08/03/2019
Tulisan inspiratif tentang anak yg berjuang dg disleksia (gangguan yg menyebabkan anak kesulitan membaca).
PERHATIAN MEMILIKI KEKUATAN UNTUK MENYEMBUHKAN"
Mak, pernahkah kau bayangkan ada anak yang menganggap huruf-huruf saling menari satu sama lain?
Mak, pernahkah kau mengira ada anak yang melihat huruf-huruf saling terbalik? Sehingga ia tak tahu bagaimana huruf-huruf itu dibunyikan ketika bertemu.
Padahal ia tahu bermacam warna, mampu menggambar dengan baik.
Padahal anak seusianya (8-9 thn) normalnya sudah lancar membaca.
Baginya? Membaca seperti memasuki labirin menyeramkan yg tak pernah berakhir. Melelahkan, menakutkan.
Ada, Mak. Ada anak seperti itu. Terwakilkan dalam sebuah film lama: Taare Zameen Par (Desember 2017). Terdengar familiar? Ini film memang banyak the best-nya. Dulu, sudah nonton. Minggu ini kepikiran nonton lagi, bahkan sampai dua kali.
Adalah Ishaan, merupakan siswa kelas 3 yang 'payah' dalam urusan apapun di sekolahnya. Itu karena dia tidak bisa membaca dan menulis. Dia selalu melihat dunia dengan imajinasinya. Setiap pelajaran mendapat nilai jelek, yang membuat guru-gurunya geram. Terlebih lagi dia sering membolos sekolah. Ishaan dicap sebagai anak pemalas, nakal, dan idiot. (Wikipedia)
Orangtua Ishaan pun stress menghadapi anaknya, hingga akhirnya memindahkannya ke sekolah berasrama. Berharap sekolah yg lebih disiplin mampu mengubah sang anak jadi lebih baik. Tapi apakah Ishaan berubah sesuai kehendak orangtuanya? Tidak, Mak. Ishaan justru makin depresi. Ia merasa dicampakkan. Bahkan ia tak mau lagi melakukan hal yang dis**ainya. Melukis. Ishaan berhenti melukis sama sekali dan jadi anak pendiam, menarik diri dari pergaulan.
Syukurlah, kemudian ada guru baru yang menemukan keganjilan dalam diri Ishaan. Keganjilan yang mengingatkannya dg masa kecilnya. Dari sang guru muda yg diperankan babang Aamir Khan ini kemudian diketahui ternyata Ishaan menderita DISLEKSIA (gangguan baca tulis pada usia 7-8 thn) *lebih lanjut silakan gugling.
Selain menerapkan cara-cara berbeda dalam mengatasi disleksia Ishaan, sang guru memberikan perhatian penuh pada Ishaan. Perhatian: kasih sayang, bukan celaan seperti yg selama ini dia terima. Ishaan, perlahan bangkit dari keterpurukan dan mulai menunjukkan kemajuan.
"Perhatian memiliki kekuatan untuk menyembuhkan, seperti salep untuk nyeri. Anak-anak membutuhkannya."
"Pelukan ... ciuman penuh cinta, sekarang dan seterusnya, untuk menunjukkan bahwa Anda peduli."
"Katakan ... Nak, aku mencintaimu."
"Jika ada yang membuatmu takut, datanglah padaku."
"Bagaimana jika engkau terjatuh?
Jangan khawatir, aku ada untukmu, Nak."
Jaminan.
Perhatian.
Itu adalah kalimat-kalimat sang guru pada Ayah Ishaan yg akhirnya terdiam ... yg sebelumnya tak jua kunjung sadar, masih egois, malu, tidak melek dengan penderitaan sang anak. Padahal hal terbesar yg dibutuhkan oleh anak adalah PERHATIAN dalam bentuk kasih sayang, bukan materi.
Mak, Pak, terlepas anak-anak kita mengalami hal seperti Ishaan atau tidak, mari ... jangan berhenti memberikan perhatian penuh, sungguh-sungguh, dalam tumbuh kembangnya. Stop kata-kata buruk yang mengerdilkan kepercayaan diri anak-anak.
Dalam film ini, sang guru mengutip sebuah kisah lain, tentang Pulan Solomon/Saloma. Konon kabarnya, di Kep**auan Solomon, ketika penduduk ingin membuka lahan baru, mereka tidak perlu menebangi pohon-pohon besar agar tumbang. Cukup dengan bersama-sama melingkari pohon yang dimaksud dan kemudian mengeluarkan kata-kata buruk pada si pohon. Memaki, mengumpat, menghardik ... katakan semua kata-kata negatif pada si pohon. Maka, beberapa hari kemudian si pohon akan layu, lalu mati dengan sendirinya.
Begitu dahsyatnya pengaruh kata-kata buruk pada si pohon.
Bagaimana jika kata-kata buruk itu setiap hari diterima oleh anak kita?
Sungguh, menjadi orangtua tidak pernah mudah. Andai kita pernah, sedang, terlanjur menjadi orangtua, lingkungan seperti yg diterima Ishaan ... mari, sekarang waktunya berubah ๐.
, 3 Maret 2019
*ada yg gagal fokus sama babang Aamir Khan? ๐