Toko Al Bani

Toko Al Bani Toko Al Bani

Toko Buku Ahluss Sunnah Wal Jamaah Terpercaya

Contact :
FB : Toko Al Bani
IG : toko.albani
:
Wa : 085710447075
BBM : D401E12E

Ahlan Wa Sahlan di Toko Albani
"Toko Buku Ahluss Sunnah Wal Jamaah Terpercaya"

Toko Albani adalah toko buku online yang menyediakan khusus buku-buku Islam yang sesuai Sunnah. Penting memang saat ini kita mencari buku dari sumber-sumber yang terpercaya. Untuk itu Toko Albani memilih dan memilah buku-buku yang sesuai dengan Sunnah khusus untuk Anda agar tidak terpeleset dalam mencari ilmu agama. To

ko menyediakan beragam koleksi buku islam dari mulai karangan Ulama’ terdahulu sampai dengan Ulama muta’ahirin, juga buku-buku import dan lokal juga tersedia. Mulai dari buku-buku pegangan untuk orang tua sampai dengan anak-anak, dan masih banyak lagi koleksi-koleksi yang bisa anda dapatkan di Toko Albani

Untuk pemesanan silahkan kunjungi

Fanpage : Toko Albani
Instagram : toko.albani
CALL / SMS & WA : 0857 1044 7075
:
BBM : D401E12E


Salam,
Toko Albani
"Toko Buku Ahluss Sunnah Wal Jamaah Terpercaya"

Assalamu'alaikum ikhwah fillah, 20 hari menuju Ramadhan.. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘...
07/05/2017

Assalamu'alaikum ikhwah fillah,
20 hari menuju Ramadhan..
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079).
Yuk persiapkan diri kita untuk menuju Ramadhan yang penuh berkah. Jangan kalah semangatnya sama Iklan sirup.
Follow us :
IG = psmi_moestopo
Path = LDK PSMI MOESTOPO
FB = UKM LDK PSMI MOESTOPO
Twitter =
Line@ =
Web = www.ldkpsmimoestopo.com

Blog description here

Untuk mu wahai wanita muslimah
22/02/2017

Untuk mu wahai wanita muslimah

Amalan yang satu ini juga mungkin banyak dilalaikan oleh kamu muslimin atau mungkin belum diketahui. Amalan tersebut ada...
17/02/2017

Amalan yang satu ini juga mungkin banyak dilalaikan oleh kamu muslimin atau mungkin belum diketahui. Amalan tersebut adalah shalawat kepada Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Janganlah kita sampai melalaikan amalan ini.
Keutamaan Bershalawat Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ أَوْ سَأَلَ لِي الوَسِيْلَةَ حَقَّتْ عَلَيْهِ شَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ
“Barangsiapa bershalawat kepadaku atau meminta agar aku mendapatkan wasilah, maka dia berhak mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat nanti.” (Hadits ini terdapat dalam Fadhlu Ash Sholah ‘alan Nabiy no. 50, Isma’il bin Ishaq Al Jahdiy. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim no. 408)
Keutamaan Bershalawat di Hari Jum’at

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً
“Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Hadits ini hasan ligoirihi –yaitu hasan dilihat dari jalur lainnya-)
Amalkanlah Shalawat Berikut

Di antara shalawat yang dianjurkan yang dapat kita amalkan adalah:
[1] Dari Zaid bin Abdullah berkata bahwa sesungguhnya mereka dianjurkan mengucapkan,
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ
“Allahumma sholli ‘ala Muhammad an nabiyyil ummiyyi. [Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad Nabi yang Ummi]” (Fadhlu Ash Sholah ‘alan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam no. 60. Syaikh Al Albani mengomentari bahwa hadits ini shohih)
[2] Dari Ka’ab bin ‘Ujroh, beliau mengatakan,
“Wahai Rasulullah, kami sudah mengetahu bagaimana kami mengucapkan salam padamu. Lalu bagaimana kami bershalawat padamu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ucapkanlah,
اللَّهُمَّ صّلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
“Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad k**a shollaita ‘ala ali Ibrahim, innaka hamidun majid” [Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan kerabatnya karena engkau memberi shalawat kepada kerabat Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia] (Fadhlu Ash Sholah ‘alan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam no. 56. Syaikh Al Albani mengomentari bahwa sanad hadits ini shohih)
[3] Dalam riwayat Bukhari no. 3370 terdapat lafazh shalawat sebagai berikut,
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
“Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad k**a shollaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaka hamidun majid. Allahumma barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad k**a barokta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaka hamidun majid.” [Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan kerabatnya karena engkau memberi shalawat kepada Ibrahim dan kerabatnya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berilah keberkahan kepada Muhammad dan kerabatnya karena engkau memberi keberkahan kepada Ibrahim dan kerabatnya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia]
Itulah bacaan shalawat yang dapat kita amalkan dan hendaknya kita mencukupkan diri dengan shalawat yang telah diajarkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Janganlah kita mengamalkan shalawat yang sebenarnya tidak ada tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apalagi mengandung kesyirikan semacam shalawat nariyah. Butuh pembahasan tersendiri untuk membahas shalawat nariyah ini.
Penutup

Saudaraku, perbanyaklah shalawat di hari Jum’at. Ingatlah, makna shalawat adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Abul ‘Aliyah,
صَلاَةُ اللَّهِ ثَنَاؤُهُ عَلَيْهِ عِنْدَ الْمَلاَئِكَةِ
“Shalawat Allah adalah pujian-Nya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan para malaikat.” (HR. Bukhari no. 10)
Sebagian ulama mengatakan bahwa makna shalawat dari Allah adalah rahmat, dari malaikat adalah istigfar (mohon ampunan) dan dari manusia adalah do’a. Namun makna shalawat dari Allah yang lebih tepat adalah sebagaimana perkataan Abul ‘Aliyah di atas sebagaimana yang dikuatkan oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin dalam Syarhul Mumthi’ dan Syarh Bulughul Marom.
Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk mengamalkannya. Semoga Allah selalu memberi kita ilmu yang bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shollallahu ‘ala nabiyyiina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Panggang, Gunung Kidul, 16 Shofar 1430 H
Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho. Com

16/02/2017

[Jangan Lupa Membaca Surah Al Kahfi di Hari Jum'at]

“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6470)
Betapa banyak orang lalai dari amalan yang satu ini ketika malam Jum’at atau hari Jum’at, yaitu membaca surat Al Kahfi. Atau mungkin sebagian orang belum mengetahui amalan ini. Padahal membaca surat Al Kahfi adalah suatu yang dianjurkan (mustahab) di hari Jum’at karena pahala yang begitu besar sebagaimana berita yang dikabarkan oleh orang yang benar dan membawa ajaran yang benar yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits-hadits yang membicarakan hal ini kami bawakan sebagian pada posting yang singkat ini. Semoga bermanfaat.

Hadits pertama:
مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ
“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada malam Jum’at, dia akan disinari cahaya antara dia dan Ka’bah.” (HR. Ad Darimi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6471)

Hadits kedua:
مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ
“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6470)

Inilah salah satu amalan di hari Jum’at dan keutamaan yang sangat besar di dalamnya. Akankah kita melewatkan begitu saja [?]

Semoga Allah selalu memberikan kita ilmu yang bermanfaat dan dimudahkan untuk beramal sholeh sesuai tuntunan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shollallahu ‘ala nabiyyiina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

***
Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

[Jangan Lupa Membaca Surah Al Kahfi di Hari Jum'at]“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan d...
10/02/2017

[Jangan Lupa Membaca Surah Al Kahfi di Hari Jum'at]

“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6470)
Betapa banyak orang lalai dari amalan yang satu ini ketika malam Jum’at atau hari Jum’at, yaitu membaca surat Al Kahfi. Atau mungkin sebagian orang belum mengetahui amalan ini. Padahal membaca surat Al Kahfi adalah suatu yang dianjurkan (mustahab) di hari Jum’at karena pahala yang begitu besar sebagaimana berita yang dikabarkan oleh orang yang benar dan membawa ajaran yang benar yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits-hadits yang membicarakan hal ini kami bawakan sebagian pada posting yang singkat ini. Semoga bermanfaat.

Hadits pertama:
مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ
“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada malam Jum’at, dia akan disinari cahaya antara dia dan Ka’bah.” (HR. Ad Darimi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6471)

Hadits kedua:
مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ
“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6470)

Inilah salah satu amalan di hari Jum’at dan keutamaan yang sangat besar di dalamnya. Akankah kita melewatkan begitu saja [?]

Semoga Allah selalu memberikan kita ilmu yang bermanfaat dan dimudahkan untuk beramal sholeh sesuai tuntunan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shollallahu ‘ala nabiyyiina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

***
Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

SIAPAKAH SESUNGGUHNYA PEMIMPIN YANG WAJIB DITA’ATI?PERTANYAAN: Assalaamu’alaikum Wa Rahmatullaahi Wa BarakaatuhuSyaikh y...
09/02/2017

SIAPAKAH SESUNGGUHNYA PEMIMPIN YANG WAJIB DITA’ATI?

PERTANYAAN: Assalaamu’alaikum Wa Rahmatullaahi Wa Barakaatuhu

Syaikh yang mulia…

Sebagian saudara kami di Indonesia telah menyempitkan pemahaman Ulil Amri (penguasa) sebatas kepada: penguasa yang berhukum dengan Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunah Rasul-Nya, berdalil dengan sabda Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

إِنْ أُمِّرَ عَلَيْكُم عَبْدٌ مُـجَدَّعٌ أَسْوَدُ؛ يَقُوْدُكُمْ بِكِتَابِ اللهِ تَعَالَـى: فَـاسْـمَعُوْا لَهُ وَأَطِيْعُوْا

“Apabila diangkat bagi kalian pemimpin yang dia adalah seorang budak yang buntung (hidungnya dan lainnya) serta hitam (kulitnya); yang meminpin kalian dengan Kitabullah -Ta’aalaa-: maka dengarlah dan ta’atlah!”

Adapun orang yang berhukum dengan undang-undang (buatan manusia); maka bukanlah Ulil Amri.

Seperti itulah ucapan mereka.

Dan ini mengantarkan mereka untuk tidak mendengar dan tidak ta’at kepada pemimpin negara, dan mereka juga membicarakan keburukan pemimpin padahal dia (pemimpin itu) seorang muslim. Apakah perbuatan ini benar?

-Murid anda: Abu Abdirrahman [Agus Jaelani] dari Indonesia-

Baarakallaah Fiikum Wa Jazaakumullaahu Khairan.

JAWABAN SYAIKH DOKTOR IBRAHIM BANI SALAMAH -hafizhahullaah-:

Wa ‘Alaikumus Salaam Wa Rahmatullaahi Wa Barakaatuhu

Saudaraku yang dimuliakan…

Pemahaman ini -tidak ragu lagi- adalah pemahaman yang sakit; yang tidak ada dalilnya sama sekali.

Yang demikian dikarenakan:

[PERTAMA]:

- Sunnah telah menjelaskan bahwa: PENGUASA YANG WAJIB DITA’ATI ADALAH SEORANG MUSLIM; walaupun bermaksiat -selama tidak kafir-, dan telah datang hadits-hadits yang banyak yang menjelaskan hal ini; di antaranya:

1. Hadits ‘Ubadah bin Ash-Shamit -radhiyallaahu ‘anhu-, ia berkata:

بَايَعَنَا رَسُوْلُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، فِي الْيُسْرِ وَالْعُسْرِ، وَالْمَنْشَطِ والْمَكْرَهِ، وَعَلِى أَثَرَةٍ عَلَيْنَا، وَعَلَى أَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ، إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا، عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيْهِ بُرْهَانٌ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Kami membai’at Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- untuk mendengar dan ta’at (kepada pemimpin): di saat susah dan senang, di saat semangat dan malas, (bahkan) dalam keadaan dia (pemimpin) menggunakan (harta rakyat) untuk kepentingan sendiri tanpa diberikan kepada kami, dan agar kami tidak mencabut kepemimpinan dari ahlinya; kecuali jika kalian melihat kekufuran yang jelas dan kalian memiliki bukti dari Allah.” Muttafaqun ‘Alaihi

2. Hadits Ummu Salamah -radhiyallaahu ‘anhaa-, ia berkata: sesungguhnya Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

((إِنَّهُ يُسْتَعْمَلُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ، فَتَعْرِفُوْنَ وَتُنْكِرُوْنَ، فَمَنْ كَرِهَ؛ فَقَدْ بَرِئَ، وَمَنْ أَنْكَرَ؛ فَقَدْ سَلِمَ، وَلٰكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ)) قَالُوْا: أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ؟ قَالَ: ((لَا، مَا صَلَّوْا)) أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

“Sungguh, akan diangkat untuk kalian: para pemimpin; yang kalian menganggap ma’ruf (sebagian) perbuatan mereka dan kalian mengingkari (perbuatan) yang lainnya. Maka barangsiapa yang membenci (perbuatannya); maka ia telah berlepas diri. Dan barangsiapa yang mengingkari; maka ia telah selamat. Akan tetapi bagi yang ridha dan mengikuti; (merekalah yang celaka).” Mereka (para Shahabat) bertanya: Tidakkah kita memerangi mereka? Beliau menjawab: “Tidak! SELAMA MEREKA MASIH SHALAT.” HR. Muslim

3. Hadits Ibnu ‘Abbas- radhiyallaahu ‘anhumaa-, dari Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, beliau bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ؛ فَلْيَصْبِرْ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْـجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ؛ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang melihat pada pemimpinya ada sesuatu yang dia benci; maka bersabarlah! Karena sungguh, barangsiapa yang meninggalkan Jama’ah (kaum muslimin) sejengkal saja, kemudian ia mati; maka ia mati sebagai bangkai jahiliyah.” Muttafaqun ‘Alaihi

4. Hadits ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i -radhiyallaahu ‘anhu-, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

((خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ: الَّذِيْنَ تُحِبُّوْنَهُمْ وَيُحِبُّوْنَكُمْ، وَتُصَلُّوْنَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّوْنَ عَلَيْكُمْ. وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ: الَّذِيْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَيُبْغِضُوْنَكُمْ، وَتَلْعَنُوْنَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ)) قَالَ: قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ [بِالسَّيْفِ]؟ فَقَالَ: ((لَا، مَا أَقَامُوْا فِيْكُمُ الصَّلَاةَ، إِلَّا مَنْ وَلِيَ عَلَيْهِ وَالٍ، فَرَآهُ يَأْتِيْ شَيْئًا مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ؛ فَلْيَكْرَهْ مَا يَأْتِيْ مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ، وَلَا يَنْزِعَنَّ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ)) أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah: yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian, serta kalian mendo’akan kebaikan untuk mereka dan mereka pun mendo’akan kebaikan untuk kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin adalah: yang kalian benci kepada mereka dan mereka pun benci kepada kalian, serta kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” Para Shahabat berkata: Wahai Rasulullah, bolehkah bagi kami mengangkat [pedang] untuk melawan mereka? Beliau bersabda: “Tidak! Selama mereka masih Shalat bersama kalian! Ketahuilah, barangsiapa yang dipimpin oleh seorang penguasa, kemudian ia melihat penguasanya mendatangi sebagian dari maksiat kepada Allah; maka bencilah kemaksiatannya, dan janganlah membatalkan bai’at ketaatan.” H.R. Muslim

5. Hadits ‘Abdullah bin ‘Umar -radhiyallahu ‘anhumaa-, ia berkata: Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

((مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ؛ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا حُجَّةَ لَهُ، وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِيْ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ؛ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً)) أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

“Barangsiapa yang melepaskan diri dari ketaatan; maka ia akan bertemu dengan Allah pada Hari Kiamat dengan tidak memiliki hujjah yang membelanya. Dan barangsiapa yang mati dan tidak ada bai’at di lehernya; maka ia akan mati sebagai bangkai jahiliyah.” HR. Muslim

6. Hadits Hudzaifah -radhiyallaahu ‘anhu-, ia berkata: Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

((يَكُوْنُ بَعْدِيْ أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُوْنَ بِـهَدْيِيْ، وَلَا يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِيْ، وَسَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رِجَالٌ قُلُوْبُهُمْ قُلُوْبُ الشَّيَاطِيْنِ فِيْ جُثْمَانِ إِنْسٍ)) قَالَ: قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنْ أَدْرَكْتُ ذٰلِكَ؟ قَالَ: ((تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ لِلْأَمِيْرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ؛ فَاسْـمَعْ وَأَطِعْ))

“Akan ada setelahku: para pemimpin (penguasa) yang tidak mengambil petunjuk dariku, dan tidak mengambil Sunnahku. Dan akan ada sekelompok lelaki di antara mereka yang hati mereka adalah hati setan dalam tubuh manusia.” Aku bertanya: Apa yang harus aku lakukan apabila aku menemui yang demikian; wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Engkau dengar dan ta’at kepada pemimpin; walaupun punggungmu dipukul dan hartamu diambil, maka dengar dan ta’atlah!” HR. Muslim

Dalam riwayat yang lain: “Engkau tetap bersama jama’ah kaum muslimin dan imam mereka.” Hudzaifah bertanya: Apabila mereka tidak memiliki jama’ah dan imam? Beliau bersabda: “Tinggalkanlah seluruh kelompok itu walaupun engkau sampai menggigit akar pepohonan; sampai kematian menghampirimu dan engkau dalam keadaan seperi itu.” Muttafaqun ‘Alaih.

Seluruh hadits ini membicarakan bahwa: pemimpin (penguasa) wajib dita’ati selama tidak kafir, walaupun dia bermaksiat atau fasik.

[KEDUA]:

- Mereka membalik makna kalimat ini:

يَقُوْدُكُمْ بِكِتَابِ اللهِ

“memimpin kalian dengan Kitabullah”

[Yakni: mereka menganggap bahwa: “Kalau tidak memimpin dengan Kitabullah; berarti tidak wajib dita’ati”]

Maka, makna yang benar terhadap kalimat ini adalah: ENGKAU MENTA’ATI PENGUASA INI DAN MELAKSANAKAN PERINTAHNYA; SELAMA TIDAK MEMERINTAHKAN KEMAKSIATAN, apabila ia memerintahkan kemaksiatan; maka tidaklah kita menta’ati kemaksiatan tersebut; akan tetapi keta’atan padanya tetap ada selain pada kemaksiatan ini, maksudnya: Ulil Amri tetap dita’ati dan engkau benar-benar jauhi maksiatnya itu, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Nabi -shallallaahu 'alaihi wa sallam- :

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ مَا لَـمْ يُؤْمَرَ بِـمَعْصِيَةِ اللهِ، فَإِنْ أُمِرَ بِـمَعْصِيَةٍ؛ فَلَا سَـمْعَ وَلَا طَاعَةَ

“Wajib bagi seorang muslim: untuk mendengar dan ta’at selama tidak diperintahkan dengan kemaksiatan kepada Allah. Dan apabila diperintahkan kepada kemaksiatan; maka tidak mendengar dan tidak ada keta’atan.”

[KETIGA]:

- Bahwasanya mereka mendahulukan “Mafhuum Mukhaalafah” (pemahaman kebalikan) atas “Manthuuq” (pemahaman asli) dari Nash (dalil) yang jelas dan gamblang yang telah disebutkan [Yakni: wajibnya ta’at kepada penguasa walaupun ia tidak menjalankan syari’at, ia zhalim, atau fasik]. Padahal “Mafhuum Mukhaalafah” adalah dalil yang lemah menurut ulama Ushul Fiqh, sehingga tidak boleh bersandar kepadanya ketika ada Nash (dalil) yang shahih. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “...Telah diketahui: wajibnya mendahulukan Nash atas pendapat, dan mendahulukan syari’at atas hawa nafsu. Maka pokok yang membedakan antara orang-orang beriman kepada para rasul dengan orang yang menyelisihi para rasul- adalah: mendahulukan Nash-Nash atas pendapat dan mendahulukan syari’at atas hawa nafsu. Sedangkan pokok kejelekan adalah: mendahulukan pendapat atas Nash.” “Minhaajus Sunnah” (VIII/218)

[KEEMPAT]:

- Kalaulah kita anggap “Mafhuum Mukhaalafah” adalah dalil kuat yang diamalkan; maka sesungguhnya dia adalah dalil pengiring yang dihukumi dengan Nash-Nash Al-Qur’an dan As-Sunnah; sehingga tidak boleh diamalkan bersama dengan adanya Nash. Karena Nash lebih didahulukan atas “Mafhuum” (pemahaman kebalikan) -dan ini disepakati oleh Ulama-. Contohnya: apakah kita memahami secara kebalikan firman Allah -Ta’aalaa-:
..وَلَا تُكْرِهُوْا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا...

“…Dan janganlah kamu paksa hamba sahaya perempuanmu untuk melakukan pelacuran; sedang mereka sendiri menginginkan kesucian…” (QS. An-Nuur: 33)

Apakah (dengan “Mafhuum” kemudian kita katakan bahwa): apabila mereka tidak ingin menginginkan kesucian; berarti kita boleh memaksa mereka untuk berzina dan melacur!!!

[KELIMA]:

- Sesungguhnya mereka berupaya membesarkan (atau mempropaganda) kesalahan (penguasa); untuk menjadikan sebagian kesalahan penguasa: sebagai alasan untuk mengkafirkan mereka, kemudian mensifati masyarakat: bahwa mereka adalah orang-orang yang dipimpin dengan hawa nafsu, serta bahwa negeri tersebut bukanlah negeri Islam. Ini adalah kebathilan. Karena sungguh, sebagian besar syi’ar Islam bisa nampak di negeri Islam.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata: “Negeri Islam adalah negeri yang ditegakkan syariat Islam di dalamnya -tanpa melihat penguasanya- WALAUPUN DIPIMPIN OLEH SEORANG KAFIR, DAN WALAUPUN PENGUASANYA TIDAK MEMERINTAH DENGAN SYARI’AT ISLAM; maka negeri tersebut tetap dikatakan negeri Islam; selama Adzan dikumandangkan, Shalat ditegakkan, Shalat Jum’at didirikan, di dalamnya ada Hari Raya (’Id) yang syar’i, ada Shaum (puasa), (kaum muslimin dibolehkan menunaikan) ibadah Haji (ke Baitullah), dan yang semisalnya. Maka yang seperti ini adalah negeri Islam; walaupun para penguasanya adalah orang-orang kafir. Karena Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan kita apabila melihat kekafiran yang jelas maka; kita memerangi mereka; sehingga maknanya adalah: bahwa negeri kita tetap negeri Islam, yang kita memerangi pemimpin kafir ini dan melengserkannya dari pemerintahan.”

[KEENAM]:

- Bahwa banyak dari peraturan yang berlaku di negeri kita -yang disangka oleh orang-orang yang pendek pemahamannya: adalah undang-undang buatan-, pada dasarnya adalah tata cara dan aturan yang bersumber dari aturan maslahat syar’i; seperti: aturan lalu lintas, paspor, diplomasi, dan selainnya.

[KEENAM]:

- Apa yang terjadi dari kekurangan dalam mempraktekkan aturan dan kaidah syariat di sebagian Negara; maka tidak ragu lagi bahwa itu merupakan kemaksiatan dan kekurangan. Akan tetapi kewajiban seorang muslim adalah: berusaha menyempurnakannya dengan cara yang hikmah dan nasihat yang baik; tanpa menimbulkan fitnah atau merusak keamanan. Maka setetes darah yang tertumpah (terbunuhnya seorang muslim): di sisi Allah adalah lebih besar dibandingkan hancurnya dunia; sebagaimana sabda Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ سَفْكِ دَمِ امْرِءٍ مُسْلِمٍ

“Hancurnya dunia adalah lebih ringan dibandingkan tercecernya darah seorang muslim.”

Wallaahu A’lam.

Diterjemahkan oleh:

Dika Wahyudi Lc.

Penanya: Agus Jaelani Abu Abdirrahman

Catatan:

1- Tambahan penjelasan dalam kurung [ ] adalah dari kami.

2- Syaikh banyak membawakan Hadits secara makna; jelas sekali bahwa beliau menulisnya dengan hafalan.

07/02/2017

[PROMO]

[Setiap Pembelian Buku Harta Haram Muamalat Kontemporer akan mendapatkan Bonus Buku Pocket Dzikir Pagi Petang dari kita]

Jazakumullahu khairan bagi akhi wa ukhti yang sudah menonton dan telah berbagi video berjudul "Bangkrut Karena Riba".

Semoga kita dan keluarga kita terjaga dari bahaya dan dosa riba.

Jika ingin mempelajari lebih lanjut lagi tentang riba dan transaksi apa saja yang ada riba di dalam nya in syaa Allah bisa dipelajari semua nya di dalam buku "Harta Haram Muamalat Kontemporer" Karangan Dari Ustadz Dr. erwandi Tarmizi, MA semua muamalah kontemporer in syaa Allah dapat kita temukan jawaban nya di dalam buku ini yang dibahas oleh pakar nya secara ilmiah berdasarkan Al-Quran Dan Sunnah.

https://www.facebook.com/commerce/products/1158430350931140/

Fast Respon :

FB : Toko Al Bani
IG : toko.albani
:
Call/Text/Wa : 085710447075
BBM : D401E12E

07/02/2017

[Ketika Sang Habib Dikritik]

Harga Buku : Rp 60.000

Buku Ketika Sang Habib Dikritik ini memaparkan sebagian metode beragama kaum Habaib yang salah dan mengkoreksi sistem sanad atau pengambilan ilmu versi Sang Habib yang keliru. Karena banyak kaum muslimin yang ‘mengistimewakan’ Sang habib, membuat buku ini perlu untuk dibaca dan didakwahkan isinya. Karena jalan kebenaran hanyalah satu, yaitu jalan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah.Semoga buku Ketika Sang Habib Dikritik ini membuka hati kita semua bahwa beribadah memiliki kaifiyat atau tata cara yang telah ditentukan oleh syariat dan tidak bisa diubah-ubah menurut kemauan kita sendiri. Dan sudah menjadi tugas kita sesama muslim untuk saling menasehati dan mengingatkan untuk kembali kepada Agama Allah ta’ala yang murni. Selamat membaca dan mengambil faidahnya.

Islam adalah agama yang dibangun di atas tauhid dan ittiba’ kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam seperti yang tersaji dalam buku Ketika Sang Habib Dikritik ini. Terlebih lagi tatkala seorang muslim melihat di sekelilingnya, betapa banyak manusia yang terjerumus dalam peribadatan kepada makhluk. Sebagian manusia menyembah matahari, sebagian manusia menyembah sapi, sebagian yang lain menyembah batu, sebagian yang lain menyembah pohon dan seterusnya.

Nikmat Islam yang dibangun di atas tauhid dan sunnah akan terasa semakin besar dan tinggi, tatkala seorang muslim melihat bahwasanya di antara saudara-saudaranya sesama muslim masih ada yang terjerumus dalam praktik-praktik kesyirikan dan kebid’ahan, baik mereka sadari atau tidak. Walaupun demikian, tidaklah seorag muslim membiarkan saudaranya begitu saja. Semaksimal mungkin ada usaha dan do’a agar saudara kita dapat sadar dan kembali ke jalan Allah ta’ala.

Sungguh sangat menyedihkan tatkala kita melihat bahwasanya di tanah air kita masih banyak kaum muslimin yang percaya kepada dukun sebagaimana dijelaskan dalam buku Ketika Sang Habib Dikritik ini. Masih banyak p**a kaum muslimin yang percaya kepada ramalan-ramalan, masih ada kaum muslimin yang mempraktikkan sihir, bekerjasama dengan jin dan mempraktikkan ilmu kebal. Serta masih banyak kaum muslimin yang masih memakai jimat dan jamp-jampi. Dan masih banyak lagi penyimpanagn kaum muslimin dalam amsalah aqidah.

Penulis : Dr. Firanda Andirja. MA
Penerbit : Nashirus Sunnah

Baca yuk resensi lengkapnya di tautan berikut
https://www.facebook.com/pg/toko.albani/shop/?rid=1340248399370648&rt=9&ref=page_internal

Oleh: Toko Albani

Fast Respon :

FB : Toko Al Bani
IG : toko.albani
:
Call/Text/Wa : 085710447075
BBM : D401E12E

07/02/2017

[Cerdas Memilih Jodoh]

Harga Buku : Rp 27.000

Buku Cerdas memilih jodoh ini mengupas pembahasan penting seputar pernikahan, dari kiat memilih pasangan, mengadakan pernikahan sesuai sunnah Nabi sampai bagaimana tuntunan islam dalam mengarungi samudera kehidupan rumah tangga. Tak ketinggalan, buku ini dilengkapi berbagai kisah teladan generasi salaf yang dapat memotivasi kita untuk bersemangat menerapkan nilai-nilai islam baik sebelum menikah, saat menikah atau sesudah menikah.

Allah ta’ala berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS. Ar-Ruum : 21).

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pernah mengatakan, “Apabila seorang diantara kalian mengkhitbah (meminang) seorang wanita, maka jika dia bisa melihat apa yang mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Dalam kehidupan manusia secara umum, ada tiga waktu penting dan istimewa yang akan dialami yaitu kelahiran, pernikahan, dan kematian. Salah satunya adalah pernikahan yang seringkali manusia menjadikannya sebagai hari perayaan yang besar dengan beebagai acara yang diadakan untuk menyambutnya. Namun sebagai seorang muslim yang baik, tentunya kita harus menimbang acara-acara tersebut, jangan sampai membuat acara yang berisi dosa dan kemaksiatan kepada Allah. Diantara hikmahnya agar sesuatu yang dirayakan terebut menjadi berkah dan bermanfaat.

Diantara tema yang dibahas dalam buku Cerdas Memilih Jodoh ini yaitu Cermat Memilih Jodoh dengan memahami kriteria calon suami/istri, Pilah-pilih Jodoh dengan mengetahui sifat-sifat laki-laki dan wanita yang baik menurut syariat, Menikah Sesuai Sunnahdari proses meminang sampai mulai masuk malam pertama pernikahan, serta Memulai Hidup Berumah Tangga dengan mengerti hak dan kewajiban suami istri dalam rumah tangga.

Cerdas Memilih Jodoh ini bermanfaat bagi kita semua untuk membina keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Buku yang padat dan praktis ini juga sangat cocok dipakai untuk referensi dalam mempelajari seluk beluk pernikahan sesuai tuntunan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Selamat mempelajari dan mengamalkan

Penulis : Zainal Abidin bin Syamsuddin, Lc
Penerbit : Pustaka Imam Bonjol

Baca yuk resensi lengkapnya di tautan berikut
https://www.facebook.com/pg/toko.albani/shop/?rid=1340248399370648&rt=9&ref=page_internal

Oleh: Toko Albani

Fast Respon :

FB : Toko Al Bani
IG : toko.albani
:
Call/Text/Wa : 085710447075
BBM : D401E12E

Bagaimana hujan berpahala?Hujan itu rahmat dari Allah تبارك و‏تعالىٰ."Hufftt... hujan lagi, hujan lagi... kenapa selalu ...
03/02/2017

Bagaimana hujan berpahala?

Hujan itu rahmat dari Allah تبارك و‏تعالىٰ.

"Hufftt... hujan lagi, hujan lagi... kenapa selalu hujan lagi dan lagi... beteee..."

Kira-kira begitulah celotehan seorang hamba atau celotehan lain yang kurang lebih mempunyai makna yang sama yaitu ia merasa kecewa, tidak ridha atau mungkin mengeluh apabila turun hujan dari langit. Namun... tahukah kita bahwasanya hujan yang Allah تبارك و‏تعالىٰ turunkan ke muka bumi hakikatnya adalah rahmat dan kasih sayang Allah تبارك و‏تعالىٰ yang Dia tidak hanya kepada manusia, namun juga kepada hewan dan tumbuhan yang apabila kita merenung dan membayangkan setahun saja Allah تبارك و‏تعالىٰ tidak menurunkan hujan maka apa yang akan terjadi?!? Kekeringan, kelaparan karena sayuran, buah-buahan gagal panen karena tidak ada air yang mengaliri sawah, dan lain-lain... Lalu apakah patut dan patas kita merasa kecewa, menggerutu, atau merasa tidak ridha dengan rahmat dan kasih sayang Allah تبارك و‏تعالىٰ yang bernama hujan ini?

Tidak, sekali-kali tidak.

Allah تبارك و‏تعالىٰ berfirman :
"Dan Dia-lah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dia-lah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji."
(QS. Asy-Syuuraa [42] : 28)

Para 'ulamaa berpendapat bahwa yang dimaksud rahmat-Nya yakni rahmat Allah تبارك و‏تعالىٰ adalah hujan.

Allah تبارك و‏تعالىٰ berfirman :
"Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang dipanen."
(QS. Qaaf [50] : 9)

Masyaa Allaah, ternyata hujan adalah rahmat Allah تبارك و‏تعالىٰ yang tidak hanya diberikan untuk manusia, akan tetapi juga diberikan kepada hewan dan tumbuhan. Maka sungguh tidak pantas dan tidak layak seorang hamba yang beriman kepada Allah ﷻ lantas ia kecewa, menggerutu atau bahkan sampai mencela rahmat Allah تبارك و‏تعالىٰ yang bernama hujan. Oleh sebab itu, saya akan menjabarkan dan menjelaskan beberapa amalan yang berkaitan dengan rahmat Allah تبارك و‏تعالىٰ ketika hujan turun, diantaranya :

Pertama, takut datangnya adzab Allah سبحانه و تعالىٰ tatkala mendung.

Dari 'Aisyah رضي الله تعالىٰ عنها, ia berkata,
"Jika Rasulullah ﷺ mendung atau angin (kencang), maka raut wajahnya pun berubah."
'Aisyah رضي الله تعالىٰ عنها berkata,
"Wahai Rasulullah, jika orang-orang melihat mendung, mereka akan begitu girang. Mereka berharap agar hujan segera turun. Namun berbeda halnya dengan engkau. Jika melihat mendung, terlihat wajahmu menunjukkan tanda takut."
Kemudian beliau ﷺ bersabda,
"Wahai 'Aisyah, apa yang bisa membuatku merasa aman? Siapa tahu ini adalah adzab. Dan pernah suatu kaum diberi adzab dengan datangnya angin setelah itu. Kaum tersebut (yaitu kaum 'Aad) ketika melihat adzab, mereka mengatakan,
"Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita."
(Shahiih, HR. Al-Bukhari, no. 4829, dan Muslim, no. 899)

Karena itu rasa takut (khauf) kepada Allah سبحانه و تعالىٰ adalah seutama-utama amalan disamping rasa harap (rajaa').

Kedua, berdo'a kepada Allah ketika turun hujan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah تبارك و‏تعالىٰ.

Adapun do'a yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad ﷺ ketika turun hujan adalah :

Dari Ummul Mukminin, 'Aisyah رضي الله تعالىٰ عنها, ia berkata,
"Nabi ﷺ ketika melihat turunnya hujan, maka beliau ﷺ berdo'a :
"Allahumma shayyiban naafi'aa."

Artinya :
"Yaa Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang bermanfaat."
(Shahiih, HR. Al-Bukhari, no. 1032, Fat-hul Baari, II/518, Ahmad, no. 24190, dan An-Nasaa-i, no. 1523)

Ibnu Baththal رحمه الله تعالىٰ berkata,
"Hadits ini berisi anjuran untuk berdo'a ketika turun hujan agar kebaikan dan keberkahan semakin bertambah, begitu p**a semakin banyak kemanfaatannya."
(Syarh Shahiih Al-Bukhari, Ibnu Baththal, V/18)

Ketiga, memperbanyak do'a apa saja yang berisi kebaikan untuk diri sendiri dan orang lain, berkaitan dengan pertama kali turunnya hujan maka beliau ﷺ bersabda,
"Ada dua waktu jika seseorang berdo'a pada waktu itu tidak akan ditolak do'anya :
1. Do'a saat adzan berkumandang.
2. Dan saat turun hujan."
(Shahiih, HR. Al-Haakim, II/124, Al-Baihaqi, III/360, Abu Dawud, no. 2540, dan Ar-Ruwiyaani, no. 1047)

Dalam riwayat yang lain terdapat tambahan :

Rasulullah ﷺ bersabda,
"Carilah do'a yang mustajab pada tiga keadaan :
1. Bertemunya dua pasukan (jihad fii sabilillaah).
2. Menjelang shalat ditegakkan.
3. Saat hujan turun."
(Shahiihul Jaami', no. 3078)

Keempat, apabila turun hujan disertai dengan angin yang kencang (angin topan), maka diperintahkan untuk berdo'a dan berlindung kepada Allah سبحانه و تعالىٰ dari keburukan angin tersebut, dan do'a yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ apabila mendapati hal seperti ini adalah :

Dari 'Aisyah رضي الله تعالىٰ عنها, ia berkata,
Rasulullah ﷺ berdo'a :
"Allaahumma inni as-aluka khairahaa wa khaira maa fiihaa wa khaira maa ursilat bihi, wa a'udzu bika min syarrihaa wa syarri maa fiiha wa syarri maa ursilat bihi."

Artinya :
"Yaa Allah, sungguh aku mohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan apa yang ada padanya, dan kebaikan pada tujuan angin ini dihembuskan. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan apa yang ada padanya, dan keburukan tujuan angin ini dihembuskan."
(Shahiih, HR. Muslim, no. 899 [15], At-Tirmidzi, no. 3449)

Kelima, berdo'a ketika mendengar suara petir atau halilintar. Banyak riwayat akan hal ini baik dari Rasulullah ﷺ maupun dari Shahabat رضي الله تعالىٰ عنهم.

Rasulullah ﷺ berdo'a :
"Subhaanalladzii yusabbihur-ra'du bihamdihi wal malaaikatu min khiifatih."

Artinya :
"Mahasuci Allah yang halilintar bertasbih dengan memuji-Nya, seperti halnya para malaikat, karena takut kepada-Nya."
(Shahiih, HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, no. 723, Shahiih Al-Adabul Mufrad, no. 556, Al-Hakim di dalam Al-Muwaththa', II/757, no. 26, dan Al-Baihaqi, III/362)

Dari 'Ikrimah رحمه الله تعالىٰ mengatakan bahwasanya 'Abdullah bin 'Abbas رضي الله تعالىٰ عنهما tatkala mendengar suara petir atau halilintar maka beliau رضي الله تعالىٰ عنهما berdo'a :
"Subhanalladzi sabbahat lahu."

Artinya :
"Mahasuci Allah yang petir bertasbih kepada-Nya."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, no. 722)

Keenam, bertabaruk atau mengambil berkah dari air hujan yang Allah تبارك و‏تعالىٰ rahmati dengannya.

Dari Anas bin Malik رضي الله تعالىٰ عنه, ia berkata,
"Kami pernah kehujanan bersama Rasulullah Muhammad ﷺ. Lalu beliau ﷺ menyingkap bajunya hingga terguyur hujan. Kemudian kami berkata,
'Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal yang demikian?'
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda,
'Karena sesungguhnya hujan ini baru saja Allah ciptakan.'"
(Shahiih, HR. Muslim, no. 898)

Imam An-Nawawi رحمه الله تعالىٰ menjelaskan hadits di atas dengan berkata,
"Makna hadits ini adalah hujan itu rahmat yaitu rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah تبارك و‏تعالىٰ. Oleh karena itu, Nabi ﷺ bertabaruk (mengambil berkah) dari hujan tersebut."
(Syarh Shahiih Muslim, VI/195)

Kemudian beliau رحمه الله تعالىٰ melanjutkan kembali dengan berkata,
"Di dalam hadits ini terdapat dalil bagi 'ulamaa Syafi'iyyah tentang dianjurkannya menyingkap sebagian badan (selain aurat) pada awal turunnya hujan agar terguyur air hujan tersebut."
(Syarh Shahiih Muslim, VI/196)

Di dalam hal mencari berkah dengan air hujan juga dicontohkan oleh sebagian Shahabat dan diantaranya adalah 'Abdullah bin 'Abbas رضي الله تعالىٰ عنهما.

Beliau رضي الله تعالىٰ عنهما berkata,
"Apabila turun hujan, aku mengatakan :
"Wahai pelayan keluarkanlah pelanaku, juga bajuku."
Kemudian beliau رضي الله تعالىٰ عنهما membacakan ayat al-Qur-anul Karim yang artinya :
"Dan Kami menurunkan dari langit air (hujan) yang penuh dengan keberkahan (yang banyak manfaatnya)."
(QS. Qaaf [50] : 9)
[Al-Adabul Mufrad, no. 1228]

Ketujuh, dianjurkan berwudhu' dengan air hujan.

Imam Ibnu Qudamah رحمه الله تعالىٰ berkata,
"Dianjurkan untuk berwudhu' dengan air hujan apabila airnya mengalir deras."
(Al-Mughni, II/295)

Kedelapan, tidak boleh dan haram hukumnya mencela angin dan hujan.

Dari Abu Hurairah رضي الله تعالىٰ عنه, ia berkata,
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Allah سبحانه و تعالىٰ berfirman :
'Manusia menyakiti Aku, dia mencacimaki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan mengatur masa (waktu), Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.'"
(Shahiih, HR. Al-Bukhari, no. 4826, dan Muslim, no. 2246)

Beliau ﷺ juga bersabda,
"Janganlah kamu mencacimaki angin."
(Shahiih, HR. 2252)

Kesembilan, berdo'a setelah turunnya hujan dengan memuji Allah سبحانه و تعالىٰ.

Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani رضي الله تعالىٰ عنه, ia berkata,
"Rasulullah ﷺ melakukan shalat Shubuh bersama kami di Hudaibiyah setelah hujan turun pada malam harinya. Tatkala hendak pergi, beliau ﷺ menghadap jama'ah shalat, lalu bersabda,
"Apakah kajian mengetahui apa yang dikatakan Rabb kalian (Allah تبارك و‏تعالىٰ)?"
Kemudian kami berkata,
"Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui."
Lantas Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
"Pada pagi hari, di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Siapa yang mengatakan 'muthirna bi fadhlillaahi wa rahmatih' yaitu kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah تبارك و‏تعالىٰ, maka dialah yang beriman kepada-Ku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan 'muthirna binnau kadza wa kadza' yaitu kami diberikan hujan karena sebab ini dan itu, bintang ini dan itu, maka dialah yang kufur kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang."
(Shahiih, HR. Al-Bukhari, no. 846, dan Muslim, no. 71)

Dari hadits ini terdapat dalil dan keterangan untuk mengucapkan 'muthirna bi fadhlillaahi wa rahmatih' kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah تبارك و‏تعالىٰ, sebagai tanda syukur atas nikmat hujan yang diberikan.

Semoga risalah yang ringkas ini dapat bermanfaat bagi saya pribadi dan kaum muslimin pada umumnya.

Semoga Allah تبارك و‏تعالىٰ memberikan hidayah dan taufiq.

✍🏻 Abu 'Aisyah Aziz Arief_

Address

Jalan Hanglekir 1 Jakarta Pusat
Jakarta
12120

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00

Telephone

085710447075

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Toko Al Bani posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Toko Al Bani:

Share

Category