14/10/2012
Menghadapi sebuah puisi hakikatnya sama dengan menikmati sebuah dunia dalam kata. Kata-kata itu hadir sebagai tanda (lambang, simbol) yang mengemban makna yang tidak biasa. Oleh karena itu, membaca puisi sebaik-baiknya menyiapkan diri dengan bekal memasuki sebuah dunia otonom, dunia mandiri, dan dunia sugesti yang didedahkan oleh penggubahnya. Dengan begitu, maka berhadapan dengan puisi hakikatnya ialah berhubungan intim dengan dunia gagasan, ide, perasaan, sikap dan interpretasi penggubahnya atas berbagaia fenomena yang menarik untuk diungkapkan.
Salam sastra
Dimas Arika Mihardja
Direktur Eksekutif Bengkel Puisi Swadaya Mandiri
Kerinduan rupanya telah menjadi wilayah subur untuk digali dan diolah menjadi tema dasar dalam kumpulan buku puisi ini. Dengan kepekaan imajinasi dalam bertutur penyair Chuppy Afiani berhasil mengangkat dan menghadirkannya secara segar dan aktual. Melalui puisi-puisinya penyair mengajak pembaca untuk merenungi makna hakikat kerinduan baik yang bersifat horizontal maupun vertikal, yang senantiasa dialami setiap manusia sebagai insan ciptaan Tuhan
Dedet Setiadi
Penyair, Magelang
Segi metaforis terasa benar degup yang menghidupi kerinduan. Ada kehilangan, keyakinan, harapan dan berbagai macam cuaca serta suasana terbangun dengan selaras di dalam antologi puisi ini. Saya seperti dihadapkan pada sebuah lanskap rentang waktu yang begitu lengang dan seketika gaduh oleh jerit kepedihan kemudian senyap dalam khusuknya penerimaan buah dari kesadaran yang akhirnya memuara pada keihlasan.
Setelah selesai menyibak di helaian makna puisi-puisi Chuppy Afiani. Saya harus mengatakan bahwasanya antologi puisi Serambi Rindu ini layak dijadikan bahan baca, pikir, bahkan perenungan bagi siapa saja untuk dipahami dan dimengerti: niscahya akan menyematkan kerinduan di hati pembaca. Salam sastra!
Muhammad Rois Rinaldi
Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Kota Cilegon-Banten