25/01/2018
Pada hamparan semak dan padang ilalang ditempatkan lokasi unit-unit pemukiman yang dilengkapi sebuah asrama untuk peleton pengawal, mess komandan beserta anggota stafnya, dan bangunan untuk gudang alat. Keadaan seperti itu masih bisa disebut lebih "baik" karena rombongan tapol yang dibuang setahun lebih dahulu, yang ditempatkan di Unit I Wanapura, Unit II Wanareja, dan Unit III wanayasa, benar-benar dibuang begitu saja dihamparan ilalang tanpa peneduh selembar atap pun. Mereka mendapat perlakuan yang lebih buruk daripada perlakuan terhadap barang. Harkat dan martabat mereka benar-benar direndahkan. Pada malam hari mereka berteduh di bawah naungan semak atau belukar.
Melalui sistem kerja rodi, tapol diharuskan membuka lahan pertanian. Ketika lahan belum bisa menghasilkan apa pun untuk dimakan, bahan makanan yang tersedia jauh lebih cepat habis. Hanya tiga bulan saja lamanya, jatah nasi sudah tidak bisa ditemukan lagi.
Nama resmi daerah pembuangan tapol ini adalah Tefaat Buru atau tempat Pemanfaatan Pulau Buru. Sebuah nama yang cukup jujur, sesuai dengan ungkapan keinginan si pencinta nama. Keinginan penguasa untuk memanfaatkan manusia tawanannya sebelum mencapai tujuan akhirnya, penghancuran. Pilihan nama tersebut ceroboh dan pongah. Sekaligus membuktikan rendahnya budi dan moral pihak yang menciptakannya. Dia asyik dibuai kepuasaan nafsunya sendiri, sehingga lupa istilah yang diciptakannya merupakan tindakan memanfaatkan manusia, apalagi dilengkapi dengan kerja paksa, jelas mengingkari moral manusia beradab.
Betahan Hidup di Pulau Buru lengkap dengan 75 gambar sketsa dari penulisnya, Mars Noersmono. Inilah wajah kamp konsentrasi pembuangan tapol G30S Pulau Buru
Judul: Bertahan Hidup Di Pulau Buru
Penulis: Mars Noersmono
Penerbit: Ultimus
Harga: Rp. 85.000
Pesan? Komentar, WA atau DM. Silahkan comrades