30/07/2018
Melatih Anak Bertanya
Bu, adakah yang s**a dihujani pertanyaan bertubi-tubi oleh anak-anak?
Ayo bersyukur dulu, Alhamdulillah ....
Karena s**a bertanya adalah salah satu ciri positif perkembangan anak, artinya kemampuan berpikir kritisnya sedang berkembang.
Sebaliknya, untuk anak yang tidak s**a bertanya, kita perlu melatihnya.
Bertanya adalah salah satu keterampilan, ia lahir dari sebuah proses berpikir.
Mulailah dengan mengajukan pertanyaan sederhana seperti hewan apa yang paling besar di dunia. Jawabannya adalah paus biru.
Nah, karena kita sedang melatih bertanya, ajukan pertanyaan-pertanyaan baru.
"Kak, kira-kira mengapa paus biru itu jadi hewan terbesar di dunia, ya?"
Dalam kasta jenis kata tanya, apa-siapa-kapan-bagaimana-mengapa, ada kata tanya yang menduduki kasta tertinggi sebuah pertanyaan. Betul, ialah MENGAPA.
Baik mengajukan maupun menjawab pertanyaan MENGAPA, membutuhkan kemampuan berpikir luas, kritis, dan analitis.
Tergelitik untuk menjelaskan dengan ukuran berat? Boleh-boleh saja, kok.
"Karena berat paus biru itu 150 ton, Nak."
Lalu si anak mungkin akan lanjut bertanya, "Mmm ... 150 ton itu sebesar apa, Bu?"
Nah, masuk, deh. Jelaskan lagi dengan hal yang dipahami anak, yang biasa dia lihat secara konkrit di sekitarnya.
"Kakak tahu mobil Pak Iwey? Nah, paus biru itu beratnya sama dengan 40 mobil Pak Iwey, lho!"
"Waaaah! Banyak banget, Bu! Pantes aja paus biru berat banget!"
Tring! Dari diskusi santai dan mengalir. Terciptalah o-moment.
Konsep seperti inilah yang dikemas oleh buku Aku Ingin Tahu Mengapa.
Memberikan pertanyaan untuk melahirkan pertanyaan baru sehingga anak terbiasa berpikir kritis. Jawaban-jawaban yang diberikan disusun sekonkrit mungkin agar dipahami oleh pembaca pemula.
Nah, untuk yang sudah punya buku ini, fitur ini yang disajikan dalam ilustrasi kocak di sekitar halaman. Itu harta karun, Bu! Jangan diabaikan, ya.
Untuk yang belum punya, gimana?
Silakan pesan di sini π
http://bit.ly/NgobrolPapirusBookstore