05/09/2015
Menabung Untuk Memberi
Karya : Alin Maulani
Disuatu hari yang cerah, aku bersama teman-temanku bermain bersama di halaman sekolah. Waktu itu kami masih berada di sekolah saat jam istirahat, aku dan ketiga sahabatku bermain permainan yang membuat kami tertawa riang.
Tetapi, di salah satu sudut sekolahku, tak jauh dari tempat kami bermain, aku melihat seorang teman perempuan sekelasku, Dena, duduk sendirian dan terlihat sangat murung. Maka aku pun mendekatinya. Saat aku berdiri di depannya, ia terlihat kaget. Dengan cepat, aku pun bertanya padanya,
“Kamu lagi ngapain disini? Kok sendirian?” tanyaku,
“Nggak… Mau… sendirian a..ja!” jawabnya dengan terbata-bata.
Aku hanya mengangguk saja mendengar jawabannya. Mungkin lagi ada masalah, pikirku dalam hati. Aku pun berjongkok dan menatap wajahnya yang murung dan bertanya,
“Kamu lagi ada masalah ya? Cerita aja sama aku!”
Wajah Dena pun berubah menjadi sedikit tersenyum. Akhirnya dengan wajah yang mulai gembira, sedikit demi sedikit, dia mulai menceritakan masalahnya padaku.
Ternyata masalah keluarganya adalah masalah tentang ekonomi keluarganya yang tak cukup untuk kehidupan keluarganya. Ayahnya hanya seorang pengangguran yang mulai bersakit-sakitan, sedangkan ibunya hanyalah seorang pedagang gorengan keliling dengan sebuah tetampah di kepalanya. Penghasilannya perhari hanya berkisar antara Rp. 10.000,- sampai Rp. 15.000,-. Dengan penghasilannya yang begitu sedikit, ibunya tak mampu membiayai suami dan keenam anaknya. Uang hasil berjualan gorengan, hanya mampu untuk di belikan lauk dan beras dalam sehari. Di dalam rumah gubuk kecilnya pun sudah banyak yang terlihat berlubang, sehingga dirumahnya selalu saja bocor.
Bahkan, Dena dan satu kakak laki-lakinya berencana untuk berhenti sekolah dan membantu ibunya berjualan gorengan keliling. Padahal ujian bagi Dena yang kelas 6 sudah berada di ambang pintu, rasanya sedih sekali kalau di tinggalkan begitu saja. Dena sangat kasihan melihat ibunya yang jika pulang disore hari, tubuhnya selalu basah oleh keringat dan kakinya sangat pegal karena berjalan sangat jauh. Wajahnya pun sudah mulai berkeriput karena terlalu banyak fikiran yang membebaninya.
Tak sadar, Dena pun mulai menitikkan air matanya. Mendengar ceritanya yang begitu menyedihkan ini, aku jadi ikut bersedih bahkan ikut menitikkan air mata. Aku masih berfikir, aku masih bisa bergembira ria di sekolah padahal kawanku sendiri memikirkan biaya sekolah. Aku masih bisa makan daging ayam, nasi lembut, sayur soup dan minum susu sedangkan kawanku hanya makan tempe, ikan asin dan air putih. Kalau gorengan ibunya tak laku terjual, mungkin ia hanya memakan sisa gorengan penjualan ibunya.
Untuk biaya sekolah pun, dia tak bisa membeli beberapa buku yang harusnya
di miliki seluruh siswa. Seragam sekolahnya pun, sudah banyak bagian yang sobek, tambalan dan warnanya sudah mulai luntur, ia tak mampu membeli semua barang yang menurutnya mahal tersebut. Ugh… Aku semakin sedih. Apalagi, orang yang kurang mampu pasti masih banyak di dunia ini, bukan hanya Dena.
Setelah Dena selesai bercerita, tak lama kemudian bel masuk pun berbunyi. Aku dan Dena menghapus air mata kami yang mulai membanjiri p**i kami. Lalu kami masuk berbarengan ke kelas.
Di kelas, sahabat-sahabatku yang tadi aku tinggalkan, sudah menungguku di mejaku. Saat aku sampai di mejaku, mereka menatapku dengan heran, lalu salah satu sahabatku menanyakan kemana perginya aku.
“Ada sedikit masalah tadi. Jadi aku pergi sebentar!” jawabku sambil tersenyum dan duduk di bangkuku bersama Naila salah satu dari sahabatku.
Sepulang sekolah, kami berempat berkumpul di sebuah halte dekat sekolahku sambil menunggu angkot yang lewat. Aku tetap diam, masih memikirkan cara untuk menolong Dena. Tiba-tiba, Yulia melihatku melamun. Iapun bertanya,
“Kenapa?” tanyanya padaku dan membuatku sedikit tersentak.
Dan akhirnya kuputuskan untuk menceritakannya. Sahabat-sahabatku mengerti maksudku dan ingin ikut membantu juga. Kami pun berfikir bersama bagaimana caranya membantu Dena. Tiba-tiba aku mempunyai ide, di kepalaku ada lampu yang menyala. Aku pun mangajukan usulku pada sahabat-sahabatku,
“Gimana kalau kita nabung bareng aja? Nah, hasilnya kita bagi ke orang yang gak mampu! Kita nabung seminggu 2 kali.” Kataku dengan semangat
Sahabat-sahabatku mengangguk setuju. Dan setelah diputuskan, yang menyimpam uangnya adalah Gina, yang mencatatnya adalah aku sendiri. Seminggu kita menabung sebanyak Rp. 10.000,-. Jadi selama sebulan, uangnya terkumpul sebesar Rp.160.000,-. Tetapi, uang tabungannya harus memakai uang sendiri, kecuali ada yang mau menambahkan. Setelah semua siap, kami mulai menjalankan misi kami.
Sebulan terlewat sudah. Kini kami menghitung hasil tabungan kami. Usaha kami selama sebulan ternyata membuahkan hasil yang begitu memuaskan, semuanya di luar perhitungan kami. Semula kami menyangka hanya Rp. 160.000,- saja, tetapi ternyata orang tua dan beberapa teman-teman kami ikut menyumbang. Mulanya mereka selalu melihat kami menabung di hari-hari tertentu pada Gina, mereka pun bertanya dan akhirnya tertarik untuk ikut menyumbang semampu mereka. Alhamdulillah, Betapa bangganya kami.
Akhirnya pada hari yang sudah ditentukan, yaitu dihari minggu yang cerah, kami berangkat ke rumah Dena dengan membawa secarik kertas yang berisi alamat rumahnya. Di tasku sudah ada sebuah amplop berisi uang dan beberapa pakaian dan buku yang layak di pakai yang kami kumpulkan dari lemari kami.
Saat kami sampai di depan rumah Dena, kami memperhatikan rumah Dena. Dari luar saja sudah terlihat banyak bagian yang berlubang. Kami prihatin sekali melihat keadaan rumahnya. Di sebelah rumahnya, ada sebuah sungai dan ada Dena yang sedang mencuci di sana. Kami memanggilnya, Dena pun datang dengan tergopoh-gopoh.
“Kok kalian ada di sini?” tanya Dena dengan keheranan,
Kami hanya tersenyum. Lalu kami pun di persilahkan duduk di sebuah kursi dari kayu yang berada di samping rumahnya. Setelah lama kami diam, lalu temanku Naila mulai menjelaskan maksud kami dan aku menyerahkan amplop, pakaian dan buku-buku yang kami bawa. Ia sangat gembira sekali menerimanya, bahkan ia mengucapkan “Terima kasih” banyak sekali
Setelah pulang dari rumahnya kami masih beraksi untuk membagikan sisa uang tersebut kepada yang berhak. Sebagian kami masukkan ke kotak amal beberapa masjid. Sebagian kami berikan pada pengemis dijalanan dan sebagian lagi kami belikan beberapa makanan, seperti mie sekardus, lalu kami sumbangkan pada panti asuhan.
Bahagianya hati kami karena telah membantu sesama yang membutuhkan. :)
Source : http://alinm98.blogspot.co.id/2012/03/cerpen-menabung-untuk-memberi.html
Nyari celengan unik - coba cek ini bapak, ibu, sodara/i - bit.ly/1hJfFR4