Rantisi Muslim Store

Rantisi Muslim Store Menyediakan buku Islam, busana muslim dan aneka keperluan muslim lainnya.

25/04/2026

LGBT Merangkai Duka

Dulu takut menjaga anak perempuan. tetapi sekarang lebih takut lagi menjaga anak laki-laki.

--------
Copas tulisan dari dr. Ani Hasibuan, ahli syaraf di RSCM.

Sekedar berbagi cerita dari poliklinik syaraf untuk para orang tua, supaya kita semakin gencar menjaga lingkungan keluarga, lingkungan tempat tinggal dan sekolah.

Sejak 1997 saya berurusan dengan para gay. Sampai hari ini belum pernah absen. Mereka pasien terbanyak HIV yang saya tangani. Yang hidup tinggal beberapa sih. Barusan suster saya lapor ada lagi yg meninggal 3 hari lalu, dengan kriptokokus meningitis (infeksi jamur di otak).

Dari pengamatan saya, gay itu ada “kasta”nya.
Ada yang dominan; biasanya yang punya uang & lebih tua secara umur.
Ada yang submissif; kalau saya perhatikan, semacam “piaraan”. Piaraan ini berkasta juga, ada anak muda putih bersih klimis dari kalangan keluarga menengah. Ada juga yang kelas sandal jepit (bukan yang harga 18 ribu ya... )

Perlakuan dari yang dominan pada piaraan juga berbeda, sesuai KW si piaraan. Yang KW ori diperlakukan sangat istimewa.

Waktu saya kerja di klinik HIV RSCM, pernah dapat pasien mahasiswa universitas swasta terkenal di Jakarta yang kena meningitis kriptokokus (jamur otak). Orang tuanya pekerja petrol, tinggal di Dallas, USA. Dia di sini tinggal sendiri. Anaknya tampan, klimis & kelihatan anak baik. Sang dominan sering ikut mengantar kalau kontrol. Jangan kaget ya... dominannya ini seorang aktivitis LSM anti HIV! Itu kalau si pasien saya ini mengeluh sakit kepala, si dominan ini mengelus2 punggung si submissif sambil bilang, “Sakit ya sayang? Yang mana yg sakit? Sabar ya sayang..” (Untung saya masih setia pada sumpah hipocrates. Kalau saya berkhianat, si dominan itu mau saya suntik fentanyl 1000 cc biar mokat, mampus..!).

Tetapi saya pernah juga mendapat seorang dominan yang kena infeksi di medulla spinalis, spondilitis Tuberculosis. Jadi lumpuh kedua kakinya tiba2. Pas dirawat, submissifnya datang menemani. Si submissifnya dibentak2, gak ada sayang2nya. Si submissif ini tampilannya sih kelas sandal jepit, manggil dominannya "Abaaangg...”
(jijik ya mendengarnya ).

Ada juga piaraan bayaran. Satu pasien saya asal Jogja (sekarang sudah meninggal dengan toksoensefalitis; bisul di dalam otak, karena kuman toksoplasma yang sering menempel di badan kucing, anjing). Mengaku dia bayaran, dipiara seorang laki2 Cina utk bayaran 1000 sampai 2000 USD per bulan. Uangnya dia kirim ke Jogja untuk anak & istrinya... 😩. Dia ini sejatinya bukan gay, jadi semacam pelacur lelaki (gi**lo) yang kerja sebagai caddy lelaki di satu lapangan golf di Tangerang. Waktu ketahuan HIV & tokso, menangis meraung2. Selama dirawat baca Qur’an terus. Kalau saya periksa selalu terisak2 & bilang menyesal. Pas ketemu bininya saya yang berkaca2. Sebab bininya perempuan berhijab rapi dgn dua balita yang juga berhijab.

Ada juga gay kakak adik. Sejak kecil dikasih satu kamar dan satu ranjang oleh emak bapaknya. Pas gede, tau2 yang kakak kena kriptokokus. Dicek HIV positif. Ditanya pasangannya siapa? Dia bilang adiknya. Pas adiknya dicek, positif juga HIV-nya. Kedua2nya sudah meninggal, dalam satu ruang rawat yg sama. Ayahnya sampai anak2 itu dikubur pun enggak pernah mau datang menengok. Kecewa berat.

Hati-hati dengan anak-anak....
Ajarkan mereka untuk bertindak agresif kalau ada yang coba2 menggoda (gay).
Jangan kasih ampun, langsung pukuli beramai2..!! Pengalaman saya dari anak2 yang tegoda para 'penyuka a**s' ini, mereka makin agresif kalau yang digoda diam atau menunjukkan rasa takut. Tetapi langsung berhenti kalau yang digoda langsung main fisik. (Beberapa anak muda yang digoda gay konsultasi ke saya bersama ortunya).

Bila anak bepergian, jangan ijinkan kalau sendirian...!
Usahakan beramai2, supaya nyalinya tidak ciut kalau ada gay yang datang menggoda. Mereka bisa menawarkan apa saja; bisa uang, bisa bujuk rayu, bahkan ancaman.

Dari wawancara dengan pasien2 gay, mereka ini tadinya SEMUA pernah mengalami a**l seks, sebagian besar secara paksa! Setelahnya mereka akan sangat dijaga & ditemani oleh kelompok gay. Pergaulannya diganti jadi pergaulan gay, dst.

Cerita tentang gay semua berakhir TRAGIS...!!! Belum pernah saya dengar yang berakhir seperti di cerita fairytopia... Misalnya berakhir kayak Cinderella, happily ever after... Kisah para gay berakhir dengan toksoplasmosis, kriptokokus tuberculosis, pnemonia, kandida, dan diujungnya mati sendirian tanpa didampingi kaumnya.

Semoga bermanfaat dan mencerahkan kita semua... 🙏🏻

----
Bila Anda menganggap bahwa tulisan ini bagus dan perlu diketahui oleh banyak orang, tolong bagikan kepada teman, kerabat serta handai-taulan yang lain. Demi menyelamatkan generasi penerus bangsa.... 🇮🇩🇮🇩

Terimakasih dr. Ani Hasibuan.
Semoga informasi ini dapat membantu para orang tua yang awam tentang LGBT...

Gak heran kalo angka pernikahan di negeri ini makin turun dari tahun ke tahunDan sebaliknya, angka perceraian justru mak...
30/03/2026

Gak heran kalo angka pernikahan di negeri ini makin turun dari tahun ke tahun

Dan sebaliknya, angka perceraian justru makin naik. Kita udah sering disuguhi pemandangan orang daftarin gugatan cerai atau nunggu sidang cerai sampai antri panjang.

Wahai para konten kreator yang s**a membuat konten "standar pernikahan", lihatlah hasil pekerjaan kalian ini !

Puaskah kalian melihat banyak pasangan bercerai & angka pernikahan turun akibat "standar pernikahan" yang kalian gembor-gemborkan dari konten kalian ?

Puaskah kalian jika semakin banyak kaum perempuan di negeri ini yang menstandarkan pasangannya "harus mapan, minimal harus bisa ngasih sekian juta per bulan, harus bisa meratukan istri, tidak patriarki, berpenampilan glowing, rapi, wangi, tidak pernah marah", bla bla bla ?

Jika semakin banyak pasangan bercerai & semakin banyak orang takut nikah, terus kalian mau apa ???

Bensin ngantar anak sekolah, misal, 20.000, dihemat dengan anak sekolah online, tapi orang tua harus ke sekolah untuk am...
24/03/2026

Bensin ngantar anak sekolah, misal, 20.000, dihemat dengan anak sekolah online, tapi orang tua harus ke sekolah untuk ambil MBG, bensin juga 20.000

Masih harus beli kuota, yang belum ada HP harus beli HP, yang anaknya beberapa juga repot mengkondisikan satu anak dan lainnya.

Dan pemerintah sebenarnya punya data aoutput sekolah online COVID seperti apa? Terutama kejuruan dan vokasi, hasilnya jutaan anak dengan gelar dan ijazah tanpa keahlian.

Boro-boro kebijakan basisnya big data untuk efisiensi dan efektivitas, fakta-fakta depan mata saja diabaikan.

BAGI SEBAGIAN ISTRI, LEBARAN BUKAN HARI RAYA, TAPI HARI BERTAHANWilda Wahab Ternyata, tidak semua perempuan menyambut Le...
19/03/2026

BAGI SEBAGIAN ISTRI, LEBARAN BUKAN HARI RAYA, TAPI HARI BERTAHAN

Wilda Wahab

Ternyata, tidak semua perempuan menyambut Lebaran dengan bahagia. Ada yang memakai gamis terbaiknya, tapi sepanjang perjalanan ke rumah mertua, dadanya justru penuh sesak. Ada yang tersenyum saat turun dari kendaraan, padahal semalaman ia tidak benar-benar tidur. Ada yang duduk di ruang tamu yang penuh orang, namun hatinya merasa paling sendirian.

Tadi, saat membuka TikTok, aku menemukan video seorang istri yang berkata bahwa ia malas Lebaran. Bukan karena ia benci hari raya, bukan karena ia tak s**a silaturahmi, tapi karena setiap lebaran, ia harus datang ke rumah mertuanya, bertemu ipar-iparnya, duduk bersama orang-orang yang secara nama disebut keluarga, namun kehadiran mereka justru membuat batinnya letih.

Aku sempat membaca beberapa komentarnya. Dan yang kutemukan bukan satu dua keluhan, tapi banyak sekali perempuan yang ternyata menyimpan rasa yang sama.

Ada yang mengaku dadanya sesak setiap kali hendak ke rumah mertua. Ada yang tidak bisa tidur semalaman jika tahu besok harus berkumpul dengan keluarga suami. Ada yang berkata, “Bukan badan yang capek… tapi batin.” Bahkan ada yang menulis terang-terangan: “Aku trauma.”

Ini bukan cerita satu rumah. Bukan keluhan satu dua orang. Dan ini bukan p**a soal perempuan yang terlalu sensitif, Ini nyata. Dan diam-diam, jumlahnya banyak.

Ada perempuan yang memakai baju terbaik saat Lebaran, tapi hatinya seperti sedang dibawa ke ruang ujian. Ada yang terlihat anggun saat bersalaman, padahal baru saja menenangkan napas agar air matanya tidak jatuh lebih dulu. Maka kalau kamu termasuk perempuan yang mengalami itu, ingatlah satu hal: tidak semua rumah yang kita datangi terasa seperti tempat p**ang. Dan tidak semua senyum yang kita pakai berarti kita sedang baik-baik saja.

Lalu bagaimana kalau ujianmu memang ada di sana? Bagaimana kalau yang melelahkan justru orang-orang yang secara nama disebut keluarga?

Pertama, berhentilah memaksa semua orang harus paham perasaanmu. Ada fase dalam hidup di mana kita lelah bukan karena disakiti, tetapi karena terus berharap orang yang menyakiti itu akhirnya sadar. Padahal, tidak semua orang punya kedalaman hati untuk mengerti luka yang mereka buat. Maka jangan habiskan tenagamu untuk menunggu mereka berubah.

Kedua, jangan salah paham tentang sabar. Banyak perempuan hancur karena terlalu lama diajari satu kalimat yang sama: “Sabar ya…” Lalu ia menelan semuanya, menelan sindiran, menelan perbandingan, menelan kata-kata yang merendahkan, menelan suasana yang membuat jiwanya sesak. Ingat, sabar itu bukan berarti membiarkan dirimu dijadikan sasaran. Sabar bukan menyerahkan harga diri. Bukan mengizinkan luka masuk berulang kali tanpa pintu. Kalau perlu menjauh, menjauhlah. Kalau perlu p**ang lebih cepat, p**anglah. Kalau perlu membatasi waktu bertemu, batasi. Tetap sopan, tetap jaga adab. Sebab menjadi perempuan baik tidak pernah berarti harus rela hancur agar disebut santun.

Ketiga, jangan jadikan rumah mertua sebagai pengadilan nilai dirimu. Ini yang paling sering tak disadari. Banyak istri p**ang dari rumah keluarga suami bukan hanya membawa lelah, tapi juga membawa keraguan pada dirinya sendiri. Merasa kurang cantik karena dibandingkan. Merasa kurang pandai karena diremehkan. Merasa kurang pantas karena tak pernah benar-benar diterima. Padahal, orang yang memang tidak s**a padamu akan tetap menemukan alasan, bahkan saat kamu sudah berusaha sebaik mungkin. Jadi jangan jadikan penerimaan mereka sebagai cermin untuk menilai siapa dirimu. Kamu tidak menjadi buruk hanya karena mereka tidak adil. Kamu tidak menjadi kecil hanya karena mereka senang merendahkan. Kamu tidak kehilangan nilai hanya karena mereka pelit menghargai.

Keempat, kalau memang harus datang, datanglah dengan niat yang lebih tinggi. Kadang memang ada keadaan yang tidak bisa sepenuhnya kita hindari. Tetap harus hadir, tetap harus bersalaman, tetap harus duduk bersama meski hati sedang tidak baik-baik saja. Kalau memang begitu, jangan datang dengan niat ingin menang. Jangan datang dengan niat ingin membuktikan, ingin dis**ai. Datanglah dengan niat agar dirimu tidak kehilangan adab. Sebab ketika kita terlalu sibuk ingin diterima ma**sia, kita akan mudah kecewa, tapi ketika kita menjaga diri karena Allah melihat, ada kekuatan yang berbeda.

Ladies, kamu tidak perlu menjadi menantu favorit untuk tetap menjadi perempuan mulia. Kadang yang membuat seseorang tinggi di sisi Tuhan bukan hidup yang mudah, melainkan caranya menjaga akhlak saat diperlakukan tidak layak.

Kelima, rawat hatimu setelah p**ang. Ini penting. Dan sering sekali diabaikan. Jangan p**ang dari rumah mereka lalu membawa semua racun itu untuk diminum sendirian berhari-hari. Kalau ada ruang untuk bicara, bicaralah pada suami dengan tenang, bukan saat emosimu sedang penuh. Kalau belum memungkinkan, carilah tempat yang aman untuk menenangkan hati: berdoa dan memberi jeda. Karena tidak semua perempuan diuji dengan kekurangan harta. Sebagian diuji dengan orang-orang yang seharusnya menjadi keluarga, tetapi justru menjadi sumber letih paling lama. Dan bila itu yang sedang kamu alami, semoga Allah menjaga hatimu, menguatkan langkahmu, dan membuatmu tetap utuh meski sering p**ang dengan luka yang tak terlihat.

Membongkar Teknik Half Truth Abu Janda yang Diglorifikasi MNC Group (Membedah Manip**asi Informasi, Sejarah dan Geopolit...
12/03/2026

Membongkar Teknik Half Truth Abu Janda yang Diglorifikasi MNC Group (Membedah Manip**asi
Informasi, Sejarah dan Geopolitik di Balik Fenomena Ini)

Ada bahaya besar ketika sebuah konglomerasi media raksasa secara sadar dan sistematis memberikan panggung utama kepada agitator yang memproduksi narasi half-truth.

Langkah jaringan media di bawah bendera MNC yang terus memelihara, mengglorifikasi, dan memfasilitasi narasi manip**atif sejarah (seperti yang digaungkan Abu Janda) tidak bisa lagi dimaklumi sekadar sebagai strategi mencari engagement atau rating. Ini adalah bentuk operasi psikologis (Psy-Op) yang secara agresif mencoba menggeser Overton Window masyarakat kita. Sejak era kepemimpinan Soekarno, garis

demarkasi diplomasi dan ideologi bangsa ini sangat jelas, final, dan tidak bisa ditawar: menentang segala wujud kolonialisme di atas dunia, dan berdiri kokoh tanpa kompromi membela hak kemerdekaan Palestina.

Menormalisasi narasi penjajahan, mendistorsi fakta sejarah tanah Palestina, dan mengamplifikasinya melalui frekuensi publik bukanlah kebebasan berpendapat. Di mata sejarah dan konstitusi, tindakan tersebut adalah bentuk pengkhianatan paling terang-terangan terhadap amanat pendiri bangsa.

Bagi kami, batas toleransinya sudah terlewati.

Apabila gatekeeper informasi dan elite taipan di belakang layar terus memaksakan narasi yang mendelegitimasi perjuangan bangsa Indonesia untuk Palestina demi melayani pragmatisme geopolitik global yang murahan, maka channel ini akan mengambil posisi ofensif.

Kami akan secara aktif menguliti, membongkar operasi informasi ini, dan tidak akan ragu menyematkan gelar

Pengkhianat Bangsa kepada siapa pun yang menggadaikan prinsip anti-kolonialisme Indonesia.

Sejarah tidak akan pernah berbaik hati pada mereka yang menjual kewarasan publik dan maruah negara.

Lailatul Qadar Bisa Didapat Hanya Dengan Shalat Isya' Berjamaah di Bulan RamadhanDalam suatu hadis Hasan yang diamalkan ...
11/03/2026

Lailatul Qadar Bisa Didapat Hanya Dengan Shalat Isya' Berjamaah di Bulan Ramadhan

Dalam suatu hadis Hasan yang diamalkan oleh para ulama, tersebut bahwa:

من صلى العشاء في جماعة فقد أخذ بحظه من ليلة القدر

"Siapa yang shalat isya' dengan berjamaah (di bulan ramadhan) maka dia telah mengambil bagiannya dari Lailatul Qadar"

Imam Syafi'i berdalil dengan hadis itu hingga beliau berkata:

من شهد العشاء والصبح ليلة القدر فقد أخذ بحظه منها

"Siapa yang shalat isya' dan subuh berjamaah pada malam Lailatul Qadar, maka dia sudah mengambil bagian darinya" (Al-Munawy, Faidh al-Qadir)

Imam Said Bin Musayyib berkata

مَن شَهِدَ العِشاءَ مِن لَيْلَةِ القَدْرِ فَقَدْ أخَذَ بِحَظِّهِ مِنها

"Siapa yang shalat Isya' berjamaah dari Lailatul Qadar, maka dia telah mengambil bagian dari keutamaannya." (Imam Malik, Muwattha')

Sebagian ulama mengatakan cukup shalat isya' berjamaah saja yang menjadi syarat mendapat pahala lailatul Qadar yang dimaksud sebab hanya yang isya' termasuk sebagai shalat malam. Sebagian lagi menambah dengan shalat maghrib dan subuh berjamaah juga berdasarkan riwayat lainnya. Paling terjamin apabila melakukan shalat maghrib, isya' dan subuh berjamaah agar dapat dipastikan bahwa lailatul qadar didapat. Imam Al-Baihaqi meriwayatkan:

من صلى المغرب والعشاء في جماعة حتى ينقضي شهر رمضان فقد أخذ من ليلة القدر بحظ وافر

"Siapa yang shalat maghrib dan isya' berjamaah hingga selesai bulan Ramadhan, maka dia sudah mengambil bagian yang berlimpah ruah dari Lailatul Qadar".

Ya Allah... sampaikan kami pada Ramadhan. Hari demi hari terasa lama menunggu waktu tibanya pahala super besar yang ternyata sangat mudah dilakukan bahkan bagi pemalas sekali pun.

Kyai Abdul Wahab Ahmad

Di pengujung era 80-an, warga Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat, mengenal sebuah keluarga yang nyaris tanpa cela. S...
17/02/2026

Di pengujung era 80-an, warga Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat, mengenal sebuah keluarga yang nyaris tanpa cela. Sang suami, Agus Naser Atmadiwirja (54), adalah figur yang disegani. Sebagai Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah II Kemayoran yang berdarah "menak" (bangsawan) Sunda, ia adalah personifikasi dari kesantunan: tutur katanya halus, selalu berpeci, rajin ke masjid, dan tak pernah terdengar meninggikan suara.

Sang istri, Diah Hodiah (46), adalah seorang guru di TK Aisyiyah/Trisula. Ia dikenal sebagai wanita mandiri, tegas, dan cukup dominan. Di mata tetangga, mereka adalah pasangan pendidik ideal, sebuah potret "Keluarga Sakinah" kelas menengah yang harmonis.

Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik dinding rumah mereka, tersimpan "api dalam sekam" yang siap meledak. Agus ternyata memiliki istri siri bernama Saadah di Garut. Beban menafkahi dua dapur membuat ekonomi Agus morat-marit. Ketimpangan karakter antara Agus yang pendiam (represif) dan Diah yang vokal menciptakan ketegangan sunyi yang mencekam.

I. Jumat Kelabu, 7 April 1989

Pagi itu, di tengah bulan suci Ramadan, ketenangan rumah di Jalan Cempaka Putih Barat itu pecah. Sekitar pukul 08.00 pagi, Agus meminta uang kepada Diah untuk keperluan Lebaran dan untuk dikirimkan kepada istri mudanya di Garut.

Permintaan itu menjadi pemantik api. Diah menolak keras. Tak hanya menolak, ia melontarkan caci maki yang menyerang ulu hati harga diri Agus sebagai lelaki. Kata-kata seperti "suami tidak berguna" dan sindiran tajam soal ketidakmampuan finansialnya terus dihunjamkan.

Bagi Agus, yang selama ini memendam segalanya di balik senyum santun, pertahanan mentalnya jebol. Ia mengalami apa yang disebut psikolog sebagai catathymic crisis ledakan emosi sesaat yang tak terbendung. Matanya gelap. Tangan yang biasa memegang kapur tulis itu menyambar sepotong besi penahan pintu yang tergeletak di dekatnya.

Satu pukulan keras mendarat di tengkuk Diah. Sang istri tersungkur. Seketika, suasana rumah menjadi sunyi senyap. Diah Hodiah tewas di tangan suaminya sendiri.

II. Logika Dingin Sang Pendidik

Kepanikan sempat menyergap, namun dengan cepat berubah menjadi kalkulasi dingin yang mengerikan. Agus sadar, jika mayat utuh ditemukan, reputasinya sebagai tokoh masyarakat akan hancur lebur. Otaknya bekerja cepat: Jenazah ini harus hilang, tapi bagaimana membawanya keluar di siang bolong?

Agus kemudian melakukan sesuatu yang di luar nalar ma**sia normal. Ia menyeret tubuh istrinya ke kamar mandi. Di sana, dengan menggunakan golok dapur, ia melakukan depersonalisasi. Di matanya, tubuh kaku itu bukan lagi istrinya, melainkan objek masalah yang harus diurai.

Dengan ketelitian seorang ahli anatomi, Agus memotong tubuh Diah menjadi tujuh bagian: kepala, dua lengan, dua tungkai, dada, dan panggul.

Potongan-potongan itu dibungkus berlapis-lapis dengan plastik hitam, lalu dimasukkan ke dalam kardus mie instan dan rokok. Celah-celah kosong disumpal koran agar padat. Diikat rapi dengan tali rafia, paket-paket mengerikan itu kini tampak tak lebih dari sekadar tumpukan barang pindahan atau oleh-oleh.

III. Perjalanan "The Commuter Killer"

Siang itu juga, Agus keluar rumah dengan pakaian rapi. Ia menenteng kardus-kardus berisi potongan tubuh istrinya menaiki bus kota (PPD) dan mikrolet. Ia duduk tenang di antara penumpang lain, memangku kardus itu seolah sedang membawa berkas sekolah. Tak ada kondektur atau penumpang yang curiga pada bapak berwajah alim tersebut.

Ia menyebar potongan tubuh itu ke penjuru Jakarta untuk memecah jejak. Kaki dibuang di Jalan Gunung Sahari, tangan di Jalan Pemuda, Rawamangun. Namun, rencana sempurnanya memiliki satu celah fatal: potongan kepala kunci identifikasi korban ditinggalkan begitu saja di dalam bus/mikrolet yang mengarah ke Gunung Sahari.

Setelah tugas "pembuangan" selesai, Agus kembali ke rumah. Ia mengepel lantai, membersihkan bercak darah di kamar mandi hingga licin, dan kembali menjalani hidup seolah tak terjadi apa-apa.

IV. Pelarian dan Akhir Perjalanan

Namun, bangkai yang ditutupi akhirnya tercium juga. Penemuan potongan kepala menggegerkan Jakarta. Ahli forensik legendaris, dr. Abdul Mun'im Idries, berhasil mengidentifikasi wajah dan gigi korban sebagai Diah Hodiah. Polisi menyerbu rumah Cempaka Putih, namun Agus sudah hilang.

Sadar jaring hukum mulai mengepung, Agus melarikan diri ke tanah kelahirannya di Garut. Ia bersembunyi di Kecamatan Cisewu, sebuah wilayah berbukit di selatan Garut, menumpang di rumah kerabat istri mudanya.

Tim Buser Polda Metro Jaya tak butuh waktu lama. Berbekal informasi tentang istri mudanya, mereka melacak jejak Agus. Awal Mei 1989, perburuan berakhir. Di sebuah rumah panggung di Cisewu, polisi mendobrak masuk.

Agus Naser tidak melawan. Tidak ada drama, tidak ada air mata. Ia sedang duduk tenang, pasrah, seolah sudah menunggu momen ini. Saat diinterogasi, jawaban pertamanya meluncur datar tanpa beban: "Ya, saya yang melakukannya."

V. Panggung Sandiwara di Meja Hijau

Sidang pengadilan kasus ini pada tahun 1990 menjadi tontonan surreal bagi publik. Di kursi pesakitan, Agus tetap mempertahankan citra "Bapak Guru". Ia mengenakan batik, celana bahan, dan peci hitam. Tutur katanya sopan, menjawab pertanyaan hakim dengan suara pelan dan terstruktur.

Jaksa Penuntut Umum, Ny. S.T. Wardha, mendakwa Agus dengan pembunuhan berencana (Pasal 340 KUHP), berargumen bahwa ketenangannya saat memutilasi adalah bukti "hati yang jahat". Sementara itu, pengacaranya, Merah Darwin, membela bahwa itu adalah tindakan spontan "mata gelap" akibat harga diri yang diinjak-injak.

Namun, Majelis Hakim melihat fakta lain. Cara Agus membersihkan rumah, membungkus rapi potongan tubuh, dan membuangnya dengan transportasi umum menunjukkan kekejaman yang tak termaafkan. Vonis palu diketuk: Penjara Seumur Hidup.

VI. Wajah Ganda Ma**sia

Kasus Agus Naser dan Diah Hodiah menjadi legenda kelam kriminologi Indonesia. Ia bukan sekadar kisah pembunuhan, melainkan sebuah studi psikologis tentang Jekyll dan Hyde.

Agus Naser mengajarkan masyarakat satu hal yang menakutkan: bahwa monster tidak selalu berwajah seram. Kadang, monster itu mengenakan pakaian rapi, bertutur kata halus, dan hidup di tengah-tengah kita sebagai sosok yang paling kita hormati, menyembunyikan retakan jiwa yang siap meledak kapan saja.

Disclaimer : di negara mana pun ada orang baik dan jahat. Namun bisa jadi adanya kaum pel*ngi di Saudi karena mahalnya m...
20/01/2026

Disclaimer : di negara mana pun ada orang baik dan jahat. Namun bisa jadi adanya kaum pel*ngi di Saudi karena mahalnya mahar. Saya menceritakan ini agar dapat diambil pelajaran dan tidak bermaksud merendahkan bangsa manapun. Dan juga agar kita berhati-hati di mana pun kita berada.

Sekitar tahun 2012, badan saya masih kurus. BB hanya 50-52 kg dgn tinggi 160 cm. Jenggot juga baru sedikit, sekitar 7-9 helai. Rupanya profil seperti saya ini menjadi incaran empuk kaum g*y. Mereka beranggapan, mangsa dengan badan kecil dan kurus tidak akan berani melawan dan akan menuruti nafsu setan mereka.

Semua ini berawal saat saya sedang berada di pasar loak di jalan 60 (syari' sittin) Makkah. Saat sedang memilah dan memilih jubah bekas, saya mendengar bunyi klakson mobil. Ketika saya menoleh, ada mobil sedan sedang terparkir di belakang saya dan setelah kaca jendela mobil diturunkan, pria di belakang kemudi mengisyaratkan tangannya agar saya mendekat.

Dari penampilannya, pria ini layaknya orang shalih, multazim, atau dikenal dengan muthawwa'. Multahi (berjenggot lebat), kumis dirapihkan, memakai ghutrah, dan berjubah putih.

Ketika saya mendekat, dia mengatakan, "Enta ta'rif masaj?" (Kamu bisa mijat), sambil pasang mimika wajah kayak lagi pusing.

Sayapun memastikan, "attadlik yakni?" (Maksudnya pijat)

Dia, "aiwah, ana ta'ban syuwai" (ya, aku lagi ga enak badan)

Ketika saya pegang keningnya, suhu tubuh normal. Tapi dia bilang sakit kepala. Saya pun reflek mijit kepala dia dari luar mobil. Ga lama kemudian dia bilang, "gimana kalau dilanjutin di rumah kamu atau di rumah aku, nanti aku kasih kamu fulus."

Saya bilang, "Di apartemen saya sempit, dan di kamar yang sempit itu ada lima ranjang. Kalau rumah kamu dekat, di rumah kamu lebih baik."

Dia, "Rumahku dekat, arah Tan'im. Yallah bismillah."

Dia membukakan pintu mobil agar saya masuk ke dalam mobil.

Di perjalanan, dia menanyakan nama saya. Tapi ketika saya tanyakan nama dia, dia hanya menjawab dengan nama kunyah, Abu Muhammad. Kita pun mulai ngobrol ngalor ngidul mengenai budaya Indonesia dan Arab Saudi. Semuanya masih terlihat normal.

Dan... hal yang aneh pun bermula. Tetiba dia mau pinjam HP saya. Saya tanya kan...buat apa? Dia bilang, "ibgha 'ayanah" (aku pengen lihat-lihat aja). Saya bilang, ga mau, karena kalau saya buka, nanti ada foto istri saya. Saya pikir sebagai orang shalih, alasan saya dapat dia terima karena orang shalih pasti akan menghormati alasan saya tersebut. Namun yang mengejutkan adalah... Dia mengatakan, "Ana 'arif fi jawwalik aflam dukduk. A'rif Indunisiyyin wakullahum bijam'il aflam dukduk." (Aku tahu di hpmu ada film zina. Aku kenal orang² Indonesia dan mereka semua koleksi film zina)

Aku bilang, "La, fi jawwali mafisy aflam ibahiyyah" (Ga, di hpku ga ada film po*n #)

Dia ga percaya dan bilang saya bohong. Dan terus menerus maksa lihat hp saya.

Dari sini saya mulai waspada dan keluar keringat dingin. Di dalam hati saya mengulang-ulang doa,

أعوذ بكلماتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِن شَرِّ ما خَلَق

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan semua makhluk yang Dia ciptakan.”

Saya juga terus berdoa di dalam hati, Ya Rabb, jika orang itu memiliki niat jahat, selamatkanlah hambamu ini ya Allah.

Saya pun baca dzikir Allahumma inni as'alukal 'afwa wal 'afiyata fiddunya wal akhirah dst. Agar Allah Ta'ala berikan penjagaan.

Mobil terus melaju. Masjid 'Aisyah di Tan'im sudah lewat namun mobil masih terus dipacu ke arah kota Madinah. Sayapun menanyakan apakah rumah kamu masih jauh? Dia bilang dekat, sebentar lagi sampai.

Kemudian mobil belok kanan dan memasuki perkampungan yang sangat sepi. Mobil berbelok ke dalam gang-gang lalu berhenti di depan rumah kecil.

Ketika saya masuk ke dalam rumah, dia langsung mengunci pintu bercat merah yang terbuat dari besi itu.

Glekk....

Dada bergemuruh... tapi hanya mampu berkata dalam hati, "Allahumma sallim sallim" (Ya Allah selamatkanlah aku)

Namun saya berusaha tetap tenang. Dia masuk ke dalam kamar lalu keluar dari kamar sambil menenteng kasur lantai dan udah pakai kolor doang... Ya Allah....

Dia letakkan kasur itu di karpet ruang tamu dan langsung tengkurap. Saya pun kembali berbaik sangka, mungkin saja dia cuman mau dipijat. Sayapun menanyakan, "Ma'ak zait?" (Punya minyak ga)

Dia bilang, "Zaitaz Zaitun ya'ni" (minyak zaitun)

Ya, minyak zaitun bagus.

Dia berdiri lalu berjalan ke arah dapur dan mengambil minyak zaitun. Menyerahkannya kepada saya, lalu kembali tengkurap.

Bismillah... Sayapun mulai memijit punggungnya lalu berpindah ke betis. Dia minta dipijat di bagian paha tapi saya tak mau.

Tetiba....

Dia balik badan dan merosotin kolornya. Kem*l*annya udah tegak berdiri.

Saya langsung reflek berdiri sambil istighfar dan kedua tangan saya berusaha menutup ke arah kemaluannya biar saya ga lihat aurat bajinga* tengik kutu kupret itu. Jarak saya sama itu ibl*s cuma sekitar 1 meteran.

Saya teriak, "ilbas sirwalak" (pakai celanamu)

Tapi dia malah membentangkan tangannya dan bilang, ta'al, kemarilah.

Saya teriak lagi sekuat tenaga, "ittaqillah...ghaththi 'auratak!" (bertakwalah kepada Allah... tutup auratmu)

Tapi dia kayak bengong gitu. Mungkin dia agak kaget karena saya teriak kenceng banget dan takut ada tetangga yang dengar.

Saya teriak lagi, kali ini reflek ikut bahasa Banggaliyin, "Enta mafih ma'lum 'Arabiyyah?" (Kamu ga bisa bahasa Arab ya)

Diapun memakai kolornya lalu berdiri. Ga berhenti di situ, rupanya dia mendekat sambil memperlihatkan gestur mau meluk gitu... Astagfirullah... najong beudh nih om om cabul.

Alhamdulillah Allah Ta'ala berikan kekuatan dan keberanian kpd saya untuk memukul wajahnya sekuat tenaga dengan pernafasan detik beralih sampai dia tersungkur dgn posisi merangkak. Saya pukul lagi punggungnya sampai dia tengkurap. Lalu saya balikin badannya lalu saya cekek leher dia sekuat tenaga pakai dua tangan sampai mukanya memerah kayak tomat.

Kejadiannya begitu cepat Alhamdulillah. Dia ga ada kesempatan untuk melawan. Kalau dia melawan, tentu tenaga saya kalah jauh karena perbedaan postur dan bb yang sangat jauh.

Tapi alhamdulilah saya segera sadar, khawatir dia mati kehabisan nafas. Tangan kiri saya masih tetap nyekik leher dia tapi tangan kanan saya angkat dan sambil mengepal siap mendaratkan bogem mentah, saya ancam,

"Ifatahil bab, wa illa laaqtulannak!" (Buka pintunya, kalau ga, pasti kubu*nuh kau)

Dia pun mengangguk dan saya lepas cekikan di lehernya. Lalu dia duduk sambil megangin lehernya.

Dia minta maaf dan beralasan bahwa dia sedang ada masalah dengan istrinya. Sudah lama istrinya kembali ke rumah orang tuanya di Madinah.

Tapi saya yakin itu hanya alasan pembenaran dia saja.

Saya teriak, "sari', mafih girgir waftahil bab!" (Cepat, gausah banyak cingcong. Buka pintunya)

Dia masuk ke dalam kamar untuk mengambil kunci. Saya sih khawatir dia mau ambil sajam atau pistol, tapi alhamdulillah dia ambil kunci lalu membuka pintu.

Tanpa babibu saya ambil kresek isi gombalan saya lalu keluar jalan kaki. Ternyata saya harus jalan kaki cukup jauh sampai ke halte bus Saptco yang membawa saya ke Makkah.

Alhamdulillah... sing penting selamet.
________
Pelajaran dari pengalaman ini;

1. Selalu ingat Allah dan memohon perlindungan kepada-Nya di saat genting.
2. Setelah pertolongan dari Allah, keberanian dan mental yang kuat itu bisa dipupuk dari belajar bela diri. Karena kita terbiasa turgul atau sparing dan minimal menguasai teknis dasar pukulan dan tendangan yang efektif.
3. Jangan terkecoh dengan penampilan luar. Penampilan shalih belum tentu hatinya baik. Betapa banyak terdakwa atau terpidana yang tetiba pakai peci dan kerudung.
4. Bahanya teror kaum pel*ngi itu nyata dan makin masif. Edukasi anak-anak kita dari modus-modus mereka dalam menjerat korban.
5. Tidak mudah percaya dengan orang asing. Selalu waspada.

Semoga bermanfaat
____
Abu Razin Muhammad Taufiq

Per akhir 2025, Seasia Stats mencatat Indonesia sebagai negara dg coffee shop terbanyak di dunia, mencapai 461.991 cafe,...
16/01/2026

Per akhir 2025, Seasia Stats mencatat Indonesia sebagai negara dg coffee shop terbanyak di dunia, mencapai 461.991 cafe, mengalahkan Cina dan AS yang berada pada posisi kedua dan ketiga.

Positifnya, Gen Z sekarang lebih s**a minum kopi daripada miras. Mereka lebih s**a nongkrong di cafe dan ngopi syantik, daripada nongkrong di bar buat mabok dan konsumsi narkotik. Anak muda sekarang, lebih s**a nyeruput Matcha atau Kopi Gula Aren, daripada nenggak bir Bintang atau anggur Orang Tua.

Minuman alkohol bukan lagi hal yang diminati anak muda. Gen Z yang dulu sempat menjadi target pasar utama minuman keras, kini animo mereka justru tertuju ke minuman-minuman lembut.

Survei Global State of Beverages mencatat lebih dari 60% Gen Z memilih minuman non-alkohol saat nongkrong, tertinggi dibanding generasi lain. Terbukti, Gen Z saat ini justru banyak yang lebih milih olahraga, ngopi, atau hangout tanpa mabuk.

Tapi negatifnya, merebaknya coffee shop di Indonesia disinyalir menjadi tempat yang "kondusif" buat pencucian uang. Sejumlah konten di YouTube sempat spill ciri-ciri kedai kopi yang diduga menjadi tempat pencucian uang, di antaranya:

- Tempatnya sepi pengunjung, tapi tetep survive dan buka terus.
- Biasanya menolak pembayaran melalui uang digital seperti QRIS, dan mereka hanya menerima cash saja.
- Ada kota di Indonesia yang jumlah coffe shopnya membludak, dan itu bukan di ibu kota, mungkin biar tidak terlihat mencolok.
- Sebagian coffe shop tersebut memang lokasinya "ngumpet", tapi itu dibranding sebagai "hidden gem."

Sebagai peminum kopi, saya bukanlah penganut aliran ngopi estetik. Saya adalah orang jadul, kopi saya adalah kopi item biasa, tanpa gula tapi pakai madu, dominan pahit, berampas, dan pakai gelas kecil. Kalo cuaca lagi dingin, kadang saya minum kopi+jahe+madu, dan menurut saya itu kombinasi segelas kopi yang sangat epik!

Sebagai orang yg vintage, saya jg gak pernah ngopi di cafe sambil kerja dan buka laptop. Faktor utamanya, karena setiap setengah jam sekali saya harus rebahan, dan itu gak bisa dilakukan kalo saya WFC.. 😅

Happy Friday
Salam Satu Cangkir ☕️

Address

Jalan H. Abdul Halim Hasan No. 36, Limau Sundai
Binjai
20716

Telephone

085262000442

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Rantisi Muslim Store posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category