14/04/2026
“Anda masih p3rawan.”
Kalimat dokter menghantam kenyataan dalam hidupku. Bagaimana bisa aku masih suci, sedangkan aku sudah menikah, pernah hamil dan melahirkan. Bahkan usia anakku sudah 10 tahunan?!
Ternyata selama ini suamiku menggunakan rahimku sebagai…
(4)
Suara pintu kamar yang tertutup terdengar seperti dentuman palu hakim di telinga Indri. Indri membuka matanya di tengah kegelapan yang pekat. Seluruh tubuhnya mendadak sedingin es, gemetar oleh kemarahan yang membeku. Ia segera duduk, mengenakan kembali pakaiannya dengan gerakan cepat namun sunyi. Dengan hati-hati, ia melangkah keluar, mengikuti bayang-bayang suaminya menuju ruang kerja.
Pintu kayu jati itu tidak tertutup rapat. Hanya tersisa celah sempit, cukup untuk membiarkan pengkhianatan lolos tanpa saringan. Indri berhenti melangkah, menahan napas hingga dadanya terasa sesak. Suara Gusti terdengar dari dalam, rendah, santai, dan penuh keakraban yang tak pernah diberikan padanya.
“Mas, kau meneleponku? Apa tidak takut didengar istrimu?” Suara seorang wanita dari seberang telepon terdengar manja.
“Dia sudah tidur, seperti biasa. Besok aku akan memintanya mengurus sesuatu yang krusial untuk jabatanku, jadi malam ini aku harus sedikit ‘mengambil hatinya’,” jawab Gusti diiringi kekehan ringan.
Napas Indri tertahan. Ia merasa mual.
“Kau… tidur dengannya?” tanya wanita itu, ada nada cemburu yang disengaja.
Indri menggigit bibirnya keras-keras.
“Tenang, Sayang. Sepuluh tahun aku bisa menghindarinya, tidak mungkin aku tidur dengannya. Dia kuberi obat dosis biasa. Setelah itu kulepas pakaiannya, kubiarkan dia ‘polos di atas ranjang’. Paginya, dia pasti percaya kami sudah melakukannya. Wanita itu terlalu naif untuk meragukan suaminya.”
Dunia Indri runtuh tanpa suara. Ternyata, kelelahannya setiap pagi bukan karena gairah, melainkan karena efek obat bius dan manipulasi ps*kis yang keji.
“Syukurlah. Hari ini aku puas bermain dengan anak kita.” Suara wanita itu kembali terdengar, dan kali ini jantung Indri seperti diremas tangan tak kasatmata.
Anak kita.
“Qiara sudah sepuluh tahun, dia harus lebih dekat denganmu sebagai ibu aslinya. Besok dia tampil di sekolah. Harusnya Indri yang datang, tapi aku sengaja tidak memberi tahunya soal ini. Kau saja yang datang. Katakan pada Qiara kalau Indri sibuk, dan aku memintamu untuk menemaninya sebagai 'Ibu guru' kesayangannya.”
Indri mematung di balik pintu. Dadanya seperti dihimpit ribuan ton batu, namun matanya tetap kering. Tidak ada air mata yang jatuh. Tidak ada teriakan histeris. Yang ada hanya satu kesadaran dingin yang merayap perlahan dari ujung kepala hingga telapak kaki.
Selama sepuluh tahun, ia tidak hanya dibohongi sebagai istri. Ia dipermainkan sebagai manusia, dijadikan mesin pencuci uang reputasi, dan inkubator bagi anak wanita lain. Kebenaran itu kini berdiri nyata di hadapannya.
‘Besok… aku akan datang ke sekolah Qiara,’ tekad Indri dalam hati. Matanya yang sembab kini berkilat tajam seperti belati yang baru diasah. ‘Aku akan lihat siapa wanita itu. Akan kutunjukkan padanya, akulah yang telah memberikan nyawa, keringat, dan cinta untuk membesarkan Qiara. Aku yang lebih pantas menjadi ibunya, bukan kau yang hanya menitipkan benih di rahimku.’
Indri melangkah mundur perlahan, nyaris tanpa suara, kembali ke dalam kegelapan koridor rumahnya. Di wajahnya tidak ada lagi jejak kerapuhan. Yang tersisa hanyalah tekad yang membara di balik ketenangan yang mematikan.
~*
Pagi itu datang tanpa permisi, membawa cahaya pucat yang menyelinap masuk ke ruang makan yang res*k dan tak bernyawa. Indri bergerak mekanis, menyiapkan kopi hitam dan sarapan yang tak akan ia sentuh. Setiap pagi ia melakukan ritual ini sendirian, tanpa bantuan asisten. Baginya, menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya adalah bentuk pengabdian terakhir yang ia jaga, sebuah tanggung jawab yang kini terasa seperti ironi pahit.
Di kepala Indri, rekaman suara dari balik pintu ruang kerja semalam berputar tanpa henti, beradu dengan aroma kopi yang seharusnya menenangkan namun kini terasa memuakkan.
Gusti duduk di ujung meja, monumen keberhasilan yang dibungkus kemeja presisi dan jam tangan mewah, hadiah yang Indri pilihkan dengan ketelitian seorang profesional. Gusti adalah mahakarya yang Indri bangun dengan tangannya sendiri.
Tatapan Gusti terangkat dari tabletnya, singgah sejenak di wajah Indri. Sebuah senyum tipis, hangat di permukaan, namun sedingin es di dasarnya, terbit di bibirnya.
“Kau semalam manis sekali,” katanya ringan, seolah sedang mengomentari cuaca pagi.
Jantung Indri berdentum keras, namun ia tidak membiarkan satu otot wajah pun berkhianat. Ia mengangkat sudut bibirnya, memasang senyum tipis yang telah ia latih selama sepuluh tahun di depan cermin.
“Oh ya?” balas Indri lembut, suaranya seringan bulu. “Aku bahkan tidak ingat kita melakukannya.”
Untuk sepersekian detik, gerakan tangan Gusti yang hendak menyesap kopi terhenti. Ada kilatan kewaspadaan yang nyaris tak kasatmata di balik pupil matanya. Namun, pria itu adalah aktor watak yang lihai; ia segera menutup celah tersebut.
“Tentu saja,” katanya cepat, lalu terkekeh kecil, sebuah suara yang kini terdengar seperti gesekan pisau di telinga Indri. “Kau langsung tidur setelahnya. Kau memang selalu begitu kalau terlalu lelah, Sayang.”
Indri mengangguk pelan, seolah menelan mentah mentah kebohongan yang menjijikkan itu. Kau melepas pakaianku saat aku tak sadar, bajingan, batinnya dingin.
“Kau ke kantor jam berapa hari ini?” tanya Gusti kemudian, kembali pada nada datarnya, otoritas yang tak tergoyahkan.
“Jam sembilan,” jawab Indri singkat. Suaranya terdengar asing, seolah bukan ia yang sedang berbicara.
Gusti menyesap kopinya, menciptakan jeda dramatis yang menjadi ciri khasnya sebelum meluncurkan serangan. Ini adalah cara Gusti mendominasi ruang; sebuah teknik negosiasi yang Indri sendiri yang ajarkan dulu.
“Ada satu hal yang ingin aku bicarakan,” katanya akhirnya.
Indri duduk diam. Ia mengenakan topeng notarisnya, wajah tanpa ekspresi yang biasa ia gunakan saat menghadapi lawan bisnis paling licin sekalipun.
“Tahun depan ada restrukturisasi direksi,” lanjut Gusti, suaranya terkendali dan penuh wibawa. “Kursi Wakil Direktur akan dibuka.”
Indri tetap bergeming. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. Ambisi Gusti adalah lubang hitam yang tak pernah kenyang.
“Aku harus naik, Indri. Dan kau tahu, tanpa tanganmu, itu mustahil.”
Kalimat itu meluncur seperti perintah militer. Gusti meletakkan tabletnya, menatap Indri dengan binar obsesi yang nyaris membakar.
“Katakan saja, kau ingin aku melakukan apa?” tanya Indri lugas.
Sebuah senyum puas tersungging di sudut bibir Gusti. “Aku ingin semuanya rapi. Dokumen, legalitas, relasi. Tidak boleh ada celah. Satu kesalahan kecil saja bisa menghancurkan peluangku.”
Indri menyandarkan punggungnya, jemarinya bertautan di atas meja dengan tenang yang mematikan. “Dan kau ingin aku yang mengurus kebersihan itu.”
“Siapa lagi? Kau yang paling paham celah sistem. Kau tahu cara memastikan semua terlihat suci di atas kertas, Sayang.”
Gusti berdiri, merapikan jasnya yang tak berkerut sedikit pun. Ia melangkah mendekat, suaranya merendah, nada predator yang dibungkus kasih sayang palsu.
“Kau bukan sekadar istriku,” bis*knya tepat di telinga Indri, tangannya mengusap bahu Indri dengan posesif. “Kau fondasi karierku.”
Gusti mencium pucuk kepala Indri, sebuah kecupan yang membuat kulit kepala Indri meremang karena jijik. Tanpa menoleh lagi, tanpa bertanya soal nyeri di perut istrinya atau kelelahan yang tampak di matanya, Gusti berjalan menjauh.
“Aku mau kau fokus,” lanjut Gusti sambil merapikan dasinya di depan cermin besar. “Kurangi urusan tidak penting. Tahun ini krusial. Aku harus naik, demi keluarga kita, Sayang.”
Pintu depan tertutup dengan dentuman pelan namun final. Indri tetap terpaku di kursinya. Kopi di cangkirnya telah mendingin, menyisakan ampas hitam yang pekat, persis seperti hatinya saat ini.
Fondasi.
Ia mengulang kata itu dalam hati dengan rasa mual yang mendesak ulu hati. Penjelasan medis semalam kini menghantamnya kembali. Tidak ada hubungan suami istri selama sepuluh tahun. Tidak ada persetujuan. Tidak ada cinta. Ia mengandung tanpa pernah disentuh, melahirkan tanpa pernah dicintai, dan membesarkan anak yang diletakkan di rahimnya seolah olah ia hanyalah sebuah mesin sewa yang legal.
Indri mengangkat wajahnya, menatap pintu yang tertutup tadi. Jika Gusti ingin ia fokus pada karier sang suami, maka hari ini Indri akan memilih fokus pada musuhnya.
Hari ini Qiara tampil di sekolah. Acara yang sengaja disembunyikan Gusti darinya agar wanita itu bisa mengambil tempatnya.
Hari ini, untuk pertama kalinya, Indri akan melihat langsung wanita yang selama ini hidup sebagai bayangan, ibu biologis dari anak yang ia besarkan dengan taruhan nyawa.
Senyum tipis terbit di wajah Indri. Tenang. Terkontrol. Mematikan. Ia berdiri, merapikan pakaiannya dengan sangat teliti. Ia tidak akan datang sebagai istri yang hancur, ia akan datang sebagai pemilik sah dari segala hal yang mereka coba curi.
“Datanglah… siapapun kamu. Kita akan lihat, siapa yang akan bertahan saat fondasi ini sengaja kuruntuhkan,” ujarnya dingin.
Selengkapnya di KBM App :
Judul : Qiara, Anak Siapa?
Penulis : Sylviana Mustofa