28/09/2024
Dua hal BARU yang saya pelajari di usia awal menginjak kepala 4, yaitu MENULIS BUKU dan PRODUK DIGITAL. Menjadi seorang pembelajar mesti berani mengambil resiko berbuat kesalahan, selama pembelajar itu YAKIN bahwa apa yang dilakukannya tersebut memiliki manfaat banyak. Dengan menulis buku, pengetahuan mampu diikat, tidak berserakan kemudian menghilang, selain itu menulis buku bisa diartikan berbagi ilmu, konsep berbagi harus dimiliki oleh orang berusia kepala 4, karena sebagian besar orang terbaik di muka bumi ini diangkat menjadi Nabi ketika usia 40 tahun (atau lebih) dan tugas Nabi adalah menyebarkan (berbagi) kebaikan. Kemudian menariknya dunia digital tidak ada istilah “out of stock” ketika suatu produk berbentuk fisik terhenti jalur distribusinya berarti manfaat pun menghilang. Kelebihan inilah yang membuat dua hal yang baru saya pelajari yakin bisa berdampak maksimal.
Berinteraksi dengan pohon dan buah tin sudah lebih dari 5 tahun saya lakukan, walaupun belum bisa disebut AHLI, karena seorang ahli menurut Malcolm Gladwell sudah menekuni suatu bidang lebih dari 10.000 jam. Jika setiap hari saya melakukan aktivitas di bidang tersebut selama 3 jam, berarti saya membutuhkan 10 tahun agar menjadi ahli. Saya tidak bisa menunggu 10 tahun untuk membagikannya, urgensi disini karena sudah lebih dari 8 tahun budidaya buah tin segar dilakukan, namun hingga saat ini kita semua belum bisa menemukan buah tin segar di toko buah terdekat. Sayang sekali dengan banyaknya manfaat buah tin, hanya sebagian kalangan saja yang mampu merasakan, bukankah Al-Quran itu diturunkan untuk seluruh manusia (bukan untuk kalangan tertentu) dan Buah Tin adalah satu-satunya buah yang dijadikan nama surat di Al-Quran. Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Bagaimana solusinya? di buku ini saya bahas berdasarkan POV sebagai penggiat, untuk membacanya silahkan klik: https://lynk.id/pondoktin
Penulis,
Chandra Marwanto