03/04/2026
Bismillah.
Sinopsis:
Penampilan Aini di hari itu mendadak membuat gempar semua orang. Semua keheranan sekaligus bertanya-tanya. Kenapa gadis yang kesehariannya selalu berjilbab rapi dan syar'i itu tiba-tiba berubah? Apa penyebabnya?
=======================
Prolog:
“Apa-apaan ini?” Kiai Rustam terlihat gusar.
Pemimpin salah satu pondok pesantren itu langsung bangkit dari duduknya. Kedua matanya menatap nanar. Tak percaya. Seolah yang baru saja keluar dari kamar pengantin itu bukan putri semata wayangnya.
Bukan hanya dirinya yang terkejut melihat penampilan Aini pagi ini. Tapi semua tamu undangan dan keluarga yang hadir dan memenuhi halaman rumahnya pun langsung terdiam dan terpana melihatnya. Seperti waktu yang berhenti. Semua menatap tanpa berkedip. Bukan kagum tapi heran.
Semua tak habis pikir. Mengapa bisa?
*
BAB 1A
Tapi yang menjadi sorotan semua orang terlihat tak merasa terganggu dengan semua sikap dan reaksi para tamu. Aini berhenti sejenak di ambang pintu kamar dengan sikap tenang dan santai. Menatap sejenak menyapu sisi ruangan di hadapannya. Kemudian tangannya sibuk mengangkat sebagian rok bawah gaunnya agar tak terinjak oleh selopnya sewaktu berjalan.
Lalu dia melangkah mendekati kursi tempat pelaksanaan ijab kabul yang telah dilaksanakan beberapa menit sebelumnya. Tanpa menoleh pada Ikhsan yang kini sudah resmi menjadi suaminya dan duduk di sampingnya.
Aini perlahan duduk. Matanya lurus menatap wajah sang ayah. Bukan tatapan menantang. Hanya merasa tidak perlu lagi meminta izin.
Penghulu sebenarnya tak kalah terkejutnya. Apalagi dia masih memiliki hubungan kerabat dengan Aini. Jadi dia tahu betul bagaimana kesehariannya. Yang sama sekali berbeda dengan hari ini.
“Baiklah.” Yusron berdehem setelah berhasil menguasai keterkejutannya. “Mempelai pria dan wanita, silakan saling berhadapan.”
Ikhsan tanpa ragu menggeser posisi kursinya. Balik ke arah kiri. Duduk rapi menghadap Aini.
Aini dengan dibantu beberapa pengiring pengantin muslimah, menggeser posisi kursi agar menghadap Ikhsan. Hal itu cukup merepotkan karena bagian bawah gaun yang dipakai Aini sangat lebar. Desain ala barat. Rok menggembung besar yang di dalamnya memakai rangka besi ringan. Seperti princess Eropa.
Sementara Ikhsan memakai sorban putih dengan hiasan pinggiran benang warna kuning keemasan dan busana adat daerah setempat berwarna putih. Busana Aini berwarna merah menyala dengan banyak payet di sana-sini. Cukup membuat siapa pun yang memandangnya merasa silau. Apalagi jika hiasan tersebut terkena pantulan cahaya lampu.
Sebagian tamu nampak berbisik-bisik di belakang Kiai Rustam. Masih dengan rasa tak percaya, lelaki berusia lima puluh tahun itu menatap putri semata wayangnya dengan perasaan campur aduk.
Kenapa jadi begini? Kemana kain penutup kepala yang selalu dikenakan Aini selama ini? Bukan setahun dua tahun dia mendidik putrinya itu agar senantiasa rapat menutup auratnya. Tapi sejak putrinya itu kecil.
Lalu sekarang? Tiba-tiba saja, di hari pernikahannya, sesuatu yang berbeda terjadi.
Kiai Rustam ingin bertanya mengapa. Tapi tatapan tajam Aini seolah mengatakan, apa kau sudah puas hari ini, Abi?
“Kenapa Aini jadi begini?” Sebuah bisikan halus tamu di belakangnya tertangkap jelas oleh pendengaran Rustam.
Kedua jemari Rustam yang berada di atas pahanya, sontak meremas kain celananya. Rahangnya mengeras. Wajahnya memerah menahan amarah.
“Stres kayaknya. Denger-denger mereka kan dijodohkan!” Lagi bisikan-bisikan ghibah itu terdengar olehnya.
Aini yang saat ini duduknya sudah berhadapan dengan Ikhsan, ganti menatap wajah suaminya dengan wajah datar dan dingin. Menatap menusuk. Hingga Ikhsan memilih untuk menurunkan pandangan matanya.
“Kalau aku sih dijodohin mana mau? Lelaki tampilannya model kayak gitu!” Sebuah bisikan sarkas juga sampai ke telinga Ikhsan.
*Bersambung*
Baca selengkapnya di : KBM
Judul: Aku Menikah Tanpa Suara (sudah tamat)
Penulis: Rea MP
link:
Ayo bergabung dan subscribe buku Aku Menikah Tanpa Suara (TAMAT) agar selalu mendapatkan informasi update terbaru di buku ini dan lihat hasil karya lainnya dari Rea MP di aplikasi KBM.