24/02/2023
Semasa hidup memberi manfaat, setelah mati juga memberi manfaat.
🍀🍀🍀🍀
Teman saya ini meninggal sebelum sidang skripsi. Kulitnya putih bening tanpa bulu. Warna uratnya terlihat walau tidak menonjol di atas kulit.
Abdullah adalah nama hijrahnya. Saking menyatunya nama tersebut, kami semua (teman-temannya) hingga hari ini lupa nama aslinya.
Saat murajaah hafalan, saya sering terkesima melihat urat di tangannya. Terlihat jelas warna keunguan. Begitu p**a urat-urat di wajahnya.
Kami mengetahui dirinya anak seorang pejabat justru saat mengantar jenazahnya di sebuah kabupaten. Pejabat plus pengusaha dengan lahan sawit pribadi 1000 hektar lebih (Sudah kaya raya sebelum menjadi pejabat).
Kehidupannya seperti kami, ke kampus jalan kaki sejauh 1km lebih, ke rental komputer bersama, naik angkot atau bis kampus jika ke kota.
Sebuah kebiasaan kami, jika hendak tidur mencatat hutang-piutang atau wasiat. Catatan di kertas itu akan direvisi seminggu sekali. Berhubung saya yang paling tua di kost, maka saya yang pegang semua kertas teman-teman.
Abdullah ini manusia sangat spesial. Tiga tahun bersama, belum pernah sekalipun saya melihatnya marah meski kadang ada teman yang menghabiskan nasi (tidak memasak kembali) dan dia belum makan.
Jika melihat periuk kosong, dia berucap: "masyaallah ... habis nasinya, ya?"
Dia masak lagi, kadang nasi yang belum tanak langsung dimakan karena harus kembali ke kampus.
Sebenarnya dia lolos sebuah cabang olimpiade dan akan melanjutkan seleksi tingkat nasional di Jakarta, tapi tidak diikutinya. Alasannya, "saya baru belajar mengenal Allah, maka harus ada yang dikorbankan."
Semasa hidup memberi manfaat, setelah mati juga memberi manfaat.
Sejujurnya, ada empat mahasiswa yang dia bantu, selain uang sewa kost, juga biaya pendidikan. Jika kami tanya, dia dapat uang dari mana (karena penampilannya sama seperti kami), jawabannya sama. "Dari Allah."
Bawaannya ceria selalu meski baru p**ang kuliah dengan keringat yang bercucuran. Jika membeli makanan selalu menghitung jumlah teman di kost. Jika uangnya tidak cukup, ia tetap membagi makanan yang dibeli. Jika roti, maka dipotong-potong agar semua bisa mencicip. Kami tidak bisa menolak, karena bahasanya sangat lembut seperti seorang Abang kepada adiknya. Seperti seorang ibu pada anaknya.
Jika hendak makan keluar, dua teman kost diajak secara bergantian.
Setelah hari ketujuh beliau meninggal (ya Allah, jika ingat wajahnya mau nangis terus), saya membuka catatan miliknya sebelum tidur.
Ternyata, sebelum meninggal, dia sudah membayar uang kost untuk tiga tahun dan siapa saja boleh tinggal di kost bagi mahasiswa yang butuh. Kost kami ada enam kamar.
Yang paling mengejutkan, ternyata beliau ada mobil hadiah yang belum diambil (dari sebuah bank/undian), Abdullah meminta agar mobil itu dijual dan uangnya disedekahkan seperempat untuk teman dan adik-adik mahasiswa yang membutuhkan, seperempat untuk yatim piatu, dan 50 persen untuk orangtuanya. Mobil itu ada di kost Abangnya.
Catatan terakhirnya, meminta seluruh tabungannya diserahkan ke satu pesantren khusus hafiz (tempat kami biasa berkumpul).
Saya tidak tahu tabungannya berapa, setelah catatan itu saya berikan pada abangnya barulah saya tahu. Tabungan Abdullah di atas 50 juta. Karena orangtuanya mengirim setiap Minggu 1 sampai 2,5 juta.
Awalnya saya tidak tahu itu abangnya, karena sangat mewah hidupnya. Ke kampus menggunakan mobil (kuliah di kedokteran).
Kata abangnya, sejak kecil Abdullah tidak s**a baju baru. Ia memilih memakai baju abang-abangnya (2 orang). Dan semua baju yang dia pakai semasa kuliah adalah baju bekas dari abang-abangnya.
Abdullah, saat SMU atau SMP (saya lupa) mendapat hadiah umrah dari BJ Habibie karena kecerdasannya.
Beliaulah yang menyarankan saya membuka katering saat kuliah. Tanpa sungkan, membantu saya membersihkan ikan, menggiling bumbu (tanpa blender). Bahkan sesekali ikut menemani saya belanja ke pasar dan menenteng plastik besar berisi sayur.
Seandainya saat itu tahu dia orang kaya, saya tidak akan mengizinkan dirinya membantu saya memasak.
Saya percaya, Allah menghadirkan Abdullah untuk saya belajar. Bahwa hidup, bukan tentang diri kita seorang, bukan tentang keluarga kita sahaja, melainkan ... tentang keseimbangan.
______
Kisah di atas menjadi salah satu dari 10 kisah sahabat saya pada BAB khusus MANUSIA-MANUSIA LANGIT dalam Buku ANAK-ANAK LANGIT (Terbitan Lovrinz).
Insyaallah buku ini layak untuk dibaca semua umur. Dibaca siapa saja untuk mengetuk hati saat dunia akhir zaman kian menakutkan.
Teman-teman, harga PO buku ini Rp.100.000 (belum termasuk ongkir). Masa PO mulai hari ini hingga 10 Maret 2023.
Berhubung buku ini kisah nyata, maka seluruh hasil penjualan akan disumbangkan untuk yatim, yatim piatu dan fakir miskin yang belajar di pesantren dan belajar menjadi hafiz. Insyaallah.
Bila Teman-teman di sini tertarik, jangan ragu untuk menghubungi saya.