22/09/2023
T.A.N.Y.A.
Ketika anak-anak mulai mengenal bahasa, bertambahlah alat untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Mereka bertanya tentang apa saja yang mereka lihat dan yang mereka dengar. Segala sesuatu yang menurut mereka itu adalah hal baru, mereka tanyakan.
Tidak semua orang tua tahan mendengar anaknya bertanya ini dan itu. Apalagi, jika diberondong pertanyaan yang sangat biasa, bahkan sepele dalam pandangan orang tua. Sepele dalam pandangan orang tua, tapi bisa jadi itu penting dalam benak anak.
Oleh karena itu, menafikan, menampik, bahkan menyumbat pertanyaan-pertanyaan anak dengan perkataan, "Apaain sih? Apa-apa ditanyain. Mengganggu saja!" itu dapat memadamkan rasa ingin tahu pada diri sebagian anak. Sedangkan bagi anak yang rasa ingin tahunya tak terbendung, mungkin akan bertanya kepada orang lain.
Ketika rasa ingin tahu anak demikian besar, sementara dia belum tahu batasan mana yang boleh dan mana yang tidak, dia akan menyerap apa saja yang sampai padanya. Apalagi, jika sesuatu itu menyenangkan dirinya.
Jika setelah ditampik pertanyaannya, anak lalu bertanya kepada orang lain, ini sangat rawan. Sebab, sangat mungkin dia akan mendapatkan jawaban yang salah. Jika jawaban salah yang anak dapatkan ternyata memuaskan rasa ingin tahunya, informasi yang salah itu akan menetap dalam ingatannya.
Jika kemudian anak tidak bertanya lagi soal itu, sedangkan orang tua dan sekolah anak tidak mengajarkan ilmu yang benar, maka anak akan membawa informasi yang salah itu seumur hidupnya.
Oleh karena itu, ketika anak bertanya tentang apa pun, sebaiknya kita perhatikan dan kita jawab sebaik mungkin. Ini kesempatan kita menginstall informasi yang benar pada ingatan anak.
Selain itu, cara kita menyimak dan menyikapi pertanyaan anak, di sana terkandung pelajaran adab. Karena selalu direspon dengan baik, anak akan terbawa dengan apa yang selalu dilihatnya. Respon yang baik juga dapat membangun konsep diri positif pada anak. Dia akan merasa dirinya berharga di mata orang tuanya. Ini dapat menumbuhkan rasa percaya diri anak.
___________
Bacaan: Asilah Al-Athfal Al-Imaniyah, Abdullah bin Hamd Ar-Rakf, Markaz Dalail, cet. ke-3, hal. 124
IG: