11/03/2021
Antara Larangan Mubadzir dan Keseimbangan Ekosistem (2)
Poppy Yuditya
Pelajaran yang menarik dari hasil analisa artikel mengenai tikus di pekan sebelumnya adalah:
1. Jangan sepelekan perintah dan larangan Allah "sekecil" apapun itu. Bisa jadi akal dan pemikiran kita saja yang belum dapat mencerna dan juga menemukan bukti science atas perintah dan larangan Allah.
Al-Imam Al-Barbahari rahimahullah berkata:
"Agama ini datang dari Allah tabaraka wa ta'ala, bukan dari akal dan pendapat manusia. Ilmunya dari sisi Allah melalui Rasul-Nya, maka janganlah engkau mengikuti agama dengan hawa nafsumu yang menyebabkanmu terpisah dari agama hingga engkau keluar darinya. Tidak ada dalil bagimu untuk menolak syariat dengan akal atau hawa nafsu karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan agama ini (As Sunnah) kepada para shahabat. Para shahabat adalah Al-Jama'ah dan Sawadul A'zham. As-Sawadul A'zham kebenaran dan orang yang berpegang dengannya." (Syarhus Sunnah)
2. PR kita sebagai umat Islam memang masih banyak sekali, membuktikan ibrah dari perintah dan larangan Allah untuk kebaikan kehidupan sehari-hari secara khusus dan keseimbangan ekosistem secara umum. Jadikanlah perintah dan larangan dalam Al Quran menjadi bahan pemikiran, bahan penelitian untuk memperkaya ilmu yang kita miliki sehingga membuat kita makin mendekat kepada Allah.
Allah Subhana wa ta'ala berfirman:
"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?" (QS. Fushshilat: 53)
3. Janganlah kita termasuk orang-orang yang merasa "sudah sangat" cerdas secara pemikiran hingga memiliki pemikiran seperti ini: "Bila tidak ada data empiris atau science yang membuktikan ayat-ayat Allah, maka tidak perlu dilakukan". Ini jelas pemikiran yang terbalik. Hati-hati dengan pemikiran ini, nanti kita sendiri yang rugi.
"Sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu- Nya." (QS. Thaaha: 110)
4. Biasakan akhlak Al Quran dalam kehidupan sehari-hari, sekecil apapun itu. Tidak membuang-buang dan menyisakan makanan, menggunakan tangan kanan untuk makan dan minum, makan dan minum tidak dalam keadaan berdiri, tidur miring ke kanan, dan masih banyak lainnya. Banyak dari rutinitas kecil kita itu yang memang sudah terbukti secara ilmiah menyehatkan dan bisa jadi membawa keuntungan yang massive (jauh lebih besar) dari sekadar untuk diri kita sendiri, hanya mungkin belum kita temukan saja.
Terakhir, tulisan ini ditutup dengan nasihat dari Abdul Muzhaffar As-Sam'ani ketika menerangkan akidah Ahlus Sunnah, berkata,
"Adapun para pengikut kebenaran, mereka menjadikan Kitab dan Sunnah sebagai panutan dan mencari agama dari keduanya. Apa yang terbetik dalam akal dan benak, mereka hadapkan kepada Al-Kitab dan As-Sunnah. Kalau mereka dapati sesuai dengan keduanya maka terima dan bersyukur kepada Allah dimana Allah perlihatkan hal itu dan memberi mereka taufik-Nya. Tapi kalau mereka dapati tidak sesuai dengan keduanya maka mereka meninggalkannya dan mengambil Al-Kitab dan As-Sunnah lalu menuduh akal mereka. Sesungguhnya keduanya (Al-Kitab dan As-Sunnah) tidak akan menunjukkan kecuali kepada yang benar sedang pendapat manusia kadang benar dan kadang salah."
Allahu a'lam bish-shawab.
Catatan Hati Ibu