Perjamuan Buku

Perjamuan Buku Perjamuan Buku (PB) adalah toko-buku lokal yang mengedarkan buku-buku pilihan di bidang ekonomi politik, sejarah, sastra, dan filsafat.

📚📖 Penerbit teman adalah sesi untuk mengulas dan memperkenalkan penerbit-penerbit pilihan yang, juga bekerjasama dengan ...
11/08/2026

📚📖 Penerbit teman adalah sesi untuk mengulas dan memperkenalkan penerbit-penerbit pilihan yang, juga bekerjasama dengan PB.

PB bekerjasama dengan penerbit independen Bara Books untuk mendistribusikan buku-bukunya kepada pembeli pembaca dan toko buku-toko buku (reseller/dropshipper).

Meski distribusi ditangani oleh PB, dalam beberapa hal seperti kebijakan garansi; pengecekan ketersediaan, retur, refund, dan seterusnya, terkadang memerlukan waktu untuk ditangani. Karena kami (PB) mesti melakukan konfirmasi terlebih dahulu ke penerbit Bara Books.***

Kami tahu tengah berada dalam situasi kritis, terutama bagi pembaca Indonesia, namun dengan segala keterbatasannya, kami menangani pekerjaan ini dengan serius!

⚒️🌿✨️

Triliunan dolar investasi, tapi pendapatan cuma puluhan miliar. Ini bukan hype. Ini masalah matematika (kekuatan produkt...
10/08/2026

Triliunan dolar investasi, tapi pendapatan cuma puluhan miliar. Ini bukan hype. Ini masalah matematika (kekuatan produktif) dan model ekonomi. Sementara AS berlomba membangun "dewa digital" dengan algoritma eksponensial yang boros daya, Tiongkok membangun efisiensi dengan xLSTM yang linear dan hemat biaya: bukan untuk menciptakan "dewa digital", tapi mesih sederhana yang menggantikan kerja yang seharusnya sudah bisa ditinggalkan oleh manusia: seperti mencuci piring, mencuci pakaian, membersihkan lantai dan seterusnya.

Model Kimi K3 dari Moonshot.ai mencapai 95% kemampuan model AS terbaik, tapi harganya 70% lebih murah dan investasinya hanya sepersepuluh. Hasilnya? Gelembung AI AS akan pecah, tapi Tiongkok tidak akan ikut runtuh.

🔗 Diterjemahkan dari MoA dengan catatan penerjemahan, baca esai lengkapnya lewat tautan di bio 👆🏻

Orang Indonesia itu lain yang dibicarakan, lain yang dikerjakan. — GD
07/08/2026

Orang Indonesia itu lain yang dibicarakan, lain yang dikerjakan. — GD

05/08/2026

5 Agustus 1895. Hari ini Friedrich Engels pergi. Tapi banyak poin-poin dalam surat-suratnya justru terasa semakin dekat: tentang bagaimana kesejahteraan bisa menjadi peredam perlawanan, dan bagaimana kita sering yakin pada sesuatu yang ternyata dibentuk oleh kondisi, bukan akal sehat.

Reel ini coba mengingatkan kita pada pisau analisis itu. Tapi daripada sekadar hafal definisi, coba lihat sekeliling, atau ke diri sendiri. Apakah kita sedang berada di posisi yang membuat kita lupa pada kolektif?

Selamat jalan, Engels. Belajar dan diskusi tentang kelas dan kesadaran tetap abu-abu, dan justru di situ kita harus terus membaca.

Hormati musisi perintis, tapi jangan dituhankan. Mereka butuh royalti, bukan panggung simpati. Tapi di balik itu semua, ...
02/08/2026

Hormati musisi perintis, tapi jangan dituhankan. Mereka butuh royalti, bukan panggung simpati.

Tapi di balik itu semua, pernahkah kita bertanya: apa yang mereka rintis? Budaya apa yang diwariskan? Dan kenapa hanya Jakarta yang berhak menentukan siapa "legenda"?

Kenapa p**a musisi perintis ini diperlakukan bak dewa yang tak boleh tersentuh[?]. Padahal mereka manusia, bisa salah secara etis maupun estetis.

🔗 Baca opini lengkapnya lewat tautan di bio 👆🏻

01/08/2026
Setiap generasi cenderung merasa bahwa zamannyalah yang paling berat menanggung sejarah. Tapi ada pertanyaan yang jarang...
31/07/2026

Setiap generasi cenderung merasa bahwa zamannyalah yang paling berat menanggung sejarah. Tapi ada pertanyaan yang jarang benar-benar dijawab: apa penanda generasi kita dalam sastra Indonesia hari ini?

Sastra kita sudah lama punya poros moralnya sendiri: perkawinan paksa, kolonialisme, pertentangan ideologis, lalu 1965 dan 1998 sebagai trauma besar yang terus diwariskan. Tapi generasi yang lahir setelah reformasi, yang tumbuh tanpa mengalami langsung kekerasan rezim itu, belum benar-benar punya cerita yang mengakui bahwa mereka juga menanggung sesuatu yang berat.

Esai ini mencoba mencari jawabannya lewat Paulina Flores, penulis Chile yang percaya bahwa zamannya sendiri layak diceritakan. Bukan sebagai gema dari trauma orang tua, tapi sebagai kehinaan yang berdiri sendiri.

🔗 Baca esai lengkapnya di link bio 👆🏻

Minggu lalu, pelarian-pelarian akhirnya tiba kembali di Kediri; Pare.Diskusi kemarin ndak muluk-muluk. Ndak bahas semiot...
31/07/2026

Minggu lalu, pelarian-pelarian akhirnya tiba kembali di Kediri; Pare.

Diskusi kemarin ndak muluk-muluk. Ndak bahas semiotika atau strukturalisme puisi (yah karna ndak butuh bahas itu). Kita ngobrol santai soal kenapa hal-hal sehari-hari yang kadang terlupakan, bisa jadi bahan puisi yang jujur.

KMPL sendiri sempat bilang di bukunya: "hidup gak cuma soal sastra."

Dan mungkin justru itu yang bikin obrolan kemarin hidup. Bukan diskusi yang berat, tapi yang bikin semua orang di ruangan ngerasa, "lah iya ya, kok baru sadar.."

Ada juga satu baris yang mengingatkan kita soal kondisi kita hari ini, soal gimana kita berdamai (atau enggak) sama kota tempat kita besar:
"apa aku terlalu liyan untuk mereka— atau mereka terlalu lain untukku?"
***

Terima kasih buat yang datang, yang nanya, yang diem-diem dengerin sambil manggut-manggut.

Buat yang kelewatan kemarin, tenang, bukunya masih sisa beberapa eksemplar dan cerita di dalamnya ndak akan basi. Cus langsung DM Minsky saja!

🧾 PELARIAN-PELARIANKita semua sebenernya jago lari. Bukan lari maraton, tapi lari dari notifikasi kerjaan jam 10 malam, ...
30/07/2026

🧾 PELARIAN-PELARIAN

Kita semua sebenernya jago lari. Bukan lari maraton, tapi lari dari notifikasi kerjaan jam 10 malam, dari red flag yang males di-notice, dari kenyataan kalau tabungan menipis.

Bedanya, larinya ndak pake sepatu; kadang pake gelas kopi, playlist lama, atau sekadar rebahan sambil buka aplikasi belanja tanpa niat beli.

KMPL, di buku pertamanya ini, nangkep itu semua. Bukan dengan nada menggurui, apalagi kasih solusi 5 langkah "biar hidup lebih baik". Dia cuma nyatet—jujur, kadang absurd, kadang nyelekit—gimana rupa-rupa pelarian kecil itu jadi bahasa sehari-hari kita, tanpa kita sadar.

Mungkin pelarian bukan tanda kita lemah. Itu cara kita hidup [di rezim yang, 'alaah iyoooo'] agar tidak sekedar bertahan, sekecil apapun bentuknya.

Kalau kamu ngerasa relate, kamu dikutuk untuk mbaca bukunya KMPL. Bukunya sendiri cuma ada di sini, DM kami untuk tanya-tanya informasi dan dapetin bukunya. Harganya? Kamu yang nentuin sendiri (Pay As You Wish). Loh ya. Aneh to.

Boleh save dan share postingan ini buat dibaca ulang pas lagi butuh teman buat "lari" sebentar.

˚˖𓍢ִ໋`🌿:

Mencari sastra sejauh 1000 kilometer 🧾
28/07/2026

Mencari sastra sejauh 1000 kilometer 🧾

Address

Jalan Flamboyang No. 01
Pare
64212

Opening Hours

Monday 08:00 - 20:00
Tuesday 08:00 - 20:00
Wednesday 08:00 - 20:00
Thursday 08:00 - 20:00
Friday 14:00 - 20:00
Saturday 08:00 - 20:00
Sunday 10:00 - 20:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Perjamuan Buku posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category