29/09/2015
Ini Sertifikat Cintaku
Seorang gadis berjalan dengan pelan di sebuah lorong rumah sakit, seolah menikmati suara langkah kakinya yang bergesekan dengan lantai, terlihat Dia bekali kali menghela nafas, wajahnya yang cantik menampakkan kekhawatiran, kecemasan, dan kebingungan. Entahlah semuanya bercampur aduk menjadi satu dalam paras cantik itu. Tangannya yang putih, nan mulus membawa seikat bunga. Iya terlihat elegan dengan daun ungu yang Dia kenakan dan rambut hitam panjang yang di bDiarkan terurai menyapu udara.
Setelah beberapa menit berjalan, Dia berhenti di salah satu pintu kamar inap di rumah sakit tersebut. Dia berdiri mematung dan memandangi pintu itu sejenak, di dalam sana, ada seseorang yang terbaring dengan lemah tak berdaya tanpa seorang pun yang menemani, dan untuk alasan inilah Dia datang kemari. Untuk menemani seorang yang berada di dalam sana yang membutuhkan teman untuk menjaganya. DDia menarik nafas sejenak, mencoba menenangkan dirinya sendiri. KemudDian dengan ragu ragu Dia memutarkan kenop pintu tersebut dan membuka dengan pelan.
“kreeeekkkk....”
Terdengar suara pintu yang Dia buka, dengan kaki yang terasa berat dDia mulai melangkahkan kakinya kedalam kamar tersebut, kamar yang selalu membuatnya takut, Iya, dDia benar benar takut. Takut kehilangan orang yang berada di kamar itu pergi meninggalkannya. Ah, Tidak....! , dDia tidak boleh berfikir seperti itu. Dia harus optimis dan berfikir bahwa orang yang berada di kamar tersebut akan sembuh, kerena dDia sendiri pun tak akan mampu dan tak akan pernah sDiap untuk menerima kemungkinan buruk tersebut.
“ Selamat sore, Bayu....!” Sapa gadis yang benama Khan Zen tersebut kepada pemuda yang berbaring di atas ranjang rumah sakit di dalam kamar rumah sakit itu. Yang tak lain adalah kekasihnya.
“ Sore yang indah bukan...” Ujur Khan Zen, tentu saja yang di ajak bicara tak merespon, Dia dalam keadan koma, sudah tiga hari Dia tak sadarkan diri, dan selama itu p**a Khan Zen selalu setia menemani Bayu melewati masa masa komanya.
“ Bagaiman kabarmu...?”tanya Khan Zen sambil mengambil posisi duduk ,” engkau pasti baik baik sajakan...?”
Khan Zen termenung , Dia menatap tubuh kekasihnya dari ujung rambut sampai ujung kaki, dan yang Dia lihat jauh dari kata baik. Selang infus menancap di tangan kirinya, dan alat bentu pernapasan yang menutupi mulut dan hidungnya, serta alat pendeksi detak jantung yang berjalan lamban.
“ Engkau pasti tidak nyaman dengan alat ini bukan...?” Khan Zen menghela nafas,” aku tahu kerena dulu aku juga pernah seperti itu, masuk rumah sakit dan di pasang selang infus sama seperti mu. Rasanya memang tidak enak, bahkan aku sampai mencabutnya waktu itu. Haaha tapi itu dulu waktu aku masih kecil”.
Sesaat hening, dengan di temani air mata yang jatuh di lantai dan angin yang semilir yang masuk dari cendela yang terbuka dan bau obat obatan. Khan Zen duduk terdiam, entah kenapa, Dia mulai terbDiasa dengan bau obat obatan yang menyengat ini, mungkin Dia sudah terbiasa kerena setiap hari Dia selalu datang kemari untuk menemani kekasihnya.
Tiba tiba Khan Zen teringat dengan bunga yang Dia bawa, “ oh, Iya coba lihat aku membawahkanmu bunga,” kata Khan Zen sambil menunjukkan bunga yang Dia bawa untuk Bayu yang masih terpejam.
“ Baiklah Mungkin kau tak s**a bunga, tapi aku lihat bunga ini sangat indah dan cocok di letakkan ke dalam vas yang ada dimeja sampingmu itu, aku letakan di situ ya....”kemudian
Khan Zen meletakkan bunganya di vas dari kaca di meja tersebut.
“ Nah, sekarang kamarmu lebih berwarna bukan, Hmmm,... aku tahu kau lebih s**a bola dari pada bunga itu, tapi mana mungkin aku menjadikan bola sebagai hiasan meja di kamar ini, haa...haa “ Khan Zen tertawa hampar.
Tiba tiba air matanya meleleh, mengalir menuruni p**i, kemudia jatuh ke lantai putih kamar rumah sakit tersebut.tawa hambar kini berubah menjadi tangisan pilu.
“ Bayu...”lirih Khan Zen “tolong jawab aku...!”
Hening, hanya diam yang didapatkan Khan Zen atas penuntutannya itu, “ Tolong jawab aku Bayu