10/05/2021
Selain perseteruan The Beatles dan The Rolling Stones, perseteruan band paling legendaris lain adalah antara Oasis dan Blur. Dua band asal Britania ini sempat melahirkan berbagai tafsir penggemar musik, termasuk ketika sebuah pertandingan amal menemukan ikon ke dua band tersebut, Liam Gallagher dan Damon Albarn.
Kisah awal perseteruan Oasis dan Blur dimulai ketika Liam Gallagher, vokalis Oasis mengundang Damon Albarn, vokalis Blur untuk datang dalam perayaan lagu Oasis “some might say” yang berhasil menduduki peringkat pertama di daftar tangga lagu. Datang dengan maksud bisa menyampaikan ucapan selamat kepada kawan baiknya itu, Damon Albarn justru merasa diperlakukan tidak hormat oleh Liam.
Sebelumnya, Oasis dan Blur adalah dua band yang saling menghormati. Ketika penghargaan NME award 1995, Oasis yang mendapatkan penghargaan lebih banyak daripada Blur (Oasis 5 sementara Blur 3) menyampaikan sebuah ungkapan kerendahan hati “aku tidak merasa bahwa kami seharusnya memperoleh lebih banyak (penghargaan) daripadai Blur. Mereka adalah band top,” kata Liam waktu itu.
Tapi rasa persahabatan itu berubah selang beberapa bulan setelahnya. Albarn mengenang bagaimana Liam berteriak tepat di depan wajahnya “Liam menghampiriku berteriak tepat di depan wajahku ‘nomor satu’.” Damon Albarn yang menafsirkan teriakan tersebut sebagai sebuah tantangan langsung saja mengiyakan. “Oke, jika ini kompetisi, lihat saja nanti” tekad Abarn dalam hati saat itu. Jiwa kompetitifnya tergoda untuk selalu menganggap teriakan itu sebagai genderang perang.
Genderang perang itu akhirnnya benar-benar di mulai saat memasuki bulan Agustus 1995. Oasis, berencana meluncurkan lagu “Roll With It” pada bulan tersebut. Belum sempat liris, rencana itu “dihadang” oleh petinggi Food, label musik yang menaungi Blur. Food kemudian memberi tawaran kepada Albarn untuk meluncurkan lagunya bersamaan dengan rencana Food meluncurkan lagu Blur, “Country House” dari album The Great Escape.
Ide peluncuran lagu secara bersamaan ini semacam tembakan tanda dimulainya balapan. Tinggal kita lihat, siapa yang paling cepat mencapai garis penjualan paling maksimal.
Ide ini kemudian sampai juga di telinga khalayak. Media kemudian menikmati penggorengan kejadian ini dengan secara berlebihan menyebutnya sebagai perseteruan. Perseteruan ini dipandang setara dengan rivalitas The Beatles dan The Rolling Stones.
“British Heavyweight Championship”, judul sensasional yang menggambarkan betapa kuatnya rivalitas Oasis-Blur. Judul ini diberikan oleh majalah NME di atas gambar wajah Liam dan Albarn yang mereka pasang pada halaman muka majalah mereka. Sebuah ide yang terilhami dari pertarungan Muhammad Ali. Disamakan dengan tinju? Memang seperti itulah ide Steve Sutherland, editor majalah NME waktu itu.
Ketika Liam mengatakan bahwa ia ingin melihat Albarn dan Alex James meninggal karena AIDS, persaingan antar ke dua band itupun semakin mendidih. Meski kemudian Liam meminta maaf dan mencabut ucapan wawancaranya dengan The observer tersebut.
Dampak persaingan Blur-Oasis juga dibawa ke ranah sosial-politik. Persaingan ke dua band itu biasa dibaca sebagai persaingan antara Inggris utara dan selatan. Atau, Blur sebagai perwakilan kelompok menengah ke atas sementara Oasis sebagai representasi dari kalangan menengah ke bawah.
Pada hari peluncuran lagu mereka, toko-toko kaset seketika berubah menjadi arena pertempuran. Di sana terlihat orang-orang berkumpul untuk menjadi penentu, lagu band mana yang paling laku, Blur atau Oasis?. Dalam berbagai prediksi, Oasis dinilai bakal memenangkan jumlah penjualan karena memang terlihat demikian pada awalnya. Namun hasil akhir berbeda. Blur yang berhasil menjual sebanyak 274.000 kopi lagu berhasil mengalahkan Oasis yang menyentuh angka 216.000 kopi lagu.
Kekalahan dalam jumlah penjualan ini tak bisa diterima oleh Liam. Kebencianya pada Blur semakin memuncak karena baginya, “roll With It” jauh lebih baik daripada “Country House.” Namun rasa kecewa Liam segera terobati tatkala Oasis berhasil menjual Morning Glory dengan total penjualan empat juta kopi. Pencapaian itu kian sempurna saat Oasis menghabiskan konser di Knebworth dengan disaksikan seperempat juta manusia. Hal yang tidak pernah dicapai oleh pesaing mereka, Blur.
Pertandingan Amal Di Sela-sela Perseteruan Oasis-Blur
Setelah menjalani perseteruan panjang berbulan-bulan, akhirnya Blur –Oasis punya kesempatan untuk berada di satu panggung. Kali ini panggung tersebut bukan dalam arti tempat untuk konser musik. Panggung itu adalah lapangan sepakbola Mile End di London timur. Pertemuan keduanya dirancang untuk sebuah kompetsisi amal Music Indutry Soccer Six 1996, dan melibatkan banyak grup band, bukan hanya soal Oasis-Blur.
Tapi, pertemuan mereka tetaplah yang paling menarik untuk di simak. Ini bukan tentang hasil akhir pertandingan. Ini lebih tentang bagaimana sikap keduanya setelah bersaing sengit dalam perebutan puncak tangga lagu.
Perseteruan keduanya lebih panas lagi saat ada desas-desus yaang menyebut bahwa Liam dan Albarn terlibat dalam cinta segitiga. Mereka dianggap telah meniduri wanita yang sama. Kabar ini beredar setelah diyakini Noel menyatakan demikian ditambah tentang adanya kokain di antara Liam, Albarn dan wanita mereka itu.
Di kemudian hari, kabar ini ditolak keras oleh Liam. Melalui sebuah unggahan di media sosialnya ia menyatakan bahwa tidak ada perselisihan di antara mereka (Liam dan Albarn) yang melibatkan orang ketiga, tak peduli (orang ketiga itu) perempuan maupun laki-laki.
Pada kompetisi amal tersebut, baik Oasis maupun Blur sama-sama gagal berdiri sebagai yang paling atas. Mereka harus mengakui ketangguhan mereka dalam bermain bola masih kalah dengan band rock sekelas Reef. Dialah yang menjadi juara pada kompetisi amal tersebut.
Meski hanya persahabatan, bagi Liam, pertandingan ini bukan hanya sekedar pertandingan amal. Dia masih membanggakan pencapaiannya dalam pertandingan amal ini, pencetak gol terbaik. Di media sosial, unggahannya tentang piala perak bertuliskan Cup 1996 adalah bukti sahih tentang betapa bangganya dia.
Dari pertandingan yang (mungkin) tidak penting untuk diingat dalam sejarah sepakbola ini, ada satu hal yang akan dikenang. Di tengah persaingan mereka yang dianggap semakin memanas, penonton di tribun yang menyaksikan laga amal tersebut harus, entah menanggung kecewa atau justru lega saat menyaksikan Liam dan Albarn muncul bersamaan dengan bergandengan tangan yang kemudian dilanjutkan dengan adegan Liam menunjukkan lelucon dengan menarik celana pendek Albarn ke bawah.
Gandengan tangan dan guyonan dua tokoh utama dalam perseteruan musik dalam pertandingan amal ini menyimpan banyak tafsir. Apakah ini tanda mereka memang baik-baik saja, atau ini justru sebuah penipuan, bahwa sebenarnya persaingan mereka selama ini hanya untuk sekedar menaikkan popularitas musik mereka?
Penonton dan pendengar yang berhak menafsirkannya. Meski sampai hari ini tafsir atas hal tersebut masih berbeda-beda.
Sumber : gantigol.com