26/12/2020
Assalamu'alaikum..
Izin share pengalaman bisnis ya mba-mba dan rekan-rekan semua.
Perkenalkan nama saya Abidatun Syaidah.
Domisili Rempung, Lombok Timur.
*Awal Mula Terjun ke Dunia Bisnis*
Ketika saya masi remaja dulu, saat-saat dimana saya di akhir tahun itu akan wisuda. Terpikir dalam hati, apa yang akan saya kerjakan setelah usai menempuh pendidikan?..
Berawal dari merasa tertarik dengan salah satu anggota keluarga yang lebih dahulu berbisnis di dunia fashion dari rumahan. Dia masi remaja, masi duduk di bangku sekolah, tapi sudah bisa mandiri mendapatkan penghasilan sendiri. Sedangkan saya, yang jauh lebih dewasa dari dia belum bisa seperti itu.
Saya baru berniat saja waktu itu, mau bertanya saja saya malu, karena saya merasa tidak enakkan juga, jangan-jangan dia merasa saya akan menyaingi bisnisnya.Dan sayapun mengurungkan niat untuk bertanya, itu pikiran saya saat itu. Walahh.. di coba saja belum, gimana mau mulai.. π
Akhirnya, selsailah saya dalam pendidikan. Pikiranpun mulai tak tenang, apa yang akan saya kerjakan? tidak mungkin hanya berdiam diri di rumah. Dengan meminta pendapat orangtua, dan terus berpikir dan penuh pertimbangan, akhirnya saya jatuhkan pilihan untuk khursus menjahit. Tiga bulan tepat dalam proses belajar menjahit, alhamdulillah saya ada ilmu dan bekal untuk terima pesanan. Setiap minggunya, ada saja yang datang untuk dijahitkan bajunya, baik dari keluarga dan teman-teman.
Berselang beberapa bulan, taqdir menunjukkan jalanNya untuk saya menikah dan membina rumah tangga. Lalu pertanyaannya, apakah saya tetap menjahit setelah menikah? Jawabannya iya, namun itu hanya beberapa bulan saja, sebelum sang buah hati hadir dalam rahim saya. Awal Januari 2016, Allah menitipkan amanahNya pada kami, otomatis sayapun berhenti total untuk menjahit. Keputusan yang saya ambil adalah tepat. Karena masa-masa ngidam yang sangat tidak memungkinkan untuk melakukan aktifitas yang full setiap hari. *Efek ngidam tidak bisa melakukan apapun. Sembilan bulan kemudian buah hati kami lahir dengan selamat dan sehat, Alhamdulillah β€οΈ
Tepat pada bulan Mei 2017, suami saya di telpon oleh salah satu saudara, memberi saran pada suami agar saya ikut jualan online, khususnya di bidang fashion. Setelah kami rembukkan bersama, dan kamipun menyepakati untuk menerima tawaran tersebut, dengan niat Bismillah.. dan mulailah saya terjun dan fokus di dunia bisnis tsb.
Menurut temen-temen, apa begitu saya jualan langsung ada yang beli?
Tentu saja tidak!
Apa begitu saya posting jualan lalu ada yang like dan koment?
Tentu juga tidak!
Semua butuh *proses* dan *adaptasi* yang baik pada teman-teman dunia maya. Mungkin kalau yang kenal dengan saya, mereka tau saya berjualan, dan belum tentu juga langsung membeli. Apalagi dengan teman-teman facebook yang lain, tentu belum tau dan buannyak yang tidak tau saya.
Akhirnya, saya mengambil cara untuk setiap status saya, saya tandai keluarga dan teman-teman saya.π
Agar apa? Agar teman yang saya tandai bisa lihat postingan dan dagangan saya. *Ini nih.. cara berjualan yang salah,π€ jangan di contoh ya Mak.
Kenapa saya bilang salah? karena, tidak semua orang nyaman dengan kehadiran postingan kita, tidak semua orang mau di galeri fotonya numpuk gambar dagangan kita, dan orang-orang yang kita tandai pada postingan kita pasti merasa risih, benar tidak?
tentu jawabannya, iya.
Kenapa? Karena saya sendiri mengalami. Saya jualan online, tiba-tiba di tandai dalam postingan dagangannya pasti merasa risih.π€¦
Dari pengalaman itu, saya langsung berhenti total menandai teman-teman pada postingan saya. Maafkan jika ada yang dahulunya selalu saya tandai ya, semoga dapat dimaklumi, karena saya masi belajar, dan belum tau ilmu dalam promosi.π
Orang yang pertama kali membeli barang yang kita jual, pasti orang-orang terdekat kita bukan? Saya yakin jawabannya iya, karena apa? karena orang-orang terdekatlah yang mengenal kita, yang tau kita seperti apa, dst. Alhamdulillah, dapat orderan pertama itu, rasanya nikmaattt banget,π terbayarkan semua capek dan kegelisahan selama proses promosi tanpa like dan komentar.π
Karena saya orangnya s**a penasaran, jadi saya tanyakan semuaaa apa yang saya belum ketahui pada suplayer saya waktu itu. Awalnya malu, karena baru kenal dan dikenalkan, tapi karena tuntutan dan kebutuhan, saya tancap gas untuk bertanya. Step by step saya belajar dan saya pelajari ilmunya, saya praktekkan dan alhamdulillah bisnis fashion yang saya jalani tetap berjalan sampai sekarang.
Kalau ada yang bertanya, Apakah pernah ada yang cancel barang setelah di pesan?
Cancel barang setelah datang?
Barang sudah datang tapi di ambilnya berbulan-bulan?
Atau barangnya sudah di terima tapi belum di bayar-bayar?
Semua dari pertanyaan itu jawabannya, Iya pernah.π
Merasa kecewa sudah pasti, karena modal mandek untuk segera putar modal. Untuk sampai terpuruk alhamdulillah tidak.
Lalu bagaimana saya menyikapinya?
Pertama, Saya hanya bisa istighfar dan bersabar.
Kedua, Saya berkata dalam hati bahwa belum rizki saya, jika rizki saya, saya yakin barang ini pasti ada yang beli.
Ketiga, Jangan lebay, alias curhat di FB kalau sedang kena php atau di cancel customer. π
Berjalan 1 tahun, saya mencoba untuk bergabung dengan bisnis lainnya, salah satunya yakni dengan PT.Natural Nusantara. Alasan saya saat itu, karena tertarik dan butuh dengan produknya.
Diizinkan suami, lalu saya segera daftar. Mungkin ada yang bertanya, bagaimana memilih upline sebelum mendaftar? Karena sebelumnya, sudah ada beberapa orang yang mengajak saya untuk bergabung, entah itu teman suami, kakak kelas dll, namun saya tolak dengan bahasa yang baik, karena memang saat itu, belum butuh, belum mengetahui produknya apa saja dan manfaatnya.
Kebetulan, ketika saya sedang scroll-scroll facebook, saya baca status teman, dan pas sekali saya sedang cari obat untuk masalah yang sedang saya alami. Lanjutlah saya inbox, tanya-tanya tentang produknya, manfaatnya, harga, dll Asyiknya lagi, saya dapat ilmu darinya, bagaimana menarik minat calon customer untuk mau bergabung menjadi resellerπ
Sebenarnya, secara tidak langsung, dari apa yang kita alami bisa dijadikan pelajaran untuk kita bagaimana bersikap pada orang lain. Misalnya, menawarkan produk, merekrut reseller, dll
Dan jawaban dari pertanyaan tadi adalah, jika kita berminat untuk bergabung pada suatu bisnis, paling tidak kita kenal baik dengan calon upline/calon suplayer/calon seller kita.π
Selang dua tahun, seiring dengan bertambahnya umur buah hati kami, saya sebagai Ibu perpikir untuk bagaimana menghadirkan mainan edukasi yang tepat untuknya. Tentunya yang mendukung tumbuh kembangnya agar menjadi anak yang tumbuh rasa ingin taunya, tumbuh rasa ingin mengaji, shalat, dll. Entah dari mainan yang bisa bernyanyi, bisa di tonton, berupa buku bacaan mungkin, buku yang bergambar, buku yang kuat tidak mudah sobek, karena usia balita mainan apapun yang diberikan pasti tidak bertahan lama.π
Karena saat itu saya butuh, Allah kasi jalanNya melalui teman saya lagi. "Ya Allah.. Kurang Baik apalagi Allah pada diriku ini, walau begitu aku s**a lalai dan larut dalam nikmat yang Kau berikan π".
Memanglah benar, "Allah akan memberikan apa yang kita Butuhkan, bukan apa yang kita Inginkan". π
Nikmat yang tiada tara, jika apa yang kita butuhkan tak lama Allah kabulkan. Maa Sya Allah.. π Karena itulah yang saya alami sendiri.
Jika ada yang bertanya, bagaimana mengatur waktu menjalankan tiga bisnis sekaligus?
Jawabannya ada di artikel selanjutnya iya.. sampai ketemu di halaman berikutnya.. π€β€οΈ
*Bisnis Bertahan sampai Saat ini*
Kegiatan apapun mari kita awali, kita mulai dengan kalimat *Bismillah*.. Berniat melakukan apapun itu untuk *Ibadah* karena Allah swt. tentunya sudah mendapatkan izin dari suami jika sudah berkeluarga dan dari orang tua jika belum menikah, dan dari orang-orang tersayang kita yakni anak-anak.
Selama menjalani bisnis yang saya tekuni sekarang ini, saya selalu belajar dari siapapun dan dari manapun. Sehingga, jika ada teman-teman yang share informasi semacam seminar, kelas training online, dst. Saya pasti ikuti, karena saya s**a belajar dan mengupgrade diri.π Tentu tidak semuanya, sekiranya bisa saya ikuti akan saya ikuti, tergantung situasi dan kondisi saat itu. Karena kita juga harus membagi waktu untuk keluarga, karena bagi saya keluarga yang utama, baru yang lainnya.
Dan untuk menjawab pertanyaan dari artikel sebelumnya, sayapun masi tetap belajar dan terus belajar, karena apa, walaupun materi manajemen waktu sudah saya terima, tapi saya masi saja lengah dan keteteran.π Contoh kecil saja, pertama kali aplikasi yang saya buka di pagi hari adalah WA, satu persatu grup saya buka, ketika ada calon Customer yang tanyakan harga barang, otomatis kita buka grup kan untuk cari harganya, nah.. belum kelar grup satunya, sudah buka grup lainnya lagi, apalagi kalau buka inbox duluan, ambyarrr.. pasti yang di pantangin WA mulu, padahal customer udah lama nunggu jawaban hargaπ€ bisa-bisa calon customernya ninggalin dan beli di lain. Nah.. kalau udah gini siapa yang salah? ya, kita sendiri.
Dari kejadian yang sering terjadi, dan pengalaman sesama teman olshop yang seperti itu, saya mulai mengontrol diri, kalau WA ya WA, kalau Inbox ya Inbox, kalau FB ya FB, jangan sampai lengah ya.. π
Menjalani tiga bisnis sekaligus itu tidak mudah, fokuskan dulu satu jika baru belajar bisnis, jika di rasa pemas**an sudah memadai, pencatatan keuangan dan pendapatan rapi, initnya tetap berjalan dan makin berkembang, dan siap memulai bisnis yang lain, maka mulaikan. Dan alhamdulillah seperti yang saya rasakan di bisnis Fashion dan Produk NASA.
Awal tahun ini, saya kembali bergabung dengan PT.Tigaraksa Tbk. Seperti yang sudah saya ceritakan di awal, yakni saya butuh produknya untuk anak saya π Semua berawal dari *Kebutuhan* dan ketertarikan saya dengan produknya.
Awal-awal bergabung saya kaku, karena grupnya tiap hari rameee... banget. Perhari saja bisa ratusan chat grupnya π±
Maa Sya Allah.. kan ndak mungkin baca atu-atu.π€ Syukurnya, tidak lama teman yang merekrut saya berhasil menjadi EPC, jadi kami buat grup tersendiri dengan teman-teman satu rekrutan dan keluar dari grup sebelumnya.
Alhamdulillah,, disana saya belajar fokus dengan produknya, pelan-pelan, menyesuaikan diri dengan manajemennya. Dan satu hal yang saya dapatkan, jika kita fokus pada satu bidang maka yakinlah kita akan mendapatkan hasil dari apa yang kita usahakan. "Karena Usaha tidak akan mengkhianati hasil".
Pencapaian dari suatu bisnis itu, tergantung bagaimana kita mengelolanya, apakah fokus, atau setengah-setengah. Dan saya berusaha untuk mencapai target lebih dari apa yang saya pikirkan. Tentunya dengan memiliki mimpi yang jelas, sebagai penguat dan penyemangat kita untuk terus bergerak maju, walaupun langkah sedikit, tapi tetap maju. Itu lebih baik daripada jalan di tempatπ
Kami mempunyai mimpi yang besar, Membahagiakan kedua orang tua kami, Lunas hutang tanpa riba, Finishing rumah, Umroh+Haji, Investasi untuk masa depan anak-anak kami. Do'akan ya mak.. semoga semua terwujudkan Aamiin.. π€²
Sekian, dan terimakasi.
Ttd.
Abidatun Syaidah
Lombok Timur, 25 Desember 2020