menatap lang...
03/06/2026

" Ada apa, Ning? Apa tempatnya terlalu ko tor untuk Ning?"

"Bukan... bukan soal rumah ini," Aisyah mendekat, menatap langsung ke netra Ghazi.

"Aisyah hanya ingin bertanya... apa ua ng ini halal, Bang?"

Pertanyaan itu laksana hantaman telak di dada Ghazi. Ia terdiam sesaat, lalu mengangguk mantap dengan tatapan mata yang tidak goyah sedikit pun.

"Demi Allah, Ning. Ua ng ini halal."

Aisyah menghela napas lega, namun rasa penasarannya belum tuntas.

"Boleh Aisyah tahu Abang bekerja sebagai apa? Maaf... Aisyah tidak bermaksud menu duh, hanya ingin memastikan apa yang masuk ke dalam perut kita adalah berkah."

"Abang bekerja sebagai bodyguard ba ya ran. “

"Mengawal orang? Berarti pekerjaan yang penuh risiko?" tanya Aisyah, ada nada cemas yang terselip

“Begitulah, saya bukan seorang ceo atau gus “

Aisyah menatap Ghazi dengan pandangan yang kini dipenuhi rasa takjub sekaligus haru. "Maafkan Aisyah ya, Bang, sudah sempat berpikiran yang tidak-tidak."

"Hmm..”

Ghazi tertawa kecil hambar.

“Tiap orang punya cara sendiri buat bertahan hidup.”

Kalimat itu terdengar berat.

Aisyah tidak langsung membalas.

Untuk pertama kalinya, ia merasa melihat sisi lain Ghazi yang selama ini tertut up amarah dan sikap ka sarnya.

Lelaki ini bukan sekadar beran dalan berta to seperti yang orang-orang lihat.

Ada luka panjang di balik matanya.

“Aisyah tadi sempat takut,” ucapnya jujur.

Ghazi mengangguk kecil. “Saya tahu.”

“Tapi sekarang… Aisyah tidak takut lagi.”

Ghazi menatapnya sekilas.

“Jangan terlalu cepat percaya sama orang.”

“Aisyah percaya pada cara Abang menjaga Aisyah sejak tadi.”

Ghazi terdiam.

Kalimat itu membuat dadanya terasa aneh.

Seumur hidup, orang-orang selalu memandangnya dengan takut, ji jik, atau curiga. Tidak pernah ada yang melihat dirinya seperti yang dilakukan Aisyah sekarang.

Dan itu justru membuatnya tidak nyaman.

Ia membuang muka cepat.

“Kita ke pasar sekarang,” katanya dingin untuk mengalihkan suasana.

Aisyah tersenyum kecil melihat reaksinya.

“Baik, Bang.”

Saat mereka hendak keluar, langkah Ghazi tiba-tiba berhenti di depan pintu.

Tanpa menoleh, ia bicara pelan.

“Ning"

“Ya"

Ghazi terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata,

“Mulai sekarang… rumah ini milikmu.”

Aisyah sedikit tertegun.

Ghazi tetap membelakanginya. Tatapannya lurus ke halaman gelap di depan rumah kontrakan itu.

“Atur ses**amu. Mau dibersihkan, mau diubah, terserah.”

Nada bicaranya masih dingin dan datar, seolah ia sedang membahas sesuatu yang tidak penting. Namun rahangnya tampak mene gang samar.

“Tapi…” lanjutnya pelan.

Aisyah menunggu.

“Jangan coba meng*tur hidupku”

Kalimat itu jatuh seperti garis batas yang sengaja ditarik tegas.

Hening sesaat memenuhi ruangan.

Aisyah menatap punggung lelaki itu lama. Bahunya lebar, tetapi entah kenapa terlihat begitu berat menanggung sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan.

“Aisyah tidak berniat meng*tur Abang" jawabnya lembut.

Ghazi mengembuskan napas pelan.

“Semua orang bilang begitu di awal”

Aisyah sedikit mengernyit. Ada nada getir yang sang*t samar di balik suara dingin itu.

“Abang pernah diatur seseorang sampai terlu ka?” tanyanya hati-hati.

Ghazi langsung menoleh singkat. Tatapannya tajam, seolah pertanyaan itu menyen tuh wilayah yang tidak boleh dimasuki siapa pun.

“Itu bukan urusan Ning"
“Maaf.”

Ghazi memalingkan wajah lagi. Jemarinya mengepal di samping tu buh, lalu perlahan mengendur.

“Aku cuma tidak s**a ada orang ikut campur,” katanya lebih pelan kali ini. “Aku terbiasa hidup sendiri.”

Aisyah tersenyum tipis.

“Kalau begitu… anggap saja Aisyah hanya numpang tinggal di rumah ini"

Ghazi mendengkus kecil.

“Kamu istriku.”

Ucapan itu keluar begitu saja, dingin tanpa nada romantis sedikit pun. Namun justru karena itulah jan tung Aisyah berdetak aneh.

“Tapi jangan berharap banyak,” lanjut Ghazi datar.

“Aku bukan laki-laki baik.”

Judul : Ana Uhibbuka Fillah ( Di Nikahi Preman)
Author : Indira MR
Platform : KBMapp

“Apa, ini?” tanya Yola bermonolog. “Tanggalnya… dua minggu yang lalu. Tanggal dimana Mas Arkan bilang ia harus lembur di...
01/06/2026

“Apa, ini?” tanya Yola bermonolog. “Tanggalnya… dua minggu yang lalu. Tanggal dimana Mas Arkan bilang ia harus lembur di kantor. Dan nama di struk itu… bukan nama Mas Arkan. Tapi nama Sella. Apa Sella di sini adalah Sella, teman kantornya?”

Yola menghela napas berat dan mencoba mencari tahu, jan tungnya berpacu tak karuan. Ia mengirim pesan pada Sella, mereka cukup mengenal satu sama lain. Diketik dengan cepat agar pesan segera terkirim.

“Assalamualaikum. Mbak Sella, apa dua minggu lalu, tanggal 15 April, ada lemburan di kantor?”

Yola menunggu balasan yang tak kunjung ada. Tangannya berkering*t dingin dan tubuhnya mondar mandir tak jelas. Waktu berdetak cukup lambat, bahkan terasa berhenti.

Bip. Balasan dari Sella muncul di layar ponsel Yola.

“Waalaikumsalam, Mbak. Maaf aku udah risen satu bulan lalu. Lagi p**a kalau lembur itu biasanya akhir bulan, karena penutupan berkas.”

Dunia Yola terasa runtuh. Bukan hanya sekedar hu tang yang tidak dijelaskan, tetapi sebuah kebohongan besar. Arkan sudah berbohong padanya, bermain di belakangnya. Rasa sakit dan pengkhi anatan itu terlalu dalam.

Ketika Arkan p**ang malam itu, Yola menunggunya di ruang tamu, struk itu tergenggam erat di tangannya yang geme tar.

"Dari mana saja kamu, Mas?" Suaranya terdengar datar, nyaris tanpa emosi, sebuah ketenangan yang menakutkan.

Arkan terkejut melihat Yola masih terjaga. "Dari kantor. Ada proyek mendadak."

"Benarkah? Proyek mendadak yang melibatkan ho tel ini?" Yola melemparkan struk itu ke meja di hadapan Arkan.

Wajah Arkan seketika pucat pasi. Ia menatap struk itu, lalu pada Yola, matanya dipenuhi rasa bersalah yang kentara.

"Apa ini, Mas? Siapa wanita ini? Kenapa kau berbohong padaku? Apa lagi yang kau sembunyikan?" Suara Yola kini meninggi, menahan tangis yang ingin meledak.

Arkan mencoba meraih tangan Yola. Namun, Yola menepisnya. "Aku... aku bisa jelasin, Yol."

"Jelaskan apa? Jelaskan bagaimana kau membayar hutang tak jelas itu dengan berfoya-foya di hotel? Jelaskan bagaimana kau menghubungi mantan istrimu di belakangku? Jelaskan bagaimana kau bisa mengkhianati kepercayaan yang selama ini ku beri padamu?" Yola tidak bisa lagi menahan air matanya. Tangisnya pecah, bercampur dengan kema rahan dan kekecewaan yang mendalam.

"Ini tidak seperti yang kau kira, Yola. Siska... dia hanya membutuhkan bantuanku."

"Bantuan apa? Bantuan finansial yang sampai menghabiskan gajimu? Bantuan yang harus kau tutupi dengan kebo hongan? Bantuan yang mengharuskan kalian bertemu di ho tel?"

Yola tertawa sinis, tawa yang terdengar sang*t menyakitkan. "Mas Arkan, aku bukan orang bo doh. Kebohonganmu terlalu kentara. Kau telah berbohong. Kau telah mengkhi anatiku. Kau telah lepas tanggung jawab sebagai suami dan ayah."

Arkan terdiam, tak bisa membantah. Ia menunduk, bahunya merosot.

"Aku selalu berpikir kita bisa melewati apa pun bersama. Aku selalu percaya padamu. Namun sekarang... sekarang, aku tidak tahu lagi." Yola mundur beberapa langkah, seolah-olah Arkan adalah orang asing. "Sejak kapan kau mulai berbohong padaku? Sejak kapan kau merasa nyaman menyembunyikan ini semua dariku? Apa aku tidak cukup bagimu, Mas?"

"Bukan begitu, Yola. Aku... aku hanya..." Arkan mengangkat wajahnya, matanya memohon.

"Hanya apa? Hanya ingin kembali ke mantan istrimu? Itu yang ingin kamu katakan?" Yola tidak bisa lagi menahan ledakan emosinya. Semua frustasi, semua kecurigaan yang selama ini ia pendam, kini tumpah ruah. "Kenapa kau tidak jujur saja sejak awal? Kenapa kau biarkan aku merasa bo doh, merasa tidak berarti?"

Pertengkaran itu berlangsung hingga larut malam. Yola menuntut penjelasan, namun Arkan hanya bisa memberikan alasan-alasan yang klise dan tidak masuk akal. Arkan mengakui bahwa ia memang membantu Siska, namun ia bersikeras bahwa tidak ada hubungan spesial di antara mereka. Ia berdalih bahwa Siska sedang dalam kesulitan keuangan dan ia merasa bertanggung jawab karena dulu pernah berjanji akan selalu ada untuknya.

"Tapi kenapa harus bersembunyi? Kenapa harus berbohong? Kenapa sampai menghabiskan semua gajimu? Kenapa harus di ho tel? Itu yang tidak bisa kuterima!" Yola terus mendesak.

"Aku hanya tidak ingin kau khawatir. Aku tahu kau akan ma rah kalau tahu aku masih berhubungan dengan Siska," jawab Arkan lemah.

"Ma rah? Aku bukan hanya ma rah, Mas! Aku kecewa! Aku merasa dikhianati! Dan kau? Kamu melindunginya. Sedangkan aku, istrimu, kamu biarkan menderita dalam kebingungan dan kecurigaan!"

Yola menghela napas panjang sebeluk berkata, "kita ce rai saja, Mas."
"Apa katamu? Cerai?

Bersambung...
Baca selengkapnya di aplikasi K B M

Judul : Menja nda setelah jadi kor ban pelarian suamiku
Penulis : Yuniati N

 . "Jangan pecat dia!"Aku dan Pak Setiawan sama-sama terperangah, menatap tidak percaya pada pria jangkung yang kini ber...
31/05/2026

. "Jangan pecat dia!"
Aku dan Pak Setiawan sama-sama terperangah, menatap tidak percaya pada pria jangkung yang kini berdiri tegak di tengah ruangan.
"A-apa maksud Anda, Pak Malvin?" tanya Pak Setiawan dengan suara yang mendadak gagap dan bergetar karena terkejut.

Pria bernama Pak Malvin itu menatap Pak Setiawan dengan pandangan sedingin es, mengabaikan ketakutan yang terpancar dari wajah bawahannya. "Apa kamu tidak mendengar perkataanku dengan jelas? Kubilang, jangan pecat wanita ini!"
"Tetapi, Pak Malvin... video ini sudah mencoreng wajah divisi kita," cicit Pak Setiawan, sedangkan aku menunduk dalam, tidak berani menatap wajah pria tersebut.
"Video itu tidak membuktikan dia gi la, Setiawan. Itu hanya bukti bahwa ada seorang dokter baru yang sedang berusaha menghapus masa lalunya dengan cara yang kotor," ucap Pak Malvin datar.

Hatiku mencelos mendengar pembelaan itu. Bagaimana bisa pria ini mengambil kesimp**an secepat itu? Aku merasa takut sekaligus penasaran di dalam hati. Siapa pria ini sebenarnya? Mengapa dia seolah tahu apa yang terjadi di auditorium kampus kemarin? Apakah pria tersebut juga ada di sana dan melihatku dicampakkan seperti sampah busuk?

"Pak Setiawan, urusan pencopotan karyawan ini saya ambil alih," lanjut Pak Malvin tegas. Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya padaku. "Bu Kirana, ikut saya, sekarang!"
"Ba-baik, Pak," sahutku terbata-bata sembari buru-buru berdiri.

Kaki ini terasa seperti jeli saat melangkah. Aku merasa sang*t kecil di bawah bayang-bayang aura pria berjas mahal ini. Dengan langkah gontai, aku berjalan mengekor di belakang punggung lebarnya yang tegap.

Di luar ruangan, para pegawai menatapku dengan sinis. Beberapa di antaranya berbisik-bisik sembari saling menyenggol lengan. Mendapati teman sekantor mereka mendadak vi ral di media sosial, wajar saja mereka bertingkah menghakimi.

Kami terus berjalan menuju lantai atas, melewati lift khusus karyawan menuju area eksklusif. Area ini adalah tempat di mana hanya orang-orang dengan kepentingan khusus dan jajaran direksi tertinggi yang diizinkan masuk.

Sepanjang koridor, pikiranku berkecamuk hebat. Siapa Pak Malvin sebenarnya? Apa tujuan utamanya menolongku di depan Pak Setiawan tadi?

Rasa takut mulai merayap di tengkukku.Peng khi a nat an Angga telah menghancurkan seluruh kepercayaanku pada laki-laki tanpa sisa. Aku tahu aku harus waspada terhadap lelaki di depanku ini. Namun, jabatan Pak Malvin yang jelas jauh lebih tinggi dari Pak Setiawan membuatku tidak punya pilihan, selain patuh dan mengikutinya.

Pintu ruang kerja mewah berlapis kayu jati dibuka oleh asistennya. "Silakan duduk, Bu Kirana," ucap Pak Malvin sembari melangkah menuju kursi direksi yang megah.
"Terima kasih, Pak."

Suasana mendadak canggung untuk sesaat di dalam ruangan yang sunyi ini, di mana kini hanya ada kami berdua. Pak Malvin melonggarkan sedikit dasinya, lalu menatapku lurus.

"Aku akan langsung pada intinya, Bu Kirana. Kemarin malam, aku yang membawamu ke rumah sakit," ucap Pak Malvin membuka percakapan dengan nada tenang.
Aku tersentak di kursi. "Bapak yang menolong saya?"
"Benar. Dan aku juga yang membayar semua tagihan VVIP-mu selama di Rumah Sakit Medika," jawabnya tenang tanpa ekspresi menyombongkan diri.

Jadi, pria di dalam mobil mewah itu adalah dia? Aku menatap wajahnya dengan pandangan yang masih diselimuti ketakutan dan keheranan yang amat nyata. Mengapa pria sekelas dia sudi memungut wanita kumuh yang ping san di tengah guyuran hujan deras?

"Bagaimana bisa, Bapak menemukan saya di jalanan sesunyi itu?" tanyaku memberanikan diri.
"Jangan salah paham, Bu Kirana. Semalam aku mendapatkan undangan resepsi pernikahan saudara di daerah tempat kamu ping san. Aku hanya berniat menolong sesama manusia yang membutuhkan. Dan hari ini, takdir membawa kita bertemu lagi di kantor ini," jelas Pak Malvin panjang lebar.

Aku hanya mengangguk pelan, mencoba mencerna ucapannya. Penjelasan Pak Malvin ada benarnya, tidak ada yang janggal dari kebetulan tersebut.

"Terima kasih banyak karena sudah menolong nyawa saya, Pak. Saya akan mencicil seluruh biaya pengobatan saya selama di rumah sakit kepada Bapak," suaraku bergetar, merasa tidak nyaman harus berutang budi pada orang asing.

Pak Malvin tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa sang*t misterius di mataku. "Aku tidak butuh uangmu untuk mengganti biaya itu. Aku dengar dari data divisi keuangan bahwa kamu adalah akuntan terbaik di perusahaan logistik ini. Kebetulan, saat ini aku sedang butuh keahlianmu."

Aku mengernyit bingung, menatapnya dengan penuh tanya. "Keahlian saya? Untuk urusan apa?"

Judul : Dibuang Dokter, Diratukan Direktur RS
Penulis : Yuniati N
Lanjut baca di KBM App

Address

Jalan Raya Wonoayu
Pasuruan
67155

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kumpulan novel posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category