03/06/2026
"Dulu ayahmu mencu ri tunanganku, dan sekarang aku akan men cu ri masa depanmu. Kamu harus jadi istriku!"
Bab 5. Pamer Kemesraan
“Masuk.”
Suara bariton itu terdengar datar dari balik pintu kayu jati yang kokoh.
Zena menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu. Tangannya mencengkeram map tebal berisi laporan analisis yang sudah ia kerjakan selama tiga hari terakhir. Dengan langkah h ati-h ati, ia membuka pintu dan masuk ke dalam kan dang singa—ruang kerja Joseph Adinata.
Pria itu duduk tegak di balik meja kebesarannya, mata terpa ku pada layar laptop. Wa jahnya serius, tanpa seulas senyum pun.
“Pak, ini laporan yang Bapak minta kemarin,” ucap Zena sopan. Ia meletakkan map itu di sudut meja dengan hati-hati.
Joseph tidak langsung menoleh. Ia membiarkan Zena berdiri mema tung selama beberapa detik dalam keheningan yang menyik sa. Perlahan, tangannya terulur mengambil map itu, membukanya lem bar demi lem bar dengan gerakan cepat.
Tiba-tiba, gerakan tangan Joseph berhenti.
Ia mendongak, menatap Zena dengan sorot mata yang membuat lu tut gadis itu le mas.
“Apa ini?” tanyanya dingin.
Zena mene lan lu dah yang terasa kesat. “Itu laporan hasil analisis data penjualan cabang timur, Pak. Saya sudah menghi tung ul ang dua ka—”
Joseph melem par map itu ke meja dengan kasar hingga isinya berhamburan ke lantai. Beberapa lembar kertas mendarat tepat di dekat ujung sepatu Zena.
“Hitung ulang dua kali?” Joseph memotong taj am. Ia berdiri, menatap Zena dengan tatapan meren dahkan. “Kalau ini hasil hitungan dua kali, berarti kamu seharusnya kembali ke sekolah dasar, bukan magang di perusahaan saya.”
Zena membe ku. Waj ahnya memanas. “Maksud Bapak?”
“Lihat halaman li ma be las,” tunjuk Joseph pada kertas yang berserakan. “Angka persentase di sini tidak sinkron dengan data lampiran. Selisih nol koma satu persen saja bisa membuat perusahaan rugi ratusan juta. Kamu pikir saya tidak akan sadar?”
Zena memberanikan diri memungut kertas itu. Matanya membelalak saat melihat angka yang dimaksud. Benar, ada kesalahan input. Tetapi data itu berasal dari staf administrasi yang ia salin mentah-mentah.
“S-saya mohon maaf, Pak,” cicit Zena. “Data mentahnya memang seperti itu, tapi saya akui saya kurang teliti mengecek ulang. Saya akan perbaiki.”
“Maaf?” Joseph mendengus sinis. Ia berjalan memutar meja, mendekat ke arah Zena hingga gadis itu harus mendongak untuk menatap wajahnya.
“Di dunia bisnis, tidak ada tempat untuk kata maaf, Zena. Kesalahan konyol seperti ini menunjukkan kualitasmu. Mentang-mentang kamu anak magang, kamu pikir saya akan memaklumi?” Joseph mencondongkan wajahnya, suaranya merendah sang*t intimidasi. “Atau mungkin, kamu memang mewarisi ketidakbecu san orang tuamu?”
Da da Zena se sak seketika. Lagi-lagi orang tuanya dibawa-bawa. Ia mere mas ker tas di tangannya, mena han air mata agar tidak ja tuh. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan pria a rogan ini.
“Saya akan re visi, Pak,” ucap Zena tegas, meski suaranya sedikit berge tar. “Malam ini juga. Saya pastikan besok pagi laporannya sudah sempurna di meja Bapak.”
Joseph menatap mata gadis itu lama, mencari keraguan di sana. Namun, ia hanya menemukan tekad yang keras kepala.
“Bagus,” jawabnya datar. “Saya tidak peduli kamu harus lembur sampai jam berapa. Perbaiki sekarang. Jangan p**ang sebelum selesai.”
“Baik, Pak.”
Zena berbalik badan, memunguti kertas-kertasnya yang berserakan di lantai dengan perasaan campur aduk. Di belakangnya, Joseph kembali duduk dan mengabaikannya, seolah Zena hanyalah butiran debu yang mengganggu pemandangan.
Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam.
Lantai kantor sudah sepi. Hanya suara keyboard Zena yang terdengar di ruangan asisten. Matanya terasa perih menatap layar monitor, tetapi ia tidak berani berhenti.
“Aku nggak bo doh. Aku bisa selesaikan ini,” gumamnya menyemang*ti diri sendiri.
Setelah memeriksa ulang angka-angka itu sebanyak tiga kali, Zena akhirnya menghela napas lega. Semuanya sudah sinkron. Ia segera mencetak laporan baru dan merapikannya ke dalam map.
Tepat saat ia me ma tikan komputer, suara langkah kaki terdengar mendekat.
Zena menoleh cepat. Joseph berdiri di ambang pintu, jasnya tersampir di lengan, lengan kemejanya digulung hingga siku. Pria itu tampak lelah, tetapi ketampanannya tidak berkurang sedikit pun.
“Belum p**ang?” tanyanya datar.
Zena buru-buru berdiri. “Baru saja selesai, Pak. Revisinya sudah saya taruh di meja Bapak.”
Joseph melirik tumpukan map di mejanya sekilas, lalu kembali menatap Zena. “Sudah kamu cek lagi? Saya tidak mau melempar kertas itu untuk kedua kalinya.”
“Sudah, Pak. Saya jamin kali ini a kurat,” jawab Zena mantap.
Joseph mengangguk kecil. Ia melirik jam tangannya. “Sudah malam. Kamu p**ang naik apa?”
“Taksi, Pak. Atau ojek online.”
Joseph diam sejenak. Ia mero goh sa ku ce lananya, mengambil kunci mobil.
“Ikut saya. Saya antar kamu p**ang.”
Zena terbelalak. “Eh? Tidak usah, Pak. Saya bisa p**ang sendiri. Nanti merepotkan—”
“Saya tidak menerima penolakan,” potong Joseph dingin. “Saya tidak mau besok ada berita asisten saya diculik di depan kantor, lalu nama perusahaan saya je lek. Cepat kemasi barangmu.”
Zena menganga tak percaya. Alasan macam apa itu? Tetapi melihat tatapan Joseph yang tak terbantahkan, Zena akhirnya menurut.
“Dasar bos otori ter. Bilang saja mau berbuat baik, geng sinya se tinggi langit,” gerutu Zena dalam ha ti sambil membereskan tasnya.
Mereka berjalan menuju basement dalam diam. Zena mengekor di belakang Joseph, menjaga jarak aman.
Sesampainya di parkiran VIP, sebuah mobil sedan hitam me wah sudah menunggu. Mesinnya menyala, dan ada sopir pribadi yang berdiri membukakan pintu.
Namun, Zena terke jut saat pintu penumpang belakang terbuka.
Di dalam sana, sudah duduk seorang wanita cantik dengan gaun malam yang elegan. Rambutnya tergerai indah, dan aroma par fum m ahal langsung menyerbak keluar.
“Sayang! Akhirnya kamu datang,” seru wanita itu manja.
Joseph masuk dan duduk di sebelah wanita itu. “Maaf menunggu lama, Viona. Ada pekerjaan sedikit.”
Zena berdiri ka ku di luar, bingung harus berbuat apa. Ia merasa seperti orang b o doh. Jadi Joseph tidak benar-benar mengantarnya? Ia hanya … nebeng di tengah kencan bosnya?
Joseph menoleh ke arah Zena yang masih mematung. “Tunggu apa lagi? Duduk di depan."
Zena tersen tak. “B-baik, Pak.”
Dengan canggung, Zena duduk di kursi depan, di samping sopir. Ia merasa sang*t tak nyaman.
Mobil mulai melaju membelah jalanan Jakarta yang masih padat. Sepanjang perjalanan, Zena hanya bisa menatap lurus ke jalanan, berusaha menulikan telinganya. Di kursi belakang, suara tawa manja terdengar jelas.
“Kamu sibuk banget sih, Joe. Tapi aku senang kamu tetap tepati janji dinner kita,” ucap wanita bernama Viona itu sambil menyandarkan kepala di ba hu Joseph.
“Mana mungkin aku ingkar janji sama kamu,” sahut Joseph. Suaranya terdengar lem but, sang*t berbeda dengan nada dingin yang biasa ia gunakan pada Zena.
“Ih, gom bal. Tapi aku s**a,” Viona terki kik, lalu terdengar suara kecu pan ringan.
Tangan Zena mere mas sabuk pengaman. Da danya terasa se sak, panas, dan tidak nyaman.
Ia merasa seperti penonton ba ya ran di film roman tis yang salah skenario. Kenapa Joseph mengajaknya kalau hanya untuk memamerkan kemes raan ini?
“Apa maksudnya coba?” batin Zena kesal. “Aku disuruh lembur, dima rahin, terus sekarang disuruh jadi obat nyamuk? Dia mau pamer kalau dia laku? Cih, menye balkan.”
Joseph sebenarnya sadar. Sesekali matanya melirik ke spion tengah, menangkap ekspresi Zena yang masam dan kaku. Ada kepuasan aneh melihat gadis itu tidak nyaman, tetapi di sisi lain, ada rasa bersalah yang enggan ia akui.
Ketika mobil berhenti di lampu merah yang cukup lama, Zena sudah tidak ta han lagi. Suasana di dalam mobil ini terlalu menye sak kan.
“Pak,” panggil Zena pelan tanpa menoleh ke belakang. “Saya turun di sini saja.”
Joseph menghentikan obrolannya dengan Viona. “Kenapa? Rumah kamu masih jauh.”
“Tidak apa-apa, Pak. Saya mau mampir ke minimarket sebentar,” jawab Zena.
“Oh, ya sudah kalau dia mau turun, Joe. Biar kita bisa langsung ke restoran,” sahut Viona cepat, jelas merasa terganggu dengan kehadiran Zena.
Joseph menatap punggung Zena ta jam, tetapi akhirnya ia menghela napas. “Buka kuncinya, Pak Supir.”
Tanpa menunggu dua kali, Zena langsung membuka pintu dan turun.
“Terima kasih tumpangannya, Pak. Selamat malam, Bu.”
Ia menutup pintu mobil, lalu berdiri di trotoar. Mobil me wah itu langsung melaju pergi, meninggalkan Zena sendirian di pinggir jalan yang sepi.
Zena menatap lampu belakang mobil yang menjauh dengan perasaan yang tak bisa ia gambarkan. Perasaan itu datang lagi. Campuran antara m alu, ma rah, dan … ah, entahlah apa.
Padahal ia tidak punya hak untuk cemburu. Padahal Joseph bukan siapa-siapanya.
“B o doh. Kenapa aku harus na ngis?” umpat Zena sambil mengusap sudut matanya ka sar. “Nyesel banget aku ikut mobil dia. Tahu begitu mending naik taksi online aja."
Zena mencoba menghentikan taksi yang lewat, tetapi semuanya terisi penumpang. Jalanan di daerah ini cukup sepi kalau malam. Kege lapan di sekitarnya mulai terasa menye ramkan.
Tiba-tiba, sebuah mobil sport berwarna merah melambat dan berhenti tepat di depannya. Kaca jendelanya turun perlahan.
"Masuk ...."
Bersambung …
Judul: Suami dari masa lalu Ibuku
Penulis: Leni Sagita
Baca selengkapnya di KBM App