16/03/2026
Mohon kepada kibin bocil akut & para kabib bocil yg aktif bikin akun palsu, tlg bantu jawab ya, mimin dpt kiriman video dgn pertanyaan tsb.
Perjuangan Walisongo Indonesia dan Laskar Sabilillah
Mohon kepada kibin bocil akut & para kabib bocil yg aktif bikin akun palsu, tlg bantu jawab ya, mimin dpt kiriman video dgn pertanyaan tsb.
Yang begini kok minta jadi pahlawan Nasional. Kalian minta saja ke Belanda sana juraganmu itu yang kasih gelar kehormatan menjajah negeri ini.
Mbah Hasyim Tidak Mempunyai Guru Klan Habib Ba’Alwi
Hari ini pop**ar (syuhrah dan istifadlah) di kalangan sebagian masyarakat, bahwa Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari (Mbah Hasyim) mempunyai guru dari kalangan Habib Ba’alwi yaitu Ahmad bin Hasan Al-Athas, Husen Al-Habsyi dan Alawi bin Ahmad Assegaf. Bahkan para kibin (pendukung nasab Habib Baalwi) menggunakan narasi itu untuk menakut-nakuti umat Islam Indonesia bahwa jika mereka tidak mengakui nasab Habib Ba’alwi sebagai cucu Nabi Muhammad SAW berarti mereka telah su’ul adab kepada Mbah Hasyim karena Mbah Hasyim adalah murid dari tiga Habaib Ba’alwi tersebut.
Pertanyaanya: Benarkah Mbah Hasyim mempunyai guru dari kalangan Habaib Ba’alwi? Sejak kapan informasi itu muncul? Dari mana cerita itu berasal? Adakah sumber primer yang bisa menjadi rujukan? Empat pertanyaan itulah yang akan kita carikan jawabannya dalam tulisan ini.
Klaim bahwa Mbah Hasyim Asy’ari mempunyai tiga guru dari Habib Ba’alwi adalah sebuah klaim hari ini dari peristiwa sejarah masa lalu. Untuk memverifikasi kebenarannya, kita tidak bisa Kembali ke masa lalu seacara fisik. Namun masa lalu, bukanlah masa yang berdiri sendiri. Ia adalah bagian yang tidak terpisahkan dan masa kini. Apa-apa yang tercipta di hari ini adalah kelanjutan dan kesinambungan dari peristiwa-peristiwa masa lalu. Ada proses-proses yang logis yang bisa dipelajari dari apa yang terjadi hari ini yang harus terkait dengan masa lalu. Misalnya: jika di depan rumah kita ada sebuah pohon kelapa yang sudah berumur 30 tahun maka klaim bahwa seminggu yang lalu pohon kelapa itu tidak ada di depan rumah kita adalah sesuatu yang tidak masuk akal yang sulit untuk dipercayai. Begitup**a klaim seseorang bahwa ia di tahun 1985 bertemu dengan Gubernur Makkah yang sekaligus juga keturunan Nabi Muhammad SAW, Syarif Aunurrafiq, di Makkah, harus dibantah Ketika telah diketahui bahwa Syarif Aunurrafiq telah wafat di tahun 1905.
Untuk memvalidasi klaim bahwa Mbah Hasyim Asy’ari mempunyai guru dari klan Habib Ba’alwi bisa dilakukan dengan melakukan metode historis yaitu pertama dengan heuristic yaitu mengumpulkan sumber-sumber yang tersedia baik primer maupun sekunder dari Riwayat hidup Mbah Hasyim Asy’ari; kemudian kedua: kritisasi sumber, yaitu dengan menguji orisinalitas sumber-sumber dan validitasnya. Kita pilah mana sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan dan mana yang tidak; kemudian ketiga: interpretasi sumber, yaitu kita olah informasi-informasi yang ada dalam sumber-sumber itu secara logis dan verfikatif. Jika informasi yang ada dalam sumber-sumber itu logis dan verifikatif maka proposisi yang ada dalam sumber itu bisa diterima, sebaliknya, jika tidak logis dan tidak verifikatif maka sumber itu merupakan sumber pabrikan yang patut dicurigai sebagai bagian dari upaya cipta sejarah dari sebuah klaim yang dimaksud.
Mbah Hasyim lahir pada tahun 1871 M. dan wafat pada tahun 1947 M. Manusia mulia ini hidup selama kurang lebih 76 tahun. Dalam rentang tahun itulah peristiwa sejarah sosok Mbah Hasyim Asy’ari terjadi. Dalam meneliti sebuah tokoh sejarah, pertama kita harus membuktikan bahwa tokoh ini benar-benar adalah sosok historis. Cara membuktikannya adalah dengan sumber primer berupa tulisan tanganya sendiri ketika ia masih hidup, atau reportase media massa di masanya atau tulisan orang yang semasa dengannya. Untuk sarat-sarat ini, dapat disimpulkan dan dipastikan secara ilmiyah bahwa Mbah Hasyim adalah sosok historis karena ia mempunyai tulisan berupa kitab-kitab dalam Bahasa Arab seperti kitab Risalah Ahlissunnah Waljama’ah dan kitab Adabul Alim wal Muta’allim; adap**a buku biografi yang ditulis orang lain yang mengaku bertemu dengan dirinya, yang hari ini masih kita bisa baca, seperti buku biografi Mbah Hasyim karya Akarhanaf yang ditulis tahun 1948 M.; ada juga berupa surat-surat duka cita atas wafatnya beliau tahun 1947 yang masih terarsipkan rapi yang disampaikan oleh Jenderal Sudirman, Yusdi Ghozali: Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PII), Kibagus: Pengurus Besar Muhammadiyah, B**g Tomo: Ketua Umum BPRI, dalam surat duka cita wafatnya Mbah Hasyim itu, B**g Tomo di antaranya menyatakan: “Kesucian serta iman Al-Marhum Ramanda Kiai Hasyim Asy’ari tetap Bersama perjuangan kita! (Akarhanaf, lampiran, 1948)
Setelah kita memastikan secara ilmiyah bahwa sosok Mbah Hasyim Asy’ari adalah sosok historis di masa lalu, maka Langkah berikutnya kita buktikan segala klaim historis hari ini dengan metode historis di atas. Dalam hal ini kita akan buktikan klaim historis bahwa Mbah Hasyim mempunyai tiga guru seorang Habib Ba’alwi.
Tahapan pertama kita telusuri adakah satu sumber primer yang bisa kita jadikan referensi bahwa Mbah Hasyim mempunyai tiga guru dari klan Habib Baalwi seperti yang sekarang beredar. Sumber primer yang paling kuat adalah sumber yang ditulis oleh Mbah Hasyim sendiri berupa pengakuan bahwa ia mempunyai guru orang-orang yang berasal dari klan di Tarim itu . Atau adakah tulisan orang lain yang satu masa dengan Mbah Hasyim ketika belajar yang bercerita tentang itu, misalnya ayahnya menulis bahwa Ketika Mbah Hasyim masih berumur 5 tahun ia dititipkan belajar mengaji Al-Quran kepada seorang Habib. Jawabannya semua itu tidak ada.
Penulis tidak menemukan satu sumber primer-pun yang bisa dijadikan referensi akan klaim bahwa Mbah Hasyim mempunyai guru dari kalangan Habib Ba’alwi. Penulis tidak menemukan Mbah Hasyim pernah menulis bahwa ia belajar kepada seorang Habib, padahal ia banyak menulis kitab dalam Bahasa Arab.
Buku biografi tertua yang mengulas sejarah hidup Mbah Hasyim adalah buku “Hadratusyaikh K.H. Hasyim Asy’ari Bapak Umat Islam Indonesia” yang ditulis oleh anak Mbah Hasyim sendiri yaitu Abdul Karim Hasyim yang dikenal dengan nama Akarhanaf yang merupakan akronim dari Abdul Karim Hasyim-Nafiqah. Dalam buku tersebut tidak disebutkan bahwa Mbah Hasyim mempunyai guru seorang Habib Ba’alwi. Buku ini selesai ditulis pada tahun 1948, satu tahun setelah wafatnya Mbah Hasyim. Akarhanaf lahir tahun 1919 ketika menulis biografi Mbah Hasyim itu ia sudah dewasa berumur 29 tahun. Ia juga mempunyai kedekatan khsusus dengan Mbah Hasyim karena ia adalah putra sekaligus murid Mbah Hasyim, tentunya banyak informasi yang ia bisa terima dari Mbah Hasyim. Kendati demikian, Akarhanaf sama sekali tidak menyebut bahwa Mbah Hasyim mempunyai guru seorang Habib Ba’alwi.
Lalu Ketika Mbah Hasyim tidak menulis bahwa ia mempunyai tiga guru dari klan Habib Ba’alwi dan sumber sekunder tertua tentang biografinya tidak menyebut ia mempunyai tiga guru dari Ba’alwi maka sejak kapan beredar narasi bahwa Mbah Hasyim mempunyai guru tiga orang Ba’alwi?
Ternyata cerita bahwa Mbah Hasyim mempunyai guru tiga orang Baalwi itu bermula dari buku seorang Ba’alwi Bernama Muhammad Asad Syahab. Asad Syahab menulis buku kecil berbahasa Arab sejumlah 57 halaman berjudul “Al-Allamah Muhammad Hasyim Asy’ari” diterbitkan oleh penerbit Darushadiq tahun 1971. Dalam buku itu ia menyebutkan bahwa di antara nama-nama guru Mbah Hasyim Asy’ari ada tiga orang klan Baalwi yaitu Ahmad Hasan al-Athas, Husen al-Habsyi dan Alwi bin Ahmad Assegaf (lihat h. 24). Inilah buku pertama yang menyebut bahwa Mbah Hasyim mempunyai guru dari klan Habib Baalwi yang tidak disebut oleh penulis sebelumnya. Penyebutan yang dilakukan Asad Syahab itu tidak menyertakan referensi apapun yang dapat dipertanggungjawabkan. Bahkan di antara nama-nama itu adalah nama orang yang tidak ada di Makkah Ketika Mbah Hasyim ada di Makkah.
Ahmad bin Hasan al-Athas yang disebut oleh Asad Syahab sebagai guru Mbah Hasyim adalah orang yang berasal dari Huraidah Yaman yang pergi ke Makkah pada tahun 1274 dan p**ang ke Huraidah pada tahun 1279 H. (lihat Alwi bin Tahir, Uqudul Almas, j.1 h. 11). Sedangkan, Mbah Hasyim berada di Makkah dalam rentang waktu tahun 1308-1316 (lihat Akarhanaf, 1948 h. 25-28). Bagaimana dua orang yang tidak pernah bertemu kemudian menjadi guru dan murid? Jelas informasi Asad Syahab adalah informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini sesuai dengan kebiasaan leluhur Baalwi yaitu Ali al-Sakran (w.1895H.) yang menulis dalam kitabnya “Al-Burqah al-Musyiqah” bahwa leluhur keluarga Bafadal adalah murid keluarga Baalwi di masa lalu tanpa referensi. Patut diduga pennyebutan duan ama lainnya oleh Asad Syahab juga tidak berbasis data dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.
Setelah penyebutan tiga nama Baalwi sebagai guru Mbah Hasyim oleh Asad Syahab maka kemudian banyaklah penulis biografi Mbah Hasyim yang mengambil darinya tanpa Analisa tajam dan mendalam.
Di bawah ini beberapa buku yang membahas Mbah Hasyim Asy’ari dalam bahasa Indonesia yang menyebut nama guru-gurunya tapi tidak menyebut Mbah Hasyim mempunyai guru dari klan Baalwi, dengan urutan tahun:
Pertama: Buku “Hadratusyaikh KH. Hasyim Asyari Bapak Umat Islam Indonesia”, karya Akarhanaf ditulis tahun 1948, dicetak ulang oleh penerbit Pustaka Tebuireng tahun 2018. Dalam buku ini ditulis guru-guru dan pesantren Mbah Hasyim yaitu: Kiai Asy’ari (ayah), Pesantren Wonokoyo, Pesantren Probolinggo, Pesantren Plangitan, Pesantren Terenggalis, Pesantren Madura (dibaca: Mbah Kholil Bangkalan), Kiai Ya’qub di Pesantren Siwalan Panji tahun 1891 (lihat h. 15). Perhatikan dalam buku ini sama-sekali tidak disebut nama-nama Ba’alwi sebagai guru Mbah Hasyim.
Kedua buku “Sejarah pujangga Islam Syekh Nawawi Al-Banteni Indonesia” karya Chaidar (Sayyid Chaidar Dahlan), murid Mbah Hasyim Asy’ari dari Lasem dan cicit Syaikh Zaini Dahlan Makkah, diterbitkan oleh CV. Sarana Utama Jakarta tahun 1978. Di dalam buku ini disebutkan bahwa murid Syekh Nawawi di antaranya adalah Mbah Hasyim Asy’ari. Penulis buku ini, Chaidar, adalah santri Mbah Hasyim di Tebuireng, ia menulis:
“Pada tiap-tiap waktu Ashar Almarhum K.H. Hasyim Asy’ari mengajarkan kitab Fathul Qarib kepada murid-muridnya. Dalam setiap memberikan ulasan-ulasannya beliau selalu menyisipkan di sana-sini sejarah hidup dan perjuangan gurunya, syekh Nawawi al-Banteni. Mereka yang mendengarkan memang tekun dan asyik termasuk penulis buku ini, namun bagi orang yang menceritakan (k.H. Hasyim Asy’ari), dalam menyampaikan cerita-cerita itu tentu tergenang air mata terharu, karena bangga.” (lihat. H. 6).
Dari buku ini kita mendapatkan sumber dari orang yang bertemu Mbah Hasyim bahwa Mbah Hasyim mengaku ia berguru kepada Syaikh Nawawi al-Bantani. Tetapi buku ini tidak memberikan informasi Mbah Hasyim mempunyai guru dari Ba’alwi.
Ketiga buku “Kiayi Haji Hasyim Asy’ari Riwayat Hidup dan Pengabdiannya” karya Heru Sukardi, diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 1980. Dalam buku tersebut dikatakan Mbah Hasyim berguru kepada Kiai usman (Pesantren ngGedang, kakek dari Ibunya), Kiai Asy’ari (Pesantren Keras, ayahnya), Pesantren Wonokoyo Jombang, Pesantren Probolinggo, Pesantren Palangitan di Babad, Pesantren Terenggalis, Kiai Khalil Bangkalan, Pesantren Madura, Kiai Ya’qub Pesantren Siwalan Panji (lihat h. 28-33 dan 65). Dalam buku ini-pun tidak disebutkan bahwa Mbah Hasyim Asy’ari mempunyai guru dari Baalwi.
Keempat Buku “Ikhtisar Biografi Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy’ari 1871-1947” ditulis oleh Latifatul Khuluq, Rijal Mumazziq Z, Hamzah Sahal dan Ali Usman. Diterbitkan oleh LTN NU tahun 2023. Dalam buku ini disebutkan nama-nama guru dan pesantren Mbah Hasyim yaitu: Pesantren Wonokoyo, Pesantren Langitan, Pesantren Trenggilis, Pesantren Kademangan Bangkalan Madura, Kiai Yaqub di Pesantren Siwalan Panji, Syekh Mahfudz Termas, Syekh Ahmad Khatib, Syekh Nawawi Al-Bantani, Syaikh Syatha, Syaikh Dagistani (h. 23-28). Buku ini walau ditulis belakangan tidak menyebut nama Baalwi sebagai guru-guru Mbah Hasyim. Agaknya para penulis dari Lembaga resmi PBNU ini enggan mengutip dari Asad Syahab yang tidak berlandaskan referensi itu.
Adapun buku yang menyebut nama Baalwi sebagai guru Mbah Hasyim di antaranya adalah buku karya Muhammad Rifai dengan judul “K.H. Hasyim Asy’ari Biografi Singkat 1871-1947”. Buku ini diterbitkan oleh penerbit Garasi tahun 2009. Dalam buku ini disebutkan nama dua orang Baalwi yaitu Husen Al-Habsyi dan Alwi bin Ahmad al-Saqqaf yang disebut sebagai guru Mbah Hasyim (lihat h. 23). Muhammad Rifai mengatakan bahwa dua nama Baalwi sebagai guru Mbah Hasyim itu ia dapatkan dari buku karya Kiai Aziz Masyhuri yang berjudul “99 Kiai Karismatik Indonesia”. Pertanyaannya: dari mana Kiai Aziz Masyhuri mendapatkan informasi itu? Jawabannya adalah : Kiai Aziz Masyhuri mendapatkan informasi itu dari buku karya Asad Syahab Baalwi di atas.
Jika ada pertanyaan: darimana penulis bisa seyakin itu padahal hanya membaca kutipan dan tidak merujuk langsung kepada buku Kiai Aziz Masyhuri? Jawabannya dari rangkaian teks yang dinarasikan oleh Kiai Aziz itu sangat mirip dengan rangkaian teks Asad Syahab Ba’alwi. Perhatikan rangkaian teks Kiai Aziz yang dikutip oleh Muhammad Rifa’i:
“Selain belajar, selama di Makkah, beliau termasuk orang yang rajin menghadiri majelis-majelis pengajaran al-Haram al-Syarif dan selalu mengikuti pengajian Al-'Allamah Sayyid Alawi bin Ahmad Al-Saqqaf dan Sayyed Huseini Al-Habsy Al-M***i. Selain itu, beliau juga sering berkunjung ke rumah kedua gurunya ini” (Muhammad Rifa’I, h. 23).
Bandingkan teks Rifai di atas dengan teks karya Asad Syahab Baalwi di bawah ini:
كان العلامة محمد هاشم أشعري من المداومين على حضور الدرس في الحرم الشريف وكان يلازم العلامة السيد علوي بن أحمد السقاف والسيد حسين الحبشي المفتي ؛ ويكثر من زيارتهما في البيت
Artinya: “Al-Allamah Muhammad Hashim Asy’ari adalah seorang yang rutin mengikuti pelajaran di Masjidil Haram dan beliau biasa menemani Al-Allamah Sayyid Alawi bin Ahmad Assegaf dan Sayyid Hussein Al-Habsyi, sang M***i; dan beliau sering mengunjungi mereka di rumah” (lihat Muhammad Asad Syahab, h. 24).
Perhatikan dua ibarat yang kembar itu. Itu menunjukan sangat jelas bahwa informasi yang beredar di buku-buku yang membahas tentang Mbah Hasyim Asy’ari bahwa ia mempunyai guru tiga orang Baalwi adalah berasal dari berita yang diciptakan Ba’alwi tanpa ada referensi yang jelas. Jika ada yang mengatakan bahwa Asad Syihab pernah bertemu dengan Mbah Hasyim Asy’ari, oleh sebab itu bisa jadi ia telah mewawancarai Mbah Hasyim akan siapa saja guru-gurunya. Penulis menjawab: bukankah Akarhanaf juga bertemu dengan Mbah Hasyim, bahkan ia murid dan anaknya Mbah Hasyim, kenapa Akarhanaf tidak menyebutkan nama tiga Baalwi itu sebagai guru Mbah Hasyim. Dan, ini yang paling penting, jika kita menerima informasi dari Asad Syahab Baalwi bahwa Mbah Hasyim memiliki tiga guru dari Baalwi tersebut maka sama saja kita menuduh Mbah Hasyim berdusta karena Ahmad bin Hasan Al-Athas terbukti secara ilmiyah tidak berada di Makkah Ketika Mbah Hasyim berada di Makkah.
Dalam mukaddimah cetakan kitab “Adabul Alim wal Muta’allim” karya Mbah Hasyim tahun 1994, cucu Mbah Hasyim yang Bernama Gus Ishom hadziq mencantumkan nama-nama guru Mbah Hasyim, tetapi di dalamnya ia tidak menyebut satupun nama dari klan Ba’alwi. Nama-nama yang disebut oleh Gus Ishom sebagai guru Mbah Hasyim adalah: Kiai Asy’ari (ayah Mbah Hasyim), Pesantren Sona (?), Pesantren Siwalan, Pesantren langitan Tuban, Pesantren Bangkalan Mbah Khalil, Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, Syekh Khatib al-Minangkabau, Syekh Syuaib bin Abdurrahman, Sayyid Abbas al-Maliki, Syekh Mahfudz Atturmusi (Gus Isham hadziq, Muqaddimah Adabul Alim wal Muta’allim, h. 4).
Perhatikan bagaimana seorang cucu Mbah Hasyim, Gus Isham Hadziq, tidak mencantumkan nama-nama Ba’alwi sebagai guru dari Mbah Hasyim padahal informasi tentang itu telah disebarkan oleh seorang Baalwi di tahun 1971. Penulis tidak mengatakan bahwa semua yang ada dalam buku biografi Mbah Hasyim karya Asad Syahab itu bohong, tentu ada saja yang sesuai fakta, seperti tentang seorang insinyur Belanda yang masuk Islam di tangan Mbah Hasyim, tetapi Ketika sudah terkait dengan kesejarahan klan Ba’alwi, missal tentang menyebut tokoh besar seperti Mbah Hasyim sebagai murid Ba’alwi, tulisan seorang Baalwi seperti Asad perlu diverifikasi yang dalam dan tuntas, karena telah terbukti berdasar kajian penulis tentang klan Ba’alwi, bahwa seseorang yang berasal klan Ba’alwi Ketika menulis sejarah yang terkait dengan klan mereka penuh dengan interpolasi dan kedustaan.
Penulis: Imaduddin Utsman Al-Bantani
Hari ini pop**ar (syuhrah dan istifadlah) di kalangan sebagian masyarakat, bahwa Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari (Mbah Hasyim) mempunyai guru dari kalangan Habib Ba’alwi yaitu Ahmad bin Hasan Al-Athas, Husen Al-Habsyi dan Alawi bin Ahmad Assegaf. Bahkan para kibin (pendukung nasab Habib Baalwi) men...
KH Imaduddin Utsman siap 1000% Debat lawan Rizieq Shihab tentang tesis nasab baklawi bukan dzuriyyah Rasulullah Saw. Insyaallah siap difasilitasi oleh Kiai dari Bogor, untuk mencerdaskan umat.
Silahkan simak videonya:
Joss..‼️Kiai IMAD Siap 1000 Persen Debat Lawan HABIB RIZ...
Kabib DNA-nya Haplo-G artinya bukan penanda keturunan Arab, itu artinya hukum alam yang bicara. Apa kabeb & kibin mampu merubah genetika alam?
Mosok ngaku dzuriyyah Rasulallah SAW, dari keturunan Arab saja bukan, emang neraka bisa diajak becanda pake nasab palsu?
😁✍️
TOKOH-TOKOH FIKTIF HADRAMAUT DALAM PENYEBUTAN SEJARAH
Penulis: Peneliti dan sejarawan Abdullah bin Shalih bin Ali Al Abu Tal’ah Asy-Syarafi, dari ulama Dammaj di kota Sha‘dah, Yaman Utara
Bismillāhirrahmānirrahīm
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya ﷺ. Amma ba‘d.
Karena sejarah Hadhramaut mengalami berbagai problem dan kekurangan besar dalam informasinya akibat ketiadaan sumber-sumber sejarah dan hilangnya sumber-sumber tersebut, maka ketiadaan dan hilangnya sumber itu memberikan kesempatan kepada para pengusik dari kalangan orientalis dan murid-murid mereka untuk membuat sebuah sejarah khayalan dan fiktif bagi mereka, serta membuat kisah-kisah rekaan dan tokoh-tokoh fiktif yang tidak memiliki realitas dalam wujud Hadhramaut.
Ketika apa yang mereka sebut sebagai sejarah itu bukan sejarah yang hakiki, mereka pun terjatuh ke dalam berbagai kontradiksi yang tidak bisa dihindari oleh para pelaku sejarah khayalan lagi semu itu.
Maksud dan tujuan dari penelitian ini adalah memberi isyarat kepada sebagian tokoh yang disebutkan dan tersebar dalam sebagian kitab sejarah Hadhramaut, padahal tokoh-tokoh tersebut tidak memiliki eksistensi nyata dalam realitas Hadhramaut. Bisa jadi tokoh itu sama sekali tidak ada, atau sebenarnya ia memang ada tetapi di luar Hadhramaut, namun dimasukkan ke dalam sejarah Hadhramaut oleh para pengusik yang berbicara atas nama sejarah, demi tujuan tertentu yang mereka inginkan.
Di antara tujuan-tujuan tersebut: ketika sumber-sumber sejarah menghilang, maka muncul kekosongan yang besar; datanglah para pengusik ini untuk mengisi kekosongan itu dengan tokoh-tokoh fiktif. Hal ini menimbulkan banyak dampak negatif bagi Hadhramaut dan sekitarnya; menjadi sebab hilangnya fakta-fakta sejarah yang benar dan digantikan dengan khayalan-khayalan ini.
Mari kita mulai menyebut apa yang ingin kita singgung dari tokoh-tokoh tersebut.
1. Kubur Hud
Kubur Hud yang diklaim itu masyhur dengan ziarah tahunan yang bersifat syirik, bid‘ah, dan khurafat. Klaim ini dibangun atas anggapan bahwa Nabi Hud ‘alaihissalām hidup di tempat tersebut, wafat di sana, dan dimakamkan di situ. Namun hal itu tidak memiliki dasar baik dari Kitab Allah, maupun dari sunnah yang sahih, atau dari perkataan para salaf yang mu‘tabar.
Pernyataan bahwa tempat yang terdapat kubur itu adalah Al-Ahqāf hanyalah bentuk pemaksaan tanpa dalil. Di zaman kita ini, telah ditemukan di Oman peninggalan beberapa rumah yang mereka katakan sebagai peninggalan kaum ‘Ād, dan Oman sendiri termasuk ke dalam wilayah yang disebut Al-Ahqāf. Ada juga yang berpendapat bahwa kubur Hud berada di Mekah, dan ada p**a yang mengatakan ia berada di negeri Syam.
Semua ini menunjukkan bahwa klaim bahwa Hud ‘alaihissalām hidup di Hadhramaut dan dimakamkan di sana hanyalah khurafat fiktif yang tidak memiliki dalil.
Syaikh Al-Mu‘allim berkata:
“Maka kami menolak dengan tegas adanya dalil sedikit pun tentang keberadaannya di lokasi tertentu itu, sebagaimana sebelumnya sejumlah sejarawan pun telah menolaknya”
Syaikh Al-Mu‘allim, Lihat: Al-Qubūriyyah, hlm. 386.
Ketika ziarah terhadap kubur yang diklaim ini menjadi salah satu sebab terbesar lenyapnya syi‘ar-syi‘ar Islam dan dakwah tauhid yang diserukan Nabi ﷺ sepanjang hidupnya, serta mengganti agama yang benar dengan agama khurafat dan akidah yang rusak, maka penjajah Inggris yang Nasrani pada masa penjajahannya di wilayah Arab Selatan bangkit mendukung ziarah ini dan mendorongnya melalui para kaki tangannya – dan hal itu terus berlanjut hingga hari ini.
2. Kubur Nabi Allah Shalih ‘alaihissalām
Sejarawan Shalih Al-Hamid Ba‘alawi berkata:
Bagi Nabi Shalih, di daerah kami di Hadhramaut terdapat sebuah kubur yang dikenal dan masyhur, didatangi para peziarah. Ia terletak di Sya‘b ‘Asnab di Wadi Sar. Aku sendiri telah menziarahinya bersama guru kami, Al-‘Allāmah Muhammad bin Hadi As-Saqqaf, sebanyak dua kali. Banyak ulama dan orang-orang saleh yang juga menziarahinya di abad ini maupun abad sebelumnya. Di antara yang paling memberi perhatian terhadapnya adalah As-Sayyid ‘Umar Saqqaf Ash-Shafi Ba‘alawi….”
Dalam ucapan Al-Hamid tersebut terdapat isyarat tentang awal mula perhatian terhadap kubur ini, yakni sekitar abad ke-13 dan ke-14 Hijriyah, disertai penjelasannya tentang perhatian yang sangat besar dari ‘Umar Saqqaf Ash-Shafi. Hal ini memberi isyarat yang jelas bahwa orang itulah barangkali yang pertama kali menampakkan (mengangkat) kubur ini, dan sejak saat itu ia pun dikenal lalu orang-orang mulai menziarahinya.
Lihat: Al-Qubūriyyah, hlm. 387–388.
Dalam ucapan Al-Hamid, sang sejarawan khurafat itu, juga terdapat pujian dan ajakan perhatian kepada kubur tersebut serta pengagungannya. Maka kubur ini termasuk di antara produk penjajahan yang dijalankan oleh para kaki tangannya pada masa keberadaan penjajahan di negeri itu.
Dari mana kita bisa memastikan bahwa Shalih ‘alaihissalām hidup di Hadhramaut? Itu tidak lain hanyalah kedustaan dan pengelabuan untuk menyesatkan manusia – kita berlindung kepada Allah darinya.
3. Hanzhalah bin Shafwān
Al-Hamid berkata:
Di sini (di Hadhramaut) ada sebuah kubur yang dinisbatkan kepada Hanzhalah, dengan anggapan bahwa ia adalah seorang nabi yang diutus kepada suatu kaum di Hadhramaut. Ar-Razi menyebutkan bahwa kubur Hanzhalah berada di Shan‘a, dan yang benar: Hanzhalah tidak sah dinyatakan sebagai nabi dari para nabi sama sekali. (Al-Hamid, Lihat Al-Qubūriyyah, hlm. 390)
Hal ini menunjukkan bahwa kalangan sufi berupaya memperbanyak tempat-tempat keramat yang dijadikan objek ibadah di Hadhramaut, dan itu adalah sebuah keinginan kolonial Nasrani yang muncul belakangan di Hadhramaut.
4. Hādūn bin Hūd – Yang Diklaim Memiliki Kubur di Desa Hādūn di Wadi Du‘ān, Hadhramaut
Yang mengherankan di sini: para penganut kuburiyah di Hadhramaut mengada-adakan sosok lelaki ini dan berdusta atas nama Allah; mereka menjadikannya sebagai nabi dari para nabi-Nya. Di antara tokoh yang ikut menguatkan khurafat fiktif lagi dusta ini adalah Ahmad bin Hasan Al-‘Aththas. (Lihat Al-Qubūriyyah, hlm. 390).
Al-‘Aththas ini juga menyebutkan bahwa di Hadhramaut ada 35 nabi. Katanya: “Kami mendapati hal itu dalam kitab-kitab sejarah Hadhramaut yang ada pada kami.” Lihat Al-Qubūriyyah, hlm. 393.
Artinya, di sisi mereka ada kitab-kitab yang mengikuti metode para orientalis, yang menyembunyikan sejarah Hadhramaut yang hakiki lalu datang dengan sejarah palsu yang dibuat-buat, penuh dengan ilusi-ilusi seperti ini.
Dengan logika seperti itu, hampir seluruh penduduk Hadhramaut akan menjadi keturunan para nabi, atau keturunan kabilah Quraisy, Al-Anshar, penduduk Hijaz, dan Himyar.
5. ‘Abbād bin Bisyr Al-Ausi Al-Anshari radhiyallāhu ‘anhu
Sebagian kitab sejarah Hadhramaut yang ditulis dengan pena-pena “beraliran orientalis” mengklaim bahwa ‘Abbād bin Bisyr turun ke Hadhramaut, tinggal di sana, wafat di sana, dimakamkan di sana, dan memiliki keturunan yang dikenal sebagai keluarga Āl Al-Khathib.
Namun ketika kita kembali kepada sejarah yang sahih yang ditulis oleh pena-pena yang amanah, kita dapati bahwa ‘Abbād bin Bisyr Al-Anshari terbunuh dalam perang Al-Yamāmah, yaitu peperangan antara kaum muslimin dan para murtadin pengikut Musailamah Al-Kadzdzāb.
Atas hal ini para sejarawan dan ahli sirah bersepakat, di antaranya: Al-Bukhari dalam At-Tarikh Ash-Shaghir, Ibnul Atsir, Ibnu Katsir dalam Al-Bidāyah (wa An-Nihāyah), Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Al-Ishābah, Adz-Dzahabi dalam As-Siyar, dan sangat banyak lagi ulama sejarah dan sirah yang tepercaya.
Para imam yang tsiqah ini juga menegaskan — di antaranya Ibnul Atsir dalam Usd Al-Ghābah dan Ibnu Sa‘d dalam Ath-Thabaqāt — bahwa ‘Abbād bin Bisyr tidak memiliki keturunan.
Abu Ath-Thayyib bin Abi Makhramah Al-Hadhrami berkata:
"Abbād bin Bisyr bin Waqsy adalah salah seorang sahabat yang utama… dan ia tidak memiliki keturunan". (Abu Ath-Thayyib bin Abi Makhramah Al-Hadhrami, Lihat Dalālatun-Nahr).
Tidak ada satu pun teks dari imam sejarah dan sirah yang tsiqah yang menyebutkan bahwa ‘Abbād bin Bisyr pernah turun ke Hadhramaut atau wafat di sana.
Lantas dari mana kalian mengambil sejarah kalian, wahai para pencinta khurafat dan ilusi?
Adapun Āl Al-Khathib, mereka adalah salah satu kabilah Hadhramaut yang asli, dan dari kabilah inilah Wā’il bin Hujr Al-Hadhrami berasal.
Dan seandainya dikatakan: “Mengapa mereka tidak menisbatkan keluarga itu kepada Ziyād bin Labid Al-Anshari, yang telah sepakat (para sejarawan) bahwa ia turun ke Hadhramaut?” Padahal, pen*sbatan kepada Ziyad akan jauh lebih mungkin tertukar (dengan ‘Abbād) lantaran keduanya sama-sama dari Al-Anshar.
Namun karena pena-pena orientalis bertujuan menghilangkan sejarah yang hakiki, mereka justru menisbatkan mereka kepada ‘Abbād. Seandainya mereka menisbatkan keluarga itu kepada Ziyād, niscaya orang-orang akan selalu mengingat bahwa Ziyād adalah gubernur (wakil) Nabi ﷺ di Hadhramaut, yang mengumpulkan zakat dan memerangi kaum murtad. Informasi sejarah ini pasti akan melekat pada nama Ziyād.
Untuk rincian bantahan terhadap khurafat fiktif ini, lihat:
Kitab Asy-Syawāhid Al-Jaliyyah Ad-Dāllah ‘alā Anna Istisyhād Ash-Shahābi ‘Abbād bin Bisyr Al-Ausi Al-Asyhali radhiyallāhu ‘anhu Kāna fi Al-Yamāmah Lā fi Hadhramaut karya Al-Madz-haji.
Kitab Tahqiq Tārīkhī Wāqi‘atil-Lask: Haqīqah Am Khayāl karya Syaikh Abdullah bin Ahmad An-Nāsyi.
6. Ka‘b bin Zuhair As-Sulami radhiyallāhu ‘anhu
Beliau adalah sahabat Nabi ﷺ, pemilik qashidah Bānat Su‘ād yang di dalamnya ia memuji Nabi ﷺ.
Mereka (para pengusung khurafat) mengklaim, dengan dusta dan fitnah, bahwa Ka‘b datang ke Hadhramaut lalu wafat di sana, dan kuburnya berada di desa Al-‘Ajlāniyyah di tepi jalan raya utama.
Seandainya mereka bisa mewujudkan apa yang mereka inginkan, niscaya mereka akan menisbatkan p**a kepada beliau sebuah kabilah Hadhramaut dan mengklaim bahwa mereka adalah keturunannya, sebagaimana yang mereka lakukan terhadap selain beliau.
7. Tujuh Puluh (70) Sahabat Peserta Badar yang Diklaim Dimakamkan di Pemakaman Tarim
Para “sejarawan” khurafat fiktif mengklaim bahwa 70 orang sahabat peserta Perang Badar masuk ke Hadhramaut pada masa perang Riddah (pemurtadan), lalu mereka wafat di sana dan dimakamkan di pemakaman Tarim.
Namun, sumber-sumber sejarah yang membahas perang Riddah tidak menyebutkan sedikit pun tentang kabar ini.
Selain itu, benteng An-Najīr yang berada di Al-‘Abr (sebelah barat Hadhramaut) adalah lokasi di dekatnya terjadi pertempuran melawan kaum murtad. Maka bagaimana mungkin jenazah para korban perang itu dipindahkan ke Tarim yang jaraknya jauh?
Kitab-kitab sejarah yang ada tidak menyebutkan satu orang pun dari ahli Badar yang terbunuh dalam pertempuran An-Najīr yang bersejarah itu, bahkan kita tidak menemukan satu pun ahli Badar yang ikut serta dalam pertempuran tersebut selain Ziyād bin Labid Al-Anshari.
Untuk rincian bantahan terhadap khurafat dusta ini, lihat risalah:
– Hal Dufina fi Maqbarati Tarim Sab‘ūna Badriyyan? karya Syaikh Abu Abdurrahman Al-Madz-haji.
Dalam risalah itu, penulis menyebutkan nama-nama para sahabat peserta Badar dan nama-nama tempat mereka wafat atau terbunuh, dari sumber-sumber sejarah dan sirah yang mu‘tabar. Tidak ditemukan satu pun penyebutan tentang Hadhramaut sebagai tempat yang pernah disinggahi atau menjadi lokasi wafat salah satu dari mereka.
8. Ahmad bin ‘Isa yang dijuluki Al-Muhājir
Tokoh ini (yang disebut Ahmad bin ‘Isa Al-Muhājir) tidak pernah masuk ke Hadhramaut, bahkan tidak pernah memasuki batas wilayah Yaman sama sekali.
Para murid orientalis dalam tulisan-tulisan sejarah mereka menyebut bahwa Ahmad bin ‘Isa hijrah dari Bashrah ke Hadhramaut bersama keluarga dan anak-anak pamannya. Yang mengherankan, kitab-kitab sejarah, biografi (tarajim), dan nasab sama sekali tidak mengenal peristiwa hijrah besar dari kalangan Alawiyin secara kolektif ini, yang diklaim terjadi pada tahun 317 H.
Padahal pada masa itu hidup para sejarawan dan ahli nasab besar. Namun, engkau tidak akan menemukan satu pun penyebutan tentang hijrah ini pada seorang sejarawan yang mu‘tabar.
Lihat: Al-Kadzdzib Al-Maqīt fi Iddi‘ā’ An-Nasab ilā Āl Al-Bayt, hlm. 16.
Karena tokoh ini bersifat fiktif dan tidak memiliki realitas faktual di Hadhramaut, maka perselisihan tentangnya pun sangat banyak:
- Ada yang mengatakan ia menyebarkan ilmu.
- Ada p**a yang mengatakan bahwa ketika ia datang ke Hadhramaut, di sana sudah ada kebangkitan ilmu, khususnya di Tarim, sehingga ia tidak memiliki peran ilmiah yang menonjol.
- Ada yang menyatakan ia menyebarkan mazhab Syafi‘i.
- Ada yang menyanggah dan mengatakan ia bermazhab Syiah.
- Ada yang mengatakan ia memerangi kaum Ibadhiyah selama beberapa waktu, sementara kelompok lain mengingkari perbuatan tersebut dinisbatkan kepadanya.
- Ada yang mengatakan ia adalah penyebar tasawuf, sementara yang lain menolak klaim itu.
Mereka juga berselisih tentang waktu kedatangannya ke Hadhramaut:
- Ada yang mengatakan pada tahun 317 H.
- Ada yang mengatakan tahun 345 H.
- Ada p**a yang mengatakan tahun 540 H.
Lihat: Ithhāf Ar-Rutūt fi Fahras Bidā’i‘ At-Tabūt, hlm. 58.
Mereka pun berbeda pendapat tentang motif kedatangannya:
- Ada yang mengatakan bahwa ketika ia melihat kezhaliman merajalela di Irak, ia turun ke Hadhramaut.
- Ada juga yang mengatakan bahwa sekelompok penduduk Hadhramaut pergi ke Irak dan memintanya untuk datang ke negeri mereka, agar mereka bisa berkumpul di bawah kepemimpinannya karena mereka tidak memiliki pengayom.
Mereka juga berselisih tentang kuburnya. Sejarawan Bāmu’min menyebutkan:
“Pada awalnya, lokasi kuburnya tidak diketahui. Ada yang mengatakan ia dimakamkan di desa Jasyīr. Yang lain mengatakan ia dimakamkan di desa Al-Husaisah, tanpa penentuan pasti di titik mana kuburnya. ‘Umar ‘Abdurrahman, pemilik (kampung) Al-Hamrā’, mengatakan bahwa hingga sekarang lokasi kubur Al-Muhājir belum diketahui. Ada yang mengatakan orang yang pertama kali ‘menampakkannya’ adalah Abdullah Al-‘Idrus. Bahkan ada p**a yang meriwayatkan bahwa Al-Muhājir sendiri berkata dari bawah kubur yang ‘ditemukan’ itu, bahwa kubur itu adalah kuburnya.”
Lihat: Al-Fikr wal-Mujtama‘, hlm. 280.
Inilah kondisi orang-orang yang membangun sejarahnya di atas ilusi dan dugaan sembarangan; mereka terjatuh pada kontradiksi-kontradiksi.
Alexander Knysh menyebut:
“Seorang peneliti bisa saja meragukan fakta historis tentang (tokoh) Ahmad bin ‘Isa Al-Muhājir, sebagai orang pertama dari para Sādah di Hadhramaut, yang secara rutin dijadikan rujukan oleh para penulis kalangan Sādah untuk memasarkan hak warisan mereka….”
Lihat: Dirāsah Naqdiyyah ‘an At-Tārīkh Al-Hadhrami (Kajian Kritis tentang Sejarah Hadhramaut).
9. ‘Ubaidillah bin Ahmad bin ‘Isa Al-Muhājir
Tokoh ini juga tidak memiliki eksistensi, baik dalam realitas Hadhramaut maupun di luar Hadhramaut.
Para ulama nasab telah menyebutkan bahwa Ahmad bin ‘Isa Al-‘Alawi — yang tidak pernah masuk ke Hadhramaut — memiliki tiga orang anak: Muhammad, ‘Ali, dan Al-Husain.
Tidak ada satu pun penyebutan bahwa ia memiliki anak, baik yang berketurunan (mu‘aqqib) maupun yang tidak berketurunan, yang bernama ‘Ubaidillah. Lihat: Al-Kadzdzib Al-Maqīt fi Iddi‘ā’ An-Nasab ilā Āl Al-Bayt.
Dengan demikian, rangkaian nasab yang dimulai dari ‘Ubaidillah dan seterusnya adalah nasab yang tersusun dan dibuat-buat, yang pada hakikatnya tidak memiliki dasar tempat dalam kenyataan.
Maka inilah (contohnya) Salim bin Bashri bin Ubaidillah: Salim wafat pada tahun 604 H, sementara ia adalah cucu langsung Ubaidillah yang wafat pada tahun 383 H. Terjadilah di sini selisih waktu yang sangat besar.
Ketika mereka melihat “skandal” ini, mereka pun berkata: “Ada Salim bin Bashri lain dalam rangkaian nasab ini, dan ia adalah putra Ubaidillah lain juga dalam nasab tersebut.”
Semua ini hanyalah bentuk tipu daya dan upaya “menabur debu di mata” orang-orang yang lalai.
Faedah: Nama Ubaidillah sangat banyak dijumpai di kalangan cucu-cucu ‘Ali bin Abi Thalib; karena itu, kaum Ba ‘Alawi memilih nama ini untuk disisipkan dalam susunan nasab mereka. Lihat: Jumharah Ansāb Al-‘Arab karya Ibnu Hazm.
10. Muhammad bin ‘Ali Ba ‘Alawi, “Shāhib Mirbāt” — Sebuah Legenda Khayalan
Bāmu’min menyebutkan bahwa penulis Thabaqāt Fuqahā’ Al-Yaman telah menyanjung peran penting Muhammad bin ‘Ali Al-Qal‘i, seorang faqih Syafi‘i, dalam menyebarkan mazhab Syafi‘i di Zhufar dan Hadhramaut. Namun, penulis Thabaqāt Fuqahā’ Al-Yaman sama sekali tidak menyinggung peran “pionir” yang diklaim (oleh kalangan tertentu) bagi Muhammad bin ‘Ali Ba ‘Alawi “Shāhib Marbāt” dalam penyebaran mazhab Syafi‘i di Zhufar, sebagaimana digambarkan oleh para sejarawan dan peneliti dari kalangan Ba ‘Alawi.
Padahal, masih terdapat banyak hal yang remang-remang dan tetap menjadi teka-teki dalam kehidupan Shāhib Marbāt yang singkat itu — di mana konon dalam masa singkat tersebut ia melakukan berbagai tindakan besar dan “mengagumkan” di Hadhramaut dan Zhufar: dari aktivitas dagang, penjagaan kafilah, hingga menjadi guru bagi sekelompok besar ulama senior Tarim.
Ini semua diklaim, meski terdapat perbedaan waktu yang sangat besar antara tahun wafat mereka (para ulama Tarim itu) dan tahun wafatnya (Shāhib Marbāt) pada tahun 656 H.
Selisih yang mencolok ini telah ditunjukkan oleh Ibn ‘Ubaidillah As-Saqqaf. Lihat: Al-Fikr, hlm. 172–173.
Alexander (Knysh) berkata:
“Kecurigaan juga dapat muncul terhadap banyak klaim para Sādah, termasuk klaim mereka bahwa salah seorang leluhur mereka, yaitu Muhammad bin ‘Ali Shāhib Marbāt, adalah orang pertama yang menyebarkan mazhab Syafi‘i, dan bahwa Al-Muqaddam — si ahli fikih yang wara‘ — adalah sufi sejati pertama di Hadhramaut.”
Lihat: Dirāsah Naqdiyyah ‘ani At-Tārīkh Al-Hadhrami (Kajian Kritis tentang Sejarah Hadhramaut).
Tokoh yang tidak nyata ini diberikan nama seperti itu agar rancu dengan nama Al-Qal‘i, sehingga mereka bisa “membajak” apa yang dimiliki Al-Qal‘i berupa jasa-jasa ilmiah dan sosial, lalu menisbatkannya kepada tokoh “hilang” yang hanya ada dalam imajinasi.
Demikianlah keadaan pada banyak nama dan biografi yang dibuat-buat: mereka memberi nama atau sifat yang mirip dengan sosok yang masyhur dan dikenal di dunia nyata, agar penipuan dan pemalsuan terhadap manusia menjadi lebih mudah.
Sebagian ahli hadits berkata:
“Ketika sebagian orang menggunakan kedustaan dalam Hadits, kami gunakan ilmu tarikh (kronologi) terhadap mereka — maka kedok mereka pun terbongkar.”
11. Abu Madyan Syu‘aib bin Al-Hasan Al-Maghribi
Ia terkenal sebagai tokoh tasawuf. Adz-Dzahabi membuat biografinya dalam As-Siyar (21/219).
Dalam sejarah Hadhramaut, ia disebut dalam sebuah kisah khurafat yang batil, ditinjau dari syariat maupun dari akal sehat.
Para sejarawan khurafat dan ilusi menyebut bahwa Abu Madyan mengutus muridnya yang bernama Abdurrahman Al-Muq‘ad (si lumpuh) dan memerintahkannya untuk pergi ke Hadhramaut dan menjadikan empat orang dari penduduknya sebagai pemimpin, di antaranya: Muhammad bin ‘Ali Ba ‘Alawi yang bergelar Al-Faqih Al-Muqaddam di Tarim….
Abu Madyan mengabarkan bahwa muridnya itu akan meninggal dalam perjalanan. Ketika murid itu meninggal, ia (Abu Madyan) mengutus murid lainnya, yaitu Abdullah Ash-Shalih, lalu murid inilah yang melaksanakan tugas tersebut….
Kisah ini disebutkan oleh penulis Al-Ghurrar, Al-Masyrā‘, dan Al-‘Uddah Al-Mufīdah. Sumber-sumber kisah ini adalah kitab-kitab yang berdiri di atas khurafat, ilusi, dan klaim-klaim yang tidak sahih; bahkan dikemukakan dengan gaya at-tamrīdh (seperti: “diceritakan bahwa…”, “disebutkan bahwa…”), yang menunjukkan kelemahannya.
Kisah ini juga dibangun di atas klaim mengetahui hal gaib, padahal ilmu gaib adalah kekhususan Allah; siapa yang mengklaimnya berarti kafir.
Kisah ini juga berusaha memberikan kepada Muhammad bin ‘Ali Ba ‘Alawi porsi pengagungan dan penetapan “kedudukan” secara pribadi atau spiritual. Di samping itu, terdapat selisih waktu yang jelas antara Abu Madyan dan Muhammad bin ‘Ali:
Abu Madyan lahir tahun 509 H dan wafat tahun 594 H.
Muhammad bin ‘Ali lahir tahun 574 H dan wafat tahun 653 H.
Abu Madyan wafat ketika umur Muhammad bin ‘Ali baru 16 tahun. Artinya, ia masih anak kecil. Kapan ia dikenal luas, dan kapan ia masyhur, sehingga perlu dikirim utusan khusus kepadanya?
Kaum sufi berusaha dengan kisah ini dan selainnya untuk membuat orang menyangka bahwa mereka memiliki hubungan kuat dengan para sufi terdahulu, dan bahwa tasawuf telah lama ada di Hadhramaut.
Padahal, Abu Madyan tidak memiliki keterkaitan yang sahih dengan sejarah Hadhramaut, begitu p**a Abdullah Ash-Shalih, yang diklaim kuburnya berada di Maifa‘ah dan di atasnya dibangun sebuah kubah.
Kaum sufi melakukan ini karena mereka tahu bahwa orang yang sudah mati tidak akan mengingkari mereka dan berkata: “Ini kuburku, bukan kubur Abdullah Ash-Shalih.”
Demikian p**a ketika mereka memiliki tokoh fiktif, mereka katakan: “Ini kuburnya,” lalu mereka bangun di atasnya (kubah dan bangunan), agar kuburan itu tampak “berwibawa” dan dipercaya kaum awam.
Hal ini serupa dengan yang dilakukan oleh kaum Syi‘ah Isma‘iliyah: mereka berkata bahwa itu adalah kubur ‘Ali atau kubur Al-Husain di Karbala, lalu mereka bangun dan hias keduanya, padahal nisbat tersebut dusta; bukan untuk ‘Ali dan bukan p**a untuk Al-Husain — namun akhirnya tersebar di kalangan manusia seolah itu adalah fakta.
Alexander Knysh berkata:
“Abdullah Ash-Shalih Al-Maghribi adalah sosok yang samar dan mencurigakan. Dikatakan bahwa dialah yang membangun hubungan antara kalangan sufi Hadhramaut dan sufi di Maghrib.”
Lihat: Dirāsah Naqdiyyah fi At-Tārīkh Al-Hadhrami (Kajian Kritis dalam Sejarah Hadhramaut).
12. Yusuf bin ‘Abid Al-Fasi Al-Maghribi
Dikisahkan bahwa ia bepergian dari Maghrib (Maroko) ke Hadhramaut, lalu menetap di sana dan memiliki keturunan yang tersebar, serta bahwa nasabnya kembali kepada Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib.
Tokoh ini tidak dikenal, baik secara personal (‘aynan) maupun biografinya (hālan). Ia tidak dikenal kecuali melalui cerita-cerita orang-orang ahli khayal.
Mereka mengatakan bahwa ia memiliki sebuah kitab berjudul: “Rihlah Ibn ‘Abid Al-Fasi min Al-Maghrib ilā Hadhramaut” (Perjalanan Ibn ‘Abid Al-Fasi dari Maghrib ke Hadhramaut), yang di dalamnya ia menulis biografi dirinya dan kisah perjalanannya.
Namun ia tidak dikenal dalam sumber-sumber ulama Maghrib, tidak dikenal p**a di Mekkah yang konon pernah ia singgahi; satu-satunya tempat ia “dikenal” hanyalah di Hadhramaut.
Kisah ini pada hakikatnya adalah karya rekayasa orientalis untuk mengarahkan sejarah Hadhramaut ke jalur yang gelap, menuju “kota hilangnya sejarah.”
Adapun “Perjalanan Orang Maghribi ke Hadhramaut” adalah sebuah rihlah yang ditulis oleh Hasan bin ‘Ali bin Syihab — yang wafat di Tarim pada tahun 1332 H — dengan menggunakan “suara” seorang musafir dari Maghrib.
Di antara bukti yang menunjukkan hal itu adalah banyaknya bagian dalam kitab tersebut yang mengisyaratkan hal ini.
Asy-Syathiri berkata dalam Adwār At-Tārīkh Al-Hadhrami:
“Dan guru kami, Al-Ustadz Muhammad bin Hasjim, mengabarkan kepadaku bahwa As-Sayyid Hasan (bin ‘Ali bin Syihab) memberitahunya bahwa dialah penulisnya (rihlah itu). Dan sisi-sisi yang samar, global, dan berlebihan dalam sebagian aspeknya juga menunjukkan hal itu.”
Lihat: Ithhāf Ar-Rutūt bi Ikhtishār wa Fahras Bidā’i‘ At-Tabūt karya Al-Madz-haji, hlm. 75.
Ketika orang-orang itu mengetahui bahwa kedustaan ini telah terbongkar, mereka berkata: “Ada rihlah lain berjudul ‘Rihlah Al-Maghribi ilā Hadhramaut’; itulah yang khayalan, sedangkan Rihlah Ibn ‘Abid adalah perjalanan yang nyata.”
Namun ini hanyalah bentuk tipu daya lemah yang tidak akan menipu kecuali orang-orang yang sangat polos, sebagaimana yang mereka lakukan dalam kisah ‘Abbād bin Bisyr.
Ketika sumber-sumber sejarah yang terpercaya menjelaskan bahwa ‘Abbād wafat di Al-Yamāmah dan tidak memiliki keturunan, mereka pun dengan sangat naif berkata: “Itu ‘Abbād bin Bisyr yang lain.”
Padahal sumber-sumber itu secara jelas menyebutkan bahwa ia adalah ‘Abbād bin Bisyr Al-Ausi — yang mereka klaim terbunuh di Hadhramaut, dimakamkan di sana, memiliki karamah, keadaan spiritual khusus, dan keturunan bernama Āl Al-Khathib.
Menurut dugaan saya, Āl Al-Khathib itu sendiri lebih tua usia keberadaannya daripada tokoh yang mereka klaim tersebut.
Namun kaum itu tidak memiliki ambisi dan tujuan lain kecuali menggiring sejarah Hadhramaut ke dalam sejarah ilusi dan khayalan.
Ada p**a sebagian kalangan sufi yang justru mengingkari keberadaan seorang pun dari keturunan Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib di Hadhramaut. Tetapi mereka tidak memperluas pembahasan masalah ini karena mereka tahu bahwa hal itu akan membuka pintu-pintu yang tidak sanggup mereka tanggung.
13. Tidak Ada Seorang pun dari Keturunan Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. di Hadhramaut
Sebagian sejarawan khayalan yang tidak berbasis realitas mengklaim bahwa nasab Al-‘Amudi kembali kepada Ash-Shiddiq.
Mereka menyusun silsilah sebagai berikut:
“Ia adalah Sa‘id bin ‘Isa Al-‘Amudi bin Ahmad bin Sa‘id bin Sya‘ban bin ‘Isa bin Dawud bin Muhammad bin Abi Bakr bin Thalhah bin ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin Abi Bakr Ash-Shiddiq.”
Lihat: Ithhāf Ar-Rutūt, hlm. 133.
Mereka tidak menjelaskan siapa orang pertama dari keturunan ini yang turun ke Hadhramaut.
Jika engkau meneliti rangkaian nasab tersebut, engkau akan menemukan banyak sosok yang majhul dan berbagai bentuk manip**asi.
‘Ali bin Muhammad bin ‘Abdillah Bakhil Āl Bā Batin An-Nauhi berkata dalam kitabnya Idrāk Al-Fawt fi Dzikr Qabā’il Tārīkh Hadhramaut:
“Di sini kami menguatkan — dengan sangat kuat — pendapat para sejarawan tentang pen*sbatan Syaikh Sa‘id bin ‘Isa Al-‘Amudi kepada (kabilah) Nūh, meskipun mereka sedikit berbeda pendapat, yang perbedaan itu kembali kepada kedekatan tempat tinggal antara kabilah Nūh dan Al-Muhammadiyyin dari (kabilah) Siban. Hal ini mengingat tidak adanya satu pun dasar yang mendukung keterkaitan mereka dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Adapun dasar yang dijadikan pijakan untuk menisbatkan Āl Al-‘Amudi kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah dasar yang rapuh dan tidak bisa dijadikan sandaran. Kami sebutkan dasar itu agar ia meruntuhkan dirinya sendiri. Tidak syak lagi, tidak boleh bersandar kepada informasi-informasi yang diserap dari mimpi-mimpi tidur dan khayalan.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
“Mimpi murni yang tidak ada dalil sedikit pun yang menunjukkan kebenarannya, tidak boleh dijadikan dasar penetapan sesuatu, menurut kesepakatan (ulama).” Lihat: Ithhāf Ar-Rutūt karya Al-Madz-haji, hlm. 134.
Sejarawan Bāmu’min berkata:
“Sa‘id bin ‘Isa Al-‘Amudi berasal dari kabilah Siban. Sebagian orang menisbatkannya kepada ‘Abdurrahman bin Abi Bakr Ash-Shiddiq — sebagaimana kebiasaan kaum tersebut….”
Sejarawan Muhammad bin ‘Umar Abu Makhramah, yang wafat tahun 951 H, berkata:
“Al-‘Amudi adalah Bani Muhammad bin Nūh bin Siban.”
Lihat: Al-Kadzdzib Al-Maqīt fi Iddi‘ā’ An-Nasab ilā Āl Al-Bayt.
Muhammad bin ‘Umar Abu Makhramah:
Maka, Al-‘Amudi, baik dari sisi tempat tinggal maupun nasab, adalah murni Hadhrami. Ia adalah kabilah yang memiliki kedudukan besar di Hadhramaut.
Mereka tidak butuh “jasa” para agen kalangan elite, murid-murid orientalis, untuk mengacak-acak nasab mereka, menjerumuskan mereka ke dalam kebingungan, menjadikan mereka sebagai pengikut (kelas dua), serta merampas sejarah mulia mereka dengan nasab-nasab palsu, sejarah khurafat, dan posisi “ikut-ikutan” yang merendahkan dan meremehkan.
Berikut terjemahan bagian keempat belas secara lengkap dan berurutan, dengan tetap menjaga nada kritik dan ironi yang digunakan penulis:
14. Ya‘qub bin Yusuf
Nama ini adalah nama yang majhul (tidak dikenal) dan “terputus” (tidak jelas identitas dan nasabnya). Lalu datanglah pada abad-abad belakangan para orientalis—para pengusung “sejarah Hadhramaut versi baru”—dan mengatakan bahwa ia datang dari Irak dan bahwa ia adalah keturunan Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib.
Sementara Abdurrahman bin Muhammad Al-‘idrus menisbatkannya kepada Rasulullah ﷺ. Ini merupakan bentuk ejekan dan merendahkan martabat kabilah ini.
Kelompok lain mengatakan ia adalah dari keturunan Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, lalu mereka susun untuknya rangkaian nasab, sebagaimana yang mereka lakukan pada Al-Khathib dan Al-‘Amudi, dan mereka mengklaim bahwa kabilah Āl Bāwazir dinisbatkan kepadanya.
Padahal mereka sama sekali tidak memiliki dalil yang kuat, tidak p**a sumber tepercaya, bahwa ada seorang pun dari keturunan Al-‘Abbas yang pernah turun ke Hadhramaut. Lihat: Al-Fikr wal-Mujtama‘, hlm. 279–280.
Seandainya mereka berkata: “Ya‘qub bin Maqbarah bin Al-Mukallā” niscaya itu lebih dekat kepada kenyataan daripada nasab buatan ini, yang tak lain hanyalah ilham karangan para “agen elite”.
Lalu sebagian dari anak keturunan kabilah ini pun menulis (menempelkan gelar) “Al-‘Abbasi” di belakang namanya, tanpa memahami apa konsekuensi buruk yang muncul dari nasab yang tidak sah ini.
Namun, masih ada di antara orang-orang bijak dari mereka yang menolak nasab tersebut dan mengakui asal mereka yang Hadhrami murni dan benar.
Demikian p**a Āl Ishaq dinisbatkan kepada Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, dan Āl Bā Jābir dinisbatkan kepada ‘Aqil bin Abi Thalib; juga Āl Bin Salim, Bākrit, dan Bāharmī dinisbatkan kepada ‘Aqil bin Abi Thalib.
Selain mereka, ada puluhan kabilah Hadhramaut lain yang diciptakan nasab-nasab baru untuk mereka, sehingga mereka dikeluarkan dari nasab asli mereka menuju nasab yang bukan milik mereka—entah Quraisy, Anshar, atau selainnya.
Jangan sekali-kali kabilah-kabilah ini menyangka bahwa para “agen elite”, murid-murid orientalis Nasrani yang menyusun nasab-nasab ini, bermaksud baik kepada mereka.
Tujuannya adalah menghancurkan nasab mereka, lalu mendorong mereka masuk ke dalam sebuah terowongan gelap yang mereka sendiri tidak tahu bagaimana cara keluar darinya. Inilah proyek kolonialisme, baik langsung maupun tidak langsung, dalam menghancurkan nasab-nasab kabilah dan sejarah mereka—dan proyek ini masih terus berjalan dan mendapatkan dukungan hingga hari ini; para pelaksananya adalah para “agen elite” itu.
Mereka menisbatkan sebagian kabilah kepada keturunan Tamim bin Aus Ad-Dari; kabilah lain kepada keturunan Jabir bin ‘Abdillah (sahabat Nabi); kabilah lain kepada keturunan Salamah bin Al-Akwa‘; kabilah lain lagi kepada keturunan ‘Umar bin Al-Khaththab; yang lain kepada Bani Sa‘d, kabilah Halimah As-Sa‘diyah—dan selain mereka dari kalangan sahabat. Semua itu hanyalah klaim-klaim dan tebak-tebakan yang tidak sahih.
Hakikatnya, nasab yang tidak benar seperti ini sama sekali tidak mengandung kemuliaan bagi pemiliknya, bertentangan dengan apa yang disangka oleh orang-orang yang berpikiran dangkal.
Justru, nasab palsu itu akan berujung pada penghinaan dan peremehan yang sebenarnya ingin mereka hindari.
Orang-orang yang memberikan nasab-nasab tidak sah itu kepada mereka, serta menyembunyikan nasab asli mereka, kelak akan menjadi pihak yang mencela dan merendahkan mereka pada suatu hari—dengan menuduh mereka tidak memiliki nasab yang valid.
Ketika mereka berhujjah dengan nasab-nasab palsu itu, pihak yang menyusunnya sendiri yang akan membatalkannya, karena memang mereka yang membuatnya.
Maka waspadalah, wahai orang yang cerdas, sebelum engkau “diturunkan derajatnya” (tu-fakhkhas).
Rangkaian nasab palsu itu disusun dengan memasukkan nama-nama tokoh fiktif yang tidak memiliki eksistensi nyata, demi menghubungkan antara nama-nama lokal dengan nama-nama “pendatang” dari luar Hadhramaut.
Karena hal inilah muncul berbagai tokoh khayalan dalam sejarah Hadhramaut.
‘Alawi bin Thahir Al-Haddad berkata:
“Aku bertanya kepada guruku — yang dimaksud adalah Al-‘Aththas, penulis Risālah As-Safīnah Al-Majmū‘ah — tentang nasab sebagian kabilah, lalu beliau mengabarkannya kepadaku. Maka aku berkata kepadanya: ‘Kalian menyebut dalam risalah itu bahwa mereka adalah Āl Fulan.’ Maka ia menjawab, ‘Itu adalah laqab (gelar) yang diletakkan oleh para salaf kami bagi mereka sebagai bentuk tafā’ul (pengharapan baik), sedangkan nasab mereka kembali kepada apa yang telah aku sebutkan kepadamu.’”
Lihat: Asy-Syāmil, hlm. 54, dinukil dari Hāsyiyah As-Safīnah Al-Majmū‘ah.
Teks ini secara gamblang menunjukkan bahwa mereka memang membuat nasab-nasab tidak sah bagi sebagian kabilah—dengan harapan bahwa kabilah-kabilah itu suatu hari akan “kembali kepada at-tafakhkhus” (yaitu menjadi fakhāsis menurut istilah mereka: orang-orang bawahan / rendah menurut standar mereka).
Teks ini juga menjelaskan permusuhan dan perang sengit dari kalangan Āl Bā ‘Alawi terhadap kabilah-kabilah Hadhramaut, dengan cara mengaburkan nasab-nasabnya dan memasukkan mereka ke dalam lingkaran pembodohan, penghinaan, dan peremehan.
Teks ini diperkuat oleh teks-teks lain. Ibn ‘Ubaidillah berkata:
“Dan sesungguhnya banyak sekali kerancuan dalam nasab-nasab kabilah Hadhramaut; tidak ada harapan untuk bisa menyaringnya dengan tuntas karena sempitnya waktu dan kecilnya kebutuhan….”
Lihat: Ithhāf Ar-Rutūt, hlm. 103.
‘Alawi bin Thahir Al-Haddad juga berkata:
“Nasab sejumlah kabilah para masyayikh dan selain mereka berbeda dari yang masyhur di tengah manusia; hal ini menjadi salah satu sebab untuk menyembunyikannya.”
Lihat: Asy-Syāmil, hlm. 22.
Ia juga berkata:
“Sesungguhnya nasab-nasab Hadhramaut seluruhnya (sebagian besar) bersifat ‘untuk menguasai’ (alat kekuasaan), bukan ditegakkan di atas ilmu; melainkan sekadar dugaan, klaim, dan turunan-turunan nama yang diucapkan oleh orang-orang polos, awam, dan para penjilat.” Lihat: Asy-Syāmil.
Husain bin Hamid Al-Mihdhar, pejabat politik Inggris di Hadhramaut, berkata tentang kabilah-kabilah Hadhramaut:
“Mereka hanyalah lafālif (kump**an orang kecil/tak berarti).”
Lihat: At-Tazwīr, hlm. 173.
Dan salah seorang dari mereka berkata tentang kabilah-kabilah di wilayah kesultanan:
“Mereka hanyalah budak-budak kami.”
Lihat: At-Tazwīr.
Berikut terjemahan bagian kelima belas hingga kedelapan belas secara lengkap dan terstruktur, dengan mempertahankan kritik, nada, dan gaya asli teks:
15. Ahmad bin ‘Abdullah Syambil Ba ‘Alawi
Wafat tahun 920 H. Ini adalah sosok yang tidak dikenal; bahkan sebuah figur majhul (tidak jelas). Yang membuatnya terkenal hanyalah kitab yang dinisbatkan kepadanya, yaitu Tārīkh Hadhramaut yang populer dengan nama Tārīkh Syambil.
Di antara hal-hal yang menunjukkan kepalsuan ini adalah:
Di dalam kitab tersebut disebutkan peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah wafatnya pengarang “palsu” itu.
Terjadi kontradiksi dalam penyebutan nama Syambil, yang menunjukkan bahwa ia adalah tokoh yang direkayasa dan dibuat-buat, tidak memiliki eksistensi nyata.
Dalam kitab itu tertulis:
Pada tahun 872 H lahirlah Asy-Syarif Ahmad bin Syambil bin ‘Abdillah bin ‘Alawi, penulis kitab ini.
Pada tahun 920 H disebutkan: “Pada tahun ini wafat Asy-Syarif Al-Mubārak, penulis dan penyalin kitab ini, Ahmad bin ‘Abdillah bin ‘Alawi yang masyhur dengan nama Syambil.”
Dan juga tertulis: “Ini adalah sejarah Imam As-Sayyid Ahmad bin ‘Abdillah bin ‘Alawi Syambil Ba ‘Alawi.”
Maka jadilah:
- Dalam keterangan pertama: Syambil adalah nama ayahnya.
- Dalam keterangan kedua: Syambil adalah gelar bagi dirinya.
- Dalam keterangan ketiga: Syambil adalah nama atau gelar kakeknya.
Kita juga tidak mendapati satu cabang pun atau satu individu pun dari Āl Ba ‘Alawi di Tarim maupun di kota dan lembah lain di Hadhramaut saat ini yang menyandang nama atau laqab “Syambil”.
Bahkan, di dalam kitab itu sendiri, Tārīkh Syambil, kita tidak menemukan seorang pun dari Āl Syambil di seluruh Hadhramaut, kecuali “pengarang” yang diklaim itu, ayahnya, dan putrinya — ketiganya pun klaim semata.
Demikian p**a, kita tidak menemukannya pada sumber lama mana pun yang mu‘tabar; tidak kita dapati p**a kelanjutan keluarga apa pun yang bersambung kepada “Syambil” ini dalam realitas Hadhramaut hari ini. Lihat: At-Tazwīr wa Istilāb Al-Huwiyyah, hlm. 23 dan 26.
16. Muhammad bin ‘Umar Bā Faqīh Asy-Syahri Ba ‘Alawi
Konon ia adalah pengarang kitab “Tārīkh Asy-Syahr wa Akhbār Al-Qarn Al-‘Āsyir” (Sejarah Asy-Syahr dan Berita Abad ke-10).
Pengarang yang diklaim ini adalah sosok majhul; tidak ada yang menuliskan biografinya, dan Asy-Syilli pun tidak menyebutnya dalam A‘yān Al-Qarn Al-Hādī ‘Asyar (tokoh-tokoh abad ke-11 H).
Baik Syambil maupun Bā Faqīh, keduanya pada dasarnya adalah sosok-sosok yang tidak dikenal, dan eksistensi keduanya dikelilingi oleh banyak keraguan.
Dalam karya-karya yang dinisbatkan kepada mereka, keduanya menceritakan:
Peristiwa-peristiwa yang tidak terjadi pada masa hidup mereka,
Bahkan sebagian peristiwa tersebut tidak pernah terjadi sama sekali.
Gaya bahasa yang dominan dalam dua kitab itu juga menunjukkan budaya yang lebih akhir, yaitu budaya abad ke-14 H, bukan abad yang diklaim.
Dengan demikian, kita berhadapan dengan Syambil dan Bā Faqīh sebagai dua nama pena (alias) yang tidak memiliki realitas sejarah. Lihat: At-Tazwīr wa Istilāb Al-Huwiyyah, hlm. 76.
Lihat juga rincian dalil-dalil atas kemajhulan sosok ini dalam kitab At-Tazwīr wa Istilāb Al-Huwiyyah, hlm. 55–62 dan seterusnya.
17. ‘Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Bā Sangjilah Ba‘Alawi Asy-Syahri (wafat 986 H)
Ia dinisbatkan sebagai pengarang kitab “At-Tārīkh Al-Musammā Al-‘Aqd Ats-Tsamīn Al-Fākhir fī Tārīkh Al-Qarn Al-‘Āsyir”.
Pengarang yang diklaim, Bā Sangjilah, adalah sosok majhul. Tidak ada seorang pun yang menuliskan biografinya.
Adapun biografi yang dibuat Bā Faqīh tentang dirinya dalam kitab sejarahnya hanyalah:
Biografi seorang majhul tentang seorang majhul,
Nama samaran yang menulis biografi untuk nama samaran lainnya — ibarat “menyerupakan yang tidak dikenal dengan yang tidak dikenal”, yang tidak memberi penjelasan atau kejelasan apa pun.
Semua ini membuka tabir adanya “rekayasa bersama” di balik dua kitab tersebut.
Ini berarti bahwa biografi Bā Faqīh terhadap Bā Sangjilah adalah biografi yang cacat dan tidak bisa dijadikan pegangan, karena sumber asalnya — kitab Bā Faqīh — sendiri sudah cacat.
Kita juga tidak menemukan satu pun sumber atau referensi yang menyebut adanya sejarawan Hadhramaut — atau selain Hadhramaut — yang dinisbatkan dengan nisbah “Bā Sangjilah”.
Tidak ada seorang pun yang mengatakan nisbah ini kecuali sejarawan Al-Haddad dalam kitabnya Asy-Syāmil, dan itu pun hanya bertumpu pada satu naskah tunggal yang tidak dikenal, yang berada di genggamannya, yang tidak pernah ditelaah seorang pun selain dirinya.
Dari sinilah nama ini kemudian disebar-luaskan dan “dipaksakan” ke dalam khazanah pengetahuan sejarah Hadhramaut. Lihat: At-Tazwīr, hlm. 97.
18. ‘Abdul Qādir bin Syekh Al-‘Aidrus
Lahir dan wafat di India (978–1038 H), dinisbatkan sebagai pengarang “An-Nūr As-Sāfir fī Akhbār Al-Qarn Al-‘Āsyir”
Tokoh Al-‘Aidrus ini adalah sosok majhul juga; tidak ada seorang pun yang menulis biografinya selain dirinya sendiri dalam kitab tersebut.
Orang-orang yang berbicara tentang dirinya pun hanya mengandalkan otobiografinya itu. Di antara yang pertama melakukannya adalah Asy-Syilli dalam kitabnya As-Sanā’ Al-Bāhir….
Dalam biografinya disebutkan bahwa ia lahir dan tumbuh dalam lingkungan sosial dan kultural India, mulai dari keluarga sampai masyarakatnya. Ini berarti bahwa bahasa ibunya adalah bahasa India, terlebih lagi karena ibunya adalah wanita India, baik asal maupun keturunan.
Dengan demikian, muncul pertanyaan:
- Kapan ia dikenal sebagai ulama?
- Kapan ia sempat menulis kitab-kitab, sampai-sampai Al-Faqih ‘Abdul Malik bin ‘Abdussalām bin Du‘asīn — yang wafat di kota Al-Mukhā, Yaman, pada tahun 1006 H — memuji karya-karyanya?
Padahal, bila demikian, usia Al-‘Idrus (yang diklaim) saat itu tidak lebih dari 28 tahun.
Lalu:
- Kapan ia mempelajari bahasa Arab dengan baik?
- Kapan ia menekuni ilmu-ilmu agama, tasawuf, dan penulisan kitab-kitab?
Al-‘Idrus yang diklaim ini menyebut bahwa ayahnya menggubah syair tentang dirinya pada hari kelahirannya, sebanyak lima bait, lalu Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Lathif Makhdūm Zādah menambahkan lima bait lagi sebagai pelengkap sehingga menjadi satu qashidah.
Namun, Al-‘Idrus yang diklaim ini wafat tahun 1038 H, sedangkan Syaikh Makhdūm Zādah lahir tahun 1104 H.
Dengan kata lain, terdapat selisih waktu 66 tahun antara wafatnya Al-‘Aidrus dan kelahiran Syaikh Makhdūm Zādah. Maka jelaslah bahwa kisah “penyempurnaan syair” (takhmis) ini adalah kedustaan besar.
Selain itu, Al-‘Idrus ini juga tidak pernah menyebut bahwa ia pernah datang ke Hadhramaut sekalipun.
Lihat: At-Tazwīr, hlm. 113 dan seterusnya.
Berikut terjemahan bagian kesembilan belas dan kedua puluh secara lengkap dan setia pada makna, termasuk nada kritik dan sindiran penulis:
19. Jalaluddin Al-Mahalli — Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim Al-Mahalli Asy-Syafi‘i
Seorang ulama ushul dan mufassir; lahir dan wafat di Kairo. Lihat biografinya dalam Al-A‘lām karya Az-Zirikli.
Ia memiliki kitab tafsir yang kemudian disempurnakan oleh Jalaluddin As-Suyuthi, sehingga dinamakan Tafsir Al-Jalalain. Ia juga memiliki Syarh Al-Waraqāt dan karya-karya lainnya.
Sekelompok dari kalangan Ba ‘Alawi, ketika mereka “meniup-niup” (mengagung-agungkan) sosok Abu Bakar bin Salim yang dimakamkan di ‘Aynat—yang kuburnya disembah selain Allah, sebagaimana dahulu Al-Lāt, Al-‘Uzzā, dan Hubal disembah—mengatakan:
“Imam Jalaluddin Al-Mahalli telah datang menziarahinya dari Mesir dan mengambil ilmu darinya.”
Kedustaan ini runtuh seketika ketika engkau mengetahui bahwa:
Imam Jalaluddin Al-Mahalli lahir tahun 791 H dan wafat tahun 864 H.
Abu Bakar (bin Salim) lahir tahun 919 H dan wafat tahun 992 H.
Maka bagaimana mungkin Al-Mahalli menziarahi dan mengambil ilmu darinya, sementara Al-Mahalli wafat sebelum Abu Bakar lahir?
Namun, kelompok Ba ‘Alawi mengerahkan upaya besar untuk membangun kejayaan bagi diri mereka di atas fondasi kedustaan, legenda, dan khayalan. Lihat: Kitāb Aghlā Al-Jawāhir, hlm. 88.
20. Ja‘far bin Khalid Al-Barmaki
Ia adalah wazir (menteri) khalifah Abbasiyah, Harun Ar-Rasyid, dan diklaim bahwa Āl Bāwazir adalah dari keturunan dan dzurriyahnya.
Klaim ini disebutkan oleh Al-‘Aththas dalam As-Safīnah Al-Majmū‘ah.
Ini merupakan isyarat terhadap tema penting dalam sejarah Hadhramaut: siapa saja yang meneliti dengan cermat kitab-kitab sejarah Hadhramaut yang ditulis dengan pena para murid orientalis, akan menemukan banyak sosok-sosok khayalan seperti ini.
Maksud dimasukkannya tokoh-tokoh fiktif tersebut adalah agar sejarah yang hakiki hilang, lalu diganti dengan sejarah palsu yang menguntungkan musuh dan menyeret masyarakat ke jurang kesesatan dan kebingungan.
Setelah kolonialisme menguasai negeri-negeri tersebut pada abad-abad terakhir, alur kehidupan di negeri itu berubah total. Para penjajah memberi kedudukan yang sangat besar kepada para “agen” mereka, baik secara materi, moral, politik, maupun keilmuan; mereka memudahkan segala rintangan dan melembutkan segala kesulitan bagi mereka.
Mereka (para agen) kemudian disebar di seluruh kawasan Arab Selatan.
Maka mereka pun:
- Menyebarkan berbagai khurafat syirik,
- Memperbanyak tempat-tempat keramat yang disembah selain Allah,
- Memainkan sejarah sesuka hati mereka,
- Mensucikan diri sendiri dengan mengklaim ilmu, kesalihan, karamah, kewalian,
- Serta memperbanyak angka-angka (klaim) dalam nasab-nasab mereka.
Namun, kenyataannya, urusan itu tetap sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
“Barangsiapa mengaku-ngaku suatu klaim dusta untuk memperbanyak diri dengannya, Allah tidak akan menambah baginya kecuali kehinaan (sedikitnya derajat).” Hadits riwayat Muslim dari Tsabit bin Adh-Dhahhak.
Dalam riwayat lain:
“Tiga perkara; siapa yang terdapat pada dirinya salah satunya, niscaya ia akan melihat akibat buruknya sebelum kematiannya.”
— (yaitu termasuk diantaranya klaim dusta untuk menambah kemuliaan diri).
Ditulis oleh:
‘Abdullah bin Shalih bin ‘Ali Āl Abu Tal‘ah Asy-Syarafi
Tanggal: 5 Muharram 1446 H
Bertepatan dengan: 11 Juli 2024 M
Diterjemahkan dari kitab Al Syakhsiyah Al Wahmiyah karya Abu Tal’ah Sejarawan Yaman. (*kd)
Jakarta
15314
Be the first to know and let us send you an email when PWILS posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.