LadyLoom88

LadyLoom88 Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from LadyLoom88, Shopping Service, Margonda, Depok.

✨Tips dan inspirasi🌸
📩|𝐄𝐍𝐃𝐎𝐑𝐒 & 𝐂𝐎𝐋𝐄𝐁 𝐃𝐌 ❤️🙏
🎥𝕭𝖊𝖑𝖆𝖏𝖆𝖗 𝕹𝖌𝖔𝖓𝖙𝖊𝖓 | 𝕸𝖔𝖙𝖎𝖛𝖆𝖘𝖎 | 𝕾𝖍𝖆𝖗𝖎𝖓𝖌
♀️|𝑅𝓊𝒶𝓃𝑔 𝓅𝑒𝓇𝑒𝓂𝓅𝓊𝒶𝓃, 𝓈𝓅𝑜𝓃𝓉𝒶𝓃, 𝑅𝒶𝓃𝒹𝑜𝓂 🤗

🛒🛍️Spill produk laris = ᴄᴇᴋ ᴘɪɴ ᴘᴏꜱᴛɪɴɢᴀɴ⬇️⬇️

Postingan telat dari beberapa waktu yang lalu, silahkan dibaca sembari makan kuaci  == 💚💚💚   ==Menjelang usia setengah a...
18/11/2025

Postingan telat dari beberapa waktu yang lalu, silahkan dibaca sembari makan kuaci
== 💚💚💚 ==

Menjelang usia setengah abad, orang lain mungkin mulai milih liburan ke puncak, 𝒔𝒕𝒂𝒚𝒄𝒂𝒕𝒊𝒐𝒏 ke Yogya, atau duduk manis di kafe estetik memesan 𝒍𝒂𝒕𝒕𝒆 𝒂𝒓𝒕. Aku? Entah kenapa malah nekat daftar naik Gunung Merbabu via Wekas.

Iya, daftar beneran. Bukan cuma wacana. Aku isi data di website resmi pendakian yang sudah disediakan pengelola Taman Nasional Gunung Merbabu, pilih jalur Wekas, bayar simaksi, dan menerima e-mail konfirmasi dengan deg-degan kayak menunggu hasil audit Laporan Keuangan. (tngunungmerbabu.org)

Di kepalaku, muncul satu kalimat, “Aku ingin men-𝒄𝒉𝒂𝒍𝒍𝒆𝒏𝒈𝒆 diriku sendiri.”

Bukan cari sensasi. Bukan juga supaya kelihatan keren di feed. Aku emang s**a foto-foto dan membagikannya di medsos, tapi bukan itu poin utamanya. Ada makna lebih dalam yang ingin kucari dari pendakian kali ini.

Tapi tentu saja, dunia dalam hal ini diwakili oleh anak, saudara, dan teman, punya pandangan berbeda.

Sepanjang menyampaikan rencana pendakian, anakku yang biasanya “iya aja deh, terserah Ibu” tiba-tiba berubah jadi buzzer penuh kekhawatiran.

“Lagian, cari temen tuh yang jelas-jelas aja buuuk… nggak tiba-tiba random ngajak naik gunung gini!
Nanti kalau kenapa-napa gimana?
Mending liburan ke puncak kek, ke pantai kek, ke tempat wisata mana gitu…
Ngapain sih naik gunung segala?”

Panjang.
Lirih-lirih nyinyir, penuh sayang.
Dan baru kali itu aku sempat merasa bertukar tempat, kok jadi dia bawel:

“Oh, ternyata ada juga ya, yang peduli sama aku, yang khawatir sama aku.”

Dari perjalanan hidup yang sering ditempeli label ‘tahan banting’, ‘kuat’, ‘paling bisa ngertiin orang’, kadang kita lupa: terbukti ekspektasi ke Perempuan, apalagi ibu, itu tinggi banget.
Ibu harus selalu baik-baik saja. Nggak boleh ‘macem-macem’. Begitu Ibu mau melakukan sesuatu yang di luar 𝒕𝒆𝒎𝒑𝒍𝒂𝒕𝒆, barulah kekhawatiran orang-orang terdekat nongol satu per satu.

Lucu. Sekaligus mengharukan.
Semua kekhawatirannya satu per satu kubantah pelan:

“Tenang… nanti kalau Ibu merasa nggak kuat, Ibu bakal turun lagi, kok.
Kalau mulai migrain, Ibu bisa nunggu di basecamp.
Ibu nggak maksa harus sampai puncak, tapi Ibu mau mencoba.”

Karena memang faktanya, aku bukan tipe orang yang lahir dengan paket ‘𝒐𝒖𝒕𝒅𝒐𝒐𝒓 𝒃𝒂𝒏𝒈𝒆𝒕’.

Aku punya riwayat 𝒎𝒊𝒈𝒓𝒂𝒊𝒏, dikit-dikit minum panadol. Capek sedikit, badan langsung panas karena punya riwayat tipes. Tekanan darah cenderung rendah, gampang sempoyongan.
Singkatnya aku bukan sosok ‘perempuan super bugar yang tiap pagi lari 10K’. Dari dulu, dari jaman muda aku sudah punya riwayat sakit-sakitan begini, sedikit-sedikit tumbang, sedikit-sedikit kliyengan, kebayang kan… apalagi sekarang menjelang setengah abad.

Justru karena itulah, ajakan seorang teman yang usianya jauuuh di bawahku terdengar kayak godaan manis. “Mau ikut naik gunung nggak, Mbak?” enteng banget dia ngajak.
Dan enteng juga, langsung kujawab, “Eh iya, boleh juga tuh!”

Sependek itu jalur transaksi ajakan naik gunungnya kuiyakan. Tanpa pikir panjang, tanpa nyadar diri, “𝑯𝒆𝒍𝒍𝒐𝒐𝒐, umur berapa lu sok-sokan ngiyain naek gunung?”

Singkatnya, setelah resmi daftar, barulah aku nyalain mode 𝑱𝒖𝒅𝒈𝒊𝒏𝒈-ku.
(Yes, hasil tes kepribadianku: 93% 𝑱𝒖𝒅𝒈𝒊𝒏𝒈. Artinya: hidupku isinya plan A, B, C, D, sampai Z.)

Aku mulai cari info soal jalur Wekas.
Nggak mau konyol. Nyadar umur. Nyadar kemampuan.
Mulai rutin jalan kaki. Olahraga kecil tiap pagi, peregangan, naik-turun tangga 10 menitan.
Bukan 𝒘𝒐𝒓𝒌𝒐𝒖𝒕 𝒉𝒂𝒓𝒅𝒄𝒐𝒓𝒆 ala influencer gym, ini tuh cuma ‘nego’ sama tubuh, “𝑷𝒍𝒆𝒂𝒔𝒆 ya, bantu aku dikit.”

Selebihnya, ya kupasrahkan ke Allah.

Niatku jelas, bukan mau maksa, bukan mau gagah-gagahan apalagi nyari sensasi. Kalau dirasa nggak mampu, ya balik badan, ga usah dibikin ribet!

Printilan perlengkapan mulai kusiapkan. Tenda sudah ada yang akomodir, jadi aku fokus ke barang pribadi: jaket, kaos kaki, obat-obatan, 𝒉𝒆𝒂𝒅𝒍𝒂𝒎𝒑, jas hujan, botol minum, 𝒕𝒓𝒆𝒌𝒌𝒊𝒏𝒈 𝒑𝒐𝒍𝒆 (yang ini pinjam teman), topi dan printilan lainnya. Semua kucatat, kucentang, masuk tas. Satu persatu. Rapih. Terstruktur. Wajib. Seperti biasa aku juga punya plan A plan B plan C, dst.

Dari hasil riset, jalur Wekas ini dikenal sebagai salah satu jalur tercepat menuju puncak Merbabu, karena titik awal pendakiannya sudah cukup tinggi, di sekitar Dusun Wekas, Magelang. Jalurnya relatif lebih pendek, tapi dari awal sudah menanjak dan lumayan menguras tenaga. (alera.id)

𝐌𝐞𝐫𝐛𝐚𝐛𝐮 𝐏𝐚𝐬𝐬, menjadi titik start pendakian dari jalur Wekas, berada di sekitar 1.800-an mdpl, tepat di pintu hutan. Dari situ jalur masuk hutan, lewat pos seperti Tegal Arum dan area camp di Pos 2 yang ada sumber air. (TelusuRI)

Alih-alih ciut nyali, aku malah… penasaran.
Ternyata godaan naik gunung tuh semenarik itu, gaes.

Melihat semangat teman-teman muda ngatur persiapan, guyub koordinasi, 𝒔𝒉𝒂𝒓𝒆 𝒊𝒕𝒊𝒏𝒆𝒓𝒂𝒓𝒚, bahas konsumsi, bagi-bagi tugas, aku kayak ketularan energi baru yang rasanya beda. Mereka ambil peran secukupnya, nggak ada yang sok paling penting, nggak ada yang merasa sok senior. Yang ada justru saling nge-backup, saling menyemangati. Rasanya, siapapun yang nyemplung ke tim ini bakal merasa aman, nyaman dan diterima apa adanya.

Ada satu suara kecil di dalam diriku yang pelan-pelan nyeletuk:
“Bisalah aku mendaki pelan-pelan.
Toh biasanya gendong daypack 2-3 kilo masih mampu.
Masih bisa empet-empetan di KRL.
Masih kuat begadang nguber deadline.
Masa iya kalah sama ketakutan di kepala sendiri?”

Akhirnya, aku resmi bergabung dengan tim pendakian. Dari 27 orang serombongan, aku cuma kenal dua orang. Selebihnya wajah baru, energi baru. Dalam hati, kuanggap bonus: itung-itung nambah teman. Dan itu terbukti, komunitas ini terdiri dari pendaki-pendaki keren yang sudah tidak butuh validasi.

Malam sebelum pendakian, kami menginap di rumah warga yang menjadi 𝒃𝒂𝒔𝒆𝒄𝒂𝒎𝒑. Pagi harinya, dari 𝒃𝒂𝒔𝒆𝒄𝒂𝒎𝒑 menuju Merbabu Pass, aku memilih naik ojek. Bukan karena mau gaya-gayaan, tapi karena aku tahu: energi ini harus dihemat untuk jalur atas yang menanjak. Jalannya sempit, menanjak, bercampur antara cor dan paving. Dari yang kutahu, kalau jalan kaki butuh sekitar 15–20 menit, tapi dengan ojek cuma beberapa menit saja. (TelusuRI)

Selain ingin berbagi pengalaman, sebenarnya ada poin besar yang ingin kusampaikan ke teman-teman, bukan sekedar naik gunungnya.
Yang ingin kusampaikan adalah: 𝐝𝐢 𝐭𝐢𝐭𝐢𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐭𝐞𝐧𝐭𝐮 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩, 𝐩𝐞𝐫𝐞𝐦𝐩𝐮𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐭𝐮𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐚𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐥𝐚𝐠𝐢, 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐥𝐚𝐢𝐧, 𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐞𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢!

Di usiaku yang menjelang setengah abad, komentar-komentar seperti ini bukanlah hal baru:

“Udah tua ngapain sih naik gunung?
Emak-emak tuh liburannya spa, pijat, ngopi cantik aja…
Nanti kalau kenapa-napa, gimana?
𝒂𝒕𝒂𝒖 𝒌𝒂𝒍𝒂𝒖 𝒂𝒌𝒖 𝒑𝒖𝒏𝒚𝒂 𝒊𝒅𝒆 𝒃𝒂𝒓𝒖,
Nguber apa siiih,
nyari apa,
Hidup biasa ajalah
Jangan aneh-aneh, 𝒅𝒆𝒉…!”

Lucunya, yang jarang ditanyakan adalah:

“Kamu sebenernya pengin apa?
Ada nggak hal yang ingin kamu wujudkan sebagai diri sendiri, bukan cuma sebagai ibu atau istri atau pekerja?”
Jarang banget ada yang nanya:
“Kamu bahagia nggak, dengan hidupmu yang sekarang?

Kapan terakhir kali kamu melakukan sesuatu hanya untuk dirimu sendiri?
Kalau semua label dicopot, ibu, istri, pekerja, dsb, apa masih ada hal yang bikin kamu merasa hidup, sebagai dirimu sendiri?”

Pendakian ke Merbabu bukan soal membuktikan bahwa aku sekuat anak-anak muda. Aku sadar betul aku punya batas: 𝒎𝒊𝒈𝒓𝒆𝒏, riwayat tipes, tekanan darah rendah, 𝒓𝒆𝒄𝒐𝒗𝒆𝒓𝒚 yang nggak secepat dulu. Tetapi justru di sanalah letak tantangannya: berani jujur dengan tubuh sendiri, 𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐞𝐫𝐢 𝐭𝐮𝐛𝐮𝐡 𝐤𝐞𝐬𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐭𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡.

Aku belajar menyiapkan fisik pelan-pelan.
Belajar mendengarkan napas sendiri.
Belajar mengatakan, “Aku istirahat dulu ya,” tanpa merasa malu atau bersalah.
Belajar menerima bahwa kalau aku harus berhenti di tengah jalur, itu bukan kegagalan, itu keputusan sadar untuk menjaga diri.
Dan sebagai perempuan, ini penting banget.

Kita terbiasa diajarin untuk kuat demi orang lain, tapi jarang dilatih untuk kuat demi diri sendiri.

Naik gunung di usia segini memang agak ‘kontroversial’ untuk sebagian orang.
Apalagi untuk perempuan. Tapi di jalur tanah yang menanjak, di antara langkah-langkah yang kadang goyah, aku menemukan bentuk lain dari serpihan diriku yang hilang:

Keberanian bilang, “Aku mau mencoba.”
Ketegasan menjawab kekhawatiran orang terdekat bahwa aku akan baik-baik saja,
Kerelaan menerima bantuan tanpa merasa diri lemah,
dan kebanggaan kecil ketika sadar, “Ternyata aku lebih kuat dari yang kusangka.

Sepanjang perjalanan memberi jeda untuk 𝒔𝒄𝒓𝒐𝒍𝒍𝒊𝒏𝒈 terhadap diri sendiri: bisa bersyukur, bisa sholawat, bisa berdialog, bisa pengakuan dosa, bisa menertawakan diri sendiri, bisa mengisi paru-paru dengan energi positif yang melimpah ruah.

Sepanjang perjalanan, ada banyak hal yang bisa dilakukan dalam diam.

Buatmu yang baca ini, entah kamu ibu, pekerja, istri, jomblo bahagia - jomblo 𝒏𝒈𝒆𝒏𝒆𝒔, atau label lain yang tersemat di dirimu: “naik gunung”-mu mungkin berbeda.

Bisa jadi:
Berani daftar kuliah di usia 40+ (ini udah kulakukan ya gaes 😉),
Berani keluar dari hubungan yang diam-diam menguras jiwa,
Berani mulai usaha kecil-kecilan pakai modal tabungan sendiri,
Berani bilang, “Aku capek,” tanpa merasa bersalah,
Berani masuk ke gedung bioskop sendiri dan menikmati filmnya,

atau sesederhana jujur ke diri sendiri:

“Aku bahagia nggak sih dengan hidupku sekarang?”
“Kalau nggak, bagian mana yang pengin pelan-pelan aku ubah?”
Naik gunungmu mungkin berbeda dengan naik gunungku. Dan naik gunungku esok hari bisa jadi berbeda lagi dengan naik gunungku hari ini.

Intinya:
Tantanglah dirimu, keluar dari rutinitasmu yang membuatmu usang. Jika hidupmu saat ini sudah asik, menarik, 𝒉𝒂𝒑𝒑𝒚, lanjutkan! Jika tidak, sempurnakan ceritamu dari “sekadar ini” dan “sekadar itu”.
Kalau aku harus merangkum petualangan Merbabu-ku dalam satu kalimat, mungkin begini:

“Di usia menjelang setengah abad, aku akhirnya sadar,
batas terbesar dalam hidupku bukan di puncak gunung,
tapi di kepala dan cara pandangku sendiri.”

Dan hari itu, di jalur Wekas yang menanjak, aku pelan-pelan mulai memindahkan batas itu.

Setapak demi setapak.
Puncak Merbabu yang tadinya kelihatan 𝒋𝒂𝒖𝒖𝒖𝒉, seolah tak terjangkau, akhirnya sampai juga aku di sana. Pelajarannya: kalau tujuanmu terasa sangat panjang, pecah saja jadi perjalanan-perjalanan kecil. Kalau capek, istirahat. Kalau capeknya reda, gas lagi pelan-pelan. Nanti juga sampai.

Dengan napas tersengal, lutut yang protes, tapi hati yang terisi kembali, aku sampai pada satu refleksi: ga ada salahnya berhenti sejenak, menyetel ulang mekanik diri kita, supaya hidup lebih utuh dan mempunyai banyak makna. 💚

, 17 Mei 2025
setelah turun gunung, menulis sembari mengelus-elus jempol kakiku yang kukunya 𝒌𝒊𝒘𝒊𝒓-𝒌𝒊𝒘𝒊𝒓 copot setengah.

🌸 𝗡𝗮𝗺𝗮𝘀𝘁𝗲, 𝗷𝗶𝘄𝗮-𝗷𝗶𝘄𝗮 𝗶𝗻𝗱𝗮𝗵!.. sudah mirip motivator profesional blom, nih? 😄Sudah sekian purnama aku nggak posting apa-a...
01/11/2025

🌸 𝗡𝗮𝗺𝗮𝘀𝘁𝗲, 𝗷𝗶𝘄𝗮-𝗷𝗶𝘄𝗮 𝗶𝗻𝗱𝗮𝗵!.. sudah mirip motivator profesional blom, nih? 😄

Sudah sekian purnama aku nggak posting apa-apa di sini. Selain sibuk ngantor, sekolah, dan ngurus krucil dan printilan-printilan lain, lebih tepatnya aku ‘𝒎𝒖𝒕𝒖𝒏𝒈’ bahasa jawanya alias ngambek sama Facebook. 🤭

Soalnya gini, sebenarnya sudah tau dari awal bahwa algoritma facebook itu mengutamakan 𝗸𝘂𝗮𝗻𝘁𝗶𝘁𝗮𝘀 daripada 𝗸𝘂𝗮𝗹𝗶𝘁𝗮𝘀. Target-target kontennya kadang terasa nggak masuk akal bagiku yang untuk satu konten saja mesti aku cek berulang kali. Aku tipe yang nggak bisa asal posting sih, rasanya 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘫𝘦𝘭 kalau kualitasnya nggak oke. Pokoknya kalau udah tayang, aku penginnya tuh kontennya bagus menurutku, baik secara kualitas dan bisa dipertanggungjawabkan. Jadi ga bisa tuh aku, asal 𝑗𝑒𝑏𝑟𝑒𝑡-𝑗𝑒𝑏𝑟𝑒𝑡-𝑗𝑒𝑏𝑟𝑒𝑡 asal kuantitas masuk, bodo amat dengan kualitas... blom lagi, mengejar fyp tuh ternyata susah 𝑐𝑢𝑢𝑢𝑦𝑦...

Jika beberapa teman yang sudah berhasil memenuhi target-target facebook dan sudah monet, selamat! Aku ikut senang, kalian 𝘳𝘶𝘢𝘢𝘢𝘳 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘢𝘢𝘢𝘢!! 🎉 Ternyata energiku dan keberuntunganku tidak sebesar itu, teman-teman.

Refleksi atas diri sendiri, aku lebih memilih memposting sesuatu atas dasar s**a cita, jadi ga diuber-uber, ga ditarget, ga diatur ini itu. Dan sadar atas kemampuan diri sendiri, aku pilih mundur teratur.

Aku ingin membuat konten atau postingan yang bermakna dan bermanfaat, bukan sekedar mengejar kuantitas. Itulah kenapa aku sudah lama vakum, selain karena kesibukan yang nggak ada habisnya, juga karena aku butuh waktu untuk menemukan kembali arah dan niatku di halaman ini. ✨

Mulai sekarang, aku ingin menjadikan halaman ini sebagai ruang untuk berkreasi dan berbagi dengan tulus. Kalaupun tidak menghasilkan rupiah, nggak apa-apa… semoga tetap bisa membawa manfaat dan jadi berkah kecil yang mengalir untuk siapa pun yang membacanya. 🌷

Sekarang update terbaru dariku, di sela-sela kesibukanku akhir-akhir ini, lahirlah 𝑇ℎ𝑒 𝐻𝑒𝑟𝑜𝑖𝑛 𝑖𝑛 𝑀𝑒 💖

Sebuah 𝗸𝗮𝗿𝘁𝘂 𝗮𝗳𝗶𝗿𝗺𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗶𝗴𝗶𝘁𝗮𝗹 𝗯𝗲𝗿𝘁𝗲𝗺𝗮 𝗕𝗼𝗹𝗹𝘆𝘄𝗼𝗼𝗱,, terinspirasi dari 𝐤𝐞𝐤𝐮𝐚𝐭𝐚𝐧, 𝐤𝐞𝐚𝐧𝐠𝐠𝐮𝐧𝐚𝐧, 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐛𝐞𝐫𝐚𝐧𝐢𝐚𝐧 𝐟𝐢𝐠𝐮𝐫 𝐩𝐞𝐫𝐞𝐦𝐩𝐮𝐚𝐧 𝐁𝐨𝐥𝐥𝐲𝐰𝐨𝐨𝐝 yang selalu aku kagumi.

Kenapa Bollywood?
Karena sejak kecil aku udah jatuh cinta sama film-filmnya, penuh warna, emosi, dan semangat hidup yang luar biasa. Mereka tuh 𝒔𝒕𝒐𝒓𝒚 𝒕𝒆𝒍𝒍𝒊𝒏𝒈 baguuusss. Jadi kubuatlah sesuatu yang memang aku s**a! ✨

Jadi mulai sekarang, aku akan fokus ke kualitas, kebermanfaatan, dan kebahagiaan dalam berkarya. Membuat sesuatu yang kita s**ai itu menyenangkan! ✨

Semoga halaman ini bisa menjadi ruang yang indah untuk berbagi, bercerita, dan tumbuh bersama. Harapanku apa yang kuposting di sini bisa sedikit memberi inspirasi atau semangat, terutama untuk perempuan Indonesia, rasanya itu sudah lebih dari cukup bagiku. 💕

Kalau teman-teman ingin menikmati afirmasi penuh warna ala Bollywood,
✨ 𝐒𝐢𝐥𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐢𝐮𝐧𝐝𝐮𝐡 𝐠𝐫𝐚𝐭𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐬𝐢𝐧𝐢:
👉 https://ladyloom.gumroad.com/l/bollywooddeck

Semoga bermanfaat, membawa semangat baru, dan menambah cahaya di harimu 🌷

**inInMe

The He**in in Me – 30-Day Affirmation Cards (Printable Deck)✨ Crafted with soul, softness, and care — you’re warmly welcome to download it for free and make it a gentle part of your day.✨If it resonates with your heart, your kind appreciation 💖 helps this creative light grow and touch m...

09/02/2025

Terkadang, kita lelah bukan karena fisik, tapi karena hati yang terlalu banyak menanggung beban. Jangan abaikan perasaanmu, beri waktu untuk istirahat.

19/12/2024

✨ Berpikir yang baik-baik, berdoa yang baik-baik, berbuat yang baik-baik... nanti Allah pasti hadiahkan yang terbaik ✨

Allah Maha Adil. Semua yang kita lakukan, sekecil apa pun, pasti ada balasannya. Jangan lelah berbuat baik, karena kebaikan itu akan kembali ke kita. 🌸

📖 “Tidak ada balasan kebaikan selain kebaikan (pula).”
(Q.S Ar-Rahman: 60)

🌿 Jangan lupa: Allah tidak pernah tidur. 🌿

🕌✨
💖

01/12/2024

Perempuan itu harus sibuk dengan ilmu, hal-hal positif, dan produktif yang bikin hidup lebih berarti. ✨ Karena kalau nggak, dia bisa tergerus oleh perasaannya sendiri. 😞 Jangan biarkan dirimu tenggelam oleh rumitnya prasangka. Yuk, jadi versi terbaik dirimu!💪

💖 🌿 ✨
❤️

01/12/2024

Yuuk, kita aamiinkan,

Semoga setiap langkah kita dipenuhi dengan keberkahan dan kemudahan. Semoga teman-teman bisa beribadah ke tempat suci sesuai dengan kepercayaan masing-masing, dengan hati yang tulus dan penuh rasa syukur. 🙏✨ Semoga setiap ikhtiar kita dimudahkan.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. 💖

🙏 ✨ 💪 💖 🌿 ❤️

01/12/2024

Tanda Kamu Sudah Menikmati Hidup
✨ Sibuk kerja, bukan ngurusin hidup orang.
✨ Gak peduli dibenci atau dis**a.
✨ Selalu merasa cukup dan bersyukur.
✨ Gak iri apalagi julid sama orang lain.

Nikmati hidupmu, fokus pada dirimu sendiri! 🤍

🌿 💫
❤️

01/12/2024

Pengingat diri

🌿 ✨
❤️

01/12/2024

Pernah nggak, kita terlalu sibuk merencanakan masa depan sampai lupa menikmati apa yang ada di depan mata? 🤔
Padahal, yang kita cari seringnya sudah ada di sini. 🌻 Kita aja yang s**a memandang kecil dan kurang bersyukur. Yuk, belajar lebih menghargai! ✨

💖 🌿 ✨
❤️

01/12/2024

Rawatlah ikhlasmu 🤍, biarkan takdir memainkan perannya. Jangan khawatir, Allah tahu lelahmu dan niatmu. 🌿
Perbanyak sabar, perbaiki ibadah, dan semangat terus! ✨ Semoga Allah mudahkan jalanmu.

🌟 🕌 💫
❤️‍🔥

01/12/2024

Pernah ngerasa udah berusaha keras, tapi hasilnya ga sesuai harapan?
Tenang, kamu gak sendirian. Kadang, usaha itu bukan soal hasil semata, tapi tentang bagaimana kita bertahan dan terus melangkah. ✨

Hidup memang gak selalu mudah, tapi setiap langkah yang kamu ambil itu punya makna. Jangan menyerah, ya! 💪🌈

💖 🌿 🚶‍♀️🚶‍♂️
❤️‍🔥 😊

30/11/2024

Kadang hidup juga punya "lampu merah" yang bikin kita harus berhenti sejenak. Tapi selain itu, apa lagi sih yang bikin kita stop? 🤔
➡️ Saat kita merasa terlalu lelah, berhenti itu perlu.
➡️ Ketika salah jalan, stop dan balik arah.
➡️ Kalau hati nggak nyaman, mungkin saatnya berhenti sejenak untuk introspeksi.

Hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tapi siapa yang bisa menikmati langkah dengan indah! ✨ 💕

Apa alasanmu untuk berhenti selain lampu merah? Share di kolom komentar ya! ⬇️

Address

Margonda
Depok
16423

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when LadyLoom88 posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share