07/07/2026
UNDANGAN YANG TAK PERNAH DITUJUKAN
Orang-orang selalu mengira patah hati datang bersama suara.
Tangisan.
Teriakan.
Pecahan gelas.
Padahal, ada patah hati yang bekerja seperti debu. Ia mengendap pelan di sela-sela hari, menempel pada cangkir kopi, pada bantal yang terlalu lama dipeluk, pada buku yang tak lagi selesai dibaca. Ia tak bersuara, tetapi membuat napas menjadi lebih berat dari biasanya.
Laras mengenal jenis patah hati itu.
Ia datang pada hari ketika telepon genggamnya bergetar, bukan oleh pesan, melainkan oleh sebuah foto.
Seorang teman mengirimkan gambar sepasang pengantin.
Laki-lakinya mengenakan beskap hitam. Senyumnya lebar, seperti seseorang yang baru saja memenangkan hidup.
Di sampingnya, seorang perempuan yang tak pernah dikenalnya.
Di bawah foto itu hanya ada satu kalimat.
"Bukannya ini Mas Arga?"
Laras tidak menjawab.
Sebab ada kenyataan yang kadang terlalu telanjang untuk dibalas dengan kata-kata.
---
Dulu, Arga pernah berkata, "Kalau aku sudah mapan, orang pertama yang akan kupinang adalah kamu."
Kalimat itu diucapkan di sebuah halte, saat hujan memaksa mereka berteduh di bawah atap seng yang bocor.
Air menetes tepat di antara mereka.
Mereka tertawa.
Mereka masih percaya bahwa hidup selalu punya cukup ruang untuk janji.
Betapa muda mereka waktu itu.
Dan anak muda memang sering mengira waktu adalah sahabat.
Padahal waktu hanya bekerja. Ia tidak memihak siapa pun.
---
Lima tahun berlalu.
Laras menunggu.
Bukan dengan menghitung hari.
Melainkan dengan menunda banyak hal.
Menolak beberapa lamaran.
Menghindari pertanyaan keluarga.
Menyimpan gaun sederhana yang diam-diam telah dibelinya sendiri.
Sesekali Arga datang.
Sesekali menghilang.
Alasannya selalu terdengar masuk akal.
Pekerjaan.
Orang tua.
Tabungan yang belum cukup.
Karier yang masih dirintis.
Laras percaya.
Karena cinta, pada dasarnya, adalah kemampuan manusia untuk mempercayai sesuatu yang bahkan tidak mampu ia buktikan.
---
Lalu datang foto itu.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada permintaan maaf.
Tidak ada keberanian untuk mengatakan bahwa cerita mereka telah selesai.
Hanya selembar foto.
Dan sepasang cincin.
Begitu saja.
Seolah lima tahun hanyalah catatan kaki yang boleh dihapus kapan saja.
---
Malam itu Laras berjalan tanpa tujuan.
Kota sedang sibuk dengan dirinya sendiri.
Lampu lalu lintas berganti warna seperti biasa.
Pedagang kaki lima tetap berteriak menawarkan dagangan.
Anak-anak muda tertawa di trotoar.
Dunia memiliki kebiasaan yang menyebalkan.
Ia terus bergerak, bahkan ketika hidup seseorang baru saja runtuh.
---
Ia berhenti di depan toko bunga.
Seorang anak kecil menawarkan mawar.
"Mbak, buat pacarnya?"
Laras tersenyum.
Untuk pertama kalinya hari itu.
"Bukan."
"Lalu buat siapa?"
Laras memandang bunga itu lama.
"Lagi belajar buat diri sendiri."
Anak kecil itu tidak mengerti.
Barangkali memang ada jawaban-jawaban yang hanya dipahami oleh orang yang pernah ditinggalkan tanpa penjelasan.
---
Beberapa minggu kemudian Arga menghubunginya.
"Maaf."
Hanya itu.
Satu kata.
Terlambat.
Aneh sekali.
Manusia sering mengira kata maaf adalah kunci yang bisa membuka semua pintu yang telah ia tutup sendiri.
Padahal ada pintu yang, setelah ditutup, berubah menjadi dinding.
---
Laras membaca pesan itu berkali-kali.
Lalu mematikannya.
Bukan karena benci.
Bukan p**a karena dendam.
Melainkan karena ia akhirnya mengerti sesuatu yang tak pernah diajarkan siapa pun.
Bahwa cinta tidak selalu gagal karena hadirnya orang ketiga.
Kadang ia gagal karena keberanian seseorang tidak pernah tumbuh sebesar janjinya.
Dan janji yang terus diulang tanpa pernah ditepati pada akhirnya bukan lagi harapan.
Ia berubah menjadi cara yang paling sunyi untuk menyakiti seseorang.
---
Beberapa bulan kemudian, Laras melewati gedung tempat Arga menikah.
Di halaman masih ada sisa-sisa dekorasi yang mulai pudar.
Bunga-bunga plastik kehilangan warna.
Pita-pita diterbangkan angin.
Semua pesta, rupanya, memang memiliki umur.
Begitu p**a luka.
Ia tidak benar-benar hilang.
Ia hanya belajar menjadi kenangan yang tidak lagi meminta air mata setiap kali diingat.
Laras melangkah pergi.
Kali ini tanpa menoleh.
Karena akhirnya ia tahu, yang paling menyakitkan bukanlah gagal menjadi istri seseorang.
Yang paling menyakitkan adalah pernah menjadikan janji orang lain sebagai rumah, padahal orang itu sendiri tidak pernah berniat menetap di dalamnya.
Dan sejak hari itu, Laras berhenti menunggu.
Bukan karena hatinya telah sembuh.
Melainkan karena ia memilih untuk tidak lagi menyerahkan masa depannya kepada seseorang yang bahkan tidak cukup jujur untuk mengucapkan selamat tinggal.
_end_