06/06/2015
"semangat ramadhan"
Suatu ketika, seorang alim diundang
berburu. Sang alim hanya dipinjami kuda
yang lambat oleh tuan rumah. Tak lama
kemudian, hujan turun dengan derasnya.
Semua kuda dipacu dengan cepatnya agar
segera kembali ke rumah. Tapi kuda sang
alim berjalan lambat. Sang alim kemudian
melepas bajunya, melipat dan
menyimpannya, lalu membawa kudanya ke
rumah. Setelah hujan berhenti,
dipakainya kembali baju-nya. Semua
orang takjub melihat bajunya yang
kering, sementara baju mereka
semuanya basah, padahal kuda yang
mereka tunggangi lebih cepat.
Dengan perasaan heran, tuan rumah
bertanya kepada sang alim, ”Mengapa
bajumu tetap kering?” ”Masalahnya
kamu berorientasi pada kuda, bukan pada
baju,” jawab sang alim ringan sambil
berlalu mening-galkan tuan rumah.
Dalam perjalanan hidup, kadang-kala kita
mengalami kesalahan orientasi
(persepsi) seperti tuan rumah dalam
cerita di atas. Kita mengingin-kan
sesuatu namun tidak memiliki orientasi
seperti yang diinginkan, sehingga
akhirnya kita tidak menda-patkan apa
yang diinginkan.
Begitu p**a dalam menjalankan ibadah
Ramadhan. Banyak orang yang
menginginkan ibadahnya di bulan
Ramadhan dapat merubah dirinya menjadi
lebih baik. Namun setelah Ramadhan,
ternyata sifat dan perilakunya kembali
seperti semula. Tak berubah secara
signifikan. Ia hanya mendapatkan lapar
dan haus. Persis seperti yang disabdakan
Nabi saw, ”Betapa banyak orang yang
berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan
apa pun, kecuali lapar dan haus.”
Hal itu karena orientasinya keliru. Ia
tidak tahu hikmah di balik keagungan
bulan Ramadhan. Salah satu dari sekian
banyak hikmah Ramadhan yang sering
dilupakan orang adalah fungsinya sebagai
pem-bangkit semangat hidup. Ramadhan
sesungguhnya adalah bulan motivasi
( syahrul hamasah). Ramadhan se-
mestinya mampu menjadikan setiap
muslim yang beribadah di dalamnya
menjadi termotivasi hidupnya.
Coba kita lihat apa yang terjadi pada diri
nenek moyang kita (para sahabat dan
ulama sholihin) setelah
Ramadhan. Mereka menjadikan Ra-
madhan sebagai ajang pembakaran
semangat yang membara. Sejarah
mencatat dengan tinta emas sepak
terjang mereka yang produktif. Banyak
orang yang tak tahu, karena memiliki
motivasi yang tinggi, umat Islam
terdahulu menjadi penguasa dunia selama
lebih kurang 14 abad. Lebih lama
daripada kejayaan Eropa. Apalagi dari
Amerika yang baru berjaya di akhir abad
ini.
Kejayaan Islam yang demikian lama di
masa lalu tak bisa dipisahkan dari
semangat nenek moyang kita untuk
selalu bersemangat dan pro-duktif dalam
berkarya. Beberapa contoh bisa
disebutkan di sini. Ibnu Jarir, misalnya,
mampu menulis 14 halaman dalam sehari
selama 72 tahun. Ibnu Taymiyah menulis
200 buku sepanjang hidupnya. Imam
Ghazali adalah peneliti di bidang
tasawuf, politik, ekonomi dan budaya
sekaligus. Al-Alusi mengajar 24
pelajaran dalam sehari. Sedang Jabir bin
Abdullah rela menempuh perja-lanan
selama satu bulan demi menda-patkan
satu riwayat hadits. Fatimah binti
Syafi’i pernah menggantikan lampu
penerangan untuk ayahnya (Imam
Syafi’i) sebanyak 70 kali.
pernah mengistirahatkan diri Anda?” Abu
Musa menjawab, ”Itu tidak mungkin,
sesungguhnya yang akan menang adalah
kuda pacuan!” Suatu ungkapan indah yang
menggambar-kan semangat yang
membara, jiwa yang selalu ingin
berkompetisi, berani dan pantang
menyerah.
Semangat Itu Ada di Depan Kita
Semangat nenek moyang kita yang luar
biasa dalam beramal tak bisa dilepaskan
dari orientasi mereka yang benar
terhadap fungsi ibadah dalam Islam,
termasuk fungsi ibadah Ramadhan
sebagai ajang melejitkan motivasi
( achievement motivation training). Beda
dengan kebanyakan kaum muslimin saat
ini yang lebih memahami ibadah Ramadhan
sebagai kegiatan seremonial dan tradisi
tanpa makna.
Beberapa bukti yang menunjuk-kan
fungsi Ramadhan sebagai bulan
pemotivasian adalah:
1. Shaum (puasa)
Tahukah Anda bahwa kekuatan semangat
dapat mengalahkan keku-atan fisik?
Itulah yang Allah latih pada kita di bulan
Ramadhan. Selama sebulan kita dilatih
untuk menga-lahkan nafsu yang berasal
dari tubuh kasar kita; nafsu makan,
minum, dan seksual. Kenyataannya, di
bulan Ramadhan kita mampu mengalahkan
tarikan nafsu demi memenangkan
semangat ruh kita.
Sayangnya, latihan itu tidak dilanjutkan
dalam skala kehidupan yang lebih luas dan
dalam waktu yang lebih lama setelah
Ramadhan, sehingga banyak di antara
kita yang hidupnya tidak bersemangat
dan produktif dalam beramal. Padahal
kunci motivasi itu adalah kemampuan
mengalahkan kekuatan fisik. Itulah yang
kita lihat pada diri Abdullah bin Ummi
Maktum ra.yang matanya buta tapi
ngotot untuk ikut berperang ber-sama
Rasulullah. Juga pada diri Cut Nyak Dien
atau Jenderal Sudirman, yang pantang
menyerah kepada pa-sukan kolonial
walau dalam kondisi sakit parah.
2. Tarawih
Ramadhan sebagai syahrul hamasah juga
terlihat dalam pelaksanaan sholat
tarawih. Sholat tarawih artinya sholat
(di waktu malam) yang dilakukan dengan
santai. Di zaman sahabat, sholat tarawih
biasa dilaku-kan sepanjang malam.
Dengan bacaan yang panjang dan diselingi
juga dengan istirahat yang lama. Bahkan
pernah dalam satu riwayat, para sahabat
melakukan sholat tarawih berja-ma’ah
sampai menjelang subuh.
mungkin seseorang itu termotivasi dan
produktif berkarya tanpa memiliki sifat
sabar dan tekun. Watak inilah yang
dimiliki oleh nenek moyang kita,
sehingga mereka menjadi umat yang jaya
di masa lalu.
Hal ini berbeda dengan pelak-sanaan
sholat tarawih di masa kini. Di mana
waktunya tidak lebih dari 1-2 jam.
Bahkan seringkali dilakukan tergesa-
gesa. Hikmah tarawih sebagai ibadah
yang melatih watak kesabaran dan
ketekunan menjadi hilang, sehingga
lenyap p**alah salah satu
arana pelatihan umat Islam untuk
menjadi orang yang termotivasi
Ramadhan bulan pemotivasian seharusnya
dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh
kita semua. Sungguh beruntunglah
mereka yang menggunakan Ramadhan
sebagai ajang peningkatan motivasi
hidupnya. Lalu dengan modal Ramadhan ia
mengisi hari-harinya di luar Ramadhan
dengan semangat yang membara untuk
beramal melesat ke angkasa kemuliaan.
Sungguh, ada semangat dalam Ramadhan.