Marem pers

Marem pers majalah mahasiswa kediri

25/06/2014

Prahara politik '65-66 di indonesia memunculkan beberapa nama yang jaya di masa orba. Kebanyakan mereka menjadi tenar pada akhirnya. Jadi konglomerat? Tentu saja. Soeharto tentu tak heran. Namun, yang kini lebih menarik untuk ditilik adalah soemitro djojohadikusumo. Karena anaknya, prabowo subianto ikut memeriahkan gelanggang politik 2014. Namanya pun disebut dalam film " soe" sebagai orang yang juga campur tangan dalam pelengseran soekarno. Selain dia jelas masih banyak lagi. Orang-orang yang menjadi kaya dengan menjatuhkan (soekarno).

25/05/2014

KERAJAAN KEDIRI

Kerajaan Kediri adalah sebuah kerajaan besar di Jawa Timur yang berdiri pada abad ke-12. Kerajaan ini merupakan bagian dari Kerajaan Mataram Kuno. Pusat kerajaanya terletak di tepi Sungai Brantas yang pada masa itu telah menjadi jalur pelayaran yang ramai.

Berdirinya Kerajaan Kediri

Penemuan Situs Tondowongso pada awal tahun 2007, yang diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Kadiri diharapkan dapat membantu memberikan lebih banyak informasi tentang kerajaan tersebut. Beberapa arca kuno peninggalan Kerajaan Kediri. Arca yang ditemukan di desa Gayam, Kediri itu tergolong langka karena untuk pertama kalinya ditemukan patung Dewa Syiwa Catur Muka atau bermuka empat.

Pada tahun 1041 atau 963 M Raja Airlangga memerintahkan membagi kerajaan menjadi dua bagian. Pembagian kerajaan tersebut dilakukan oleh seorang Brahmana yang terkenal akan kesaktiannya yaitu Mpu Bharada. Kedua kerajaan tersebut dikenal dengan Kahuripan menjadi Jenggala (Kahuripan) dan Panjalu (Kediri) yang dibatasi oleh gunung Kawi dan sungai Brantas dikisahkan dalam prasasti Mahaksubya (1289 M), kitab Negarakertagama (1365 M), dan kitab Calon Arang (1540 M). Tujuan pembagian kerajaan menjadi dua agar tidak terjadi pertikaian.

Kerajaan Jenggala meliputi daerah Malang dan delta sungai Brantas dengan pelabuhannya Surabaya, Rembang, dan Pasuruhan, ibu kotanya Kahuripan, sedangkan Panjalu kemudian dikenal dengan nama Kediri meliputi Kediri, Madiun, dan ibu kotanya Daha. Berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan masing-masing kerajaan saling merasa berhak atas seluruh tahta Airlangga sehingga terjadilah peperangan.

Pada akhir November 1042, Airlangga terpaksa membelah wilayah kerajaannya karena kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. Putra yang bernama Sri Samarawijaya mendapatkan kerajaan barat bernama Panjalu yang berpusat di kota baru, yaitu Daha. Sedangkan putra yang bernama Mapanji Garasakan mendapatkan kerajaan timur bernama Janggala yang berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan. Panjalu dapat dikuasai Jenggala dan diabadikanlah nama Raja Mapanji Garasakan (1042 – 1052 M) dalam prasasti Malenga. Ia tetap memakai lambang Kerajaan Airlangga, yaitu Garuda Mukha.

Pada awalnya perang saudara tersebut, dimenangkan oleh Jenggala tetapi pada perkembangan selanjutnya Panjalu/Kediri yang memenangkan peperangan dan menguasai seluruh tahta Airlangga. Dengan demikian di Jawa Timur berdirilah kerajaan Kediri dimana bukti-bukti yang menjelaskan kerajaan tersebut, selain ditemukannya prasasti-prasasti juga melalui kitab-kitab sastra. Dan yang banyak menjelaskan tentang kerajaan Kediri adalah hasil karya berupa kitab sastra. Hasil karya sastra tersebut adalah kitab Kakawin Bharatayudha yang ditulis Mpu Sedah dan Mpu Panuluh yang menceritakan tentang kemenangan Kediri/Panjalu atas Jenggala.

Perkembangan Kerajaan Kediri

Dalam perkembangannya Kerajaan Kediri yang beribukota Daha tumbuh menjadi besar, sedangkan Kerajaan Jenggala semakin tenggelam. Diduga Kerajaan Jenggala ditaklukkan oleh Kediri. Akan tetapi hilangnya jejak Jenggala mungkin juga disebabkan oleh tidak adanya prasasti yang ditinggalkan atau belum ditemukannya prasasti yang ditinggalkan Kerajaan Jenggala. Kejayaan Kerajaan Kediri sempat jatuh ketika Raja Kertajaya (1185-1222) berselisih dengan golongan pendeta. Keadaan ini dimanfaatkan oleh Akuwu Tumapel Tunggul Ametung.

Namun kemudian kedudukannya direbut oleh Ken Arok. Diatas bekas Kerajaan Kediri inilah Ken Arok kemudian mendirikan Kerajaan Singasari, dan Kediri berada di bawah kekuasaan Singasari. Ketika Singasari berada di bawah pemerintahan Kertanegara (1268 – 1292), terjadilah pergolakan di dalam kerajaan. Jayakatwang, raja Kediri yang selama ini tunduk kepada Singasari bergabung dengan Bupati Sumenep (Madura) untuk menjatuhkan Kertanegara. Akhirnya pada tahun 1292 Jayakatwang berhasil mengalahkan Kertanegara dan membangun kembali kejayaan Kerajaan Kediri.

Perkembangan politik kerajaan Kediri

Mapanji Garasakan memerintah tidak lama. Ia digantikan Raja Mapanji Alanjung (1052 – 1059 M). Mapanji Alanjung kemudian diganti lagi oleh Sri Maharaja Samarotsaha. Pertempuran yang terus menerus antara Jenggala dan Panjalu menyebabkan selama 60 tahun tidak ada berita yang jelas mengenai kedua kerajaan tersebut hingga munculnya nama Raja Bameswara (1116 – 1135 M) dari Kediri.

Pada masa itu ibu kota Panjalu telah dipindahkan dari Daha ke Kediri sehingga kerajaan ini lebih dikenal dengan nama Kerajaan Kediri. Raja Bameswara menggunakan lencana kerajaan berupa tengkorak bertaring di atas bulan sabit yang biasa disebut Candrakapala. Setelah Bameswara turun takhta, ia digantikan Jayabaya yang dalam masa pemerintahannya itu berhasil mengalahkan Jenggala.

Pada tahun 1019 M Airlangga dinobatkan menjadi raja Medang Kamulan. Airlangga berusaha memulihkan kembali kewibawaan Medang Kamulan, setelah kewibawaan kerajaan berahasil dipulihkan, Airlangga memindahkan pusat pemerintahan dari Medang Kamulan ke Kahuripan. Berkat jerih payahnya , Medang Kamulan mencapai kejayaan dan kemakmuran. Menjelang akhir hayatnya , Airlangga memutuskan untuk mundur dari pemerintahan dan menjadi pertapa dengan sebutan Resi Gentayu. Airlangga meninggal pada tahun 1049 M.

Pewaris tahta kerajaan Medang Kamulan seharusnya seorang putri yaitu Sri Sanggramawijaya yang lahir dari seorang permaisuri. Namun karena memilih menjadi pertapa, tahta beralih pada putra Airlangga yang lahir dari selir. Untuk menghindari perang saudara, Medang Kamulan dibagi menjadi dua yaitu kerajaan Jenggala dengan ibu kota Kahuripan, dan kerajaan Kediri (Panjalu) dengan ibu kota Dhaha. Tetapi upaya tersebut mengalami kegagalan. Hal ini dapat terlihat hingga abad ke 12 , dimana Kediri tetap menjadi kerajaan yang subur dan makmur namun tetap tidak damai sepenuhnya dikarenakan dibayang- bayangi Jenggala yang berada dalam posisi yang lebih lemah. Hal itu menjadikan suasana gelap, penuh kemunafikan dan pembunuhan berlangsung terhadap pangeran dan raja – raja antar kedua negara. Namun perseteruan ini berakhir dengan kekalahan jenggala, kerajaan kembali dipersatukandi bawah kekuasaan Kediri.

SISTEM PEMERINTAHAN KERAJAAN KEDIRI

Sistem pemerintahan kerajaan Kediri terjadi beberapa kali pergantian kekuasaan , adapun raja – raja yang pernah berkuasa pada masa kerajaan Kediri adalah:

Shri Jayawarsa Digjaya Shastraprabhu

Jayawarsa adalah raja pertama kerajaan Kediri dengan prasastinya yang berangka tahun 1104. Ia menamakan dirinya sebagai titisan Wisnu.

Kameshwara

Raja ke dua kerajaan Kediri yang bergelar Sri Maharajarake Sirikan Shri Kameshwara Sakalabhuwanatushtikarana Sarwwaniwaryyawiryya Parakrama Digjayottunggadewa, yang lebih dikenal sebagai kameshwara I (1115 – 1130 ). Lancana kerajaanya adalah tengkorak yang bertaring disebut Candrakapala. Dalam masa pemerintahannya Mpu Darmaja telah mengubah kitab samaradana. Dalam kitab ini sang raja di puji–puji sebagai titisan dewa K**a, dan ibukotanya yang keindahannya dikagumi seluruh dunia bernama Dahana. Permaisurinya bernama Shri Kirana, yang berasal dari Janggala.

Jayabaya

Raja kediri ketiga yang bergelar Shri Maharaja Shri Kroncarryadipa Handabhuwanapalaka Parakramanindita Digjayotunggadewanama Shri Gandra. Dengan prasatinya pada tahun 1181. Raja Kediri paling terkenal adalah Prabu Jayabaya, di bawah pemerintahannya Kediri mencapai kejayaan. Keahlian sebagai pemimpin politik yang ulung Jayabaya termasyur dengan ramalannya. Ramalan–ramalan itu dikumpulkan dalam satu kitab yang berjudul jongko Joyoboyo. Dukungan spiritual dan material dari Prabu Jayabaya dan hal budaya dan kesusastraan tidak tanggung–tanggung. Sikap merakyat dan visinya yang jauh kedepan menjadikan prabu Jayabaya layak dikenang.

Prabu Sarwaswera

Sebagai raja yang taat beragama dan budaya, prabu Sarwaswera memegang teguh prinsip tat wam asi yang artinya Dikaulah itu, , dikaulah (semua) itu , semua makhluk adalah engkau . Tujuan hidup manusia menurut prabu Sarwaswera yang terakhir adalah mooksa, yaitu pemanunggalan jiwatma dengan paramatma. Jalan yang benar adalah sesuatu yang menuju kearah kesatuan , segala sesuatu yang menghalangi kesatuan adalah tidak benar.

Prabu Kroncharyadipa

Namanya yang berarti beteng kebenaran, sang prabu memang senantiasa berbuat adil pada masyarakatnya. Sebagai plemeluk agama yang taat mengendalikan diri dari pemerintahannya dengan prinsip , sad k**a murka, yakni enam macam musuh dalam diri manusia. Keenam itu adalah kroda (marah), moha (kebingungan), k**a (hawa nafsu),loba (rakus),mada (mabuk), masarya (iri hati).

Srengga Kertajaya

Srengga Kertajaya tak henti–hentinya bekerja keras demi bangsa negaranya. Masyarakat yang aman dan tentram sangat dia harapkan. Prinsip kesucian prabu Srengga menurut para dalang wayang dilukiskan oleh prapanca.

Pemerintahan Kertajaya

Raja terakhir pada masa Kediri. Kertajaya raja yang mulia serta sangat peduli dengan rakyat. Kertajaya dikenal dengan catur marganya yang berarti empat jalan yaitu darma, arta, k**a, moksa.

Kehidupan sosial masyarakat kerajaan Kediri

Kehidupan sosial masyarakat Kediri cukup baik karena kesejahteraan rakyat meningkat masyarakat hidup tenang, hal ini terlihat dari rumah-rumah rakyatnya yang baik, bersih, dan rapi, dan berlantai ubin yang berwarna kuning, dan hijau serta orang-orang Kediri telah memakai kain sampai di bawah lutut. Dengan kehidupan masyarakatnya yang aman dan damai maka seni dapat berkembang antara lain kesusastraan yang paling maju adalah seni sastra. Hal ini terlihat dari banyaknya hasil sastra yang dapat Anda ketahui sampai sekarang.

Hasil sastra tersebut, selain seperti yang telah dijelaskan pada uraian materi sebelumnya juga masih banyak kitab sastra yang lain yaitu seperti kitab Hariwangsa dan Gatotkacasraya yang ditulis Mpu Panuluh pada masa Jayabaya, kitab Simaradahana karya Mpu Darmaja, kitab Lubdaka dan Wertasancaya karya Mpu Tan Akung, kitab Kresnayana karya Mpu Triguna dan kitab Sumanasantaka karya Mpu Monaguna. Semuanya itu dihasilkan pada masa pemerintahan Kameswara.

Penemuan Situs Tondowongso pada awal tahun 2007, yang diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Kadiri diharapkan dapat membantu memberikan lebih banyak informasi tentang kerajaan tersebut. Beberapa arca kuno peninggalan Kerajaan Kediri. Arca yang ditemukan di desa Gayam, Kediri itu tergolong langka karena untuk pertama kalinya ditemukan patung Dewa Syiwa Catur Muka atau bermuka empat.

Kehidupan sosial kemasyarakatan pada zaman Kerajaan Kediri dapat kita lihat dalam kitab Ling-Wai-Tai-Ta yang disusun oleh Chou Ku-Fei pada tahun 1178 M. Kitab tersebut menyatakan bahwa masyarakat Kediri memakai kain sampai bawah lutut dan rambutnya diurai. Rumah-rumahnya rata-rata sangat bersih dan rapi. Lantainya dibuat dari ubin yang berwarna kuning dan hijau. Pemerintahannya sangat memerhatikan keadaan rakyatnya sehingga pertanian, peternakan, dan perdagangan mengalami kemajuan yang cukup pesat.

Golongan-golongan dalam masyarakat Kediri dibedakan menjadi tiga berdasarkan kedudukan dalam pemerintahan kerajaan:

1. Golongan masyarakat pusat (kerajaan),

yaitu masyarakat yang terdapat dalam lingkungan raja dan beberapa kaum kerabatnya serta kelompok pelayannya.

2. Golongan masyarakat thani (daerah),

yaitu golongan masyarakat yang terdiri atas para pejabat atau petugas pemerintahan di wilayah thani (daerah).

3. Golongan masyarakat non pemerintah,

yaitu golongan masyarakat yang tidak mempunyai kedudukan dan hubungan dengan pemerintah secara resmi atau masyarakat wiraswasta. Kediri memiliki 300 lebih pejabat yang bertugas mengurus dan mencatat semua penghasilan kerajaan. Di samping itu, ada 1.000 pegawai rendahan yang bertugas mengurusi benteng dan parit kota, perbendaharaan kerajaan, dan gedung persediaan makanan.

Kerajaan Kediri lahir dari pembagian Kerajaan Mataram oleh Raja Airlangga (1000-1049). Pemecahan ini dilakukan agar tidak terjadi perselisihan di antara anak-anak selirnya. Tidak ada bukti yang jelas bagaimana kerajaan tersebut dipecah dan menjadi beberapa bagian. Dalam babad disebutkan bahwa kerajaan dibagi empat atau lima bagian. Tetapi dalam perkembangannya hanya dua kerajaan yang sering disebut, yaitu Kediri (Pangjalu) dan Jenggala. Samarawijaya sebagai pewaris sah kerajaan mendapat ibukota lama, yaitu Dahanaputra, dan nama kerajaannya diubah menjadi Pangjalu atau dikenal juga sebagai Kerajaan Kediri.

Kondisi Ekonomi pada Jaman Kerajaan Kadiri

Perekonomian Kediri bersumber atas usaha perdagangan, peternakan, dan pertanian. Kediri terkenal sebagai penghasil beras, kapas dan ulat sutra. Dengan demikian dipandang dari aspek ekonomi, kerajaan Kediri cukup makmur. Hal ini terlihat dari kemampuan kerajaan memberikan penghasilan tetap kepada para pegawainya dibayar dengan hasil bumi. Keterangan ini diperoleh berdasarkan kitab Chi-Fan-Chi dan kitab Ling-wai-tai-ta.

Karya Sastra dan Prasasti pada Jaman Kerajaan Kadiri

Prasasti pada Jaman Kerajaan Kadiri diantaranya yaitu:

a. Prasasti Banjaran yang berangka tahun 1052 M menjelaskan kemenangan Panjalu atau Kadiri atas Jenggala

b. Prasasti Hantang tahun 1135 atau 1052 M menjelaskan Panjalu atau Kadiri pada masa Raja Jayabaya.Pada prasasti ini terdapat semboyan Panjalu Jayati yang artinya Kadiri Menang.Prasasti ini di keluarkan sebagai piagam pengesahan anugerah untuk penduduk Desa Ngantang yang setia pada Kadiri selama perang dengan Jenggala.Dan dari Prasasti tersebut dapat di ketahui kalau Raja Jayabhaya adalah raja yang berhasil mengalahkan Janggala dan mempersatukannya kembali dengan Kadiri.

Prasasti Jepun 1144 M

Prasasti Talan 1136 M Seni sastra juga mendapat banyak perhatian pada zaman Kerajaan Kadiri. Pada tahun 1157 Kakawin Bharatayuddha ditulis oleh Mpu Sedah dan diselesaikan Mpu Panuluh. Kitab ini bersumber dari Mahabharata yang berisi kemenangan Pandawa atas Korawa, sebagai kiasan,kemenangan.

Seni sastra mendapat banyak perhatian pada zaman Kerajaan Panjalu-Kadiri. Pada tahun 1157 Kakawin Bharatayuddha ditulis oleh Mpu Sedah dan diselesaikan Mpu Panuluh. Kitab ini bersumber dari Mahabharata yang berisi kemenangan Pandawa atas Korawa, sebagai kiasan kemenangan Sri Jayabhaya atas Janggala.

Selain itu, Mpu Panuluh juga menulis Kakawin Hariwangsa dan Ghatotkachasraya. Terdapat p**a pujangga zaman pemerintahan Sri Kameswara bernama Mpu Dharmaja yang menulis Kakawin Smaradahana. Kemudian pada zaman pemerintahan Kertajaya terdapat pujangga bernama Mpu Monaguna yang menulis Sumanasantaka dan Mpu Triguna yang menulis Kresnayana.

Di samping kitab sastra maupun prasasti tersebut di atas, juga ditemukan berita Cina yang banyak memberikan gambaran tentang kehidupan masyarakat dan pemerintahan Kediri yang tidak ditemukan dari sumber yang lain. Berita Cina tersebut disusun melalui kitab yang berjudul Ling-mai-tai-ta yang ditulis oleh Cho-ku-Fei tahun 1178 M dan kitab Chu-Fan-Chi yang ditulis oleh Chau-Ju-Kua tahun 1225 M. Dengan demikian melalui prasasti, kitab sastra maupun kitab yang ditulis orang-orang Cina tersebut perkembangan Kediri.

Runtuhnya Kediri

Runtuhnya kerajaan Kediri dikarenakan pada masa pemerintahan Kertajaya , terjadi pertentangan dengan kaum Brahmana. Mereka menggangap Kertajaya telah melanggar agama dan memaksa meyembahnya sebagai dewa. Kemudian kaum Brahmana meminta perlindungan Ken Arok , akuwu Tumapel. Perseteruan memuncak menjadi pertempuran di desa Ganter, pada tahun 1222 M. Dalam pertempuarn itu Ken Arok dapat mengalahkan Kertajaya, pada masa itu menandai berakhirnya kerajaan Kediri.

Setelah berhasil mengalah kan Kertanegara, Kerajaan Kediri bangkit kembali di bawah pemerintahan Jayakatwang. Salah seorang pemimpin pasukan Singasari, Raden Wijaya, berhasil meloloskan diri ke Madura. Karena perilakunya yang baik, Jayakatwang memperbolehkan Raden Wijaya untuk membuka Hutan Tarik sebagai daerah tempat tinggalnya. Pada tahun 1293, datang tentara Mongol yang dikirim oleh Kaisar Kubilai Khan untuk membalas dendam terhadap Kertanegara. Keadaan ini dimanfaatkan Raden Wijaya untuk menyerang Jayakatwang. Ia bekerjasama dengan tentara Mongol dan pasukan Madura di bawah pimpinan Arya Wiraraja untuk menggempur Kediri. Dalam perang tersebut pasukan Jayakatwang mudah dikalahkan. Setelah itu tidak ada lagi berita tentang Kerajaan Kediri.

Massa gabungan dari sejumlah elemen mahasiswa di Kediri, Jawa Timur, menuntut pemberian beasiswa bagi anak buruh saat me...
25/05/2014

Massa gabungan dari sejumlah elemen mahasiswa di Kediri, Jawa Timur, menuntut pemberian beasiswa bagi anak buruh saat menggelar aksi memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), 2 Mei.

"Bukan hanya wajib belajar 12 tahun, tapi juga adanya beasiswa yang diberikan perusahaan yang ada di kediri kepada para buruh dan anak buruh," kata faiz nur, salah seorang perwakilan mahasiswa saat dialog dengan anggota DPRD Kota Kediri di kantor legislatif setempat, Jumat (2/5).

Pihaknya mengatakan buruh merupakan salah satu elemen terbesar di Indonesia. Jika buruh sejahtera, rakyat di Indonesia juga akan lebih baik. "Untuk itu, pendidikan merupakan sarana yang terbaik demi meningkatkan masa depan mereka," ujarnya.

Terlebih lagi, banyak perusahaan di Indonesia, dalam pemberian "corporate social responsibility" pun selama ini banyak yang masih dialokasikan untuk lingkungan.

Di Kediri, kata dia, pemerintah pun dinilai belum bijak, karena terlihat alokasi dana pendidikan yang kurang dari 20 persen. Bahkan, dengan kebijakan itu, pemerintah telah menyimpang dari aturan, UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).

Pihaknya juga berjanji akan mengawal terus tuntutan tersebut, sebab pendidikan merupakan hak rakyat yang paling dasar. Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan yang layak.

Mahasiswa ditemui sejumlah anggota legislatif di Kota Kediri. Para legislatif itu berjanji menampung dan akan menyuarakan aspirasi dari mahasiswa tersebut.

"Akan kami usahakan dan membawa aspirasi masyarakat ini. Namun, masalah anggaran itu adalah kebijakan eksekutif," kata anggota Komisi C DPRD Kota Kediri Kholifi Yunon.

Ia menyebut anggaran pendidikan di Kediri pada 2014 ini sudah lebih baik, bahkan sampai 31 persen, atau sekitar Rp2 miliar. Dana itu belum dengan dana sertifikasi para guru serta dana rehabilitasi dampak erupsi Gunung Kelud (1.731 mdpl) pada 13 Februari 2014.

Pihaknya juga berjanji segera membicarakan tentang "Corporate social responsibility" yang diambilkan dari perusahaan. Selama ini, program CSR banyak dialokasikan untuk lingkungan, dan ke depan diharapkan bisa untuk beasiswa anak dari buruh atau pun untuk buruh demi peningkatan kapasitas SDM.

Namun, ia mengatakan selama ini sebenarnya banyak program beasiswa seperti bantuan khusus siswa miskin (BKSM) ataupun bantuan operasional sekolah daerah (Bosda), serta program beasiswa lainnya.

Massa sempat emosi saat unjuk rasa dengan berusaha mendobrak pintu pagar di depan kantor DPRD Kota Kediri, tapi akhirnya saat sejumlah perwakilan mahasiswa keluar dari dalam gedung legislatif, massa yang semula sempat tersulut emosi kembali tenang.

Massa akhirnya meninggalkan kantor DPRD Kota Kediri, namun mereka berjanji akan unjuk rasa kembali dengan jumlah massa yang lebih banyak jika tuntutan mereka tidak segera dipenuhi.

Aksi itu juga mendapatkan kawalan yang cukup ketat dari Polres Kediri Kota. Mereka mengawal aksi mahasiswa. Jalur di depan kantor legislatif di Jalan Mayor Bismo, Kota Kediri itu juga sempat macet karena aksi tersebut. Tapi, arus lalu lintas kembali lancar, setelah mahasiswa membubarkan diri. - fr

25/05/2014

Ketua DEMA pun Diminta Angkat Kaki

STAIN Kediri - (17/05) Udara ruang rektorat lantai 4 menjadi sangat pengap. Ruang ber-AC itu dipenuhi asap rokok mengepul dari mulut mayoritas peserta sidang. Lantai juga menjadi sangat kotor akibat sampah yang berserakan, mulai sampah kotak snack sampai sampai sampah kopi yang tumpah. Namun keadaan ini tidak mempengaruhi perdebatan dalam ruangan sidang. Tidak ketinggalan, panitia pun ikut angkat bicara sampai-sampai Ketua DEMA STAIN Kediri diminta angkat kaki oleh panitia.
Sidang Umum Dewan Mahasiswa diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa pada tanggal 17-18 Mei 2014. Sidang yang dijadwalkan pukul 13.00 WIB molor hingga 2 jam. Itu artinya sangat mungkin juga berakhir molor. Hal ini jelas sudah diantisipasi panitia dengan tidak menentukan pukul berakhir sidang pada surat edaran.
Layaknya pada sebuah sidang, terjadi saling lempar pendapat antara peserta sidang. Perdebatan yang muncul salah satunya adalah tentang peserta sidang. Terdapat dikotomi antara peserta pasif dan aktif. Peserta pasif maksudnya ialah peserta yang memiliki hak bicara tapi tidak memiliki hak suara. Sedangkan peserta aktif ialah yang memilki hak bicara dan suara. Seperti yang dikatakan salah satu panitia Sidang umum Faiz Nur “peserta pasif adalah yang hanya punya hak bicara, sedang aktif yang memilki hak bicara dan suara”.
Inilah yang menjadi bahan perdebatan. Sampai-sampai sidang harus dipending, tepat pada pukul 16.41 WIB sampai 18.30 WIB. Peserta pun membubarkan diri sambil menenteng nasi bungkus yang dibagikan panitia.

Panitia VS Ketua DEMA
“Kalau Anda tidak sepakat dengan aturan ini, maka Saya persilahkan Anda Untuk angkat kaki dari forum ini”, begitulah kalimat yang dilontarkan Fais – salah satu panitia – kepada Ketua DEMA Pusat di sela-sela sidang menjelang pending.
Hal ini adalah salah satu buntut perdebatan tentang peserta pasif dan aktif yang berimbas pada panitia . Panitia diminta untuk menjelaskan tentang dikotomi ini. Fais Nur selaku panitia menjelaskan bahwa pada mulanya terjadi perbedaan edaran yang dikeluarkan Senat Mahasiswa (SEMA) dan panitia.
Fais mengaku tidak tahu menahu tentang undangan yang diedarkan SEMA. Maka, panitia menafsirkan bahwa undangan yang ditujukan oleh SEMA adalah peninjau alias peserta pasif. Sedangkan yang dimaksud peserta aktif adalah Konsulat Mahasiswa (KOSMA) yang terdiri dari SEMA, utusan per-angkatan yang ditentukan oleh DEMA, dan delegasi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
Penjelasan Mahasiswa Komunikasi Islam ini ditanggapi spontan oleh Ketua DEMA Pusat, Uswatun Hasanah. Ketua DEMA yang biasa Uswa ini tidak terima. Ia mengganggap dirinya sebagai Ketua DEMA Pusat adalah peserta aktif. Maka, terjadilah perdebatan alot antara Fais dan Uswah.
Alih-alih ingin menjadi peserta aktif, maka Uswah meminta penjelasan tentang tata cara menjadi peserta akif. Namun, Fais menegaskan bahwa tidak ada aturan tentang itu. Peserta pasif tetaplah peserta pasif. Hingga keluarlah statemen Faiz mempersilahkan Uswah untuk keluar dari forum sidang. Dan perdebatanpun usai./KU/

Address

Kediri
64294

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Marem pers posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category