Green Vintage

Green Vintage Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Green Vintage, Muara Enim, Muaraenim.

SALE :  #1 cd film original "I’m Not There/2nd"HARGA : 15.000c/o : 081996132113/or inboxI’m Not There:I’m Not There, men...
05/09/2015

SALE : #1 cd film original "I’m Not There/2nd"
HARGA : 15.000
c/o : 081996132113/or inbox

I’m Not There:
I’m Not There, mengingatkan saya pada Coffee and Cigarette.

I'm Not There, menceritakan tujuh karakter psikis musisi folks legendari; Bob Dylan. Ada Ben Whishaw sebagai Arthur, Bob sang penyair muda. Heath ledger sebagi Robby, Richard Gere menjadi Billy, Christian Bale si Bob ‘Jack’ Dylan. Dan kamu akan terkecoh oleh Jude, yang ternyata dimainkan secara yahud oleh aktris Cate Blanchet.

SALE :  #1 cd film original "THE U.S vs JOHN LENNON/2nd"HARGA : 15.000c/o : 081996132113/or inboxTHE U.S vs JOHN LENNON:...
05/09/2015

SALE : #1 cd film original "THE U.S vs JOHN LENNON/2nd"
HARGA : 15.000
c/o : 081996132113/or inbox

THE U.S vs JOHN LENNON:
Sebuah film luar biasa mengenai perjalanan hidup John Lennon ketika dirinya melakukan tindakan-tindakan nonviolent bersama dengan istrinya, Yoko Ono, untuk memprotes berlangsungnya Perang Vietnam yang dilakukan Amerika Serikat dalam menghadapi komunisme di Vietnam, yang nyatanya malah menyengsarakan banyak rakyat tidak berdosa di Vietnam. Sekitar 1,5 juta rakyat Vietnam tewas dan sekitar 50.000 pas**an Amerika gugur yang belum termasuk anak-anak yang kehilangan orang tuanya[1], serta korban tentara dari negara-negara lain yang terlibat.
Dari keadaan yang sangat memilukan ini, terjadi protes-protes yang dilancarkan oleh masyarakat Amerika Serikat terhadap pemerintahnya. Mereka berpendapat bahwa Perang Vietnam sama sekali di luar nalar, sebab tidak ada landasan patriotisme dalam serbuan tersebut (di salah satu scene ada penggambaran mengenai perbedaan Perang Vietnam yang tanpa dipicu apapun dan dibandingkan dengan peristiwa 9/11 yang menumbuhkan patriotisme dalam diri setiap rakyat Amerika Serikat). Hal ini menimbulkan tuntutan agar ada penarikan pas**an dari Vietnam. Lantas munculah John Lennon. Awalnya memang banyak yang tidak s**a dengan kehadiran dirinya, terutama dari pemerintah Amerika Serikat sendiri, yang menyoroti bagaimana mungkin seorang warga negara Inggris ikut campur melawan kebijakan dalam negeri Amerika Serikat. Walaupun begitu, John Lennon tidak peduli. Yang paling penting bagi dirinya adalah, dia membela apa yang dianggapnya benar, dan hal tersebut pantas untuk diperjuangkan.
Yang menarik dari film tersebut adalah bagaimana pandangan John Lennon terhadap masalah perdamaian, dan bagaimana konsep melawan penguasa yang sewenang-wenang tanpa menggunakan cara-cara keras. Dalam film tersebut, terdapat konsep bahwa kekerasan bukan cara untuk melawan penguasa, sebab penguasa mengerti cara menghadapinya. Tetapi bila kemudian dilawan dengan cara-cara damai, atau bahkan cara-cara yang diluar pemikiran atau ide biasa, maka akan menimbulkan efek yang lain, dimana cara tersebut mungkin akan lebih efektif. Ini juga mengingat bahwa John Lennon adalah seorang sosok terkenal dan seniman yang pasti diperhatikan oleh media massa. Daripada menggunakan kekerasan atau provokasi, dia menggunakan media sebagai alat untuk menyampaikan gagasannya mengenai perdamaian, dan hal ini pasti akan diikuti oleh, minimal para penggemar fanatiknya.
Ada banyak konsep mengenai perdamaian yang diusung oleh John Lennon, namun terutama dia menggunakan cara protes dan persuasi untuk menyampaikan pendapatnya mengenai perang. Beberapa diantaranya adalah dengan mengundang segenap wartawan untuk meliput bulan madu antara dia dengan Yoko Ono, tetapi hal itu malah digunakan John Lennon untuk mengiklankan perdamaian. Atau bisa dilihat saat dia memasang spanduk “War is Over.. if you want it...” dan menggubah lagu dengan judul yang sama dan kemudian menciptakan p**a lagu berjudul “Give Peace a Change”, semuanya mengingatkan terhadap metode-metode nirkekerasan oleh Gene Sharp, seperti singing, banner poster and displayed communication, dan lain sebagainya. Namun hal utama yang tentu saja paling bisa dilakukan oleh dirinya adalah bernyanyi dan membuat lagu. Dia menggubah lagu dengan keputusan dan keyakinan bahwa lagu merupakan suatu cara berkomunikasi universal yang bisa dipahami siapapun di dunia ini melewati batasan bahasa. Simponi perdamaian inilah yang digunakan Lennon untuk melawan perang.
Dari sini bisa ditarik sebuah garis lurus bahwa kesenian juga bisa menjadi alat untuk menekan atau sebagai media untuk apresiasi sikap dan pemikiran diri. Hal ini bisa dilihat p**a dari pementasan monolog-monolog Butet Kertaredjasa pada zaman Orde Baru. Sadar bahwa tidak mungkin pada zaman itu melakukan protes secara langsung terhadap pemerintah, maka Butet menggunakan kemampuannya sebagai seorang seniman, menggelar monolog yang menampilkan kritik sosial terhadap pemerintah dengan resiko kecil untuk disalahkan karena hal tersebut dengan pandai disiratkan dalam karya-karyanya. Atau bahkan seperti lagu-lagu perlawanan Iwan Fals, terutama lagu Bento yang mengejek secara tidak langsung terhadap pemerintahan Presiden Soeharto.
Kemudian yang pasti adalah bagaimana kemudian produk kekerasan bisa dilawan dengan perdamaian. Hal ini mengingatkan terhadap pepatah api dilawan dengan air, maka api itu akan padam, bukan dengan cara api dilawan dengan api, yang terjadi adalah semuanya akan terbakar habis. Kekerasan hanya akan menghasilkan kekerasan. John Lennon memanfaatkan ketenarannya untuk terus melawan pemerintahan Amerika Serikat. Ini menjadikan sebuah transformasi dalam masyarakat, kebebasan berekspresi dan kekuatan civil society mulai digunakan untuk melawan pemerintah. Kekuatan masyarakat merupakan sebuah hal yang sangat besar. Tentu saja negara harus mendengarkan aspirasi masyarakatnya, karena dalam proses demokrasi, hal tersebut merupakan sebuah hal yang lumrah. People rule seharusnya berjalan dalam kasus ini, namun sayangnya tidak efektif, apalagi dengan kenyataan bahwa Perang Vietnam berakhir akibat Nixon mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden.
Sedikit kritik yang bisa dialamatkan kepada usaha John Lennon tersebut adalah kurangnya keinginan Lennon untuk membuat sebuah revolusi. Dengan kapasitas dia sebagai seorang sosialita, seharusnya dia bisa mengajak rakyat untuk memboikot bahkan mengintervensi pemerintahnya sendiri. Jika saja terjadi boikot massal dan hal-hal besar lainnya, mungkin Perang Vietnam sudah bisa disudahi dengan lebih cepat. Jika dilihat dari konsep educating the state on nonviolent, sebenarnya perlu ditanamkan bagaimana menghadapi sebuah pemerintahan yang keras dengan aksi nirkekerasan yang lebih nyata, lebih bisa dan lebih cepat untuk meredakan kekerasan yang dilakukan oleh negara, namun memang intervensi semacam ini juga harus mempertimbangkan bagaimana potensi keberhasilannya dan apakah lebih menguntungkan bila menggunakan intervensi, terutama jika dalam konflik bargaining position lebih lemah atau mengandung bahaya. Ini yang mungkin menjadi pertimbangan John Lennon untuk tidak secara frontal melawan pemerintah Amerika Serikat, namun menggunakan keahliannya meramu musik perdamaian, cara-cara yang memang mudah dilakukan oleh seorang musisi. Dalam hal ini, cara yang dilakukan oleh John Lennon dengan cara yang lebih moderat diharapkan sebagai babak pembuka untuk mencoba cara-cara nirkekerasan yang lebih efektif di kemudian hari oleh orang-orang yang berusaha mencari perdamaian.
Namun yang patut diberikan apresiasi adalah komitmen dari John Lennon yang dia pertahankan sampai akhir hayatnya. Perdamaian tidak akan datang dari peperangan, tetapi dari sikap untuk mencapai perdamaian itu sendiri, yaitu dengan menggunakan cara-cara yang damai p**a. Bila segalanya dihadapi dengan damai, maka bukanlah kekerasan yang didapat (karena kekerasan hanya akan membidani kekerasan baru), tetapi hasilnya adalah perdamaian p**a Dan yang kita perlukan untuk mencapai penyelesaian sebuah konflik seperti kata Lennon, adalah give peace a chance...

SALE :  #1 kompas/2nd"HARGA : 40.000SALE :  #1 Tripod jadul/2nd"HARGA  SATUAN : 100.000c/o : 081996132113
24/08/2015

SALE : #1 kompas/2nd"
HARGA : 40.000
SALE : #1 Tripod jadul/2nd"
HARGA SATUAN : 100.000
c/o : 081996132113

SALE :  #1 cd film original "Bloodworth/2nd"HARGA : 12.000c/o : 081996132113
24/08/2015

SALE : #1 cd film original "Bloodworth/2nd"
HARGA : 12.000
c/o : 081996132113

SALE :  #1 cd film original "Love In The Time Of Cholera/2nd"HARGA : 15.000c/o : 081996132113Love in the Time of Cholera...
24/08/2015

SALE : #1 cd film original "Love In The Time Of Cholera/2nd"
HARGA : 15.000
c/o : 081996132113

Love in the Time of Cholera merupakan sebuah film Amerika Serikat yang diadaptasi dari novel pemenang nobel karya Gabriel Garcia Marquez, dirilis pada tahun 2007. Film yang disutradarai oleh Mike Newell ini pemainnya antara lain ialah Javier Bardem, Giovanna Mezzogiorno, dan Benjamin Bratt. Film ini dirilis tanggal 4 Oktober 2007 di Festival de Rio, Brazil. Sedangkan di Amerika Serikat pertama kali diputar dalam AFI Film Festival tanggal 11 November 2007.

Love In The Time of Cholera mengisahkan sebuah cinta segitiga antara Fermina Daza (Giovanna Mezzogiorno) dengan dua pria pemujanya, Florentino Ariza (Javier Bardem) dan Dokter Juvenal Urbino (Benjamin Bratt) pada kurun waktu 1879 hingga 1930 dan berlokasi di Cartagena, Kolombia.

Kisah diawali ketika Fermina yang sudah uzur menghadiri pemakaman suaminya, dan setelah ia kembali ke rumah, ia melihat sosok Florentino tua, yang mengatakan, “Aku sudah menantikan momen ini selama 51 tahun, 9 bulan dan 4 hari”. Fermina yang sedang berkabung tenyata tidak menghendaki kehadiran Florentino, dan tanpa banyak basa basi ia mengusir Florentino dari rumahnya.

Alur cerita dilanjutkan oleh kisah masa lalu kedua insan tersebut.

Florentino muda jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Fermina, ketika ia mengantarkan telegram kepada Ayahnya Fermina, dan disaat itu p**a Florentino merasakan telah menemukan cinta sejati dalam hidupnya, dan perasaan itu ia ungkapkan dengan lembar demi lembar surat yang ia tulis untuk Fermina. Surat itu bisa Florentino berikan langsung kepada Fermina ketika ia menemui gadis pujaannya itu di gereja ketika Fermina, bersama Ayah dan Tantenya, menghadiri misa Natal. Hari demi hari Florentino menanti balasan, dan penantiannya itu berakhir ketika Tante, sekaligus orang terdekat Fermina, mengantarkan surat itu ke tempat pengiriman telegram, tempat Florentino bekerja. Namun, kebahagiaan kisah cinta kedua insan muda ini tak berlangsung lama karena Ayah Fermina tak menyetujui hubungan mereka, oleh karena itu p**a Fermina dibawa oleh Ayahnya menuju desa tempat dimana sepupu dan neneknya tinggal. Dan disinilah masa penantian Florentino dimulai.

Ketika Fermina pergi entah kemana, Florentino setia menunggu. Florentino menunggu di mercusuar sembari menantikan kedatangan kapal laut yang menghantarkan Fermina kembali kepadanya. Namun, semua itu sia-sia.

Selang beberapa waktu akhirnya Fermina kembali, namun Fermina yang sekarang telah berubah, bukan lagi Fermina yang Florentino kenal dahulu. Bahkan Fermina telah menganggap kisah mereka berdua di masa lalu hanyalah ilusi belaka. Itulah momen yang menyesakkan dalam kehidupan Florentino, Dewi Mahkotanya, ternyata telah melupakan semua kenangan akan mereka berdua. Semua bertambah perih disaat Fermina memilih menerima pinangan Dokter Juvenal Urbino—dokter yang ia temui ketika ia diduga terkena kolera—yang juga disetujui oleh Ayahnya. Fermina hidup bahagia bersama suaminya. Sebagai orang terpandang Dr. Urbino sering membawanya ke dalam pertemuan-pertemuan kelas atas di masa itu.

Fermina telah dikarunia anak, dan saat itu menjadi titik balik dari kehidupan Florentino. Dengan kepandaiannya menulis kata-kata cinta nan puitis ia diangkat menjadi juru tulis di The River Company of Carribean, perusahaan di bidang surat menyurat, yang dijalankan oleh pamannya. Pilihan Florentino untuk bekerja semata-mata agar ia bisa dipandang terhormat oleh para wanita, yang digambarkan pada masa itu hanya memandang pria dari segi materi saja. Karier Florentino berjalan pesat, apalagi ketika Paman Leo memutuskan untuk mewariskan tampuk seluruh usahanya kepada keponakannya itu. Semua orang di kota kini telah mengenal Florentino baik sebagai pemimpin perusahaan The River Company of Carribean, juga sebagai seorang penulis puisi handal. Akan tetapi, semua itu tidak sejalan dengan kehidupan cinta Florentino. Meski, ia telah berkencan dengan 622 wanita, namun tak ada satu pun dari mereka yang mampu memudarkan cintanya kepada Fermina, cinta pertama dan sejatinya.

Di lain sisi, saat kehidupan rumah tangganya tengah dilanda masalah, Fermina terkadang terbayang akan kenangan masa mudanya dengan Florentino, namun sekali lagi ia anggap itu hanya ilusi masa lalu.

Segala penantian pasti ada akhirnya, dan penantian yang dinantikan dengan penuh rasa cinta niscaya akan berbuah manis. Dan itulah yang dirasakan Florentino. Pasca kematian Dokter Juvenal Urbino, ia kembali mengirimkan Fermina surat demi surat, meski Fermina selalu menolaknya, ia terus mengirimkan surat-surat itu. Sampai akhirnya Fermina menyetujui untuk bertemu kembali setelah 51 tahun berlalu. Dan dengan usulan Fermina p**a, mereka berdua melakukan perjalanan dengan kapal laut, sekaligus melanjutkan lagi kisah-kisah masa lalu mereka yang sempat tertunda. Akhirnya, penantian Florentino akan mendapatkan cinta sejati Fermina berakhir pada, 54 tahun 4 bulan 11 hari. Selama itu p**a Florentino tetap menyimpan kata-kata di dalam hatinya bahwa, “My destiny lives to love Fermina.”

Address

Muara Enim
Muaraenim
31313

Telephone

081996132113

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Green Vintage posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share