21/02/2020
Mempertahankan Keimanan di Tanah Rantau
Oleh Moh Fahmi Aziz
[Sebuah cerita yang diambil dari kisah nyata seorang pemuda kampung, Mas Kafi]
Yang ditunggu-tunggu telah tiba, yakni pengumuman hasil ujian akhir sekolah tingkat SMA
Merupakan hal yang menggembirakan manakala di secarik kertas tertulus satu kata "LULUS"
Namun, kesenangan itu hanya berlaku beberapa saat saja, karena problem berikutnya telah menanti, apa itu? Yakni mencari lapangan kerja.
Ya, bagi anak muda kampung yang kehidupan sehari-harinya serba kekurangan, merupakan suatu yang menggembirakan manakala setelah lulus SMA mendapatkan pekerjaan yang mapan, bisa hidup mandiri, serta mampu membantu orang tuanya.
Begitu juga dengan mas Kafi, seorang pemuda kampung, yang hidup dalam keluarga sederhana, aktivitas sehari-harinya selain sekolah di di Madrasah Aliyah Swasta, dia juga santri dari kyai di kampungnya.
Setelah lulus sekolah, ia punya keinginan untuk lanjut kuliyah, namun apa daya, keadaan orang tua yang serba pas-pasan, menuntut dia untuk segera mencari kerja dan bisa hidup secara mandiri.
Lamaran kerja sudah dia masukkan ke beberapa perusahaan, namun tak kunjung ada panggilan.
Di sela-sela menunggu hasil dari lamaran kerjanya, ia sambi dg berjualan kecil-kecilan, yakni menjualkan produk yang dibuat saudaranya, berupa makanan ringan.
Cukup lama ia menunggu panggilan kerja, tak kunjung ada hasilnya juga.
Hingga suatu ketika ia mendapatkan informasi dari salah seorang temannya, bahwa ada tetangga di luar pulau sana yang sedang mencari tenaga untuk bekerja.
Tanpa berfikir panjang, ia langsung bermusyawarah dengan orang tuanya.
Memang untuk menpatkan izin dari kedua orang tuanya tidaklah mudah, disamping ia harus berhenti mengaji, pastinya juga harus berpisah dengan orang tuanya.
Namun, iming-iming sekian juta rupiah rupanya membuatnya lebih semangat lagi meyakinkan orang tuanya.
Pada akhirnya orang tua mengizinkannya, dengan catat "Jangan meninggalkan shalat, serta berhati-hati dalam bergaul".
Berangkatlah dia, dengan beberapa temannya.
Air mata pun membasahi P**i ibunya, ketika ia mencium tangan untuk pamit, "Bu, Kafi berangkatya, doakan semoga bisa berhasil"
Berangkatlah dia, ke suatu pulau yang cukup jauh, perjalan harus ia tempuh kurang lebih 5 hari, menggunakan transportasi darat dan laut.
Selang 5 hari, dia sampai di suatu pulau, yang masih banyak hutan di dalamnya, serta keadaan perkampuangan yang masih sepi, bahkan di sebagian daerah masih belum masuk listrik.
Suatu ketika ia dipekerjakan di Rumah makan yang cukup besar, harus bekerja selama 12 jam, dimulai pukul 6.30 hingga larut malam, ia harus mengerjakan tugas yang diberikan atasannya.
Bagi seorang yang punya etos kerja tinggi, mungkin biasa saja.
Namun, ada hal yang sangat menyedihkan, ketika datang hari jum'at, sebagaimana kebiasaannya di kampung, ia hendak mengerjakan shalat jumat, jam dinding menunjukkan pukul 11 siang, itu bertanda adzan shalat jumat akan berkumandang 30 menit lagi.
Lalu ia hendak pamit kepada atasannya, "Pak, saya izin mau shalat jumat"
Lalu atasanya menjawab, "Maaf mas, disini shalat jumatnya tidak bisa barengan"
Kafi terheran-heran, "Maksudnya gimana pak?"
Atasan menjelaskan "Gini mas, kalian karyawan disini, kalau shalat jumat tidak bisa bareng-bareng tetapi bergantian."
Perlu diketahui bahwa di rumah makan tersebut ada sekitar 4 karyawan.
Lalau atasan melanjutkan penjelasannya, "Misal mas Kafi hari ini shalat jumat, maka jumat depan tidak bisa shalat jumat, karena harus bergantian teman yang lain, jika semua ikut shalat, maka warung kosong tidak ada yang jaga"
Coba pembaca tebak, apa yang di rasakan pemuda tersebut?
Akankah dia merasakan hal yang biasa saja?
Akankah dia menangis, karena harus meninggalkan kewajiban dari Allah?
Atau justru dia senang, karena terbebas untuk tidak menjalankan shalat jumat?
Nantikan tulisan berikutnya...😊
Semog bermanfaat