20/07/2023
"Merdeka tapi terjajah"
Kita merdeka tapi sebenarnya belum merdeka, dulu penjajah datang dengan membawa bala tentara dan mengambil hasil alam bumi Nusantara dibawa keluar dan menghasilkan devisa yang besar buat perusahaan dan juga negara penjajah.
Hari ini, kita memang betul sudah bisa hidup lebih baik, lebih layak, lebih aman dari penindasan, lebih berdaulat secara Bangsa dan Negara, beribadahpun bisa lebih bebas. Tapi juga tidak menafikan sebuah kenyataan dimana di sekitar kita masi banyak warga yang tidak mampu makan, tidak mampu berobat, menyekolahkan anaknya, membiayai pendidikan anak di pesantren, masi banyak yang tinggal di hunian yang sangat tidak layak, bahkan masi banyak sekali yang jadi buruh dengan penghasilan dan kesejahteraan yang rendah, masi banyak yang kesulitan akses permodalan untuk usaha, yang lumayan mengkhawatirkan adalah degradasi moral akibat menjamurnya pabrik-pabrik milik asing di sekitar kita.
Saat dulu yang kita hadapi kolonialisme kedaulatan negara, ekonomi, agama dan lain-lain, kita bisa bersatu melawan dan mengusir penjajah. Tapi ketika yang kita hadapai adalah kolonialisme ekonomi oleh konglomerat baik lokal maupun internasional, kita tidak bisa berkutik apa-apa, karena menyatu dengan kita, ada di sekitar kita dan kita membutuhkannya bahkan kita dibuat klepek-klepek jika tidak membersaminya. Padahal dampaknya juga kepada sendi-sendi kehidupan kita baik dari segi budaya, agama, sosial dan lainnya.
Bagaimana tidak sama hukumnya, saat ini hampir semua kebutuhan sehari-hari kita, dari hulu (lahan, material mentah) sampai hilir (bahan jadi, chanel distribusi) dikuasai oleh segelintir orang yang ketika melihat keuntungan ya sama dengan kolonialisme pra kemerdekaan, masyarakat hanyalah objek dan mereka adalah subjek, subjek sangat berkuasa dalam menghasilkan laba sebesar besarnya dan tidak peduli dengan kondisi masyarakat pada umumnya, bahkan pada kenyataan yang sudah disinggung sebelumnya.
Pemerintah yang berlandaskan Pancasila, Bineka Tunggal Eka, UUD 45 dan Demokarasi, ternyata hanyalah menjadi wasit dan penonton serta penikmat yang juga belum mampu merubah alur tersebut. Memang banyak sekali manfaat yang diberikan oleh sistem kenegaraan kita saat ini dengan berbagai cerita pilunya layaknya negara anta berantah. Jika negara mampu merubah alur keseimbangan antara subjek dan objek tidak terlalu terjal mungkin akan berbeda kondisinya, melalui kebijakan corporate social responsibility (CSR) ternyata hanya kamuflase belaka, bahkan negara hadir dan berdaulat sebagian besar dari pendapatan rakyatnya "pajak".
Mungkinkan rakyat bersatu seperti dulu saat melawan penjajah, bersatu merubah alur pemenuhan kebutuhan sehari-hari atau hukum pasar, yang saat ini hanyalah sebagai objek sekarang berjamaah menjadi subjek ?
Jawabannya ada dibenak dan pemikiran masing-masing pembaca tercinta.
Gambar hanyalah ilustrasi