29/12/2025
Di Bawah Langit Pidie: Menenun Asa Rohingya sebagai Tamu Internasional
Di sebuah sudut Kabupaten Pidie, tepatnya di Mina Raya, Padang Tiji, waktu seolah berjalan melambat. Bagi ratusan pengungsi Rohingya yang menghuni tenda-tenda darurat, jam dinding bukan lagi penunjuk aktivitas, melainkan penghitung hari-hari yang penuh ketidakpastian. Di sini, mereka tidak sekadar menumpang hidup; mereka sedang terjebak dalam sebuah babak panjang yang disebut "menunggu".
Dua kali sudah gema takbir Idulfitri menyapa mereka di dalam kamp. Bagi orang awam, dua tahun mungkin terasa singkat, namun bagi seorang pengungsi, dua kali Lebaran di pengungsian adalah monumen dari sebuah harapan yang mulai berkarat. Mereka merayakan hari kemenangan di atas tanah yang ramah, namun secara administratif, mereka tetaplah "tamu" yang tak punya kepastian kapan harus mengemas barang.
Bertahan dengan Akar di Tanah Pinjaman
Menariknya, di tengah himpitan ruang gerak, sisi kemanusiaan yang tangguh tetap tumbuh. Untuk mengusir jenuh sekaligus menyambung napas dapur, sebagian pengungsi mulai menyentuh tanah. Mereka berkebun. Sayur-mayur yang mereka tanam bukan hanya soal pemenuhan gizi, melainkan simbol perlawanan terhadap rasa putus asa.
Interaksi dengan warga lokal pun terjalin secara organik. Di pasar-pasar kecil atau sekadar berpapasan di jalan setapak, senyum dan tegur sapa menjadi jembatan bahasa yang tak mampu diterjemahkan oleh dokumen resmi mana pun. Aceh, dengan sejarah panjang keramahannya terhadap sesama Muslim, memberikan pelukan hangat yang membuat mereka merasa "manusiawi" kembali.
Suara yang Mulai Terlupakan
Namun, realitas pahit mulai membayangi. Seiring berjalannya waktu, sorotan lampu kamera mulai meredup. Isu Rohingya yang dulu memuncaki tajuk berita, perlahan tergeser oleh hiruk-pikuk isu global lainnya. Dampaknya nyata: bantuan dari lembaga kemanusiaan mulai menipis.
Abdu Rahim, salah satu pengungsi yang kini menjadi penyambung lidah bagi rekan-rekannya, merasakan betul dinginnya perubahan ini. Ia menceritakan bagaimana jatah bantuan kini tak lagi sederas dulu.
"Dulu bantuan datang silih berganti, sekarang kami harus lebih memutar otak. Kami berterima kasih pada warga Aceh, tapi kami tidak bisa selamanya menggantungkan hidup pada belas kasihan tanpa kejelasan," ungkapnya dengan nada getir.
Menanti Pintu ke "Negara Ketiga"
Bagi Abdu Rahim dan ratusan nyawa lainnya di empat lokasi pengungsian di Aceh, keinginan mereka sederhana namun sangat sulit diraih: Status. Mereka tidak meminta untuk selamanya di Aceh, namun mereka juga tidak mungkin kembali ke tanah kelahiran yang penuh luka.
Harapan terbesar mereka adalah resettlement atau penempatan ke negara ketiga. Mereka mendambakan sebuah tempat di mana mereka bisa bekerja secara legal, anak-anak mereka bisa bersekolah dengan ijazah yang diakui, dan tidur di bawah atap permanen tanpa rasa takut akan pengusiran esok hari.
Aceh telah menjadi dermaga penyelamat, namun mereka tidak ingin kapal kehidupan mereka tertambat selamanya di sini. Mereka butuh peta jalan yang jelas dari komunitas internasional dan pemerintah. Hingga saat itu tiba, para pengungsi Rohingya akan terus berkebun di Mina Raya—menanam benih di tanah pinjaman, sambil menatap langit, menanti kabar tentang sebuah tempat yang bisa mereka panggil "rumah".