Smart Parents

Smart Parents Membahas seputar Parenting, pendidikan, buku serta mainan edukasi anak usia dini. Juga berbagi tips, materi beberapa kulwap yg berkaitan dengan itu semua

Assalamualaikum..Halo Ayah Bunda, Bagaimana Kabarnya?Semoga Ayah Bunda dan keluarga sehat selalu yah...Mengajari anak sh...
24/11/2021

Assalamualaikum..

Halo Ayah Bunda, Bagaimana Kabarnya?

Semoga Ayah Bunda dan keluarga sehat selalu yah...

Mengajari anak sholat sejak dini itu sangat baik loh bunda, karena saat sang anak sudah berada di umur yang baligh dia sudah mempunyai bekal dan sudah merasa sholat itu sebagai kewajiban dan tanggung jawabnya dalam agama.

Bunda udah tau belum tips apa aja untuk mengajarkan anak sholat? Yuk simak pembahasan diatas

Membacakan buku atau mendongeng memang terlihat seperti aktivitas  biasa.Namun ternyata kegiatan sederhana seperti memba...
11/10/2021

Membacakan buku atau mendongeng memang terlihat seperti aktivitas biasa.
Namun ternyata kegiatan sederhana seperti membacakan buku cerita untuk anak sebelum tidur memiliki banyak manfaat bagi tumbuh kembang si kecil nantinya.😇

Membacakan buku sebelum tidur adalah cara super efektif untuk mengajar dan menstimulasi semua tingkat kecerdasan anak dan tanpa disadarinya anak pun menjadi senang,

Setelah tahu apa saja manfaat membacakan buku untuk anak, maka sayang sekali kan jika para parents melewatkannya moment bercerita sebelum tidur begitu saja. Jadi sebelum tidur malam ini, mau membacakan buku apa parents?😍


Mendisiplinkan Anak Orang Lain, Boleh Atau Tidak?Sebagai seorang orang tua, kita memang wajib berteman. Kita bisa bertem...
13/10/2020

Mendisiplinkan Anak Orang Lain, Boleh Atau Tidak?

Sebagai seorang orang tua, kita memang wajib berteman. Kita bisa berteman dengan sesama orang tua, baik di sekolah anak, maupun orang tua lain yang merupakan tetangga kita. Tujuannya agar kita bisa saling support sebagai sesama orang tua.

Namun, bagaimana ya jadinya jika pertemanan sesama Ibu dan orang tua ini akhirnya harus retak karena masalah anak? Misalnya saja saat anak kita dan anak orang lain terlibat berkelahi. Beberapa orang tua mungkin saja memaklumi perkelahian kecil sesama anak ini. Tapi, bagaimana jika perkelahian anak tersebut berubah menjadi lebih berbahaya hingga mengancam keselamatan anak ?

Atau bila ada anak lain yang menjahili anak kita namun dalam taraf yang sudah cukup mengganggu dan berbahaya? Sampai di titik ini, haruskah kita tetap diam ,ataukah kita perlu bertindak sebagai orang tua?

❓Apakah kita perlu ikut mendisiplinkan anak orang lain?
Pertanyaan yang cukup sulit dijawab bukan? Di satu sisi kita merasa perlu menegur dan mendisiplinkan anak orang lain karena sudah membahayakan anak sendiri. Namun, di sisi lain, perasaan tidak enak karena orang tua anak tersebut adalah teman atau sahabat kita membuat kebanyakan orang tua merasa galau.

Michele Boba, EdD, seorang konselor orang tua, dilansir dari parents.com meyakini bahwa setiap orang tua tidak melanggar hak untuk mendisiplinkan anak orang lain, selama tujuannya untuk melindungi anak sendiri. Hanya saja, mendisiplinkan anak orang lain juga ada batasan dan aturan yang perlu diperhatikan.

Beberapa kasus berikut ini, bisa dijadikan sebagai referensi kita Parents!

â–ȘMengajak Anak-Anak Pergi Bersama
Kita mungkin pernah mengajak anak sendiri dan anak orang lain pergi bersama. Misalnya saja untuk berenang bersama atau untuk ke tempat wisata lainnya. Namun, di tengah perjalanan anak orang lain mulai berperilaku seenaknya, mulai berteriak-teriak, dan bertengkar dengan anak kita.

Apa yang seharusnya dilakukan?

Saat situasi ini kita alami maka tidak masalah mendisiplinkan anak-anak dengan memberinya time-out. Namun kita perlu memberitahu orang tua anak lain mengenai sikap dan perilakunya. Tujuannya untuk memberikan petunjuk pada orang tua lain bahwa apa yang dilakukan anaknya itu kurang baik.

Sebaiknya, kita dan orang tua lain memiliki rencana tambahan setelah mendisiplinkan anak-anak. Siapa tahu mereka akan kembali bertengkar. Dalam hal ini, kedua orang tua perlu berdiskusi dan mengambil keputusan bersama, agar tidak terjadi perselisihan lanjutan terkait masalah itu.

â–ȘAnak Dibully / Perilaku Buruk Saat Main Bersama
Saat anak kita main bersama anak-anak lain, tak jarang terjadi bullying. Tak hanya itu, mungkin saja anak mendapat perlakukan buruk saat bermain bersama.

Biasanya sih masalah berebut mainan. Anak kita mungkin sudah mau berbagi atau bergantian mainannya, namun anak lain justru memanfaatkan untuk main terus menerus dan menolak bergantian.

Apa yang perlu dilakukan?

Saat kita menyadari perilaku seperti ini dihadapi oleh anak, cukup tunjukkan keberadaan kita. Biasanya, perilaku buruk teman saat bermain akan segera berhenti saat mengetahui ada kehadiran orang dewasa. Namun, jika perilaku tersebut masih berlangsung katakan dengan lembut dan tegas “Kami biasanya berbagi permainan dengan anak lain.”.

â–ȘMendapatkan Perilaku Bossy
Ini bisa terjadi saat playdate. Saat anak bermain dengan temannya, bisa jadi ia mendapatkan perlakuan bossy dari teman. Bisa jadi ada teman yang s**a sekali memerintah dan tidak mau membereskan mainan yang ia sudah gunakan.

Apa yang perlu dilakukan orang tua?

Melihat situasi ini, seringkali orang tua merasa “gemas” dan merasa ingin mendisiplinkan anak tersebut. Namun, sebaiknya dorong anak untuk membersihkan mainan bersama. Salah satu caranya adalah dengan menawarkan reward (penghargaan) apabila teman anak mau membantu membersihkan mainan bersama, ia bisa mendapatkan sticker atau snack.

â–ȘMengeluarkan Makian / Kata-Kata Kotor
Anak kita mungkin saja terpengaruh mengucapkan kata-kata makian dari teman sekompleks yang bermain bersamanya.

Apa yang perlu dilakukan orang tua?

Katakan pada anak yang berbicara kotor bahwa ia tak seharusnya berkata demikian karena itu tidak sopan dan bisa ditiru oleh anak-anak lain. Segera setelah mereka selesai bermain, jelaskan pada anak kita bahwa kita tidak menggunakan kata-kata tersebut dalam keseharian karena itu bukanlah kata yang indah dan enak didengar.

â–ȘOrang Tua Lain yang Pasif dan Tidak Peduli dengan Perilaku Negatif Anak

Seringkali kita merasa geram saat melihat orang tua lain pasif melihat perilaku anaknya sendiri yang negatif. Saking geramnya, kita ingin sekali langsung mendisiplinkan anak tersebut sekaligus menghakimi orang tuanya. Namun sebaiknya hindari melakukan hal ini ya, Parents!

Apa yang perlu kita lakukan?

Katakan pada orang tua lain bahwa kita perlu bicara dan berdiskusi tentang perilaku anaknya. Kita juga bisa menawarkan bantuan (berupa saran) apabila orang tua lain merasa bingung bagaimana cara mendisiplinkan anak.

â–ȘAnak Digigit / Dipukul Temannya
Suatu hari anak pulang ke rumah dengan luka gigitan atau luka memar akibat dipukul teman. Sebagai orang tua tentu kita merasa marah, karena apa yang sedang terjadi.

Apa yang perlu dilakukan orang tua?

Jika kasus ini terjadi saat di sekolah, maka mintalah bantuan pihak sekolah seperti guru BK atau guru kelas. Jelaskan situasi yang terjadi pada anak, dan mintalah pihak sekolah memperhatikan anak kita saat bermain dengan anak yang mengganggunya di sekolah. Jangan lupa minta pihak sekolah untuk membicarakan hal ini dengan orang tua anak yang menyakiti anak kita. Sebaiknya jangan langsung menghubungi orang tua anak yang yang menyakiti anak kita secara langsung tanpa perantara sekolah, kecuali mereka adalah teman baik kita.

Seperti yang dikatakan oleh Michele Boba, EdD bahwa mendisiplinkan anak orang tua lain memang tidak melanggar hak mereka sebagai orang tua, selama tujuan kita untuk melindungi anak sendiri.

Namun, sebaiknya hindari mengkonfrontasi anak atau orang tua lain mengenai pola asuh hingga kedisiplinan, toh setiap orang tua memiliki cara yang berbeda dalam mengasuh dan mendidik anak.

Hal yang paling penting adalah, gunakan kepala dingin dan sikap yang lembut saat merasa perlu mendisiplinkan anak orang lain.

Banner Header Komunitas SOPMengajarkan Anak Privasi, Hal Penting Yang Sering TerlupakanAug 11, 2020by School of Parentin...
12/08/2020

Banner Header Komunitas SOP
Mengajarkan Anak Privasi, Hal Penting Yang Sering Terlupakan
Aug 11, 2020by School of Parentingin Balita
Merawat dan mendidik anak memang tidak mudah ya, Parents. Banyak sekali hal-hal mendasar yang ingin kita ajarkan pada anak. Namun apa daya, kadang mengajarkan anak tentang sesuatu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak sekali halangan yang menyertai proses dalam mengajarkan anak tentang sesuatu. Misalnya saat mengajarkan potty training pada anak selama beberapa pekan, ternyata anak masih saja mengompol.

Kondisi seperti ini sebenarnya wajar,Parents, karena setiap anak itu unik dan memiliki perkembangan yang berbeda-beda.

Ada anak yang cukup mudah dan cepat mengerti saat diajarkan sesuatu, tapi ada juga anak yang terkesan membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk mengerti sesuatu. Hal yang perlu diperhatikan oleh Parents adalah selalu mengajarkan anak tentang segala sesuatu secara konsisten. Artinya, terus menerus melatih anak tentang keterampilan tertentu sampai anak mampu melakukan keterampilan tersebut secara mandiri tanpa bantuan orang tua.

Sama halnya saat Parents ingin mengajarkan anak tentang privasi. Ya, privasi dianggap sebagai salah satu soft skill yang perlu dimiliki oleh anak sebagai bekal saat dewasa nanti.

Kemampuan setiap anak untuk menghargai privasi orang lain, sangat diperlukan oleh masyarakat dalam budaya apapun. Sayangnya, tidak ada panduan khusus, atau mata pelajaran khusus di sekolah yang mengajarkan anak tentang privasi.

Akibatnya, saat anak kurang mampu menghargai privasi orang lain, ia langsung saja dianggap sebagai anak yang tidak sopan, tidak tahu tata krama, hingga tuduhan bahwa tidak pernah diajarkan hal ini oleh orangtuanya. Situasi inilah yang seharusnya membuka mata setiap orangtua untuk mengajarkan anak tentang privasi secara mandiri dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana caranya?

Langkah Sederhana Ajarkan Anak Privasi:
√ Latih Anak Hargai Ruang Pribadi

Langkah sederhana yang paling penting dalam mengajarkan anak mengenai privasi adalah dengan melatih anak menghargai ruang pribadi. Misalnya, biasakan anak untuk mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam kamar Parents saat di rumah. Anda bisa mulai mengajarkan anak untuk mengepalkan tangan, lalu mengetuk pintu sambil memanggil nama Ayah atau Ibu.

Ajarkan juga pada anak untuk mengetuk pintu kamar saudara, atau ruang kerja Ayah sebelum masuk. Biasakan anak untuk memanggil nama dari pemilik kamar tersebut. Dengan begitu anak akan belajar bahwa ia harus memberitahu orang yang ada di dalam ruangan (kamar) sebelum masuk.

√ Latih Anak Menutup Pintu Saat Menggunakan Toilet

Membiasakan anak menutup pintu saat menggunakan toilet memang nampak sederhana, tapi masih banyak yang melanggarnya. Kebanyakan anak sering membuka pintu toilet saat buang air kecil atau sedang melakukan aktivitas lainnya. Alasannya karena mereka takut ada hantu atau hal-hal semacam itu. Untuk menghadapi situasi seperti ini, Parents bisa mengajarkan anak menutup pintu toilet secara bertahap.

Contoh, pada mulanya latih anak untuk menutup pintu toilet hanya sebagian, lalu semakin lama tambah kuantitasnya hingga akhirnya anak tidak takut berada dalam toilet yang tertutup.

Anda juga bisa menemani anak dengan berada di depan pintu toilet sampai anak benar-benar berani melakukan potty training sendiri. Hal yang paling penting adalah lakukan latihan ini secara konsisten dan sabar. Jangan lupa untuk membuat toilet senyaman dan seaman mungkin untuk anak. Misalnya dengan memasang lampu agar toilet tidak gelap,kunci yang mudah dibuka dan jangan biarkan lantai kamar mandi licin untuk menghindarkan anak dari terpeleset.

√ Jelaskan Pada Anak Agar tentang Area Tubuh Privasi

Langkah sederhana lainnya untuk ajarkan anak privasi adalah dengan menjelaskan bagian tubuh yang menjadi privasi. Artinya, bagian tubuh mana saja yang tidak boleh disentuh atau diraba oleh orang lain selain Parents dan mungkin dokter anak. Hal ini penting sekali Parents, mengingat banyaknya kasus predator anak belakangan ini yang mengincar anak-anak usia dini sebagai korbannya. Untuk itu, sebaiknya parents mulai mengenalkan anak mengenai pendidikan seks sejak dini.

√ Ajarkan Anak untuk Meminta Izin Melakukan Sesuatu

Penting bagi Parents untuk mengajarkan anak meminta izin dalam melakukan sesuatu. Khususnya jika hal tersebut berkaitan dengan privasi orang lain. Misalnya saja jangan biarkan anak mengambil makanan orang lain tanpa meminta izin pada orang yang bersangkutan. Nampak sederhana memang, tapi mengambil makanan orang lain tanpa meminta sebenarnya sikap yang kurang sopan. Sikap tersebut juga termasuk hal yang melanggar privasi orang lain.

Untuk menghadapi hal ini, latih si kecil meminta izin saat ingin mengambil makanan orang lain. Anda bisa melatih anak saat momen makan bersama-sama setiap harinya. Sebaiknya jelaskan pada anak bahwa makanan yang ada di piring orang lain adalah milik orang tersebut. Misalnya, makanan di piring Ayah adalah makanan Ayah sehingga jika si kecil ingin memakan makanan di piring Ayah, ia harus minta izin pada Ayah. Tambahkan juga bahwa, jika Ayah tidak mengizinkan si kecil mengambil makananan maka si kecil juga tidak boleh marah.

Penting bagi Parents untuk mengajarkan bahwa, tidak semua hal yang diminta oleh anak bisa dikabulkan. Ada saja hal yang mungkin tidak bisa diperoleh anak, meskipun anak sudah meminta hal tersebut berulang kali. Cara ini akan diingatnya hingga dewasa nanti, dan tentu saja akan menambah soft skill dalam kehidupan anak saat dewasa kelak.

√ Jadilah Contoh yang Baik

Langkah sederhana selanjutnya untuk mengajarkan anak tentang privasi adalah dengan menjadi contoh yang baik bagi anak. Pasalnya, anak adalah peniru ulung, sehingga cara yang paling mudah dalam mengajarkan anak tentang sesuatu adalah dengan memberinya contoh perilaku dalam rutinitas sehari-hari.



Mengajarkan anak tentang privasi memang tidak mudah, sehingga butuh konsisten dan kesabaran ekstra dari parents. Sebaiknya, latih anak menghargai privasi orang lain dengan cara sederhana, seperti beberapa langkah sederhana di atas.

Penting loh bagi Parents mengajarkan anak menjadi teman yang baik. Tujuannya ya agar anak memiliki banyak teman dan dis*...
09/03/2020

Penting loh bagi Parents mengajarkan anak menjadi teman yang baik. Tujuannya ya agar anak memiliki banyak teman dan dis**ai oleh semua teman-teman di sekolahnya.

Nah, beberapa cara di bawah ini bisa Parents ajarkan pada anak agar menjadi teman yang baik!

Nak, kamu bisa menjadi teman yang baik jika


Mengatakan hal-hal yang baik pada teman-teman. Misalnya tidak melakukan bullying, tidak membicarakan kekurangan teman di belakang dan hal negatif lainnya.
Mau berbagi dengan teman dan menunggu giliran bermain
Selalu ramah dan tersenyum pada teman
Berusaha peduli dan memperhatikan teman. Khususnya saat teman sakit atau mengalami musibah, maka berusaha untuk menghibur dan memberi semangat

â–ȘIkut merasa bahagia saat teman berhasil mencapai sesuatu seperti prestasi atau berhasil mencapai cita-cita.
â–ȘTerus memberi teman semangat saat mereka putus asa dengan usaha yang sedang dilakukan.
â–ȘMendengarkan saat teman lain berbicara.
â–ȘMenawarkan bantuan.
â–ȘSelalu menjaga etika dan sopan santun terhadap teman. Misalnya, mengucapkan terima kasih setelah mendapat bantuan, atau meminta maaf saat melakukan kesalahan pada teman.

Mengajarkan anak menjadi teman yang baik memang sangat penting Parents. Terutama jika anak sudah memasuki usia sekolah dan banyak bersosialisasi dengan teman-temannya di sekolah. Toh, kita tidak ingin bukan jika anak sampai dijauhi teman karena sikapnya yang tidak baik terhadap teman lain?

Mengatakan “Saya minta maaf” tidak pernah mudah, dan mengatakan saya minta maaf kepada anak kita mungkin akan lebih suli...
19/02/2020

Mengatakan “Saya minta maaf” tidak pernah mudah, dan mengatakan saya minta maaf kepada anak kita mungkin akan lebih sulit. Terlebih bagi orang tua yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang tidak terbiasa meminta maaf kepada anak.

Memang ada pandangan dari generasi terdahulu, khususnya dalam kultur Asia, meminta maaf kepada anak dianggap justru akan membuat anak “manja” dan “nglunjak”. Bahkan, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa permintaan maaf akan mengurangi rasa hormat anak kepada kita.

Tetapi, kenyataannya justru sebaliknya. Bukankah kita lebih menghargai orang lain ketika mereka berani mengakui kesalahan dan mencoba untuk memperbaiki keadaan?

Kebanyakan orang tua ragu ketika akan meminta maaf kepada anak, mereka merasa “gagal” memberikan contoh sebagai orang tua yang sempurna bagi anak-anaknya. Perasaan malu juga kerap menghinggapi orang tua ketika harus meminta maaf akhirnya banyak orang tua enggan melakukannya.

Namun, ingatlah, anak -anak belajar bagaimana memaafkan dan meminta maaf dari orang tuanya. Jadi ketika Parents meminta maaf kepada anak, itu tidak hanya dapat memperbaiki kesalahan yang dilakukan, tetapi juga mengajarkan mereka tentang arti meminta maaf dan memaafkan.

Jadi, apa yang dipelajari seorang anak ketika orangtua menghindari meminta maaf ?

â–ȘMeminta maaf berarti kamu telah melakukan sesuatu yang buruk, atau kamu pribadi yang buruk. Ada perasaan malu yang melekat.
â–ȘTidak masalah melakukan kesalahan, merusak sesuatu dan tidak mengakui maupun mencoba memperbaikinya.
â–ȘKetika meminta maaf, orang tua kehilangan status.
â–ȘMeminta maaf adalah sesuatu yang tidak perlu dilakukan kecuali dipaksa melakukannya.

Nah, jika sudah melihat sisi negatifnya, tidakkah meminta maaf kepada anak memang seharusnya kita lakukan saat berbuat kekeliruan?

Apakah Parents masih mencari-cari cara yang tepat untuk meminta maaf kepada anak? Beberapa langkah berikut ini bisa kita coba, sebagai orang tua.

1. Buat Permintaan Maaf tanpa Syarat
Permintaan maaf tanpa syarat berfokus pada tanggung jawab kita sebagai pihak yang bersalah dan bukan sebagai pengalihan tanggung jawab kepada anak. Permintaan maaf yang tulus bisa seperti, “Mama salah sudah membentak kamu. Mama menyesal dan mama minta maaf..” Titik.

Sebaiknya hindari kalimat seperti, “Mama minta maaf karena membentak kamu, TAPI ITU TAK AKAN TERJADI KALAU 
”. Nah, kalimat seperti itu BUKAN permintaan maaf yang tulus. Berusahalah mengakui kesalahan Parents tanpa mengungkit-ungkit sesuatu yang dilakukan anak yang bisa jadi pemicunya.

2.Minta Maaf dengan Rendah Hati

Sekali lagi, karena “maaf” tidak diberikan begitu saja, kita harus memintanya. Setelah mengatakan maaf dengan tulus kepada anak, kita bisa bertanya dengan lembut apakah ia mau memaafkan.

3. Tunjukkan dengan Tindakan
Inilah yang membuat meminta maaf lebih efektif. Kita bisa saja meminta maaf berkali-kali , namun jika kita terus melakukan kesalahan yang sama berulang kali, permintaan maaf kita tidak akan lagi didengarkan. Maka dari itu, berusahalah tidak mengulangi kekeliruan yang kita buat. Ini juga adalah pesan bagi anak, bahwa meminta maaf berarti tidak mengulang kesalahan yang sama.

4. Beri Waktu bagi Anak Anda
Bahkan jika anak kita benar-benar menerima permintaan maaf kita dan memaafkan, kita tidak dapat mengharapkan segala sesuatunya menjadi lebih baik dengan segera.

Anak mungkin cepat melupakan hal-hal kecil (terutama jika dia anak kecil), tetapi untuk hal yang lebih besar (dan anak-anak yang lebih besar), mungkin perlu waktu bagi anak kita untuk memulai lagi. Sabar. Waktu akan menunjukkan bahwa Parents berubah dan tulus untuk tidak menyakiti hatinya lagi.

5. Maafkanlah Diri Sendiri
Selain meminta maaf kepada anak, anda juga harus dapat memaafkan diri sendiri. Ini adalah kunci untuk memulai kembali komunikasi yang positif dengan anak anda. Juga jangan selalu terbebani dengan kekeliruan yang sudah Parents lakukan.

Ingat, Parents adalah role model bagi anak. Terlalu terbawa emosi dan tidak bisa memaafkan diri sendiri malah akan memberi anak gambaran yang negatif.

Semua orang tua bisa berbuat kekeliruan dan merusak komunikasi dan hubungan positif yang sudah terbangun dengan anak. Alih-alih,fokus pada kesalahan yang sudah dibuat dan mencari siapa yang bersalah, fokuslah untuk memperbaiki keadaan dengan anak Anda.

Dibutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa orang tua juga bisa salah, dan meminta maaf dari anak. Itu membuat Anda menjadi orang tua yang lebih baik, dan membesarkan anak-anak yang lebih sehat, yang menghargai hubungan dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Bukankah sudah saatnya kita membuang warisan rasa malu dan takut yang melekat pada permintaan maaf?

Salam Smart Parents!

10 Hal yang Bisa Dikatakan Selain “Jangan Nangis”!Namanya anak-anak pasti adalah waktu di mana Ia seringkali sedih dan a...
17/02/2020

10 Hal yang Bisa Dikatakan Selain “Jangan Nangis”!

Namanya anak-anak pasti adalah waktu di mana Ia seringkali sedih dan akhirnya menangis. Tak jarang nih, karena terlalu sering menangis dalam sehari, orangtua kadang tidak sabar dan memaksa anak untuk berhenti menangis dengan mengatakan “Jangan cengeng!”, atau “Udah berhenti nangisnya!”

Padahal, saat anak mendengar kalimat tersebut biasanya mereka justru semakin keras menangis. Duh, gimana ya caranya membujuk anak berhenti menangis tanpa menyakiti hatinya?

Beberapa kalimat berikut ini, bisa dicoba loh untuk menghentikan anak menangis!



“Nggak apa kok sedih.”



Alih-alih mengatakan “Jangan menangis” lebih baik katakan pada anak bahwa “Tidak apa-apa kok sedih” karena merasa sedih itu wajar loh, Parents.

Jangankan anak-anak, orang dewasa seperti kita saja seringkali merasa sedih dan kecewa. Bedanya, kita sudah mampu mengelola rasa kecewa dan tidak sembarangan menangis. Sedangkan anak-anak masih belum bisa mengelola rasa kecewa dan sedih. Alhasil, anak-anak akan menangis di mana saja saat ia merasa sedih dan kecewa.



“Bunda tau, ini memang berat untukmu”



Akan lebih baik mengatakan bahwa “Bunda tau, ini memang berat untukmu” daripada mengatakan pada anak untuk berhenti menangis. Dengan mengatakan bahwa Anda mengerti sesuatu hal berat untuk anak, berarti mengisyaratkan pada anak bahwa Anda memahaminya. Kalimat ini justru akan menenangkan anak dan membuatnya berhenti menangis.



“Sudah, tak apa, kan ada Ibu di sini”



Beberapa anak mungkin menangis karena takut akan suatu hal. Rasa takut ini cukup bisa diatasi jika ada Ibu atau Ayah di samping anak. Maka dari itu, katakan bahwa Anda akan sedang berada di sampingnya agar anak merasa lebih tenang dan mulai berhenti menangis.



“Kenapa nangis? Coba cerita sama Ibu”



Alih-alih mengatakan “Jangan menangis”, akan lebih baik jika mengatakan “Kenapa sih nangis? Coba sini cerita sama Ibu”. Melalui kalimat ini, selain membuat anak tenang, Anda juga jadi tahu alasan anak menangis.



“Mama dengerin adik kok”



Saat anak menangis, sebaiknya beri perhatian khusus dan dengarkan alasan anak menangis. Mendengarkan alasan anak saat menangis akan membuatnya tenang dan akhirnya membuat anak berhenti menangis.

Iya sih Dek, itu memang menakutkan”



Mencoba memahami anak saat menangis merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan agar anak lebih cepat tenang. Misalnya, saat anak menangis karena bermimpi buruk dan menceritakan mimpinya tersebut pada Anda sambil menangis. Maka, katakan saya bahwa Anda memahami betapa menakutkannya mimpinya tersebut dan mulailah tenangkan si kecil.



“Nanti Ibu bantu ya
”



Alih-alih mengatakan “Jangan menangis” lebih baik katakan bahwa “Nanti Ibu bantu ya
” saat anak menangis karena tidak bisa menyelesaikan PR sendiri sedangkan Anda sibuk mengurus pekerjaan rumah tangga lainnya. Sebaiknya jelaskan pada anak untuk menunggu Anda sementara waktu sambil mengerjakan PR lainnya dulu yang mudah dikerjakan.



“Ibu paham kok.”



Berusaha memahami anak saat ia sedang menangis juga bisa membuat anak cepat tenang dan tidak menangis lagi. Jelaskan pada anak bahwa Anda memahami situasi yang dihadapi oleh anak. Misalnya, saat si kecil menangis karena takut dihampiri kecoa.



“Ya sudah adek sendiri dulu, adek bisa cari Bunda lagi kalau sudah tidak sedih”



Alih-alih mengatakan “Berhenti menangis!”, sebaiknya berilah anak sedikit ruang untuk menenangkan diri saat ia sedang menangis. Baru kemudian katakan padanya untuk menghampiri Anda saat anak merasa lebih tenang.



“Memang sih itu agak tidak adil”



Rasa sedih dan kecewa anak bisa jadi karena ia diperlakukan tidak adil dengan teman-temannya di sekolah. Misalnya, tidak diperbolehkan meminjam mainan teman padahal sudah gilirannya bermain. Nah, cobalah mengerti perasaan anak dengan mengatakan bahwa perlakuan teman-temannya memang tidak adil, namun jelaskan juga bahwa anak tidak perlu sedih toh masih banyak teman lain yang bisa diajak main.

Memaksa anak untuk berhenti menangis dengan mengatakan “Jangan menangis!” seringkali membuat anak justru tambah menangis.

Maka dari itu, yuk mulai redakan tangis anak dengan beberapa pilihan kalimat di atas agar mereka kembali tenang dan berhenti menangis.

Haiii Parents!Membiasakan anak membaca memang penting dilakukan sejak diniMeskipun banyak orangtua yang berpikir bahwa a...
27/12/2019

Haiii Parents!

Membiasakan anak membaca memang penting dilakukan sejak dini

Meskipun banyak orangtua yang berpikir bahwa anak masih sangat dini untuk bisa membaca, namun mengenalkan anak dengan buku atau kebiasaan membaca justru sangat membantu anak untuk mencintai dunia membaca

Tapi, tak sedikit orang tua yang masih merasa bingung bagaimana dan kapan sebaiknya anak mulai dikenalkan dengan aktivitas membaca ini??đŸ€·â€â™€ïžđŸ€·â€â™‚ïž

Haruskah dimulai sejak usia 6 bulan? 8 bulan atau mulai usia 1 tahun saja yaa..??

Pekerjaan orang tua maupun rutinitas anak sehari-hari memang rentan memicu stres. Cara terbaik untuk menghilangkan stres...
26/12/2019

Pekerjaan orang tua maupun rutinitas anak sehari-hari memang rentan memicu stres. Cara terbaik untuk menghilangkan stres adalah dengan berhenti sejenak dari rutinitas dan pergi berlibur bersama keluarga tercinta. Liburan keluarga bisa mengisi kembali emosi positif yang sudah habis terkuras. Liburan keluarga juga bisa membuat hubungan keluarga menjadi semakin harmonis.

Liburan keluarga menjadi momen yang lebih istimewa jika dibandingkan dengan liburan

di rumah. Ayah, Ibu, dan anak bisa melakukan banyak aktivitas baru yang lebih seru dan membahagiakan.

Apalagi efek positif dari liburan keluarga?
1. Menstimulasi Perkembangan Otak Anak

Hanya sedikit orang tua yang menyadari bahwa liburan bisa juga memberikan manfaat pada perkembangan otak anak. Dilansir dari telegraph.co.uk Saat sedang berlibur bersama keluarga, secara tidak langsung kita sedang melatih dua sistem genetik yang berada pada area limbic otak. Dua sistem tersebut adalah Play System dan Seeking System. Keduanya tidak bisa dilatih sepenuhnya di rumah. Ketika berlibur di pantai, misalnya, Play system otak dilatih ketika kita menenggelamkan kaki anak ke dalam pasir. Lalu, ketika orangtua melakukan permainan tickling di kolam renang atau menggendong anak di belakang punggung juga bisa melatih play system. Sementara untuk seeking system bisa dilatih pada saat pergi menjelajah bersama, seperti ke pantai, ke hutan, atau jenis petualangan lainnya.

2. Membangun Konsentrasi

Berlibur di alam terbuka terbukti dapat meningkatkan fungsi khusus tubuh dalam mengatur stress, konsentrasi, dan perhatian. Berlibur bersama keluarga juga bisa membuat anak lebih fokus dan konsentrasi dalam belajar. Mengapa bisa demikian? Karena pada saat kita berlibur, tubuh menghasilkan lebih banyak hormon oksitosin dan dopamin yang bisa meningkatkan kebahagiaan.

3. Memperbaiki Hubungan Keluarga

Padatnya aktivitas sehari-hari sangat mungkin membuat seseorang menjadi stres. Saat sedang stres, emosi pun menjadi sangat susah diatur. Anda jadi lebih sering marah-marah pada pasangan atau anak. Kalau sudah begini, itu adalah “alarm” bahwa Anda harus segera pergi berlibur.

Ketika berlibur, Anda bisa berkomunikasi dengan keluarga secara lebih baik lagi. Anda bisa melakukan banyak aktivitas bersama-sama, bersendau gurau, atau saling memberikan perhatian. Proses komunikasi yang baik selama berlibur bisa meningkatkan kualitas hubungan emosional antar anggota keluarga.

4. Menciptakan Lebih Banyak Momen Bersama yang Menyenangkan

Momen yang menyenangkan biasanya sangat melekat dalam memori seseorang. Momen menyenangkan ini akan menjadi momen yang tak terlupakan bagi orangtua maupun anak-anak. Uang yang sudah dihabiskan untuk berlibur tidak lagi menjadi masalah. Semuanya akan terbayarkan oleh momen menyenangkan yang selalu diingat oleh semua anggota keluarga.

5. Mengajarkan Anak untuk Menabung

Setelah anak merasakan kesenangan berlibur, ia mungkin akan meminta liburan lagi. Beri tahu mereka bahwa berlibur ke tempat wisata tertentu membutuhkan biaya yang jumlahnya tidak sedikit. Oleh karena itu, mereka harus menabung. Tetapkan tempat berlibur untuk beberapa bulan atau tahun mendatang. Selama menunggu waktunya tiba, minta anak untuk menabung agar mimpinya untuk berlibur bisa terwujud.

Demikian beberapa manfaat penting berlibur bersama keluarga. Tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri. Berlibur ke kota-kota terdekat pun bisa menjadi sangat menyenangkan. Pastikan Anda melakukan semua persiapannya agar liburan berjalan lancar dan menyenangkan. Di era yang penuh tekanan seperti ini, berlibur adalah hal terbaik untuk mengisi kembali hal-hal positif dalam tubuh. Jadi, siapkan waktu dan anggaran untuk berlibur ya, Parents. Percayalah, stres lebih mahal daripada ongkos liburan.

Penting bagi orang tua mengajarkan sopan santun pada anak, khususnya bagi anak-anak yang sudah beranjak remaja alias pre...
16/12/2019

Penting bagi orang tua mengajarkan sopan santun pada anak, khususnya bagi anak-anak yang sudah beranjak remaja alias pre-teen.

Umur sekitar 9-10 tahun sudah bisa dianggap memasuki masa pra-remaja. Ada beberapa sopan santun yang perlu diajarkan pada anak pra-remaja Apa saja sih sopan santun yang perlu diajarkan pada mereka?

9 Sopan Santun Bagi Anak Usia Pra-Remaja

â–ȘSaat orang dewasa meminta bantuan, bantulah tanpa mengeluh
Sopan santun pertama yang perlu diajarkan pada anak yang memasuki usia pra-remaja adalah hindari mengeluh saat orang tua atau orang dewasa lain membutuhkan bantuannya. Jelaskan pada anak untuk menghentikan sejenak aktivitas yang sedang dilakukannya dan berusaha menolong dengan ikhlas.

â–ȘSaat minta bantuan, ucapkan “tolong”
Jangan lupa selalu ingatkan anak mengucapkan “tolong” saat meminta bantuan pada orang lain. Mengucapkan kata “tolong” mungkin dianggap sepele, tapi seringkali dilupakan, juga saat anak memasuki usia pra-remaja,dimana anak sedikit lebih “cuek” kepada orang lain.

â–ȘSaat orang lain tanya kabarmu, tanyakan kembali kabarnya
Ingatkan anak untuk menanyakan kabar orang lain yang pada awalnya menanyakan kabar anak. Inilah bentuk sopan santun lain yang selalu ada di dalam masyarakat dan perlu diajarkan pada anak di usianya yang hampir remaja.

â–ȘSaat merasa ragu melakukan sesuatu, diskusikan keraguanmu pada orang lain
Anak-anak yang hampir memasuki usia pra-remaja, mungkin saja merasa bingung dan ragu akan suatu hal. Jika hal ini sedang meresahkan hati anak, maka ingatkan anak untuk berdiskusi tentang keraguannya tersebut. Hal ini akan menghindarkan anak dari kesalahan karena keraguan yang mengganggu hatinya.

â–ȘSaat berada di rumah teman untuk waktu yang lama, jangan lupa ucapkan terima kasih pada orang tua teman
Memasuki usia pra-remaja, tentu saja anak memiliki banyak teman. Tak jarang, anak main atau kadang mengerjakan tugas kelompok di rumah teman untuk waktu yang lama.

Nah, sopan santun lain yang perlu dipahami anak adalah selalu mengucapkan terima kasih pada orang tua teman karena diizinkan bermain dan karena waktu yang menyenangkan saat ada di rumahnya. Ingatkan juga anak untuk menawarkan bantuan seperti mencuci piring jika ia makan bersama di rumah teman.

â–ȘSaat bosan melihat penampilan orang lain, tetap tunjukkan rasa sopan dan hindari menunjukkan muka masam
Beberapa anak mungkin saja merasa bosan saat melihat penampilan teman atau ketika ada satu presentasi dari orang lain.

Jika hal ini yang terjadi, maka ingatkan anak untuk tidak memasang wajah masam dan minta anak untuk berpura-pura menikmati penampilan tersebut agar tidak menyakiti perasaan teman.

â–ȘGunakan peralatan makan dengan baik, jika kurang paham tanyakan pada orang tua
Memasuki usia pra-remaja, anak perlu paham sopan santun di meja makan, misalnya sopan santun menggunakan peralatan makan.

Apabila anak tidak familiar dengan peralatan makan tersebut, maka minta anak untuk bertanya pada orang tua atau pada orang dewasa di sekitar.

â–ȘGunakan bahasa formal dan sopan pada orang tua dan orang dewasa di sekitar
Sopan santun lain yang perlu diajarkan pada anak usia pra-remaja adalah menggunakan bahasa formal dan sopan saat berbicara dengan orang tua.

Apabila anak tidak bisa menggunakan bahasa daerah yang biasanya digunakan dalam percakapan pada daerah tertentu, maka cukup gunakan bahasa nasional, seperti bahasa Indonesia.

â–ȘTawarkan bantuan pada orang tua atau orang dewasa di sekitar yang mengalami kesulitan
Menawarkan bantuan pada orang tua atau orang dewasa di sekitar yang mengalami kesulitan adalah salah satu sopan santun yang perlu diajarkan pada anak pra-remaja. Misalnya saja saat anak lewat di depan orang tua yang sedang membawa belanjaan cukup berat, maka ingatkan anak untuk membantu orang tua tersebut.

Sopan santun memang perlu diajarkan pada anak sejak dini. Memasuki usia pra-remaja ada beberapa sopan santun khusus yang perlu diajarkan dan dikuasai oleh anak. Beberapa sopan santun di atas bisa Anda ajarkan pada anak.

Address

Taman Bunga Nabontar Blok F-24. Jalan Kongsi Ujung Mariendal
Medan
20147

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00
Sunday 09:00 - 17:00

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Smart Parents posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category