deros0102

deros0102 Penulis Dedek Rosita

di Aplikasi KBM �
link Baca :

https://kbm.id/profile/penulis/1e7e8721-2a9a-4a9d-a430-5b4901b06a7e

22/04/2026

Saya mendapat lebih dari 450 tanggapan pada postingan saya minggu lalu! Terima kasih semuanya atas dukungan Anda! 🎉

“Anda masih p3rawan.”Kalimat dokter menghantam kenyataan dalam hidupku. Bagaimana bisa aku masih suci, sedangkan aku sud...
14/04/2026

“Anda masih p3rawan.”

Kalimat dokter menghantam kenyataan dalam hidupku. Bagaimana bisa aku masih suci, sedangkan aku sudah menikah, pernah hamil dan melahirkan. Bahkan usia anakku sudah 10 tahunan?!

Ternyata selama ini suamiku menggunakan rahimku sebagai…

(4)

Suara pintu kamar yang tertutup terdengar seperti dentuman palu hakim di telinga Indri. Indri membuka matanya di tengah kegelapan yang pekat. Seluruh tubuhnya mendadak sedingin es, gemetar oleh kemarahan yang membeku. Ia segera duduk, mengenakan kembali pakaiannya dengan gerakan cepat namun sunyi. Dengan hati-hati, ia melangkah keluar, mengikuti bayang-bayang suaminya menuju ruang kerja.

Pintu kayu jati itu tidak tertutup rapat. Hanya tersisa celah sempit, cukup untuk membiarkan pengkhianatan lolos tanpa saringan. Indri berhenti melangkah, menahan napas hingga dadanya terasa sesak. Suara Gusti terdengar dari dalam, rendah, santai, dan penuh keakraban yang tak pernah diberikan padanya.

“Mas, kau meneleponku? Apa tidak takut didengar istrimu?” Suara seorang wanita dari seberang telepon terdengar manja.

“Dia sudah tidur, seperti biasa. Besok aku akan memintanya mengurus sesuatu yang krusial untuk jabatanku, jadi malam ini aku harus sedikit ‘mengambil hatinya’,” jawab Gusti diiringi kekehan ringan.

Napas Indri tertahan. Ia merasa mual.

“Kau… tidur dengannya?” tanya wanita itu, ada nada cemburu yang disengaja.

Indri menggigit bibirnya keras-keras.

“Tenang, Sayang. Sepuluh tahun aku bisa menghindarinya, tidak mungkin aku tidur dengannya. Dia kuberi obat dosis biasa. Setelah itu kulepas pakaiannya, kubiarkan dia ‘polos di atas ranjang’. Paginya, dia pasti percaya kami sudah melakukannya. Wanita itu terlalu naif untuk meragukan suaminya.”

Dunia Indri runtuh tanpa suara. Ternyata, kelelahannya setiap pagi bukan karena gairah, melainkan karena efek obat bius dan manipulasi ps*kis yang keji.

“Syukurlah. Hari ini aku puas bermain dengan anak kita.” Suara wanita itu kembali terdengar, dan kali ini jantung Indri seperti diremas tangan tak kasatmata.

Anak kita.

“Qiara sudah sepuluh tahun, dia harus lebih dekat denganmu sebagai ibu aslinya. Besok dia tampil di sekolah. Harusnya Indri yang datang, tapi aku sengaja tidak memberi tahunya soal ini. Kau saja yang datang. Katakan pada Qiara kalau Indri sibuk, dan aku memintamu untuk menemaninya sebagai 'Ibu guru' kesayangannya.”

Indri mematung di balik pintu. Dadanya seperti dihimpit ribuan ton batu, namun matanya tetap kering. Tidak ada air mata yang jatuh. Tidak ada teriakan histeris. Yang ada hanya satu kesadaran dingin yang merayap perlahan dari ujung kepala hingga telapak kaki.

Selama sepuluh tahun, ia tidak hanya dibohongi sebagai istri. Ia dipermainkan sebagai manusia, dijadikan mesin pencuci uang reputasi, dan inkubator bagi anak wanita lain. Kebenaran itu kini berdiri nyata di hadapannya.

‘Besok… aku akan datang ke sekolah Qiara,’ tekad Indri dalam hati. Matanya yang sembab kini berkilat tajam seperti belati yang baru diasah. ‘Aku akan lihat siapa wanita itu. Akan kutunjukkan padanya, akulah yang telah memberikan nyawa, keringat, dan cinta untuk membesarkan Qiara. Aku yang lebih pantas menjadi ibunya, bukan kau yang hanya menitipkan benih di rahimku.’

Indri melangkah mundur perlahan, nyaris tanpa suara, kembali ke dalam kegelapan koridor rumahnya. Di wajahnya tidak ada lagi jejak kerapuhan. Yang tersisa hanyalah tekad yang membara di balik ketenangan yang mematikan.

~*

Pagi itu datang tanpa permisi, membawa cahaya pucat yang menyelinap masuk ke ruang makan yang res*k dan tak bernyawa. Indri bergerak mekanis, menyiapkan kopi hitam dan sarapan yang tak akan ia sentuh. Setiap pagi ia melakukan ritual ini sendirian, tanpa bantuan asisten. Baginya, menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya adalah bentuk pengabdian terakhir yang ia jaga, sebuah tanggung jawab yang kini terasa seperti ironi pahit.

Di kepala Indri, rekaman suara dari balik pintu ruang kerja semalam berputar tanpa henti, beradu dengan aroma kopi yang seharusnya menenangkan namun kini terasa memuakkan.

Gusti duduk di ujung meja, monumen keberhasilan yang dibungkus kemeja presisi dan jam tangan mewah, hadiah yang Indri pilihkan dengan ketelitian seorang profesional. Gusti adalah mahakarya yang Indri bangun dengan tangannya sendiri.

Tatapan Gusti terangkat dari tabletnya, singgah sejenak di wajah Indri. Sebuah senyum tipis, hangat di permukaan, namun sedingin es di dasarnya, terbit di bibirnya.

“Kau semalam manis sekali,” katanya ringan, seolah sedang mengomentari cuaca pagi.

Jantung Indri berdentum keras, namun ia tidak membiarkan satu otot wajah pun berkhianat. Ia mengangkat sudut bibirnya, memasang senyum tipis yang telah ia latih selama sepuluh tahun di depan cermin.

“Oh ya?” balas Indri lembut, suaranya seringan bulu. “Aku bahkan tidak ingat kita melakukannya.”

Untuk sepersekian detik, gerakan tangan Gusti yang hendak menyesap kopi terhenti. Ada kilatan kewaspadaan yang nyaris tak kasatmata di balik pupil matanya. Namun, pria itu adalah aktor watak yang lihai; ia segera menutup celah tersebut.

“Tentu saja,” katanya cepat, lalu terkekeh kecil, sebuah suara yang kini terdengar seperti gesekan pisau di telinga Indri. “Kau langsung tidur setelahnya. Kau memang selalu begitu kalau terlalu lelah, Sayang.”

Indri mengangguk pelan, seolah menelan mentah mentah kebohongan yang menjijikkan itu. Kau melepas pakaianku saat aku tak sadar, bajingan, batinnya dingin.

“Kau ke kantor jam berapa hari ini?” tanya Gusti kemudian, kembali pada nada datarnya, otoritas yang tak tergoyahkan.

“Jam sembilan,” jawab Indri singkat. Suaranya terdengar asing, seolah bukan ia yang sedang berbicara.

Gusti menyesap kopinya, menciptakan jeda dramatis yang menjadi ciri khasnya sebelum meluncurkan serangan. Ini adalah cara Gusti mendominasi ruang; sebuah teknik negosiasi yang Indri sendiri yang ajarkan dulu.

“Ada satu hal yang ingin aku bicarakan,” katanya akhirnya.

Indri duduk diam. Ia mengenakan topeng notarisnya, wajah tanpa ekspresi yang biasa ia gunakan saat menghadapi lawan bisnis paling licin sekalipun.

“Tahun depan ada restrukturisasi direksi,” lanjut Gusti, suaranya terkendali dan penuh wibawa. “Kursi Wakil Direktur akan dibuka.”

Indri tetap bergeming. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. Ambisi Gusti adalah lubang hitam yang tak pernah kenyang.

“Aku harus naik, Indri. Dan kau tahu, tanpa tanganmu, itu mustahil.”

Kalimat itu meluncur seperti perintah militer. Gusti meletakkan tabletnya, menatap Indri dengan binar obsesi yang nyaris membakar.

“Katakan saja, kau ingin aku melakukan apa?” tanya Indri lugas.

Sebuah senyum puas tersungging di sudut bibir Gusti. “Aku ingin semuanya rapi. Dokumen, legalitas, relasi. Tidak boleh ada celah. Satu kesalahan kecil saja bisa menghancurkan peluangku.”

Indri menyandarkan punggungnya, jemarinya bertautan di atas meja dengan tenang yang mematikan. “Dan kau ingin aku yang mengurus kebersihan itu.”

“Siapa lagi? Kau yang paling paham celah sistem. Kau tahu cara memastikan semua terlihat suci di atas kertas, Sayang.”

Gusti berdiri, merapikan jasnya yang tak berkerut sedikit pun. Ia melangkah mendekat, suaranya merendah, nada predator yang dibungkus kasih sayang palsu.

“Kau bukan sekadar istriku,” bis*knya tepat di telinga Indri, tangannya mengusap bahu Indri dengan posesif. “Kau fondasi karierku.”

Gusti mencium pucuk kepala Indri, sebuah kecupan yang membuat kulit kepala Indri meremang karena jijik. Tanpa menoleh lagi, tanpa bertanya soal nyeri di perut istrinya atau kelelahan yang tampak di matanya, Gusti berjalan menjauh.

“Aku mau kau fokus,” lanjut Gusti sambil merapikan dasinya di depan cermin besar. “Kurangi urusan tidak penting. Tahun ini krusial. Aku harus naik, demi keluarga kita, Sayang.”

Pintu depan tertutup dengan dentuman pelan namun final. Indri tetap terpaku di kursinya. Kopi di cangkirnya telah mendingin, menyisakan ampas hitam yang pekat, persis seperti hatinya saat ini.

Fondasi.

Ia mengulang kata itu dalam hati dengan rasa mual yang mendesak ulu hati. Penjelasan medis semalam kini menghantamnya kembali. Tidak ada hubungan suami istri selama sepuluh tahun. Tidak ada persetujuan. Tidak ada cinta. Ia mengandung tanpa pernah disentuh, melahirkan tanpa pernah dicintai, dan membesarkan anak yang diletakkan di rahimnya seolah olah ia hanyalah sebuah mesin sewa yang legal.

Indri mengangkat wajahnya, menatap pintu yang tertutup tadi. Jika Gusti ingin ia fokus pada karier sang suami, maka hari ini Indri akan memilih fokus pada musuhnya.

Hari ini Qiara tampil di sekolah. Acara yang sengaja disembunyikan Gusti darinya agar wanita itu bisa mengambil tempatnya.

Hari ini, untuk pertama kalinya, Indri akan melihat langsung wanita yang selama ini hidup sebagai bayangan, ibu biologis dari anak yang ia besarkan dengan taruhan nyawa.

Senyum tipis terbit di wajah Indri. Tenang. Terkontrol. Mematikan. Ia berdiri, merapikan pakaiannya dengan sangat teliti. Ia tidak akan datang sebagai istri yang hancur, ia akan datang sebagai pemilik sah dari segala hal yang mereka coba curi.

“Datanglah… siapapun kamu. Kita akan lihat, siapa yang akan bertahan saat fondasi ini sengaja kuruntuhkan,” ujarnya dingin.

Selengkapnya di KBM App :

Judul : Qiara, Anak Siapa?
Penulis : Sylviana Mustofa

"Ayah jahatin Ibu... Ayah ben tak Ibu... Ayah pe luk tante-tante itu tapi Ayah dorong Ibu sampai jatuh! Aku ben ci Papa!...
14/04/2026

"Ayah jahatin Ibu... Ayah ben tak Ibu... Ayah pe luk tante-tante itu tapi Ayah dorong Ibu sampai jatuh! Aku ben ci Papa! Aku ben ci Ayah.”

#6

"Ayo," ajak Pak Rendra sambil mengusap kepala Bagas. “Toko buku sudah menunggu.”
“Hore… ke toko buku!”seru Bagas dan Laras bersahutan.

Mobil melaju pelan meninggalkan taman kota, namun di dalam kabin, suasana yang tadinya sejuk menda dak berubah menjadi hangat oleh kepo losan Bagas.

"Setelah dari toko buku, kita makan malam, ya. Laras bilang dia ingin makan pasta, Bagas mau?" tanya Pak Rendra.

Mata Bagas membola. Aku tebak, dia pasti kebingungan dengan istilah baru itu.

"Bagas, kamu s**a pasta rasa apa? Laras s**a yang ada kejunya banyak!" seru Laras sambil menggoyangkan ba hu Bagas.

Bagas mengerutkan keningnya yang mungil. Ia menatap Laras dengan wajah bingung yang sangat menggemaskan. "Pasta? Pasta itu apa?... sejenis odol ya, Laras? Yang buat s*kat gigi?"

Tawa Pak Rendra pe cah seketika, suara baritonnya yang renyah memenuhi kabin mobil. Aku pun tak tahan untuk tidak menutup mu lut sambil menahan tawa.

"Bukan, sayang," jelasku lembut sambil mengusap pi pinya. "Pasta itu makanan, bentuknya ada yang panjang ka yak mi, ada yang ka yak pita. Enak sekali."

Bagas terdiam sejenak, matanya yang bulat mengerjap-ngerjap. "Ibu... Ibu sudah pernah makan itu? Apa Ayah pernah belikan Ibu pasta?"

Pertanyaan itu seperti duri kecil yang menusuk hatiku. Lima tahun menikah, Mas Abi hanya mengenalku pada nasi bungkus atau sisa makanan yang dibelikan Ibu Tejo. Jangankan pasta, makan di restoran yang ada pelayannya saja bisa membuat Mas Abi mengomel tujuh hari tujuh malam karena dianggap pemborosan, meski dia sendiri sering makan mewah dengan teman-temannya.

"Ih, Bagas... ganteng-ganteng kok kuper sih!" goda Laras sambil mencubit gemas pi pi Bagas. "Nanti Laras suapin ya? Biar Bagas tahu rasa makanan orang keren!"

Pak Rendra melirik dari spion tengah, matanya bertemu denganku dan ia tersenyum tulus. "Tenang saja, Bagas. Nanti Om pesan yang paling enak untuk Bagas dan Ibu."

Laras menyenggol lengan Bagas lagi, wajahnya penuh rahasia. "Makanya, panggil 'Papa Rendra' juga boleh kok. Biar kita jadi kakak adik beneran."

Pak Rendra terkekeh, tangannya yang memegang kemudi tampak santai. "Iya, Bagas. Om tidak keberatan kalau Bagas mau panggil ‘papa’."

Namun, di luar dugaan, reaksi Bagas justru berbalik seratus delapan puluh derajat. Senyum di wajah mungilnya luruh seketika. Matanya yang tadinya berbinar menda dak dipenuhi keta kutan yang luar biasa. Tu buhnya mulai bergetar hebat.

“Papa… papa itu ayah, ya?” Bgas bertanya tapi lebih seperti bermonolog dengan pikirannya sendiri.

"Enggak mau!" teri ak Bagas tiba-tiba. Suaranya meleng king, membelah kehangatan di dalam mobil. "Aku enggak mau Papa! Aku enggak mau Ayah!"

Aku terperanjat, segera meraih pundaknya. "Bagas, Sayang? Kenapa, Nak? Ini Om Rendra, dia baik..."

"TIDAK! PAPA ITU JAHAT! AYAH JAHAT!" Bagas mulai histeris. Ia menutup kedua telinganya dengan tangan mungilnya, air mata tumpah membasahi pi pinya yang kemerahan.
"Ayah jahatin Ibu... Ayah ben tak Ibu... Ayah pe luk tante-tante itu tapi Ayah dorong Ibu sampai jatuh! Aku ben ci Papa! Aku ben ci Ayah.”

Bersambung…
Baca selengkapnya di KBM
Judul. A nakku Disiram Kuah Panas Oleh mertuaku, Tapi Suamiku Diam Saja
Author. Ami Furqan

(3) “Indri?” panggil Rasya lembut, menyadari sahabatnya sedang berada di ambang kehancuran mental. Indri mencengkeram pi...
13/04/2026

(3) “Indri?” panggil Rasya lembut, menyadari sahabatnya sedang berada di ambang kehancuran mental.

Indri mencengkeram pinggiran kursi begitu kuat. Ketakutan itu nyata, namun amarah yang mulai membara di dadanya jauh lebih kuat. Jika kebenaran adalah sebuah pedang, maka ia harus berani menggenggamnya, meski tangannya sendiri harus berdarah.

“Baik,” ucap Indri akhirnya. Matanya yang sembab kini menatap Rasya dengan binar yang dingin dan tajam. “Kita … akan lakukan tes itu secara diam-diam. Aku akan membawakan sampelnya secepatnya.”

~*

Langkah kaki Indri terasa berat saat memasuki rumah yang selama sepuluh tahun ini ia anggap sebagai istana, namun kini terasa seperti laboratorium yang dingin. Hal pertama yang ia cari adalah Qiara. Ia butuh memeluk anaknya, butuh memastikan bahwa setidaknya kasih sayang yang ia berikan selama ini adalah nyata.

Namun, lantai dua sunyi. Kamar Qiara kosong melompong.

“Qiara tidak pulang, Bu,” lapor seorang ART saat berpapasan di tangga. “Tadi sepulang sekolah langsung dibawa Bapak ke rumah Eyang. Katanya mau menginap di sana.”

Indri terpaku. Dadanya berdenyut nyeri. Tanpa menunggu lama, ia segera menghubungi Gusti. Begitu sambungan terangkat, suaranya tak lagi bisa diajak kompromi.

“Mas, kau … di mana?”

“Aku di rumah Ibu, mengantar Qiara,” sahut Gusti di seberang sana, suaranya terdengar terlalu santai. “Katanya dia sedang ingin menginap di rumah eyangnya. Ada apa?”

“Menginap? Kenapa kau tidak bicara padaku dulu?” Suara Indri sedikit meninggi, ada nada keputusasaan yang tertahan di sana.

“Hey, tenanglah. Ada apa denganmu? Tidak biasanya kau se-reaktif ini hanya karena anak kita menginap di rumah ibuku. Apa ada masalah di kantor?”

‘Anak kita.’ Kata-kata menghantam Indri lebih dari kata-kata manapun. Indri tidak menjawab. Ia langsung memutus sambungan telepon dengan tangan gemetar. Ia berdiri di ambang pintu kamar Qiara yang berwarna merah muda, menatap boneka-boneka yang tersusun rapi.

Sebuah kesadaran pahit menghantamnya. Ingatan-ingatan lama mendadak berputar seperti film dokumenter yang menyakitkan.

“Mama, Qiara nggak mau mama jadi tua, Qiara mau mama terus muda dan menemani Qiara”

“Wanita tercantik di dunia ini hanya mama, nggak ada yang lebih cantik dari mama. Titik!”

“Qiara mau peluk mama, kalau tidur pengennya sama Mama.”

Indri terduduk di tepi ranjang anaknya. Kenangan itu membuat hatinya seperti diremas kuat. Lalu meringkuk di atas ranjang kecil itu, membenamkan wajahnya pada bantal mungil yang masih menyisakan aroma sampo stroberi milik Qiara. Setiap isakan yang keluar dari bibirnya terasa seperti duri yang merobek dada. Di kamar yang sunyi ini, kebenaran medis yang dingin itu beradu dengan kehangatan sepuluh tahun yang ia lalui bersama Qiara.

Ia teringat setiap momen saat Qiara sakit, bagaimana ia terjaga sepanjang malam hanya untuk mengompres dahi kecil itu. Ia teringat langkah pertama Qiara, kata pertama yang diucapkan bibir mungil itu, Mama. Indri mencengkeram sprei itu kuat-kuat.

"Siapa pun kau, Nak ..." bis*knya parau, suaranya pecah di tengah keheningan kamar. "Siapa pun kau, dari mana pun benih itu berasal... kau tetaplah anakku."

Pikiran tentang tes DNA yang disarankan Rasya kembali membayang. Sebuah prosedur dingin yang hanya bicara tentang angka, kromosom, dan kecocokan biologis. Indri memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mengusir bayangan hasil laboratorium yang mungkin akan menghancurkan statusnya di atas kertas.

"Aku tidak peduli," gumamnya lagi, kali ini dengan nada yang lebih keras, seolah sedang menantang takdir yang sedang mempermainkannya. "Aku tidak peduli apa hasil tes DNA itu nanti. Mau setetes pun darahku tidak mengalir di nadimu, atau jika ternyata kau adalah bukti pengkhianatan paling keji dari ayahmu... itu tidak akan mengubah apa pun."

Indri bangkit perlahan, duduk tegak di atas ranjang dengan mata yang masih sembab namun memancarkan kilat tekad yang baru. Ia mengusap air mata di pipinya dengan kasar.

"Gusti boleh mencuri hakku atas tubuhku sendiri. Dia boleh menipuku dengan prosedur medis yang menjijikkan itu. Tapi dia tidak akan pernah bisa mencuri hakku untuk menjadi …. ibumu, Qiara. Sampai kapan pun, kau adalah anakku. Bukan karena hukum, bukan karena biologi, tapi karena setiap tetes keringat dan air mata serta doaku hanya kutujukan padamu.”

Rasa pedih itu masih ada, menyiksa dan menyesakkan dada, namun kini tertutup oleh satu keyakinan yang absolut. Jika dunia menganggapnya hanya sebagai wadah atau inkubator, maka Indri akan membuktikan bahwa cinta seorang ibu jauh lebih kuat daripada sekadar ikatan sel.

Malam itu, di kamar bernuansa merah muda yang sakral, Indri bukan lagi seorang korban yang ketakutan. Ia adalah seorang ibu yang siap berperang demi melindungi satu-satunya harta yang paling nyata di hidupnya, yaitu Qiara , anaknya.

~*

Pukul sembilan malam, suara mobil Gusti terdengar memasuki garasi. Indri sudah ada di kamar utama, berbaring di tempat tidur sambil membuka sebuah novel, berusaha keras terlihat normal meski matanya tak benar-benar membaca satu kata pun.

Gusti masuk dengan wibawa yang biasa. Ia mendekat, mendaratkan ciuman singkat di pucuk kepala Indri seolah itu adalah kewajiban yang harus ditunaikan, lalu melangkah ke kamar mandi tanpa banyak bicara.

Tak lama kemudian, Gusti keluar dengan handuk tersampir di bahu. Ia melangkah menuju meja kecil, menuangkan sesuatu ke dalam gelas, lalu menyodorkannya kepada Indri.

“Minumlah, agar kau lebih tenang. Wajahmu terlihat sangat lelah hari ini,” katanya dengan nada ringan yang mematikan.

Indri menatap air di dalam gelas itu. Ia menerimanya dengan senyum tipis yang dipaksakan. Jemarinya bergetar hebat, bukan karena keletihan fis*k, melainkan karena kesadaran yang baru saja datang terlambat. Selama sepuluh tahun, setiap kali suaminya ingin “mendekat”, gelas ini selalu ada.

Setelah minum, Indri masuk ke kamar mandi. Di kamar mandi, diam diam ia memuntahkan cairan itu perlahan hingga tak bersisa. Tenggorokannya terasa perih, terbakar oleh asam lambung dan sisa minuman itu, namun kepalanya justru terasa luar biasa jernih.

Ia kembali ke ranjang, menarik selimut tinggi-tinggi. Indri mengatur napasnya, memaksanya terdengar berat dan teratur, meniru irama seseorang yang mulai kehilangan kesadaran karena pengaruh obat tidur.

Langkah kaki Gusti mendekat, terdengar berat di atas lantai kayu. Ia membungkuk, mencium leher Indri dengan lembut.

“Kau marah?” bis*knya lirih.

“Lain kali beritahu aku sebelum membawa Qiara pergi ke rumah ibu … “

“Maaf … “ sahutnya pendek.

Kemudian Gusti memeluk dan kembali menciumi wajah Indri. Indri membalas pelukannya dengan kaku, membiarkan suaminya melakukan itu. Ia tetap bertahan pada aktingnya, kemudian perlahan ia menutup matanya rapat-rapat, melemaskan tubuhnya, pura-pura tertidur. Suaminya berhenti, lalu menjauh.

Sunyi mengambil alih ruangan itu selama beberapa detik.

“Sayang, kenapa?” gumam Gusti pelan, seolah memastikan apakah obatnya sudah bekerja.

Indri tetap diam, membatu. Gusti melambaikan tangan di depan wajah Indri beberapa kali, Indri tetap diam. Sebuah suara yang belum pernah Indri dengar sebelumnya keluar dari bibir pria itu. Gusti tertawa kecil, sebuah tawa yang kering, dingin, dan benar-benar hampa dari kehangatan.

“Akhirnya… kau tidur juga,” bis*k Gusti lirih, lebih kepada dirinya sendiri. Ia memperbaiki posisi jasnya yang tersampir di kursi, lalu menatap sosok istrinya dengan pandangan yang mengerikan, sebuah tatapan yang tidak mengandung gairah, melainkan kepuasan seorang ilmuwan melihat subjek eksperimennya yang tak berdaya.

Perlahan Gusti mendekat. Dengan gerakan dingin dan metodis, ia melucuti pakaian Indri, membiarkan tubuh istrinya terekspos dalam kerapuhan yang tidak disadari. Setelah selesai melakukan ritual palsu itu, ia menyelimuti tubuh Indri seolah sedang merapikan barang pecah belah, lalu melangkah pergi ...

Selengkapnya di KBM App :

Judul : Qiara, Anak Siapa?
Penulis : Sylviana Mustofa

Hanya karena aku bayar sendiri tagihan RS untuk perawatan lengan 4nakku yang mele puh disiram kuah panas mertuaku, bukan...
11/04/2026

Hanya karena aku bayar sendiri tagihan RS untuk perawatan lengan 4nakku yang mele puh disiram kuah panas mertuaku, bukan membantu suamiku malah menu duhku mencu ri perhiasan ibunya.

AKU MEMANG YATIM PIATU, TAPI AKU BUKAN PENCURI!

#5

"Bapak! Bisa simpan HP-nya?!" tegur dokter itu dengan suara bariton yang tegas. "4nak Bapak sedang kes4kitan, kulitnya melepuh derajat dua karena cairan panas. Bukannya mendampingi, Bapak malah sibuk buat konten? Di mana empati Bapak sebagai orang tua?"

Mas Abi tersent4k, wajahnya memerah. "Saya cuma mau berbagi kabar, Dok…"

"Berbagi kabar atau cari perhatian?" po tong perawat yang sedang memba lut lu ka Bagas dengan sinis. "Baru kali ini saya lihat bapak-bapak yang a naknya lu ka bakar tapi lebih sibuk cari angle kamera. Kayak nggak niat punya 4nak saja!"

Mas Abi bungkam seribu bahasa. Dia meli rikku dengan tata pan ta jam, seolah semua penghi naan ini adalah salahku. Namun, penderi taannya belum berakhir.

Seorang bapak tua yang terbaring di bed sebelah, yang tadinya diam sambil memegang infus, tiba-tiba bersuara serak.

"Nak..." panggil bapak tua itu pada Mas Abi. "Dunia ini cuma titipan. Jangan sampai kamu sibuk mengejar bayangan di dalam kotak kecil itu, sampai kamu lupa menjaga da rah dagingmu yang nyata di depan mata. Nama baik di media sosial itu semu, tapi lu ka di hati 4nak itu abadi."

Beberapa pasien dan penunggu lain di UGD mulai berbi s*k-bi s*k, menatap Mas Abi dengan pandangan merendahkan.

Begitu dokter dan perawat keluar, Mas Abi merang sek mendekatiku. Wajahnya gelap oleh ama rah yang tertahan. "Puas kamu, Mar?! Kamu sengaja kan bikin aku ma lu di depan dokter dan pasien lain? Kamu sengaja nggak mau bantu jelasin sampai aku dipojokkan begitu?!"

Aku tidak memba las. Aku hanya menggen d**g Bagas yang sudah selesai diba lut perban, membelakangi pria yang kupanggil suami itu.

"Ternyata benar kata Ibu," de sis Mas Abi tepat di telingaku. "Kamu itu memang pembawa si al. Sejak nikah sama kamu, harga diriku jatuh terus!"

Aku tersenyum ge tir di balik ba hu Bagas. Harga diri? Dia bahkan tidak sadar bahwa har ga dirinya sudah lama hilang sejak dia membiarkan ibunya menya kiti 4naknya sendiri.

Aku melangkah menuju loket administrasi dengan langkah tegak, mengabaikan Mas Abi yang mengekor di belakangku dengan wajah ma sam. Dia pasti sedang menyiapkan kata-kata ma kian karena mengira aku akan memintanya memba yar tagi han rumah s4kit.

"Puas kamu memperma lukan aku di depan dokter tadi?" de sis Mas Abi, suaranya rendah tapi penuh keben cian. "Sekarang cepat bayar administrasinya. Pakai u ang tabu ngan yang aku kasih bulan lalu. Jangan berani-berani bilang kurang, ya! Aku tahu kamu itu boros, s**anya ngabisin du it suami buat hal nggak penting!"

Aku tidak menyahut. Aku menatap Mas Abi yang berdiri dengan angkuh, merapikan jam tangan mahalnya seolah satu juta dua ratus ri bu adalah u ang re ceh yang tak sudi dia keluarkan dari dompet kulitnya sendiri. Dia ka ya, keluarganya terpandang, tapi hatinya lebih mis kin dari penge mis di lampu merah.

"Berapa semuanya, Mbak?" tanyaku pada petugas kasir.

"Satu juta dua ratus ri bu rup iah, Bu," jawab petugas itu ramah.

Mas Abi mende ngus si nis, bersiap mengeluarkan kata-kata ta jam kalau aku mengaku tidak punya u ang. Namun, gerakannya terhenti saat aku mengeluarkan sebuah kartu A T M dari balik saku gamisku yang kotor.

Bip. Transaksi berhasil.

Aku menandatangani struk dengan tangan yang sangat tenang, sementara Mas Abi mematung. Matanya hampir keluar menatap kar tu itu.

"Kamu... kamu dapat u ang dari mana, Mar?" Suaranya berubah, ada nada panik bercampur heran yang luar biasa. "Itu kar tu apa? Sejak kapan kamu punya u ang sebanyak itu di belakangku? Kamu mencu ri perhiasan Ibu? Atau kamu menju al barang-barang di rumah?"

Bersambung...

Baca lengkapnya di KBM
Judul. A NAKKU DISIRAM KUAH PANAS OLEH MERTUAKU, TAPI SUAMIKU DIAM SAJA
Author. Ami Furqan

“Anda masih p3rawan.”Kalimat dokter menghantam kenyataan dalam hidupku. Bagaimana bisa aku masih suci, sedangkan aku sud...
11/04/2026

“Anda masih p3rawan.”

Kalimat dokter menghantam kenyataan dalam hidupku. Bagaimana bisa aku masih suci, sedangkan aku sudah menikah, pernah hamil dan melahirkan. Bahkan usia anakku sudah 10 tahunan?!

Ternyata selama ini suamiku menggunakan rahimku sebagai…

(2)

Klinik itu bersih dan sunyi. Aroma antiseptik di sini tidak menyengat seperti di rumah sakit yang Indri datangi sebelumnya; di sini, aroma itu justru terasa jujur, seolah menjanjikan kenyataan medis yang objektif tanpa bumbu kebohongan.

Saat nama “Bu Indri” dipanggil, ia merasa nama itu seperti pakaian yang tidak pas di tubuhnya. Nama yang selama ini ia banggakan sebagai identitas istri seorang pria sukses, kini terasa seperti label barang inventaris.

Pintu ruang praktik terbuka. Rasya berdiri di sana, jas putihnya kontras dengan dinding ruangan yang temaram. Kacamata bertengger di hidungnya, wajahnya telah dipahat oleh waktu menjadi lebih tegas, namun sorot matanya tetap sama, jernih dan tidak menghakimi.

“Masuk,” katanya pelan.

Begitu pintu tertutup dan kunci berputar halus, keheningan jatuh di antara mereka. Ruangan itu mendadak menjadi zona netral, tempat di mana topeng “Istri Gusti” tidak lagi diperlukan. Indri menceritakan segalanya; tentang nyeri perutnya, tentang vonis tiga dokter sebelumnya, dan tentang kegilaan yang mulai merayap di kepalanya.

“Jadi, hasil pemeriksaan mereka sama?” tanya Rasya setelah menyimak dengan saksama.

Ia duduk di balik meja, namun gesturnya tetap terbuka, memberikan ruang aman bagi Indri. Indri mengangguk, jemarinya saling bertaut erat di pangkuan, kebiasaan lama saat ia terdesak sejak SMA dulu.

“Semuanya bilang selaput daraku masih utuh. Rasya… apa ini masuk akal? Aku sudah menikah sepuluh tahun! Aku punya anak perempuan!”

Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti serpihan kaca yang tajam. Rasya tidak bereaksi secara teatrikal. Ia justru diam, mengamati Indri dengan ketelitian seorang ilmuwan yang sedang memecahkan anomali besar.

“Indri,” ucapnya perlahan, suaranya seperti sauh di tengah badai. “Coba ceritakan rumah tanggamu dari awal. Jangan takut terdengar tidak masuk akal. Tubuh tidak pernah bisa berbohong, meskipun ingatanmu dipaksa untuk melakukannya.”

Dada Indri bergetar.

“Setiap kali… setiap kali kami akan berhubungan, Mas Gusti selalu memberiku minuman. Katanya agar aku rileks karena aku terlalu sibuk bekerja. Aku selalu terbangun dengan rasa lelah, mengira semuanya sudah terjadi. Tapi sekarang aku sadar, kalau aku tidak pernah benar-benar… merasakannya.”

Rasya terdiam lama, lalu ia berdiri.

“Aku harus memastikannya sendiri, Indri. Sebagai doktermu, bukan hanya sebagai temanmu. Kau siap?”

Indri mengangguk lemah. Ia berganti pakaian dengan gown pasien di balik tirai. Saat ia berbaring di meja periksa ginekologi, lampu periksa yang terang benderang di atasnya terasa seperti interogasi. Rasya melakukan pemeriksaan dengan sangat profesional dan sangat hati-hati.

Hening yang panjang menyiksa Indri. Hingga akhirnya, Rasya melepas sarung tangan latex-nya dengan bunyi plak yang tajam. Ia membantu Indri duduk dan menunggunya berganti pakaian kembali. Di balik meja praktik, wajah Rasya kini tampak lebih tegang.

“Indri, bagaimana mungkin kau masih… secara anatomis, perawan? Apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tanggamu?” Suara Rasya bergetar oleh amarah yang tertahan untuk sahabatnya.

Air mata Indri pecah seketika. Ia menumpahkan isak tangis yang sudah ia bendung di depan tiga dokter sebelumnya. Rasya hanya terdiam, memberikan jeda, lalu mengangsurkan kotak tisu ke arahnya.

“Aku tidak tahu, Sya! Aku bingung! Aku rasanya mau gila!” Suara Indri tercekik isak tangis.

“Dengarkan aku,” Rasya memotong dengan nada rendah namun penuh penekanan. “Hasil pemeriksaanku mengonfirmasi mereka. Selaput daramu utuh, jenis yang sangat umum, namun tak tersentuh. Tapi aku juga melihat bekas luka operasi sesar di perutmu. Ini adalah sebuah kejahatan medis, Indri.”

Indri mengangkat wajahnya yang sembab, menatap Rasya dengan tatapan menuntut.

“Bagaimana bisa aku mengandung dan melahirkan jika aku masih perawan?”

Rasya terdiam sesaat, kemudian bibirnya berucap pelan. Persis seperti gumaman.

“Inseminasi buatan. Atau IVF. Itu bisa dilakukan saat kau tidak sadar,” jawab Rasya tanpa memberi ruang untuk ilusi. “Suamimu hanya menggunakan rahimmu untuk menumbuhkan anak yang mungkin bukan berasal dari sel telurmu. Jika itu benar, artinya … kau diperlakukan bukan sebagai pasangan hidup, melainkan hanya sebagai inkubator yang sah secara hukum.”

Indri membeku. Dunia seolah berhenti berputar.

“Jadi… anak yang kukandung, kulahirkan, dan kubesarkan selama ini… jika bukan anak Mas Gusti dan aku, lalu anak siapa??”

Rasya menatap sahabatnya dengan prihatin yang mendalam.

“Itu yang harus kita cari tahu. Karena jika dia sengaja menjagamu tetap ‘utuh’, itu artinya dia ingin memastikan tidak ada kontaminasi fis*k, atau mungkin … dia memang tidak pernah menginginkanmu sebagai wanita. Dia hanya menginginkan legalitasmu sebagai ibu dari anak yang dia inginkan.”

Indri mencengkeram tisu di tangannya hingga hancur.

“Jadi … dia menjadikanku alat? Dia membohongiku selama sepuluh tahun?”

“Kita akan cari tahu benih siapa yang ada di rahimmu saat itu, Indri. Aku akan membantumu.” Janji Rasya tegas. Ia mencond**gkan tubuh, menatap Indri dengan intensitas yang tak menyisakan celah untuk ragu. “Dan satu lagi, untuk memastikan dugaan ini benar serta memberikanmu senjata yang tak terbantahkan, kita harus melakukan satu hal.”

“Apa?” tanya Indri, suaranya nyaris hilang di balik kerongkongan yang kering.

“Tes DNA.”

Satu kata itu—DNA—terdengar lebih mengerikan daripada vonis perawan yang ia terima tadi. Indri terdiam seketika, udara di ruang praktik itu mendadak terasa membeku.

Ada perang besar yang berkecamuk di dalam matanya. Selama sepuluh tahun, dunianya berputar pada satu poros: anaknya. Anak perempuan yang ia timang, yang ia jaga saat demam, dan yang ia cintai dengan seluruh sisa kewarasannya.

Apakah ia siap menerima kenyataan jika ternyata anak yang pernah berdenyut di rahimnya, yang ia lahirkan dengan taruhan nyawa di atas meja operasi, dan ia besarkan dengan tetesan keringat itu ternyata bukan darah dagingnya? Bahwa ia bukan hanya dikhianati sebagai istri, tapi juga dirampok identitasnya sebagai seorang …

ibu?

Selengkapnya di KBM App :

Judul : Qiara, Anak Siapa?
Penulis : Sylviana Mustofa

Address

Medan Tenggara

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when deros0102 posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to deros0102:

Share