08/04/2020
Reposted from ...
Dalam hal menuntut ilmu ada hal yang patut diperhatikan agar mendapat kemanfaatan dan kebaikan ilmu yang dimiliki, yaitu diantaranya berkhidmah kepada Guru yang mengajari kita Ilmu terutama Ilmu menunjukan kita kepada Jalan Allah yang mereka adalah menjadi pewaris para nabi.
al-Imam Ali bin Hasan al-Aththas mengatakan:
"Memperoleh ilmu, futuh dan cahaya (maksudnya terbukanya hijab2 batinnya), adalah sesuai kadar adabmu bersama gurumu. Kadar besarnya gurumu di hatimu, maka demikian p**a kadar besarnya dirimu di sisi Allah tanpa ragu." (al-Manhaj as-Sawiy: 217)
al-Imam an-Nawawi ketika hendak belajar kepada gurunya, beliau selalu bersedekah di perjalanan dan berdoa, "Ya Allah, tutuplah dariku kekurangan guruku, hingga mataku tidak melihat kekurangannya dan tidak seorangpun yg menyampaikan kekurangan guruku kepadaku." (Lawaqih al-Anwaar al-Qudsiyyah: 155)
Beliau pernah mengatakan dalam kitab at-Tahdzibnya: "Durhaka kepada orang tua dosanya bisa terhapus oleh taubat, tapi durhaka kepada ustadzmu tidak ada satupun yang dapat menghapusnya."
Habib Abdullah al-Haddad mengatakan "Paling bahayanya bagi seorang murid, adalah berubahnya hati gurunya kepadanya. Seandainya seluruh wali dari timur dan barat ingin memperbaiki keadaan si murid itu, niscaya tidak akan mampu kecuali gurunya telah ridha kembali." (Adaab Suluk al-Murid: 54)
Adapun berkhidmah ada tiga macam caranya: โPertama berkhidmah bin nafs (dengan fisik atau tenaga), kedua bil-mal (dengan harta), yang terakhir yakni biddu'a (dengan doa). Selain itu ada p**a yang berkhidmat dengan tabarukan (mencari berkah). "Tabarukan dengan para ulamaโ. (Gus Qoyyum)
Dari kutipan diatas kita dapat mengambil sebuah hikmah, bahwa seorang santri tidak hanya mencari ilmu, tetapi juga harus berkhidmah kepada seorang guru. Ilmu dan khidmah merupakan dua hal yang tidak boleh dipisahkan. Keduanya memiliki hubungan yang sangat erat dan harus ada dalam diri kita sebagai santri. .asadiyah
______________________________