13/06/2016
PANTAHKAH KITA BERSOMBONG DIRI??
Di sebuah pesantren, seorang Ustadz memiliki burung Beo yg terlatih untuk berdzikir seperti :
Assalamu'alaikum ,
Subhanallah,
Alhamdulillah,
Allahu Akbar,
Laa illa haillallah...
Suatu hari, pintu kurungan terbuka & burung itu terbang bebas. Sontak para santri mengejar burung milik guru mereka, sementara si burung terbang tidak terkontrol dan tertabrak kendaraan yang melintas dengan kencang hingga terkapar sekarat lalu mati.
Sang Ustadz terlihat berbeda usai burungnya mati, nampak sekali sedih hingga seminggu lamanya.
Para santri yang melihatnya pun mengira Ustadz nya bersedih karena burungnya mati, mereka berkata:
"Ustadz, jika hanya burung yang membuat ustadz sedih, kami sanggup menggantinya dengan burung yang sejenis dan bisa berdzikir juga. Janganlah ustadz bermurung hingga sedemikian lamanya!"
Sang Ustadz menjawab: " Sesungguhnya aku bukan bersedih karena burung itu."
Para Santri: "Lantas kenapa ustadz?"
Sang Ustadz berkata :
"Kalian melihat bagaimana burung itu sekarat setelah tertabrak?"
Para Santri: "Ya, kami melihatnya."
Sang Ustadz melanjutkan :
"Burung itu hanya bersuara KKKKAAKK, KKKKHHEEK, KKKKAAKK, KKKKHHEEK....padahal sudah ku latih berdzikir sedemikian rupa, namun saat merasakan PERIHNYA SAKaRATUL MAUT menjemput, ia hanya merasakan perihnya".
"Lalu aku teringat diriku, yang setiap hari terbiasa berdzikir, ba'da sholat bertafakur dan kugeluti al-Qur'an dan Haditsnya,....
JANGAN2 NASIBKU SAMA SEPERTI BURUNG ITU, TAK KUAT MENAHAN SAKRATUL MAUT..... LALU BUKAN DZIKIR YANG KUUCAPKAN. AKU TAKUT DZIKIR YANG TERUCAP HANYA DIMULUT SAJA BUKAN DARI HATI...
" Wahai para santriku.... Padahal burung itu tidak diganggu setan saat sakaratul maut, sedangkan manusia diganggu setan saat sakaratul maut. Tidak ada yang tahu bagaimana keadaan kita mati, khusnul khotimah ataukah su'ul khotimah?"
Para Santri pun terdiam dan membenarkan Sang Ustadz dan mereka pun ikut murung memikir kan hal yg serupa dengan Ustadz-nya, bagaimana keadaan mereka saat menjemput sakaratul maut? dan bagaimana p**a dengan aku?
AJAL tidak akan pernah menunggu kita bertaubat, Justru kitalah yang seharusnya senantiasa menunggu AJAL sambil terus bertaubat.