Riser Book

Riser Book MIMPI TAK BERTUAN

Permanently closed.
05/03/2022

Apakah memang benar?
Terkadang orang yang sangat lama menemani kita, tidak selamanya harus menjadi jodoh kita.

Seseorang bisa saja masuk dalam kehidupan kita membawa sejuta makna terdalam. Namun jika takdir mengatakan bukan dia, semanis apa pun hubungan itu, pasti akan berakhir dengan caranya sendiri.
Kadang p**a seseorang bisa saja secara tiba-tiba masuk ke dalam kehidupan kita tanpa basa-basi dan tidak membutuhkan durasi yang lama, lantas menjadi pendamping kita.

Apakah aku mulai parno?
Atau mentalku yang terlalu kerdil dan tidak cukup tangguh menghadapi setiap cobaan yang belakangan makin garang menyerangku dari berbagai sisi?

Apa yang harus ku lakukan jika memang aku tetap ngotot menseriuskan hubunganku dan Josh? Bagaimana cara aku menghadapi perlakuan keluarganya nanti? Atau apakah memang lebih baik aku mundur cantik? Ah... Aku belum siap. Aku benar-benar belum siap. Bagaimana bisa itu terjadi? Aku tidak akan mengizinkan hal tersebut menimpaku. Tetapi...

Sudahlah!
Semakin jauh anganku melayang, semakin sakit yang ku rasakan. Entah firasat ku ini benar atau tidak, tetapi aku yakin di depanku cepat atau lambat pasti akan muncul sebuah masalah besar. Entah itu tentang hubungan kami, tentang permintaan keluarga Josh, tentang sahabatku Sonya dan bahkan mungkin tentang semuanya.

Kok Sonya sih?
Iya! Belakangan sikap dan perubahan Sonya cukup menyita atensiku. Sepertinya Sonya sudah terlalu masuk jauh ke dalam hubunganku dan Josh. Dia juga semakin dekat dengan Josh. Kadang malah aku merasa dia lebih care kepada si Josh dibandingkan aku sendiri. Benar-benar aku merasa tidak nyaman dengan sikapnya belakangan ini.

Sedangkan Ricko jelas-jelas kami sudah pernah face to face membicarakan hubungan ku dan Josh. Meski tidak secara langsung dia mengutarakan ketidaksetujuannya pada hubungan kami, tetapi warning darinya cukup jelas aku pahami.

Oh my God!
Aku bisa benaran gila memikirkan semua ini!
Aku sudah membulatkan tekad untuk serius menjalani hubungan ini hingga jenjang pernikahan. Namun, nyatanya aku seperti pesakitan yang tidak berdaya saat ini.

*********

01/03/2022

Adakah yang merasakan hal yang sama? Melewati begitu banyak kenangan yang tidak dapat di putar kembali sekedar untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah terjadi?
Ingin rasanya bebas merasakan kebahagiaan ini. Namun bagaimana bisa bila inginku terkalahkan oleh rasa bersalahku? Atau aku saja yang terlalu tolol tetap menyimpan rapi semua kenangan itu dan merasa masih nyaman berada dalam zona tersebut?

Meskipun Josh sangat mencintaiku namun aku tetap merasa sangat bersalah. Ia tidak pernah mengungkit masa laluku bahkan ia tetap menepati janjinya untuk tidak pernah sedikit pun mengorek kisah kelamku. Dia terlalu baik. Sangat baik. Kasihan sekali bahwa ia harus menghabiskan banyak waktu bersamaku sedangkan aku merasa tidak pantas menemaninya.

Ingin sekali melepaskan namun jiwa merasakan sakit teramat dalam. Sebucin itukah diriku? Pantas saja hingga kini keluarganya tidak menerima hubungan ini. Sebab mereka tahu siapa diriku sebelum bersama Josh.

Meskipun aku adalah korban namun pandangan dan opini masyarakat terus menjudge dan menyudutkan aku sebagai tersangka tunggal. Aku tahu itu tidak adil. Tetapi siapa dapat melawan lidah manusia yang setajam silet?

Ah, hidup!
Sekeji inikah?
Sakit!
Iya, sangat sakit!

******

28/02/2022

Aku dan pak Bryan segera memasuki kafetaria yang sudah di sepakati bersama pak Ricko. Receptionist segera menunjuk tempat duduk yang sudah di booking. Aku melangkah cepat mengikuti langkah pak Bryan. Ada seribu rasa yang aku rasakan saat ini. " Ya ampun, apa-apaan sih ini? Singkirkan masalah pribadi d**g! Fokus kerja wahai jiwa kerupuk!", aku membatin menguatkan mental ku.

Pak Ricko berjalan gagah menuju arah kami. Pria itu sangat tampan dengan setelan neces berwarna navy. Pak Ricko memang selalu menunjang penampilannya secara apik. Jauh berbeda dengan Josh yang lebih free dan asal-asalan dalam berpakaian.

Pak Bryan dan pak Ricko segera terlibat percakapan intens terkait proyek yang sedang di garap bersama. Aku hanya berbicara sebatasnya jika di minta hingga tidak terasa sudah satu setengah jam dan meeting pun usai.

Kami segera berpisah di lobby kafetaria. Aku dan pak Bryan segera balik ke kantor. "Ingat ya, Kiren! Beresin semua hasil meeting tadi. Sebentar sebelum p**ang langsung kamu serahkan ke saya tuk saya cek!", titah pak Boss. "Iya pak. Segera saya kerjakan!", jawabku mantap.

Aku segera menuju ruang kerjaku. Semua hasil meeting segera aku selesaikan. Setiap halaman aku Double recheck sehingga tidak terjadi pengulangan. Tidak terasa sudah jam lima sore. Semua karyawan sudah bersiap-siap p**ang rumah. Agar tidak ketinggalan, aku segera naik ke lantai tiga dan menyerahkan semua dokumen yang di minta pak Boss.

"Bagus! Kamu emang bisa di andalkan!", puji pak Boss.
"Kamu bisa p**ang sekarang! Jangan lupa makan! Kamu kan belum makan dari tadi", nasehat pak Boss. Aku lega mendengar kalimat itu. "Terima kasih Pak."

*********

"Sayang!", panggilan itu cukup menghangatkanku.
"Motormu udah dibawa Saiful tadi. Jadi sekarang aku bisa ngajak kamu makan". Dengan senyum cengengesannya si Josh berusaha membujukku. "Okelah! Aku laper banget, yang!", Jawabku sambil segera menaiki motor sport si gondrong kesayanganku ini.

Selesai makan, kami pun melanjutkan perjalanan menuju kontrakanku. "Yang, jangan berubah yah. Demi aku!", Pinta Josh. "Aku bukan robot loh, yang! Mana bisa aku berubah?", candaku yang langsung disambar dengan sebuah cubitan lembut di pipiku. "Aku tahu kita lagi banyak masalah akhir-akhir ini. Aku harap kamu bisa tetap kuat hadapi semuanya bersamaku. Aku gak peduli apa kata keluarga. Intinya aku akan tetap memperistri kamu bila tiba waktunya."

Aku menatap tajam kedua bola mata berwarna cokelat itu.
"Kamu tahu aku butuh kepastian, Ko! Kita udah lima tahun bersama, yang. Please kasih aku kejelasan soal hubungan ini. Aku ngerasa kok kayak di gantung aja ya selama ini", timpalku.Ricko menunduk sejenak, "Aku mohon kasih aku waktu, yang. Semua ini hanya soal waktu. Kamu tolong bersabar sedikit lagi." "Aku janji semua mimpi kita akan segera menjadi nyata, yang. Kamu yang sabar ya, sayang," lanjutnya.

Beberapa menit kemudian kami pun berpisah. Aku segera masuk dan langsung di sambut dengan sebuah pertanyaan klasik, "Kamu sama Josh?" Aku mengangguk seadanya. "Syukurlah kalau kalian udah baikan", lanjut Sonya.

Aku hanya tersenyum kecil mendengar celotehan si Sonya.
"Apa-apaan sih, Nya? Kami baik-baik aja. Soal salah paham itu hal lumrah kan dalam sebuah hubungan. Aku udah terlalu banyak beban. Nggak mau lagi menambah beban di hati, pikiran dan pundak ku", aku berusaha menjelaskan semuanya kepada Sonya agar dia tidak terlalu jauh mencampuri urusanku dan Josh.

28/02/2022

Cuaca hari ini Lumayan bagus. Cukup baik untuk mengawali hari ini dengan tenang. Berharap seperti itu. Semenjak bangku sekolah memang hari Senin selalu seperti hantu yang menakutkan. Kalau sekarang hari Senin menjadi hari yang paling membosankan sebab seluruh deadline harus di setor on time. Belum lagi pak Bryan yang berkumis garang itu. Dia pasti bakal stay sampai jam kantor selesai.

Sudah ku duga! Aku telat dua menit dan itu cukup menjadi Boomerang untuk diriku sendiri akibat terlalu larut tidur semalaman. Pak Bryan sudah berdiri di depan lobby kantor. Aku pasti akan di semprot dengan pidatonya. Atau mungkin akan dicerca dengan beberapa pertanyaan yang membosankan. Kalau bukan karena gaji yang lumayan, mungkin sudah lama aku minggat dari perusahaan ini. Hanya saja kesadaran soal anak rantau yang memaksaku bertahan dan terus terseret dengan beban kerja seberat ini.

"Selamat pagi, pak", sapaku. Pak Bryan segera melirik jam. "Iya. Selamat melewati dua menit yang sangat berharga! Anda tahu bahwa saya bisa bangkrut jika mempekerjakan beberapa orang seperti anda?" "Maaf, pak", jawabku singkat dan segera berlalu. Biarlah dia bergumam disana sendirian. Lagi p**a itu adalah hal lumrah di perusahaan ini. Semua karyawan pasti merasakannya. Dan setelah tiga tahun aku bekerja, hari ini adalah hari apesku.

"Kiren!", pak Bryan memanggil sekali lagi dari belakang. "Iya, pak?", Sahutku sambil memaksakan sebuah senyum manis.
"Sebentar kamu temani saya hadiri meeting dengan Pak Ricko! " perintahnya. "Baik pak!" aku langsung mengiyakan tanpa banyak protes babibubebo.

*********

Sonya yang sedari tadi sibuk mengawasi gerak gerikku kelihatannya merasa sangat resah. "Sorry, Nya. Gue gak bisa temani lu ke kantin ya buat lunch. Pak Boss udah janjian sama pak Ricko. Kita meeting di luar bertiga. Mungkin sampai sore. Kalau gue p**ang telat lu gak perlu cari ya. Pokoknya gue pastikan gue aman. Sangat aman!"

Sonya langsung membelalakkan mata saat mendengar nama pak Ricko. Bagaimana bisa? Kok Bisa?
Pasti itu yang ada di dalam benaknya. Aku tahu ia pasti khawatir, sebab Ricko adalah kakak tertuanya Josh. Dan memang Ricko dan Josh tidak pernah Seiya sekata dalam segala hal.

Ricko adalah orang yang paling menentang hubunganku dan Josh. Maklum saja, mereka berasal dari keluarga terpandang. Orang tua mereka adalah jutawan terkenal di p**au ini. Sedangkan aku hanyalah anak petani yang merantau ke p**au ini demi sesuap nasi. Jelas hubungan kami tidak akan pernah di restui mengingat latar belakang tersebut.

27/02/2022

"MIMPI-MIMPI TAK BERTUAN"

Apakah kau pernah melihat mega cantik di angkasa kala sore hari? Iya, tentu apa yang kita rasakan ini sama.

Menyaksikan burung-burung terbang p**ang ke sarang mereka sembari membiarkan wajahku ditiup sepoinya angin pantai yang sejuk nan lembut. Pasir-pasir pantai pun ikut di manja oleh kenikmatan senja yang syahdu.

Ah, diri ini telah sangat jauh berjalan pada suatu tujuan yang belum juga tersentuh namun berulang kali di hantam badai yang sama. Apakah diri ini masih mau kuat berdiri dan berjalan lagi ditengah badai?

Ku lirik arlojiku. Sudah dua jam lebih aku disini.
Pantai Kuta masih sangat sepi.
Perlahan ku langkahkan kaki menuju parkiran motor sambil berharap healing sore ini cukup menyamankan hati dan pikiranku agar seminggu ke depan aku dapat bekerja dengan enteng tanpa merasa terbebani dengan segala penyedap manis asam asin pahitnya hidup.

"Kiren!" Seruan itu membuyarkan lamunanku.
"Ya, Ampun! Lu disini dari tadi? Gue hubungi nomor lu dah seribu kali ya. Tapi lu gak ada respon sama sekali. Oh My God!". Sonya terlihat sangat kesal memarahiku. Ada rasa lucu juga sih melihat wajahnya yang lagi marah tetapi aku berusaha tidak menanggapinya. Langsung saja ku keluarkan handphone dari tas kecilku. Benar saja! Dua puluh lima panggilan tak terjawab dari Sonya. "Maafkan gue ya, Nya! Gue silent handphone gue tadi karena lagi mau sendiri dan nyari tenang aja!", ujarku. "Lu enak bilang sorry! Gue panik tahu! Lu ngilang dari kontrakan kagak bilang mau kemana, dengan siapa, ngapain! Gimana gue gak nyari coba? Lagi marak kasus bunuh diri. Gue khawatirlah sama lu !", Sonya masih menikmati emosinya. Aku sudah siap-siap menghidupi motorku. "Ayolah, Nya! Kita cari makan. Gue lapar!", pintaku manja. Sonya segera saja menggerutu akibat sikap cuekku. "Okelah! Next time jangan kayak gini! Gue pusing di tanyain mulu sama si Josh soal keberadaan lu!"
Aku cuma tersenyum mendengar nama itu lalu melajukan motorku menyisir sepanjang jalan raya Kuta menuju tempat makan langgananku.

***********

"Emang Josh tadi nelpon lu?", tanyaku memulai percakapan setelah kami memesan menu kesukaan kami.
"Bukan cuma nelpon ya. Dia bahkan nyamperin gue di kontrakan setelah gue bilang lu udah gak tahu kemana seharian ini. Panggilan sebanyak itu gue dan dia yang nelponin lu. Tapi karena gak ada respon dari lu akhirnya dia mutusin p**ang dan mau nyari lu! Lagian lu berdua, kalo ada masalah ya di selesaikan kenapa? Kok pada diem aja kayak kutu mati gitu? Heran gue!', ujar Sonya.

Aku membatin.
"Sejak kapan si Josh peduli padaku? Bahkan jika aku menghilang dari planet ini pun dia tidak akan mungkin bahkan mustahil untuk si pria berambut ikal itu mencari dan mengkhawatirkan ku. Josh, Josh! Namamu ada dimana-mana tetapi tidak banyak orang yang tahu jelas siapa dirimu yang sesungguhnya".

Sonya kelihatan tidak menikmati makanannya. Mungkin dia masih kesal akibat sikapku yang memang sangat cuek. Perlahan aku mencoba menghangatkan kembali situasi ini dengan candaan-candaan kecil yang hingga akhirnya membuat dia kembali terbahak-bahak.

27/02/2022

PROLOG

Saya menghabiskan banyak waktu dengan membuang terlalu banyak ide kreatif saya selama bertahun-tahun.
Iya, anda benar!
Bisa jadi yang anda katakan tentang saya adalah benar adanya. Saya seorang imaginatif! S**a mengkhayal! Dan semuanya benar adanya!

Menulis adalah hobi saya sejak saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Dan entah mengapa saya sangat senang menulis cerita-cerita fiksi romansa dan berbau melankonis.

Belakangan setelah bertahun lamanya, saya kembali ke habit ini. Selain mengisi waktu akibat wabah covid yang makin merajalela. Saya berpikir bagaimana saya harus bertindak dan bersikap kreatif dari pada membiarkan waktu bergulir begitu saja tanpa sesuatu yang bisa saya lakukan.

Saya banyak berterima kasih kepada ketiga putra saya Patrick, Angelo dan Christian yang selalu menjadi inspirasi terbaik bagi saya.

Ini adalah langkah awal saya yakni memiliki sebuah halaman pribadi di Facebook yang langsung saya tautan ke WhatsApp saya. Saya berharap novel elektronik yang saya luncurkan mendapatkan banyak atensi dari para peminat dan pembaca. Tidak lupa kritik dan saran konstruktif bisa langsung secara direct anda kirimkan kepada saya demi perbaikan-perbaikan yang lebih baik untuk ide-ide selanjutnya.

Selamat membaca!

Fafoe, 28 Februari 2022

(Ria Seran)

I will launch my first electronic novel. Please give a like on my page Riser Book. I really hope for constructive critic...
27/02/2022

I will launch my first electronic novel. Please give a like on my page Riser Book. I really hope for constructive critics for better progress. Thank You

Address

Fafoe
85763

Telephone

+6281236157592

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Riser Book posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Riser Book:

Share

Category